Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Kerjasama.


__ADS_3

Siang itu mama Lina sedang bersama Dian rekan bisnisnya. Mereka berkeliling menuju ruko-ruko yang mama Lina miliki. Dan akhirnya mereka singgah di salah satu ruko milik mama Lina.


Mereka masuk ke dalam ruko itu, dan disambut oleh pelayan di sana. Dian pun berkeliling dan melihat-lihat barang-barang yang terjual di ruko itu.


Sambil melihat-lihat model barang, Dian pun memperhatikan interior yang berada di dalamnya.


Tidak jarang dia mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. Sepertinya ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Bahkan mama Lina pun tersenyum ketika melihat tingkah Dian.


“ Keren juga punya Nenek sihir ini,” gumamnya dalam hati.


“ Gimana Menurut kamu, apa masih ada yang kurang dari brandku?” tanya mama Lina pada Dian.


“ Tidak, tidak ada yang kurang, semua bagus-bagus,” ungkap Dian.


Kalau dilihat, sepertinya mama Lina suka pada Dian. Karena Dian selalu menampilkan bahwa dirinya cerdas akan bisnis.


Kemudian mama Lina duduk di kursi di antara barang-barang yang dipajang. Ketika Dian melihat-lihat barang yang terdekat pada mama Lina, tiba-tiba mama Lina bertanya,


“ Sebenarnya kamu ini Bisnis sendiri atau bisnis dengan orang lain?”


Mendengar pertanyaan mama Lina, Dian pun tersenyum, lalu ia pun ikut duduk di samping mama Lina.


“ Kenapa Nyonya bertanya seperti itu? Apa Nyonya tertarik dengan saya?” tanya Dian sambil tersenyum.


“ Kalau kau berbisnis dengan orang lain, Mengapa Kau tidak pilih aku sebagai partnermu? Atau Bekerjalah denganku. Sebenarnya, aku butuh orang sepertimu Dian, untuk mengurus semua bisnisku yang ada. Aku butuh orang yang cerdas!”


kata mama Lina menerangkan.


Mendengar permintaan mama Lina, otak licik Dian pun mulai menari. “Itulah yang aku tunggu, sikat Bro!” bisiknya dalam hati.


“Ah, nyonya Lina bisa saja. Saya baru kok terjun di dunia bisnis kulit. Bukannya nyonya sudah memiliki orang kepercayaan? Bagaimana dengan Herman?” tanya Dian.


Dian pun ikut duduk di samping mama Lina. Tidak lama kemudian datang seorang pramusaji membawakan 2 gelas minuman segar. Pelayan itu menaruhnya di atas meja yang berhadapan dengan mereka.


Pelayanan itu pun berlalu. Ia kembali melakukan pekerjaannya.


Tiap ruko di jaga oleh 3 orang. Tugas mereka di bagi menjadi 3 waktu. Pagi, midle dan malam.


“ Nanti kita bicarakan semua di gudang. Yang penting sekarang kamu tahu letak ruko-ruko yang saya miliki,” kata mama Lina.


Dian pun mengangguk. Karena rasa haus yang sudah melanda tenggorokannya, Dian pun meminta izin untuk meminumnya.


“ Saya minum ya nyonya.”


“ Oh ya silakan, sampai lupa saya menawarkan kamu minum, saking terlalu fokus sama bisnis,” sahut mama Lina.

__ADS_1


Dian pun meminumnya. Tanpa disadari ia telah meminum satu gelas habis. Mama Lina pun terheran melihat tingkah Dian saat itu.


“ Apa Saya tidak salah lihat? Semoga saya tidak salah pilih,” pikirnya dalam hati.


Setelah puas melihat-lihat dalam ruko, akhirnya mereka pun meninggalkan ruko itu, lalu menuju ke gudang.


Sesampainya di gudang, Herman membukakan pintu gerbang, lalu mama Lina masuk dan memarkirkan Mobilnya di pekarangan gudang.


Herman pun kaget dengan kehadiran Dian saat itu. Tingkah Herman pun menjadi berubah. Bukan hanya Herman Paijo pun terkejut melihat kehadiran Dian.


Ternyata semua orang di situ menyukai Dian. Dian yang ramah dan supel membuat semua orang menyukainya.


Mama Lina mengajak Dian ke dalam ruang kerjanya. Setelah masuk Dian pun dipersilahkan duduk. Tapi sikap Dian mulai aneh.


Sikap ketidaksopanan Dian mulai muncul. Dian berani menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang yang empuk. Dan ia pun mengangkat kedua kakinya untuk di luruskan.


“ Maaf ya Nyonya, saya terasa lelah sekali, maaf atas sikap saya ini,” kata Dian.


Dian pun merebahkan kepalanya di kursi panjang itu. Sikapnya itu seolah-olah ruangan itu milik pribadinya.


Melihat tingkahnya, mama Lina pun mengernyitkan dahinya. Hatinya sedikit tidak terima dengan sikap Dian.


“ Mengapa sikapnya tiba-tiba Arogan seperti ini? Ehm, mungkin ia lelah,” pikirnya.


Mama Lina duduk di meja kerjanya, lalu membuka laptop. Lalu dia memanggil Herman.


Mendengar namanya di panggil, Herman bergegas masuk ke dalam ruang kerja mama Lina.


“Ya Bu,” sahut Herman.


“Buatkan kopi ya, dua cangkir,” perintah mama Lina.


“Baik Bu,” jawab Herman.


Herman bergegas menuju ruang dapur dan membuatkan dua cangkir kopi.


Sedangkan di ruang kerja mama Lina, ia sibuk mengamati laptop yang berada di hadapannya. Lalu Dian beranjak mendekati.


Dian duduk di hadapan mama Lina. Kemudian mama Lina mengarahkan layar laptopnya mengarah ke depan wajah Dian.


Dian segera menyimak dan memperhatikan layar laptop.


“Lihat, ini semua akan menjadi tanggung jawabmu,” sahut mama Lina.


Dian menoleh ke arah mama Lina dan mengangkat alisnya sebelah kiri. “Tentunya dengan suatu perjanjian kerja,” kata mama Lina kembali.

__ADS_1


Dian menjauhkan wajahnya dari layar laptop, dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki.


“Apa nyonya pikir saya sanggup mengerjakan semua pekerjaan itu?” tanya Dian.


“Saya yakin kamu bisa, kamu mampu. Saya sangat membutuhkan orang sepertimu,” sahut mama Lina memuji.


“Bukankah nyonya perlu orang yang dapat dipercaya? Kan ada Herman,” kata Dian, mengeluarkan pendapatnya.


“ Hahaha, Herman katamu? Bisa apa dia? Bukan cuma bisa dipercaya, tapi saya juga butuh orang yang cerdas, Saya harap kamu pikirkan lagi tawaran saya,” pinta mama Lina.


Dian pun tersenyum tipis. Lalu ia berdiri dan berkata,


“Baiklah, akan saya pikirkan dulu, nanti saya kabari ya nyonya. Saya harus pergi sekarang, masih banyak yang harus saya kerjakan.”


Mama Lina pun tersenyum dan mengangguk. Tapi sebelum Dian beranjak, mama Lina sempat menahan lengan Dian. Kemudian Dian menoleh.


Mama Lina berkata, “Tolong pikirkan tawaran ku dengan matang, karna tak kan ada kesempatan ke dua.”


“Ya, nanti saya kabari secepatnya,” balas Dian.


Dian pun berlalu melenggang, keluar meninggalkan ruang kerja mama Lina. Lalu Paijo membuntutinya. Paijo hendak membukakan pintu gerbang untuk Dian.


Sementara di dalam, mama Lina memanggil Herman.


“Herman!” teriak mama Lina.


Mendengar namanya di panggil, Herman melepas pekerjaannya dan bergegas menghampiri mama Lina yang masih berada di ruang kerjanya.


Herman pun masuk, dan berkata,


“Ya Bu.”


“Duduk kamu,” perintah mama Lina


Herman pun duduk. Lalu mama Lina menerangkan tentang pekerjaan yang kelak akan di limpahkan pada dirinya.


Herman pun menyimak segala keterangan yang sedang di jelaskan oleh mama Lina, sambil mengangguk anggukan kepalanya.


Dan akhirnya mama Lina berkata, “ Nanti kamu bekerja sama dengan Dian. Jika dalam beberapa bulan hasilnya baik, bisnis klub juga akan saya lempar ke dia. Dan kamu, tugas kamu membantunya, serta amati gerak geriknya lalu laporkan ke saya.”


“Siap Bu,” tegas Herman.


“ Bukan saya tidak percaya denganmu Man, kamu kurang peka dalam hal ini. Mangkanya saya perlu sosok Dian di sini,” kata mama Lina.


“Iya Bu, saya mengerti maksud Bu Lina. Saya menyadarinya kok keterbatasan saya dalam bisnis. Saya nggak mampu untuk itu. Saya cuma bisa pekerjaan kasar,” sahut Herman.

__ADS_1


“ Sebenarnya kamu bisa kok. Kamu bisa mempelajarinya, semua butuh proses Man. Tapi saat ini saya butuh orang yang sudah mampu untuk mengerjakan semua. Karna itu saya minta kamu dampingi Dian, agar kamu bisa belajar darinya, mengertikan kamu? Nanti suatu saat, jika kamu sudah menguasai ilmunya, pekerjaan akan saya bagi tugas. Dian hanya megang pekerjaan usaha kulit, sedang kamu, tugasmu nanti pegang klub, itu mau saya,” kata mama Lina menerangkan.


Herman pun manggut manggut. Tapi ada satu bisikan setan yang masuk ke dalam otaknya melalui telinga kirinya. Tapi entah lah itu apa, yang jelas akan terjadi sesuatu di bab berikutnya..


__ADS_2