
Herman dan beberapa orang lainnya berada di ruang meeting gudang.
Mereka merencanakan sesuatu atas perintah mama Lina.
Herman yang memimpin rapat itu. Tetapi yang hadir hanya sebagian saja. Untuk urusan ini memang Herman dengan sengaja memilih beberapa orang saja yang ikut serta.
Mulailah Herman menyusun strategi untuk mencari keberadaan Ricard.
Herman sangat mengenal Ricard. Tidak mungkin gerakannya selicin belut. Kecuali ada seseorang yang membantunya.
Strategi demi strategi telah di susun oleh Herman.
Ia tidak mau mengecewakan majikannya, karena saat itu Herman di beri kepercayaan penuh untuk mencari Ricard dan menghabisinya.
Sementara, mama Lina tengah sibuk mengurus Andre yang sedang sakit. Dan saat itu ia masih berada di rumah sakit beserta om Faisal.
Rika meminta izin untuk pergi ke kantin.
“Ehm, Om, Rika ke kantin dulu ya,”
pamit Rika.
“Ya udah sana, kamu gak usah nelpon orang rumah ya, jangan lupa, kita pulang bareng aja,”
kata om Faisal.
Rika pun mengangguk.
Rika dan Erna keluar dari makar rawat inap itu, untuk menuju ke arah kantin.
Sesampainya di kantin, Rika memesan beberapa makanan dan minuman untuk di santapnya bersama Erna.
Erna duduk menunggu, sedang Rika masih di meja kasir.
Setelah memesan dan membayar, Rika kembali ke arah Erna, dan duduk satu meja dengan Erna.
Mereka terdiam dan aling pandang. Tidak lama kemudian makanan dan minuman pun datang, dan siap di santap.
Erna bertanya pada Rika,
“Gimana nih Rik, gue jadi bingung, dan gue juga takut.”
Bingung gimana, ngapain di bingungin sih? Santai aja, kan ada om Faisal, jadi gak usah bingung, apa lagi takut, he he he,”
jawab Rika.
“Iya sih, bener juga. Gue cuma takut gue juga masuk ke dalam target dia,”
kata Erna.
“Iya, gue ngerti Er, maapin ya, gue udah nyeret lo ke dalam masalah gue,” kata Rika.
“Ah, enggak lah, gue enggak merasa lo trik gue ke dalam masalah lo, ini semua ngalir giu aja, gue yang ngenali dia di ruang meeting, itu bukan salah lo Rik, lo jangan gitu dong,”
kata Erna.
Erna pun kembali berkata,
“Sebelum gue kenal siapa wanita yang selalu pake syal dan kacamata hitam itu, yang gue tau dia itu termasuk pemilik saham di club kita. Dan bukan club kita aja, tapi ada beberapa club yang dia punya di kota.
“Gila! Hebat ya. Punya bisnis yang lain juga, kaya barang-barang yang terbuat dari kulit. Tas, gesper, dompet. Otletnya juga ada di mana-mana, dan gue denger, dia mulai buka di depstore juga,"
kata Rika.
Erna pun menimpali,
“Lebih gila lagi, suami dan anak-anaknya gak tau gimana kelakuannya yang sebenarnya.”
“Udahalah Er, gak usah di bahas, gak enak dengernya. Gimana pun dia itu calon mertua gue,”
kata Rika.
__ADS_1
“Tapi lo udah yakin beneran Rik, mau terus lo lanjutin hubungan lo sama Andre?”
Tanya Erna.
“Lanjutlah, udah nanggung. Lagian gue mau nikahnya kan ama anaknya, yaaa anggap aja adanya emaknya sebagai butirn debu yang beterbangan,”
kata Rika.
“Iya, debu yang beterbangan, bikin mata kelilipan, ama bikin orang batuk-batuk, ha ha ha,”
kata Erna menimpali.
Mendengar jawaban sahabatnya, Rika memukul bahu sahabatnya perlahan, sambil tertawa.
“Bisa aja lo Er,”
kata Rika.
Selesai makan, mereka pun kembali ke kamar perawatan yang Andre tempati.
Mama Lina dan om Faisal masih berada di sana. Om Faisal pun kembali menawarkan jasa untuk mengajak pulang bersama.
“Ayo Rika, kita pulang bareng, kamu juga, siapa namanya?”
Tanya om Faisal.
“Erna om,”
jawab Erna.
“Oke, kita pulang bareng ya. Andre, Om pulang dulu ya, nih mama juga lagi mau pergi katanya,”
kata om Faisal.
“Iya, Mama lagi ada kerjaan, mau buka di Depstore, muda-mudahan aja laris manis di sana,”
kata mama Lina.
“Lekas sembuh ya jagoan Om,”
kata om Faisal pada Andre.
Mereka pun keluar dari kamar perawatan Andre menuju tempat parkir.
Karena keadaan om Faisal yang belum sangat pulih, saat itu yang memegang kemudi adalah mama Lina.
Mama Lina masuk ke dalam mobil lebih dulu, untuk membuka pintu mobil yang secara otomatis terbuka dari dalam.
Di susul oleh om Faisal, yang duduk di samping kemudi. Lalu Rika dan Erna masuk ke salam mobil bagian belakang.
Mama Lina pun mulai mengemudi kan kendaraannya secara perlahan, kemudian menambah kecepatannya.
Siang itu keadaan jalan tidak terlalu padat, hingga hanya beberapa menit lamanya perjalanan menuju rumah Erna.
Tepat di persimpangan jalan, mama Lina menghentikan mobilnya, dengan perintah Erna.
“Udah bu, di sini aja,”
kata Erna.
Erna kembali berkata,
“Makasih banyak ya Bu, Om, udah nganter Erna sampe rumah. Maaf juga ya, Erna enggak ngajak mampir, takut mama Erna nanya-nanya, trus panik.”
“Iya, gak apa-apa. Kamu istirahat ya, jangan terlalu tegang,”
perintah mama Lina.
“Baik bu,”
Jawab Erna sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
Senam pun segera keluar dari mobil, dan berjalan melalui jalan sempit yang menuju rumahnya.
Sekarang saatnya mama Lina dan om Faisal mengantar Rika.
Ketika mereka telah sampai di depan rumah Rika, ternyata Iyan sudah hadir di sana.
Iyan sedang duduk di depan teras rumah Rika, dan Rika pun segera turun dari mobil mama Lina.
Iyan menyambut kedatangan mereka, dan menawarkan mereka untuk singgah.
“Mampir dulu mama Andre, istirahat dulu di sini,”
sapa Iyan.
“Iya bang Iyan, terima kasih, udah sore, kasian juga nih si papa. Oh ya, bang Iyan belum kenalkan ama papanya Andre? Kenalin nih Bang, ini papanya Andre,”
kata mama Lina.
Mereka pun saling berjabat tangan, dan saling memperkenalkan diri.
“Kenalkan Om, saya abangnya Rika,”
kata Iyan.
Om Faisal pun tersenyum
Setelah berbincang-bincang sebentar, mama Lina segera berpamitan.
“Kami pulang dulu ya Bang, biar Rika istirahat juga,”
kata mama Lina, sambil merangkul bahu Rika.
"Sebenarnya saya ingin jemput Rika, pas jam besuk ke dua, eh udah di anter, syukurlah,”
kata Iyan.
“Oh ya, nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, kita bicarakan tentang kelanjutannya Andre ama Rika gimana,”
kata mama Lina pada Iyan.
Rika pun tersenyum. Dalam hatinya berkata,
“Pandai kali kau Mah bersandiwara! Sayang aku tak pandai kaya kau!”
Tangan mama Lina mengusap-usap bahu Rika, terlihat sangat akrab bagi yang melihatnya.
Kemudian mereka pun berlalu. Rika dan Iyan pun masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Rika segera merebahkan diri di lantai yang beralaskan karpet tebal.
Iyan duduk bersandar di dinding. Dan tak lupa, dia menyalakan TV.
“Gimana keadaan kamu Ka, udah enakan?”
Tanya Iyan.
“Iya, enakan. Tuh ada obatnya, biar enggak nyeri,”
kata Rika.
“Keliatannya mamanya Andre sayang ya sama kamu Ka, yaaa mudah-mudahan sayang terus ya sama kamu,”
kata Iyan.
Mendengar perkataan Iyan, Rika tersenyum kecut, kemudian dia mengalihkan pandangannya pada layar TV.
Rika berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin, jika ada salah satu anggota keluarganya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mereka akan berpikir bahwa Rika makhluk yang paling bodoh, yang pernah mereka temui.
Rika berpendapat, mereka akan mengecam hubungan ini. Karena itu, Rika berusaha menutupi serapat mungkin dari anggota keluarganya.
__ADS_1