
Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 malam. Saat itu Khansa dan Annisa telah tidur dan Rika masih terjaga.
Beberapa saat kemudian ponsel Rika berbunyi. Rika berharap telepon yang berbunyi itu dari Andre. Sudah beberapa kali Rika menghubungi Andre tetapi saluran ponsel banyak gangguan.
Dan yang terakhir kali Rika mencoba menghubungi Andre kembali tetapi jelas-jelas Andre menolak panggilan telepon dari Rika.
Rika beranjak dan berjalan menuju meja kecil. Dilihatnya layar ponselnya, senyumnya pun semringah ketika melihat layar ponsel terdapat nama Andre di sana.
“Halo Pa, Papa susah banget sih diteleponin,” sapa Rika.
“Ya halo mah, maaf ya Papa sibuk banget, Papa ngurusin semua bisnis Oma di sini, semua Papa yang kerjain.”
“Pa....”
Ucapan Rika terputus manakala Andre telah bertanya lebih dulu.
“Anak-anak mana Mah, Papa kangen sama mereka, Oh ya besok papa pulang, tolong mah cariin ijazah papa deh Mah. Emang di mana kamu menyimpannya? kemarin yang Papa pulang Papa cari di mana-mana kok nggak ada?”
Mendengar pertanyaan Andre yang bertubi-tubi, semua itu membuat Rika geram.
“ Pa dengar Pa, dengar Mama Pa. Kenapa sih sekarang hubungan kita kayak gini, apa Papa udah nggak sayang lagi sama aku?”
“ Ih Mama apa-apaan sih, Siapa yang nggak sayang kamu sih, Papa sayang lah sama mama. Lagian Papa di sini kan kerja, buat kita mah. Lagian dulu bukan mama yang meng Iya kan ajakan Oma? Ya udah konsekuensinya kayak gini.”
“Tapi pa, apa Papa di sana nggak macem-macem?”
“Macam-macam apaan sih? Apaan sih maksud Mama? Papa nggak ngerti!”
Bergetar tubuh Rika dan dadanya bergetar cepat. Nafasnya pun tidak beraturan. Emosinya meluap. Maka tumpahlah amarahnya pada Andre malam itu lewat saluran teleponnya.
“papa jahat! Papa pengkhianat! Papa benar-benar jahat!”
“Mah sadar mah, Papa nggak ngerti maksud Mama.”
“Eh denger Ya Ndre, jangan coba mengelak lagi deh, aku udah tahu apa yang kamu kerjain di sana. Kamu enak-enakan di sana, kamu bukan kerja, tapi kamu malah nikahin Dian, kamu nikahi Dian dan ngelupain aku dan anak-anak Pah! Apa Papa nggak jahat? apa Menurut papa semua itu bukan kejahatan? Kami di sini kelaparan Pah, kamu emang bener-bener jahat!”
“Ih Mama ngaco! Dian Itu temen kerja Papa mah, dia partner Papa yang ngurus bisnis Oma, lagian kamu dengar berita dari mana?”
“Dari putri! Putri yang ngirim semua foto-foto ke ponsel Desi, maksudnya apa? Supaya aku tahu dan aku kesel kan? dan kamu tega banget Pa khianatin Aku, selama ini aku kurang apa Pa sama kamu?”
“Udahlah mah, udah dulu teleponnya. jadinya berantem kalau ngobrol di sini, besok papa pulang sambil Papa mau ngambil ijazah. Tolong cariin ya kalau nggak sore malam Papa ke sana.”
__ADS_1
Saluran telepon pun terputus satu pihak. Rika mencoba menghubungi Andre kembali. Tetapi ditolak Andre.
Rika pun kembali menghubunginya tetapi sayang handphonenya tidak aktif.
Akhirnya Rika kembali ke rumah Dena. Dan kebetulan Dena dan anak-anaknya belum tidur.
Seperti biasa, mereka selalu menunggu kepulangan abahnya.
Malam itu pukul 12 malam. Rika mengetuk pintu rumah Dena. Sami beranjak dan membukakan pintu.
“Eh mama Caca, ada apa?”
“Mami ada gak Bang?”
Dena pun beranjak bangun mendengar suara Rika.
“Eh mam, ada apa? Eh masuk sini,”
Ajak Dena.
Sesungguhnya Dena mendengar suara Rika tadi saat menelepon suaminya. Dena melihat mata Rika masih sembab.
Rika pun masuk dan duduk. Saat itu Sami dan Kiki masih menonton TV.
“Anak-anak udah pada tidur mam?”
Bukannya menjawab pertanyaan Dena, tiba-tiba Rika memeluk Dena. Rika menangis tersedu-sedu bahkan sampai meraung.
Sami dan Kiki saling menatap. Mereka bingung dengan sikap Rika. Akhirnya Sami mengambil tab dan mengajak adiknya bermain di kamar.
Dena tidak berkata apa-apa. Dia membiarkan Rika menangis dan menumpahkan kesedihan serta kekecewaannya di pelukannya.
Lama sekali Rika menangis di pelukan Dena. Sedangkan Dena tak mampu berbuat apa-apa, kecuali membelai rambut Rika dan membiarkannya menangis.
Setelah puas menangis, Rika melepaskan diri dari Dena. Dia mengeringkan air matanya dan menahan isak tangisnya, dia berkata,
“Mi, papa Caca selingkuh Mi, papa Caca nikah lagi Mi, dan yang bikin aku sesak, mamanya ada saat Andre dan cewek itu nikah. Berarti mamanya ngasih restu kan Mi, ya Alloh, jahat banget mereka Mi, sakit hati aku Mi.”
Mendengar penjelasan Rika, Dena hanya bisa terdiam. Dia bingung harus berbuat apa.
Rika menceritakan semuanya. Semua yang selama ini dia pendam. Baik tentang sakitnya pada Andre dan keluarga Andre. Bahkan Rika menceritakan tentang bagaimana Andre memperlakukan dia sebagai istri.
__ADS_1
Semua keluh kesah Rika malam itu tumpah pada Dena.
Dena hanya bisa diam. Ternyata selama ini sikap Rika berubah pada Dena lantaran Andre yang melarang untuk dekat pada Dena.
Suatu hari saat Rika kembali dari mengajak anak-anaknya bermain di rumah Dena, Andre berkata pada Rika,
“Ma, gak usah main-main lagi ke rumah mami, aku gak suka. Gayanya itu kaya paling bener, paling suci, nanti otak kamu di cuci ama mami deh.”
Dena menghela nafas dalam-dalam. Sebenarnya dia sudah tidak sanggup lagi mendengar keluh kesah Rika, tapi bagaimana lagi, karena itu Dena hanya bisa tersenyum dan diam.
Setelah mengeluarkan keluh kesahnya, tiba-tiba Rika menangis lagi. Dia meminta maaf pada Dena kalau selama ini dia sudah salah menilai tentang Dena dan suaminya.
“Sudahlah Mam, itu hak orang menilai saya. Saya gak pernah ambil pusing. Yang penting sekarang, kamu tenangin diri dulu, jangan kebawa emosi yang meledak-ledak. Kasian anak-anak. Dan coba di omongin ke abang-abang dikau, siapa yang bisa jadi penengah di sini,” sahut Dena.
Dada Dena terasa sesak dan teramat sesak, di campur rasa ngantuk yang amat sangat. Waktu telah menunjukkan pukul 3.30 pagi. Sebentar lagi waktu subuh datang.
“Ya ampun Mi, udah jam setengah empat, aku balik ya Mi, makasih ya Mi.”
Dena hanya tersenyum dan mengangguk. Sebelum Rika beranjak keluar, tidak lama. Kemudian Riko suami Dena pulang.
Riko memarkirkan motornya di depan teras, lalu Rika pun pulang.
“Eh ada tamu,” sapa Riko.
“Maap ya Be, tamunya enggak tau diri, nyusahin tuan rumahnya,” sahut Rika.
Riko tersenyum dan berkata, “Gak apa-apa. Sekali-kali ajak mami begadang.”
“Ayok Babe, aku pulang dulu.”
Riko pun mengangguk.
Dena menyambut kepulangan suaminya. Dia menawarkan makan malam untuk Riko.
“Mau makan dulu?”
“Enggak ah. Aku mau teh panas aja,” sahut Riko.
Di dalam rumah, Rika membuka lemarinya dan mencari sesuatu. Ada beberapa berkas dia keluarkan. Rika perhatikan satu demi satu semua berkas.
Dan matanya tertuju pada selembar berkas yang terselip di map yang sudah usang.
__ADS_1
Di pandangi selembar berkas usang itu, lalu Rika membakarnya.
“Gue gak bakal tinggal diam Ndre, gue bakal bikin hidup lo susah, liat aja nanti, ha ha ha.”