
Suara pintu di ketuk dari luar. Berkali-kali dan daun pintu bergerak-gerak.
Sepertinya orang yang mengetuk dari luar mencoba membukanya. Karena Rika telah menguncinya dari dalam, orang itu tidak berhasil membukanya.
Rika mencoba melihatnya melalui jendela, yang sebelumnya dia bangkit dari duduknya dan mengendap- endap ke arah jendela.
Setelah Rika melihat melalui jendela ke arah balik pintu, Rika pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
“Ehm, gue kira siapa,”
kata Rika.
Segera Rika membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum,”
sapa Erna.
“Wa alaikumsalam,”
jawab Rika.
“Masuk Er, gue pikir siapa ngetuk-ngetuk, gak beri salam pula,”
gerutu Rika.
“Gue ke sini mau liat lo Rik, lo udah enakan?”
Tanya Erna.
“Alhamdulillah udah, malah tadi gue ngacir jemput Andre pulang dari rumah sakit. Tadi pagi bokapnya nelpon gue, minta temenin buat jemput Andre. Oh ya Er, kenalin nih, ini bang Hilal,”
kata Rika.
Erna dan Hilal pun berjabat tangan. Kemudian matanya memandang ke arah Ricard.
Ricard saat tadi masih menundukkan kepalanya.
“Hai Bro Ricard, how are you, do you find?”
Sapa Erna.
Ricard pun segera mengangkat wajahnya, dan tersenyum tipis.
Erna memandangi wajah-wajah yang ada di ruangan itu. Ada ketegangan di sana.
Erna pun mulai bertanya,
“Sorry nih, lagi pada ngomongin apaan sih, kayanya serius amat.”
“Lo duduk aja dulu, nanti bang Hilal yang nerangin semuanya. Pokoknya dalang yang kemaren kita celaka itu ya dia nih,”
kata Rika, sambil mendekati Ricard dan mendorong tubuh Ricard sampai tersungkur.
“Udah udah, tahan Rik emosinya. Kalo kamu emosi terus, gimana aku mau nerangin semuanya ke Erna?”
kata Hilal, sambil menarik tangan Rika, dan menyuruhnya untuk duduk agar lebih tenang.
Sini kamunya, duduk,”
kata Hilal.
Rika pun mematuhinya. Kemudian Rika duduk di samping Hilal.
Hilal mulai menerangkan pada Erna apa yang sedang terjadi. Satu persatu Hilal merincikannya.
Setelah mendengar penjelasan Hilal, Erna menarik nafas dalam-dalam, dan langsung menunjukkan jarinya ke arah Ricard.
“Ehm, jadi elo ya biang keroknya, benerkan kata gue, lo itu biang kerok. Lo sengaja mau jadi sahabat kita, wah parah lo Card, gue rasa lo udah sakit jiwa,”
kata Erna memaki.
Ricard pun masih menundukkan kepalanya.
“Ya ampun, gue kok gemes ya liat lo Card, sumpah, gemes gue pengen nampol!”
Kata Erna dengan geram.
__ADS_1
“Tolong dong tahan emosi masing-masing, kalo begini terus kapan selesainya? Coba deh berpikir dewasa, bentar aja. Bukan cuma kamu Er yang kesel, aku juga kesel, Rika pun kesel, tapi tolong tahan, jaga emosi kalian. Kalo kalian terus emosi, kalian gak bisa berpikir, yang ada malah tambah berantakan,”
kata Hilal, yang mencoba menenangkan keadaan.
Hilal pun meneruskan penjelasannya. Kemudian Hilal pun berhenti bicara. Hilal melihat respon masing-masing.
Tiba-tiba Erna berkata,
“So, apa yang harus kita lakuin sekarang?”
“Tadi gue juga nanya gitu, trus gimana, apa yang harus kita perbuat? Tapi gimana pun dia itu mamanya Andre, calon mertua gue, yang kartunya ada di tangan gue, sedangkan anak-anaknya bahkan mungkin suaminya om Faisal, gak tau apa yang mama Lina kerjain di luar sana, sedangkan gue sama Erna, bekerja di mana tempat yang salah satu pemilik sahamnya tuh dia, yaaa ampuuuuun, kenapa jadi begini siiih? ?!?!”
Teriak Rika histeris.
“Udah lah Rik, jangan terlalu mikirin langkah selanjutnya. Yang penting sekarang kita harus waspada, jaga diri, liat sekeliling, karna orang-orang ibu Lina ada di mana-mana,”
kata Hilal.
“Trus gimana sama Ricard?”
Tanya Rika.
“Aku tau siapa Ricard, gimana Ricard. Dia itu kalo tertekan, ya kaya gitu. Dia gak bisa ngenalin orang kalo batinnya tertekan. Kalo kita ajak ngomong terus menerus, bisa-bisa dia melempar sesuatu yang ada di dekatnya, apa aja, baik itu berat sekali pun. Aku aja kemaren di lempar botol minuman ama dia, bagus gak kena kepalaku,”
kata Hilal.
“Maksud kamu apa Bang? Ricard sakit?”
Tanya Rika.
Erna pun tercengang mendengarnya. Rika dan Erna tidak menyangka dengan keadaan Ricard yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka lihat selama ini Ricard baik-baik saja, tidak ada kejanggalan sama sekali.
Akhirnya Rika merasa menyesal telah bersikap arogan.
“Maafin gue deh bang, gue enggak tau kalo Ricard kaya gitu,”
kata Rika dengan rasa sesal.
“Bang, berapa lama dia akan pulih?”
Tanya Erna.
kata Hilal.
Rika mengangguk-anggukan kepalanya. Sepertinya Rika sedang menganalisa sesuatu.
“sedikit-dikitnya gue paham ya bang, kenapa mama Lina ngasih tugas ini ke dia. Kalo keadaan dia kaya gini, dia gak bakalan bisa ngasih informasi apa-apa jika dia ketangkep polisi, atau ketangkep massa, dia bakal bungkam seribu bahasa. Jadi kedok dalangnya gak bisa kebuka,”
jelas Rika.
“Yups! Gue setuju ama pendapat lo Rik, bisa jadi begitu. Berarti untuk sementara ini lo harus nyembunyiin dia ya Bang? Yaaa,paling enggak, lo bisa ngasih dia terapi,”
kata Erna.
“Ya, benar. Aku harus nyembunyiin dia sementara, sambil mulihin mentalnya,”
kata Hilal.
Kemudian Hilal berdiri, dan melangkah menuju jendela.
Hilal melihat ke arah luar rumah Rika, terlihat sepi di sana. Dan matanya tidak henti-hentinya mengamati area di luar sana.
Sore sudah tergeser. Waktunya malam yang hadir di sana. Suara jangkrik mulai bersahutan.
Ketika mata Hilal mengamati keadaan di luar melalui jendela rumah Rika, tiba-tiba mata Hilal terhenti pada satu titik, yaitu tukang sate.
Hilal mengernyitkan matanya, untuk memperjelas pandangannya.
Karena saat itu sudah malam dan di luar pun gelap, Hilal tidak dapat melihat dengan jelas wajah tukang sate tersebut.
Hilal membungkuk, dan meraih tas yang ia bawa. Dan Hilal mengeluarkan teropong.
Hilal mendekati kembali jendela di sana, dan memandang keluar dengan alat bantunya, yaitu teropong.
Tidak lama kemudian, Hilal mengeramkan gerahamnya, sampai berbunyi gesekan gigi gerahamnya.
Melihat tingkahnya, Rika pun penasaran. Rika mendekati Hilal dengan mengendap-endap.
__ADS_1
Hilal menaruh jari telunjuknya di atas bibirnya, memberikan kode pada Rika dan Erna.
Rika pun ikut melihat ke arah luar rumahnya dengan alat teropong, lalu bertanya,
“Emang tukang sate itu siapa Bang? Kamu kenal?”
“Ya, aku kenal dia. Dia Herman. Mungkin dia di tugaskan untuk menguntit kamu Rika, menggantikan tugasku yang dulu,”
jelas Hilal, dengan suara berbisik.
Rika pun kembali mengendap, dan duduk seperti sedia kala.
Kini giliran Erna yang ingin melihat ke arah luar rumah Rika.
Erna pun menggunakan teropong untuk melihat ke arah luar sana.
Ya, Erna melihat seorang tukang sate yang sedang mengipas bara sate.
Erna pun memperbesar pandangannya dengan memutar alat teropong itu dengan perlahan.
Dengan jelas, Erna melihat wajah sang tukang sate, yang menggunakan penutup kepala dengan sebuah topi kupluk.
Setelah mengamati, Erna tercengang. Sepertinya dia mengingat wajah itu.
“Bang, aku mengenal wajahnya. Aku pernah liat dia Bang,”
kata Erna pada Hilal.
“Kamu pernah liat dia di mana?”
Tanya Hilal berbisik.
“Aku melihat dia saat aku melayani bu Lina, di ruang meeting, di club ku. Dia pernah menyewa ruang meeting di sana. Saat itulah aku baru juga melihat wajah bu Lina di sana. Karna aku lebih sering liat dia tuh mukanya di tutupin syal, ama kaca mata hitam. Di situlah aku baru kenal bahwa itu adalah mamanya si Andre,”
bisik Erna.
Erna menurunkan teropong itu dari matanya, dan beranjak pindah ke tempat asalnya duduk.
Erna meluruskan ke dua kakinya dan berkata,
“Kok gue jadi tegang gini ya, gue jadi takut deh Rik, jangan-jangan gue target berikutnya.”
“Kalo gue pikir sih, kayanya enggak deh Er. Lo gak ada hubungannya dengan ini semua. Kalo gue mungkin iya, bahkan bisa seumur hidup gue bakal di teror terus sama mama Lina,”
kata Rika, masih dengan suara berbisik.
Hilal pun kini duduk di antara mereka, lalu berkata,
“Kamu terlalu besar menanggung resiko, Rika. Apa kamu sanggup menanggung itu semua selama kamu hidup bersama Andre? Apa enggak terlalu besar atas semua pengorbanan kamu?”
Tanya Hilal pada Rika.
“semua udah terlanjur Bang. Gue memang cinta sama Andre, tapi awalnya gue gak sadar bahwa apa yang gue korbanin buat dia tuh besar, bahkan teramat besar, kadang cinta membuat nalar kita enggak bekerja ya,”
jawab Rika dengan tersenyum.
“Ehmm, bucin deh, otak mana otak,”
Sahut Erna sambil menunjukkan ujung dahinya.
Setelah mendengar ejekan Erna, wajah Rika berubah.
“Mungkin buat kalian gue ini aneh, gue ini budak cinta, entah apalah lagi istilahnya. Tolong hargain perasaan gue saat ini. Baru kali ini perasaan gue terbalas, Bang. Baru kali ini cinta gue di hargai, apa lagi dengan laki-laki yang wajahnya tampan seperti Andre, yang pandangan orang yang melihatnya, gak pantes jika berdampingan ama gue. Itulah sebabnya, kenapa mamanya gak suka ama gue, kamu tau kan Bang!!! Kamu tau kan kalo mamanya jijik sama gue Bang?!?!”
Kata Rika, sambil menarik baju Hilal dan mengoyaknya.
Matanya pun mulai berkaca-kaca. Kemudian air matanya jatuh di atas pipinya yang gembul.
Melihat Rika mulai menangis, hilal menarik nafas dalam-dalam. Tangannya menepuk-nepuk bahu Rika, untuk menenangkan hati Rika yang mulai galau.
“sebelum ama Andre, gue pernah suka ama cowok lain. Tapi gue gak pernah menyatakannya. Dan karna sikap gue yang supel, mungkin dia mulai ngerasa kali, kalo gue suka ama dia, eh dianya malah ngejauh, dan ngoceh-ngoceh ke temen-temennya kalo gue nembak dia, jijik banget dia ama gue. Dan sekarang ama Andre, dia nerima gue apa adanya, sayang dia tulus ke gue tanpa mandang muka gue, apa gue salah untuk pertahanin hubungan gue ini???”
Kata Rika. Tangisnya mulai meledak.
Melihat Rika yang sudah mulai histeris, setelah menarik nafasnya dalam-dalam, Hilal pun memberanikan diri.
Di peluknya Rika dengan perlahan. Di taruhnya kepala Rika di dadanya yang bidang, sambil tangannya membelai rambut Rika yang panjang.
__ADS_1
Hilal pun merasa terharu mendengarnya, begitu pula dengan Erna.
Mendengar kisah Rika, Erna pun menitikkan air mata. Dan Erna pun juga ikut memeluk Rika.