
Berkali-kali Mbok Yem menghubungi nomor Andre, tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya mbok Yem memutuskan untuk pergi ke rumah Andre dengan menggunakan ojek pangkalan.
Sesampainya Mbak Yem di rumah Andre, Mbok Yem menggedor pintu rumah Andre, hingga akhirnya Rika pun terbangun dari tidurnya. Bukan cuma Rika yang terbangun, tetapi Kanza pun ikut terbangun dan menangis mendengar suara gedoran dari pintu. Rika pun membukakan pintu yang Ternyata mbok Yem yang datang
“ Eh mbok Yem, ada apa sampai Mbok Yem ke sini?”
tanya Rika keheranan, sambil menggendong Kanza yang terus menangis.
“Non Rika, sekarang juga ke rumah yuk! Den Andre mana?” tanya mbok Yem.
Andre pun keluar dari kamar sambil mengucek matanya. Rambutnya masih berantakan dan matanya masih terasa sepat.
Andre melihat kedatangan mbok Yem yang tanpa di suruh sudah masuk ke dalam rumah.
Sambil menarik tangan Andre, mbok Yem berkata,
“Ayok Den, kita ke rumah,” ajak mbok Yem panik.
Andre terheran melihat sikap mbok Yem yang sangat panik. Andre berusaha menenangkan mbok Yem.
“Mbok duduk dulu sini, ngomong pelan-pelan, sebenarnya ada apa? Kenapa Andre harus ke rumah sekarang juga, ada apa Mbok?”
Bukannya menjawab, mbok Yem malah menangis. Tak lama kemudian, ponsel Putri yang di pegang mbok Yem berbunyi.
“Mbok Yem ke mana sih? ini Putri, cepet balik Mbok!”
Suara Putri di saluran telepon.
“Iya Non, sebentar lagi,” jawab mbok Yem sambil menangis.
“Sebenarnya ada apa Mbok? Kalo mbok nangis terus, gimana Andre mau tau?” Andre masih berusaha memenangkan mbok Yem.
“Sekarang Den Andre dateng aja ke rumah, biar tau, dari tadi pagi Den Dicky udah nelponin, tapi enggak di angkat,” sahut mbok Yem yang masih nangis sesenggukan.
Andre pun bangkit dan berjalan menuju ke arah Rika yg sedang menggendong Kanza.
“Kita siap-siap yuk,” ajak Andre.
“Mbok Yem mau nunggu atau pulang duluan?” tanya Rika.
“Mbok nunggu aja, mang Ujang juga nungguin kok di depan,” jawab mbok Yem.
Setelah bersiap-siap, Andre, Rika dan Kanza pergi ke rumah mama Lina.
Sesampainya mereka di depan gang, Andre melihat bendera kuning, dan segera ia menepi. Di pegangnya bendera kuning itu dan membaca tulisan yang ada. Terlukis di sana nama M. Faisal bin Murtadho.
__ADS_1
Sontak saja tubuh Andre gemetaran Rika pun demikian. Dan mereka pun terus berjalan dengan genangan air mata.
Sesampainya mereka di rumah duka, Andre mendekati jasad om Faisal yang sudah di mandikan dan di kafani. Beberapa orang sudah siap mengangkat jenazah sedang Andre masih duduk bersimpuh.
Mang Koko mencoba mengajak Andre untuk pindah duduknya, Andre pun menuruti. Dan jenazah pun telah di angkat oleh beberapa orang warga setempat untuk di bawa ke masjid dan di sholatkan.
Beberapa saat berlalu, jenazah om Faisal pun telah di makamkan. Pada saat malam keluarga Andre membuat acara tahlilan.
Keluarga Andre sangat terpukul atas kepergian om Faisal. Sungguh Andre tidak menyangka bahwa papa dirinya pergi secepat itu, dia merasa belum sempat membalas jasanya.
Begitu juga dengan Putri. Terlihat Putri sangat terpukul, apa lagi dia mengetahui penyebab sakitnya om Faisal karena dirinya.
Acara terus berlanjut, tetapi mama Lina tidak menampakkan dirinya. Ia tidak keluar dari kamar semenjak pulang dari pemakaman.
Setelah acara selesai, Andre pamit pulang pada mbok Yem dan Putri.
“Kami pulang ya Mbok, tolong jaga mama dan rumah ini, maaf Mbok, Andre enggak bisa nginep,” izin Andre seraya menyalami mbok Yem.
“Iya Den, jaga diri dan keluarga baik-baik ya, jaga kesehatan kalian,” sahut mbok Yem.
Rika pun ikut berpamitan dan mengalami mbok Yem serta Putri.
Di dalam kamar, mama Lina menatap cermin. Di pandangi cermin itu, lalu ia berkata,
“Apa yang telah aku lakukan? Apakah aku merasa kehilangan? Maafkan aku Pa, aku telah menyakitimu.”
Mama Lina pun pindah duduk, kini ia duduk di pinggir kasur. “Sekarang aku tidur sendiri, tanpa kamu Pa, kamu yang tenang ya di sana.”
Tiba-tiba ia berdiri tegak di depan cermin.
“Tidak, aku tidak menyesal melakukannya. Kamu hanya merepotkan ku saja Pa, belum lagi biaya kamu terapi, sembuh juga enggak, tapi terapi terus, buang-buang biaya saja, kau pikir semua biaya pakai uangmu?”
Tiba-tiba saja pintu di ketuk dari luar. Mama Lina pun menoleh ke arah pintu. Sialnya ternyata pintu itu telah terbuka tanpa ia sadari.
Lisa telah berdiri di sana. Sorot matanya sendu, tengah mengamati mamanya.
“ Mama! Mama kenapa marah-marah ama papa? Salah papa apa Ma?”
“Apakah Lisa mendengar perkataanku tadi? Oh tidak! Ini tidak bisa di biarkan,” gumamnya dalam hati.
Lisa langsung menutup kembali pintu itu dengan membantingnya. Lisa pergi ke taman belakang, ia duduk termenung di sana.
Putri memanggil Lisa dan menyuruhnya tidur.
“Lisa, ayo tidur, udah malem.”
__ADS_1
Lisa menoleh ke arah Putri dan bangun dari ayunan.
“Lisa mau tidur ama kak Putri atau ama mama?”
“Ama kak Putri aja, deket dede Satria,” sahutnya.
“ Ya udah, kita bobo sekarang ya, tapi naik ke tempat tidurnya pelan-pelan, takut Satria bangun,” kata Putri.
Lisan pun mengangguk. Tak lama kemudian mama Lina keluar dari dalam kamarnya, lalu ia memanggil Lisa.
“Ica, ayo tidur!”
“Iya Ma, ini mau tidur,” sahut Putri.
Lisa masih berada di belakang Putri sambil memegangi baju Putri.
Mama Lina melongok kan kepalanya ke arah belakang tubuh Putri, dia melihat Lisa memegangi baju Putri.
“Kamu kenapa Ca?” tanya mama Lina sambil mengernyitkan dahinya.
Putri menoleh ke belakang, di lihatnya Lisa yang terlihat pucat pasi.
“Ayo sini, kita tidur,” ajak mama Lina pada Lisa.
Lisa menggelengkan kepalanya dan tangannya lebih mengeratkan pada pakaian Putri, hingga Putri tidak merasa nyaman.
“Aduuuuh Lisa, baju kak Putri jangan di tarik gini dong, enggak enak tau!”
“Ica mau tidur ama kak Putri Ma, mau deket ama dede Satria,” sangkal Lisa.
Tanpa berpikir macam-macam, mama Lina mengangguk. “Ya usah kalo kamu mau tidur, deket dede Satria, tapi hati-hati ya, jangan sampe ke tendang adenya,” kata mama Lina mengingatkan.
Mama Lina kembali masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga Putri dan Lisa masuk ke dalam kamar.
Saat Putri menutup pintu kamar, Lisa mengulangi lagi apa yang Putri lakukan. Lisa kembali membukanya sebentar lalu menutupnya. Bukan hanya menutupnya, tapi juga menguncinya.
Putri yang sudah berada di tempat tidur menoleh ke arah pintu, sementara Lisa masih berdiri di sana.
“Kenapa pintunya di kunci Ca?”
“Gak papa, di kunci aja, biar enggak ada yang masuk saat kita tidur kak,” sahut Lisa.
Putri terheran mendengar jawaban Lisa. “Emang menurut kamu, siapa yang bakal masuk?”
“Mungkin pembunuh Kak!” jawab Lisa singkat sambil menarik selimutnya, lalu menghadap ke arah Satria yang sudah tidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Putri pun ikut merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
“Pembunuh, apa maksud Lisa tadi?”