
Saatnya Rika pulang ke rumah dijemput oleh Beni, Desi, Kanza, Nyai dan Ando.
Rika pun senang mendengar bahwa Andre sudah pulang ke rumah.
“Noh ada Andre lagi beres-beres di rumah, tenang aja rumah udah rapi kok,” Kata Desi.
“ Baguslah kalau Andre udah di rumah, mudah-mudahan nggak pergi-pergi lagi,” sahut Nyai.
Rika pun membela Andre dan berkata,
“Andre kan kerja Mi, makanya nggak pulang-pulang. Lagian kerjanya juga sama mamahnya kok.”
“Kerja apa nggak pulang-pulang? Masa dari Cengkareng ke Pasar Minggu aja bisa nggak pulang? Coba kamu selidiki pelan-pelan, jadi istri jangan iya-iya aja,”
Kata Nyai.
Rika pun hanya terdiam. Beberapa saat kemudian mobil Mereka pun sampai tepat di depan rumah Rika.
Desi pun turun sambil menggendong bayi Anisa sementara Nyai menuntun Rika dan Khansa.
Beberapa saat mereka tiba tidak lama kemudian Andre pun juga tiba di tempat itu. Dan mereka pun kaget melihat Andre baru datang sedangkan yang mereka tahu Andre memang ada di rumah.
Andre terkejut melihat kepulangan mereka. Dikira Andre mereka pulang sore ternyata tidak, mereka pulang lebih awal dari perkiraan Andre.
“ Kamu dari mana, kok Rapi banget? Mami pikir kamu di rumah aja Ndre,” tanya Nyai.
Ini Mi Andre habis dari depan,” jawab Andre.
Andre pun membuka pintu rumah kemudian menyuruh Rika masuk. Dan ketika di dalam rumah Rika bertanya pada Andre, “ Pah, kamu nggak pengen lihat bayi kita?”
“ Iya pengen, tapi kan bisa ntar. Aku lagi buru-buru nih Mah Aku nyari ijazah aku mana ya mah?” tanya Andre.
Nyai hanya memperhatikan dari kejauhan. Sedangkan Beni sudah mulai geram melihat tingkah Andre.
“Ma, jangan diam aja dong, tolong cariin!” pinta Andre.
Rika duduk di bangku sambil menyenderkan tubuhnya. “Maaf Pa, aku lemes. Nanti ya aku cariin, aku kan baru aja sampe Pa,” sahut Rika.
Mendengar jawaban Rika, Andre hanya diam, sambil mencari ijazahnya di dalam lemari.
Andre terus mencari, Tetapi dia tidak menemukannya. Dengan perasaan kesal akhirnya pergi meninggalkan rumah Rika.
“ Pa, Papa mau ke mana lihatin dulu kenapa sih anak-anaknya,” Panggil Rika.
Tapi sayang Andre tidak menggubris panggilan Rika hingga akhirnya membuat Beni menjadi geram.
“ Dre, Lu nggak denger bini lu manggil-manggil lo? Tengok dulu lah bini dan anak lo udah berapa lama lu nggak pulang-pulang?” tanya Beni dengan pertanyaan yang beruntun.
Andre tidak suka urusannya dicampuri orang lain. Karena itu Andre mengabaikan perkataan Beni.
Akhirnya Benny pun kesal dan Beni memukul wajah Andre.
“BEGH!”
satu pukulan dari tangan Beni yang kekar ke wajah Andre hingga membuat hidung Andre berdarah.
“ Apa-apaan sih lu Bang! Gua nggak suka urusan rumah tangga gue dicampurin orang lain, apalagi ini di rumah gue sendiri bang,” Celoteh Andre, karena tidak terima dipukul Beni.
“ Bukannya gue ingin ikut campur urusan keluarga lo, tapi gue nggak suka cara lu memperlakukan adik gue kayak gitu. Adik gue itu habis melahirkan, elo sebagai suaminya bukan lo urus malah lo tinggal tinggal!!!”
“ kalau lu mau ngurusin, Ya udah lu urus dia! Gua mau pergi!”
Lalu Andri pun pergi begitu saja tanpa pamit kembali pada Rika dan Nyai.
Rika menangis saat Andre dipukul oleh Beni.
“ Sorry ya Rika, gue pukul laki lo tadi, gue nggak suka kelakuannya kayak gitu ke elo,” kata Beni.
Beni menjauh dari Rika dia duduk di kursi depan, sementara Nyai mendekati dan bertanya pada Rika,
__ADS_1
“ Sejak kapan sikap Andre kayak gitu Rika? Mmi Beni dan yang lain ada di sini bukan pengen ikut campur, tapi Mami pikir Kalau Mami nggak ada di sini Siapa yang ngurusin kamu?”
Rika hanya menangis mendengar ucapan Nyai dan Beni.
“ Sudahlah masuk kamar sana, istirahatlah, nanti mami masak buat kamu makan,” perintah Nyai.
Rika pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Sementara Nyai bergegas ke dapur untuk memasak.
Sementara Andre yang tengah berada di jalan sedang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Dia memaki dirinya sendiri, “Aduh, tuh ijazah di mana sih, kok gak ketemu ya? Kira-kira di simpen di mana sih ma Rika? Gimana caranya?”
Sampailah Andre di rumah mama Lina, di sana sudah ada Dian yang menunggunya.
“Gimana, udah ada?” tanya Dian.
Andre tidak menjawab pertanyaan Dian, dia terus masuk ke dalam dan duduk di sana.
Dian pun ikut masuk ke dalam dan mendekati Andre yang tengah duduk menyender. Tanpa rasa sungkan Dian bersender ke bahu Andre.
“Kok kamu lama banget sih Ndre, aku kan nungguin kamu, lama banget,” rayu Dian.
“Maaf ya, aku tadi beres-beres dulu, eh keburu Rika pulang. Lama lagi deh jadinya,” sahut Andre.
“Emang udah waktunya pulang? Kayanya baru tiga hari,” tanya Dian.
“Aku gak tau, tapi tadi kalo gak ada orang juga aku cepet kok balik lagi. Tadi pas aku dateng mereka juga sampe. Malahan ada mami juga. Pake ribut dulu lah ama bang Aben,” kilah Andre.
Dian mempertegas pendengarannya. “Apa tadi kamu bilang, ribut?”
“Iya, bang Aben sempet nonjok aku,” kata Andre.
“Ya ampun, pantes hidung kamu kok ada merah-merahnya, ini bekas darah?” tanya Dian.
“Ah, sudahlah. Kita balik aja yuk ke gudang, nanti mama marah,” ajak Andre.
Dari kejauhan mbok Yem memperhatikan mereka, mbok Yem sedang merapikan meja makan yang berantakan sempat mendengar perbincangan mereka.
“Aku ambilkan minum dulu ya,” tanpa menunggu jawaban, Dian bergegas mengambilkan minum untuk Andre. Dian mengambil gelas dari ruang makan.
“Hei kamu! Sejak kapan kamu berdiri di situ?” tanya Dian pada mbok Yem.
“Maksud Non apa? Mbok kan lagi kerja, apa mbok di sini ganggu Non?” kilah mbok Yem.
Tanya berkata-kata Dian membalikkan badan sambil mengambil sesuatu dari sakunya, entah apa. Mbok Yem melihatnya.
Lalu Dian menyuguhkan air putih itu pada Andre, dan Andre pun meminumnya.
“Kok rasanya agak getir ya airnya,” kata Andre protes.
“Loh, aku ngambil dari galon kok, kamu tanya aja pembantu kamu itu, kenapa rasa airnya sedikit getir,” sahut Dian mengelak.
“Ayo kita berangkat,” ajak Dian.
“Bentar aku mo pipis dulu,” sahut Andre.
Andre beranjak masuk ke dalam kamar mama Lina, karena di sana toilet terdekat.
Jika Andre ke dapur, dia khawatir tidak keburu. Akhirnya dia memutuskan untuk ke toilet kamar mama Lina, karena kepalanya terasa berat.
Saat Andre masuk ke dalam toilet, Andre merasa mual dan pusing.
“Aduh, gue kenapa ya? Pala gue pusing amat, rasanya mau muntah pula,” gumamnya pelan.
Setelah buang air kecil dan membersihkannya, Andre keluar dari toilet. Kepala Andre bertambah berat, dan akhirnya dia memutuskan untuk merebahkan sebentar di tempat tidur mamanya.
Sementara Dian menunggu di luar.
“Lama banget sih si Andre, bakal ngomel deh emaknya,”
Celotehnya pelan. Tapi sayang, tanpa Dian sadari, ucapannya di dengar boleh mbok Yem.
__ADS_1
Mendengar ucapan Dian, memancing mbok Yem untuk lebih memperhatikan gerak gerik Dian.
Mbok Yem merasa bertanggung jawab atas keamanan rumah itu.
Dian memperhatikan sekelilingnya. Karen merasa tidak di awasi, Dian mendekati pintu kamar mama Lina. Dian mengetuk pintu memanggil Andre.
“Ndre, masih lama?” tanya Dian.
Dian mengetuk kembali pintu kamar, tapi tak ada jawaban.
Akhirnya Dian membuka pintu kamar, dia melihat Andre tergeletak di atas tempat tidur. Sian pun masuk.
Tapi sebelum masuk, Dian menghubungi seseorang lewat sebuah pesan, “Berhasil.”
Setelah mengirim pesan pada seseorang, Dian masuk ke dalam kamar mama Lina dan menguncinya dari dalam.
Melihat itu semua, mbok Yem tidak tinggal diam, dia menghubungi Putri, yang saat itu sedang mengajak Satria bermain di luar.
“Halo, Non Putri, cepet pulang, ada yang gak beres nih di rumah.”
“Apa sih Mbok ngomongnya bisik-bisik, gak kedengeran,” sahut Putri.
Tapi saluran telepon pun terputus.
Aduh, nih HP kenapa sih,” maki mbok Yem.
Tanpa di sadari, mbok Yem tengah menekan tombol memanggil. Ternyata tersambung pada ponsel mama Lina.
Di sana mama Lina menerima telepon dan menyapa,
“Halo, halo,”
Sapa mama Lina.
Tapi Mbok Yem tidak mendengar karena Mbok Yem tidak mengetahui bahwa ia telah menekan tombol panggilan.
Putri dan Satria pun sampai di rumah. kemudian mbok Yem mendekatinya dan berkata dengan berbisik.
Putri mendengarkan apa yang dikatakan Mbok Yem ke telinganya. Tiba-tiba mata putri terbelalak, putri pun langsung panik dan berjalan menuju kamarnya.
Putri meninggalkan Satria dan dititipkan pada Mbok Yem.
“ Mbok tolong pegang Satria dulu ya, Putri mau cari kunci serep kamar mama dulu.”
Bergegas ia masuk ke dalam kamarnya Yang tepatnya terletak tepat di samping kamar mama Lina.
Putri mencari di laci meja riasnya. Hampir semua isi laci dia keluarkan, tetapi apa yang ia cari tidak didapat di sana.
Kemudian ia mencari di laci yang terletak di dalam lemarinya. Putri pun mengeluarkan isi laci tersebut Lalu ia mendapatkan kunci serep mama Lina.
“ Alhamdulillah dapat,” sahutnya pelan.
Lalu Putri keluar dari kamarnya menuju kamar mama Lina Putri membuka pintu dengan kunci yang ia pegang dengan pelan-pelan.
Tapi sayang, karena di dalamnya sudah ada kunci yang menempel, maka kunci yang Putri masukan dari luar tidak dapat membuka pintu itu.
Melihat ketegangan itu Satria Pun Menangis.
Sedangkan di dalam kamar, Dian mendengar kegaduhan di luar. Sengaja iya tidak menggubris semua itu lantaran ia akan melaksanakan aksinya.
Akhirnya Putri memiliki ide untuk mencongkel dari luar, agar kunci yang menempel bisa terlepas dari sana.
Mbok Yem mengambil kawat pendek dan diberikannya kepada putri kemudian Putri pun melakukan pencongkelan dari luar.
Beberapa saat kemudian kunci pun terjatuh ke lantai. Dan Putri pun membuka dengan kunci cadangannya lalu berhasil.
Dengan pelan Putri membuka pintu kamar mama Lina Betapa terkejutnya Putri dan mbok Yem melihat apa yang sedang Dian dan Andre lakukan.
Putri yang berdiri di depan pintu kamar langsung memeluk Satria agar Satria tidak melihatnya.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian mama Lina pun sampai bersama Dicky.
Dari arah depan mama Lina berteriak memanggil Mbok Yem,sedangkan mama Lina terus memantau suara dari ponselnya yang mengarah pada ponsel yang mbok Yem pegang.