
Bab 85.
“Mbok, sini duduk,” Panggil mama Lina.
Di urungkan niatnya keluar kamar, mbok Yem segera duduk di samping mama Lina.
“Iya Nyonya,” sahut Mbok Yem.
“Mbok, kenapa mbok nggak bilang ke saya soal Putri kemarin di rumah sakit?”
Tanya mama Lina, sambil memperhatikan mimik wajah pembantunya.
“Apa jangan-jangan mbok Yem udah tau keadaan Putri? Dari kapan mbok nutupin kehamilan Putri dari saya?” tanya mama Lina.
Suara mama Lina agak serak karena dia menangis terlalu lama. Untuk mengalihkan pertanyaan mama Lina yang bertubi-tubi, akhirnya mbok Yem menawarkan sarapan terlebih dahulu.
“Nyonya sarapan dulu ya, perut nyonya kosong dari tadi, saya khawatir nyonya sakit,” kata mbok Yem.
Tanpa menunggu jawaban, mbok Yem keluar kamar hendak mengambil sarapan untuk mama Lina.
Dia melewati kamar Putri yang terbuka pintunya, sempat ia melongok ke dalam, ternyata hanya ada Putri di sana.
Mbok Yem melangkah ke arah dapur. Dia mengambil beberapa lembar roti dan mengolesnya dengan mentega dan selai coklat. Tidak lupa ia membuatkan susu panas untuk mama Lina.
Setelah selesai membuatnya, mbok Yem keluar dari dapur hendak kembali ke kamar mama Lina, dan berbarengan dengan Andre yang baru saja turun dari lantai atas.
Berpapasan dengan mbok Yem, Andre pun berpamitan hendak berangkat kerja.
“Mbok, Andre berangkat dulu ya,”
sapa Andre sambil berpamitan dan menyalami mbok Yem.
“Iya Den, Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa,” sahut mbok Yem sambil mengulurkan tangannya untuk di salami Andre.
Mbok yem kembali berkata,
“Temui nyonya dulu Den di kamar, pamit dulu sana.”
“Apa mama nggak keganggu mbok?” tanya Andre.
“Enggak, udah sana pamit dulu sebelum berangkat. Oh ya, kalo bisa Aden pulang lebih cepat, karna nanti mas Irfan mau datang,” kata mbok Yem mengingatkan.
“Iya mbok, nanti Andre pulang cepet, muda-mudahan dapet izin,” sahut Andre.
Andre pun melangkah menuju kamar mamanya.
Di lihatnya mamanya tengah duduk di pinggir tempat tidur salam keadaan kacau. Rambutnya yang kusut dan wajahnya yang sembab.
Andre mendekatinya pelan-pelan, lalu berkata,
“Ma, Andre berangkat kerja dulu ya, Andre usahain pulang cepet, nanti Andre izin ama manager,”
__ADS_1
bisik Andre, sambil menyalami dan mencium ubun-ubun mamanya.
Mama Lina tidak memberikan reaksi apa-apa. Sampai-sampai saat Andre menyalami pun dia tidak mengeluarkan tenaga untuk mengangkat tangannya.
Pandangannya kosong ke depan. Tidak lama kemudian mbok Yem masuk membawa roti.
Andre menoleh ke arah mbok Yem, sambil mengangkat kedua bahunya. Mbok Yem pun langsung memberi aba-aba agar Andre segera berangkat. Dan Andre pun mengangguk.
Lalu Andre keluar dari kamar mamanya dan bergegas untuk berangkat kerja. Sementara mbok Yem melayani majikannya, yaitu mama Lina.
Mbok Yem menyuguhi sarapan, dan di letakkan di atas kasur.
“Ayo nyonya, makan dulu,” saran mbok Yem pada majikannya.
Mama Lina membalikkan tubuhnya, dengan perlahan ia pun mulai memakan roti buatan mbok Yem.
Di sela-sela itu, mama Lina bertanya,
“Mbok, kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi, sejak kapan kamu menutupi keadaan Putri, sampai-sampai saya ibunya nggak engeh sama sekali.”
Baru kali ini mama Lina berkata dengan suara datar dalam keadaan marah. Lalu mbok Yem menjawab,
“Nyonya terlalu sibuk dengan pekerjaan Nyonya, hingga lupa untuk memberikan perhatian pada Putri. Entah dari kapan, saya lupa nyonya. Yang jelas sekarang, nanti malam Mas Irfan ingin ketemu nyonya, itu pacarnya Non Putri.”
Dengan tatapan kosong mama Lina masih menikmati sarapannya. Sengaja mbok Yem tidak meneruskan perkataannya, khawatir jika mengganggu selera makan majikannya, karena saat itu mama Lina mulai memakan rotinya. Hampir dua lembar ia memakannya, sebelum ia mulai banyak bertanya.
“Mengapa kamu tidak menjawab saja mbok, apa yang saya tanya?” tanya mama Lina dengan datar.
“Saya akan menjawab pertanyaan nyonya jika nyonya sudah menghabiskan rotinya, saya bakal tetap di sini, menemani nyonya makan, setelah itu apa yang nyonya tanya, akan saya jawab dengan sejujur-jujurnya,” sahut mbok Yem.
Lalu mama Lina menghabiskan roti sarapannya dan meneguk susu panas yang sudah mulai hangat, karena terlalu lama di jamahnya.
Setelah habis, mbok Yem segera membenahi dan membawanya ke dapur.
Sengaja mbok Yem tidak berkata-kata saat membenahi bekas sarapan mama Lina, agar majikannya bisa istirahat dan jangan banyak bertanya. Karena sebenarnya mbok Yem pun bingung untuk menjawabnya. Untuk apa menjawab, kalau jawabannya hanya akan membuat panas hati majikannya, jadi ada baiknya mbok Yem selalu mengalihkan, pikirnya.
Setelah membenahi bekas sarapan amma Lina, mbok Yem melongok ke arah dalam kamar majikannya, ternyata ma Lina susah merebahkan tubuhnya di kasur sambil memeluk guling.
Mbok Yem yakin kalau mama Lina tertidur pulas.
Mbok Yem pun menarik nafas lega.
*****
Malam pun tiba. Seperti janji Irfan akan datang untuk menemui mama Lina, saat itu ia sudah ada si depan gerbang rumah.
Karena gerbang yang besar dan lebar itu tak ada belum, akhirnya Irfan menghubungi mbok Yem melalui ponsel Putri.
Ya, semenjak mbok Yem tahu bahwa Putri hamil, mbok Yem yang memegang ponselnya, dengan niatan agar Putri tidak terganggu dengan panggilan dan pesan-pesan yang masuk.
“Mbok, saya usah di depan gerbang,” kata Irfan melalui saluran teleponnya.
__ADS_1
Setelah mendapat kabar dari Irfan, mbok Yem keluar dan membukakan gerbang untuk Irfan.
“Silakan masuk Mas, lewat sini,”
kata mbok Yem mengarahkan.
Di taman belakang, mama Lina, Andre dan Putri sudah menunggu. Sengaja Andre pulang cepat saat itu, dan tak ada satu pun suguhan ada di atas meja taman.
Mbok Yem mempersilakan Irfan untuk duduk. San sebelumnya mbok Yem di perintahkan mama Lina agar tidak menyuguhkan apa pun saat Irfan datang.
Setelah itu, mbok Yem meninggalkan mereka di taman belakang, ia melangkah menuju ruang dapur, karena hanya dari dapur, mbok Yem bisa memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dari kejauhan mbok Yem memperhatikan mereka, sepertinya mereka banyak beradu argumen. Mbok yem melihat mama Lina berkata sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arah Irfan, dan Andre mencoba meleraikan.
“Pokoknya Putri engga km mau nikah saya mas Irfan Ma, dia usah punya istri, biarin aja dedenya nggak punya bapak, roh Putri juga nggak punya, bapak,”
kata Putri dengan polosnya.
Mendengar perkataan Putri, mama Lina marah dan langsung menampar pipi Putri. Dan Putri pun menangis.
“Papamu itu sudah pulang ke rahmatullah, karna itu ada om Faisal sebagai papa sambung kamu, enggak kaya kamu begini. Pokoknya saya mau urusan kalian berdua di selesaikan sebelum perut Putri makin besar.”
Lalu mama Lina menghadap ke arah Putri dan berkata,
“Kamu mau di nikahi, atau gugurkan anak itu!”
“Mama! Putri nggak mau nikah Ma! Putri bisa kok rawat dede sendiri,” teriak Putri sambil menangis.
“Put, saya ingin bertanggung jawab, mas akan nikahin kamu, dan kamu harus mau!” kata Irfan.
“Eh Fan, lo nggak bisa maaksa ade gue buat tetep nikah sama lo, terserah dia, mao nikah apa enggak. Putri juga kan punya alasan, kenapa dia nggak mau,” sahut Andre membela Putri.
“Buat apa Putri nikah, kalo jadi perebut suami orang, Putri nggak mau tersiksa nantinya, mending Mas Irfan lupain Putri,” jawab Putri.
“Kalo begini, enggak kelar-kelar urusannya,” Bentak mama Lina.
Akhirnya mama Lina mengambil keputusan,
“Ya sudah, jangan kau paksa anakku untuk kau nikahi. Tapi ingat, anak yang dia kandung adalah anak biologismu, jadi bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab.”
“Karena itu Bu, karna saya ingin bertanggung jawab mangkanya saya mau nikahi Putri,”
kata Irfan membela diri.
“Heeiii... HELLO!!! APAKAH BENTUK TANGGUNG JAWAB ITU HANYA MENIKAHI?!!! TIDAK BAGI SAYA! Kamu tidak perlu menikahinya, kamu hanya perlu menafkahi dan memenuhi kebutuhan anakmu kelak sampai dewasa, Mengerti!!!”
“Tapi bu.... “
Belum saja Irfan meneruskan perkataannya, mama Lina segera memotong ucapannya,
“Halaaaaa, ngak usah tapi-tapi, toh anak saya juga enggak mau nikah sama kamu, sudahlah, urusan kita sudah selesai, saya mau masuk, rasanya mau muntah saya lihat kamu!” bentak mama Lina.
__ADS_1