Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Putri kecelakaan


__ADS_3

Putri menarik tangan Mbok Yem untuk meninggalkan pria itu, tetapi pria itu berusaha untuk mencegahnya. Lalu pria itu menarik tangan putri tetapi Putri mampu menepisnya.


Tidak lama kemudian angkutan umum pun tiba. Putri dan mbok Yem menaiki angkutan umum itu. Mereka pun berhasil menghindar dari pria itu.


Di dalam angkutan umum, Putri hanya terdiam. Sementara tangannya masih memegang tangan Mbok Yem.


Mbak Yem merasakan sentuhan Putri, seolah-olah ada sesuatu yang putri rasakan. Tapi sikap Mbok Yem masih cuek. Karena ia tidak ingin membuat Putri semakin bersedih.


Tibalah angkutan umum itu berhenti tepat di depan pasar. Mereka pun turun dan mbok Yem membayar ongkosnya. Lagu Boim dan Putri pun masuk ke dalam pasar.


Di pinggir ruko banyak orang yang berjualan makanan. Putri memperhatikan tukang makanan itu satu persatu, kemudian matanya tertuju pada tukang rujak.


Tiba-tiba ada hasrat pada diri Putri ingin makan rujak Putri pun mengajak Mbok Yem.


“ Mbak, kita makan rujak dulu yuk! Nih Putri ada uang. Kita makan berdua yuk,”


ajak Putri.


“ Aduh non masih pagi. Nanti sakit perut, mending dibungkus aja, kita makan di rumah, makan di sini Banyak debu,” sahut Mbok Yem.


Putri sudah tidak tahan menahan hasratnya. Tanpa mempedulikan omongan mbok Yem, Putri melangkah mendekati tukang rujak, lalu memesannya.


“ Bang bikinin satu porsi ya,” minta Putri pada penjual rujak.


Penjual rujak itu pun mengangguk, lalu membuat kan pesanan Putri.


Melihat sikap Putri yang tidak seperti biasanya, Mbok Yem hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetapi dalam hatinya ia terheran-heran.


Mbok Yem pun menghampiri Putri dan berdiri di sampingnya.


Putri duduk di bangku yang telah disediakan oleh penjual rujak. Rujak pun telah jadi, putri pun mengambilnya dari tangan penjual rujak itu. Lalu Putri melahapnya.


Putri melahap rujak itu dengan salah hap-lahabnya seakan-akan dia sedang kelaparan. Mbok yang pun bertambah heran atas perbuatan Putri.


Di sela-sela Putri menikmati rujaknya tiba-tiba Putri teringat akan mbok Yem. Dengan tersenyum Putri pun berkata,


“ Maaf Mbok, Putri Lupa nawarin mbok Yem, Mbok mau?”


“ Ndak ah, mbok takut perut Mbok sakit,” jawab Mbok yem.


Mendengar jawaban dari mboim Putri pun tersenyum.


Ia berkata dalam hatinya, “ Baguslah kalau begitu.”

__ADS_1


Putri pun telah selesai menghabiskan rujaknya. Kemudian Putri membayar, lalu menggandeng tangan Mbok Yem untuk masuk ke dalam pasar.


Dalam lorong pasar, mereka melewati toko emas yang pernah mama Lina dan mbok Yem singgahi.


Kemudian mbok Yem menoleh ke arah toko emas itu. Tanpa disadari Mbok Yem memandangi terus roko emas itu, hingga membuat Putri menoleh ke arahnya.


“ Kenapa sih Mbok?” tanya Putri.


“ Oh nggak apa-apa Non. Itu toko emas yang Nyonya pernah beli cincin untuk lamaran buat Den Andre,” jawab Mbok Yem.


Mata putri pun terbelalak. Putri tidak menyangka bahwa mamanya membelikan cincin untuk lamaran kakaknya di pasar tradisional.


“Mama beli cincin itu di sini, di pasar ini mbok?” tanya Putri terheran-heran.


“ Iya di pasar ini, di toko itu. Emang kenapa Non?” tanya Mbok Yem kembali. Mbok Yem pun merasa heran terhadap pertanyaan Putri.


“ kok non Putri nanyanya kayak gitu, Kenapa ya, ada apa, kok saya merasa takut salah ya,” gumamnya dalam hati.


“ Putri ngerasa nggak layak aja beli di sini kalau untuk lamaran, kenapa Mama nggak beli di ruko toko emas yang bagus dan besar? pastikan kualitasnya juga bagus,” jawab Putri.


“ Mbok juga nggak tahu non,” sahut Mbok Yem.


“ Aduh! Sepertinya saya salah bicara. Gimana kalau non Putri juga tahu, bahwa cincin yang dibelinya itu adalah imitasi yang disepuh? Aduh ini mulut susah banget diamnya,”


Mbok Yem pun berkata kembali pada dirinya sendiri, “ Semakin hari semakin saya harus berhati-hati dalam bicara.”


Di dalam pasar mbok Yem mulai memilih-milih ikan dan sayuran. Tidak lupa ia membeli buah-buahan beserta makanan kering untuk cemilan.


Di saat mbok yang memilih sayuran tepat di depannya terdapat toko baju perempuan. Di toko itu banyak Daster yang dijual.


Putri memasuki toko itu lalu melihat-lihatnya. Sambil memilih-milih Putri tertarik pada satu Daster yang dipajang di patung.


Kemudian Putri meminta pada seorang pelayan,


“ Mbak, saya mau coba yang itu dong, boleh?”


Pelayan itu pun mengangguk, kemudian mencari model apa yang Putri inginkan.


Selagi memilih sayuran Mbok yang mencari keberadaan Putri ke kanan dan ke kirinya. Ketika itu Boim tidak mendapatinya.


Lalu mata Mbok Yem melihat ke segala penjuru. Tidak lama kemudian mbok Yem Melihat Putri berada di dalam satu ruko baju daster. Mbok yang memperhatikan apa yang putri lakukan.


Lalu Mbok yang menyudahi pilihannya pada satu sayuran. Segera mbok Yem menuntaskannya, kemudian menghampiri Putri.

__ADS_1


Mbok Yem Melihat Putri sedang mencoba satu model daster. Kemudian Putri melihat tampilannya di cermin. Melihat kehadiran mbok ayem dari pantulan cermin, Putri menoleh ke arah Mbok Yem, lalu bertanya,


“ Mbak, Putri Pantes nggak pakai baju ini?”


Mbok Yem memperhatikan tampilan Putri. Menurut Mbok Yem, sebenarnya Putri mengenakan baju itu lebih kelihatan tua.


Tapi sepertinya Putri tidak menginginkan jawaban itu. Seolah-olah Mbok yang tahu apa yang putri inginkan.


“ pantes aja sih Non. Tapi lebih pantas lagi yang ini non, ini kan untuk remaja. Kalau yang kamu sedengin itu buat emak-emak,” jawab Mbok Yem.


Mendengar jawaban Mbok Yem, wajah Putri berubah. Putri memasang wajah cemberut, seolah-olah tidak suka dengan jawaban Mbok Yem.


Melihat sikap Putri Mbok yang pun kembali berkata,


“ tapi kalau non suka, ya udah beli aja, semua kan kembali ke selera.”


Akhirnya Putri membatalkan untuk membeli daster itu. Putri membukanya kemudian mengembalikan pada pelayan.


“ nNh Mbak, Maaf ya nggak jadi, habis katanya nggak pantes buat aku,” Celoteh Putri.


Pelayan itu pun tersenyum. Kemudian mengambil daster itu dari tangan Putri.


Lalu Mbok Iyem dan Putri pun keluar dari ruko baju itu. Mereka pun melanjutkan pencarian makan makanan pokok untuk hari itu.


Kemudian mereka melewati penjual ikan segar. Para penjual ikan segar itu menjual ikan yang masih hidup.


Putri melihatnya dan Putri merasa senang. Lalu Putri menyuruh Mbok Yem untuk membelinya.


“ Mbok, beli yang itu aja mbok, itu ikan apa Mbok?” tanya Putri sambil menunjuk ke arah ikan yang sedang berlari-lari.


“ Itu ikan mas, non. Kalau mau, nanti kita beli ikan itu aja,” jawab Mbok Yem.


“ Putri mau Mbok, tapi enaknya dimasak apa ya?” tanya Putri.


“ Digoreng bisa, dipepes bisa, digulai bisa. Emang non Putri lagi mau makannya diapain?” kata mbok Yem menjelaskan.


“ Di pepes aja deh mbok, enak kali ya,” pinta Putri.


Akhirnya Mbok Iyam membeli ikan mas sebanyak 1 kilo. Setelah membayarnya, kemudian mereka melanjutkan untuk membeli buah-buahan dan kue kering.


Letak penjual buah kebanyakan di seberang jalan. Lalu Mbok Yem dan Putri menyeberang jalan keluar dari pasar itu.


Saat menyeberangi jalan mbok ya melangkah lebih dulu dari Putri. Karena mata putri tidak fokus pada jalan akhirnya Putri tertabrak oleh kendaraan bermotor.

__ADS_1


Putri pun pingsan. Lalu Mbok Yem pun panik melihatnya. Segera Mbok Yem berlari ke arah Putri yang masih tergeletak di tengah jalan.


__ADS_2