
Putri membuka pintu kamar rumah sakit dan melihat siapa yang datang sore itu.
Ternyata, yang datang sore itu adalah Rika, kekasih Andre, kakak Putri.
Putri pun menyambut kedatangan Rika dengan rasa senang, begitu pun Andre.
Perasaan Andre kala menyambut kedatangan kekasihnya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, sampai-sampai Andre tidak sengaja mengeluarkan air mata.
Rika pun merasa senang dan bahagia di sambut Putri dan kekasihnya, Andre.
Kegalauan Rika saat itu ternyata hanya perasaan buruk saja. Bayangan melihat Andre marah, ternyata menjadi indah pada kenyataannya.
Putri mempersilakan Rika masuk.
“Silakan masuk kak,”
Kata Putri pada Rika.
“Iya Put, terima kasih,”
Jawab Rika.
Rika pun segera masuk ke dalam kamar di mana tempat om Faisal di rawat.
Rika mendekati om Faisal yang masih berbaring tidak berdaya. Rika mengambil tangan kiri om Faisal, yang seharusnya yang Rika ambil adalah tangan kanan.
Karena tangan kanan masih terikat dengan infusan, maka Rika mengambil tangan kirinya untuk di salami.
Setelah Rika menyalaminya, Rika pun memberi senyuman tipis pada om Faisal, dan om Faisal pun membalas senyuman Rika.
Walau om Faisal saat itu masih tidak berdaya, tetapi om Faisal masih mampu menyimak keadaan.
Dengan begitu, om Faisal mengarahkan tangannya yang masih di genggam Rika ke arah Andre.
Rika pun merasa canggung di buatnya. Segera Rika melepaskan tangan om Faisal dan menghadap pada Andre.
Rika pun terpaku di hadapan Andre, dan merasa bingung harus berbuat apa.
Melihat kecanggungan kekasihnya, segera Andre mendekatinya, seraya memeluknya dengan lembut.
Pecah sudah tangis Rika saat itu di pelukan Andre, kekasihnya. Rika menangis sampai terisak-isak di pelukan Andre.
Mendengar isak tangis Rika yang sudah reda, akhirnya Putri berusaha mencairkan suasana.
“Ehem-ehem, dunia seperti milik berdua ya, he he he,”
Kata Putri.
Rika pun tersadar. Di lepaskannya pelukan Andre dan Rika mengusap pipinya yang basah dengan telapak tangannya.
Melihat apa yang di lakukan Rika, putri pun mengambilkan tisu, dan Rika menerimanya.
Sengaja Andre tidak berkata apa-apa, karena takut Rika akan menangis lagi.
Putri mengambil kursi dari luar kamar untuk Rika, dan Rika pun duduk berdekatan dengan Om Faisal.
Om Faisal memegang tangan Rika, dan memberi isyarat bahwa semua baik-baik saja.
Mesara dirinya sudah baik-baik saja, Rika pun berkata pada om Faisal,
“Om, maafin Rika ya, Rika gak tau apa yang udah terjadi.”
Mendengar ucapan Rika, om Faisal pun tersenyum, dan mengedipkan kedua matanya.
Andre yang sedari tadi berdiri terpaku, melangkahkan kakinya mendekati Rika yang duduk di kursi. Dia berdiri di belakang Rika dan memegang kedua bahu Rika, dengan niat agar Rika bisa lebih tenang.
Melihat sikap Andre, Rika pun merasa lebih tenang. Rika memegang tangan Andre yang masih menempel di bahunya.
Putri pun berkata,
“Kak, maapin ya,kalo kami malam itu gak sampe ke rumah, pasti kak Rika nunggu kami.”
“Iya Put, harusnya aku yang minta maaf dengan kalian, aku dah berpikir negatif dengan kalian, terutama ama Andre. Maapin aku ya Dre, aku udah sangka buruk sama kamu,”
Kata Rika.
“Iya, aku udah maapin kamu kok, dan aku maklumin sikap kamu kaya gimana ke aku,”
Kata Andre.
Andre pun kembali berkata,
“Tapi aku gak suka loh kalo kamu sama cowok gondrong itu, siapa sih dia? Ngambil kesampatan dalam kesempitan aja, kamu tau gak sih, aku tuh cemburu tau!”
Seketika Rika, Putri dan om Faisal tertawa.
########
“Bu, kancil lolos.”
Begitu isi pesan Ricard pada seseorang dari ponselnya.
Setelah Ricard mengirim pesan pada seseorang, Ricard pun melajukan kembali mobilnya ke arah rumah Erna, yang tak lain adalah teman kerja Rika.
Sampailah Ricard di depan rumah Erna, dan Erna pun menyambutnya.
Kali ini tidak seperti biasa, tidak ada Rika di dalam mobil Ricard.
Erna pun bertanya pada Ricard,
“Rika mana, kok gak ada?”
“Rika izin ridak bekerja dulu, katanya ada urusan mendadak,”
Jawab Ricard, sambil membukakan pintu depan mobil untuk Erna.
“Gue di depan nih, mang gak papa?”
Tanya Erna.
“Ya, tidak apa-apa. Masa kamu duduk di belakang, seperti saya ini sopir kamu,”
Jawab Ricard.
“Ya gak gitu sih, cuma risih aja duduk sampingan ama kamu,”
Kata Erna .
Ricard pun tersenyum mendengar penjelasan Erna.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian ponsel Ricard berbunyi, ada pesan yang masuk pada ponselnya.
Sambil melajukan mobilnya dengan perlahan, Ricard memeriksa ponselnya dan membaca isi pesan tersebut, yang isinya adalah, “ Kamu sangat bodoh.”
Ricard pun tersenyum setelah membaca isi pesan itu, dan terus melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan.
#########
Di rumah Andre, mama Lina sedang bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah sakit, di mana suaminya di rawat.
Mama Lina mengatur anak-anaknya agar mau di urus dengan mbok Yem, pembantu rumah tangganya, yang sangat di percaya.
“Mbok Yem, tolong urus anak-anak ya, saya mau ke rumah sakit,”
Perintah mama Lina pada asisten rumah tangganya.
Dengan patuh, Mbok Yem menjawab,
“Baik Bu.”
Mama Lina segera memanaskan mesin mobilnya sebelum di kendarai.
Lisa menangis melihat mama Lina yang hendak pergi. Diki pun ingin agar dirinya di ikut sertakan, akan tetapi mama Lina tidak mengizinkan.
“Ma, Diki ikut ya.”
“kamu di rumah aja, jagain Lisa, Rizky dan Ricky, bentar lagi juga kak Putri pulang. Kamu tunggu aja ya,” kata mama Lina pada Diki.
“Ma, Lisa kangen papa,”
Rengek Lisa.
“Ini, kamu lagi, jangan cengeng ah, mama gak suka kalo anak mama cengeng, kalo kamu butuh apa-apa, minta aja ya sama mbok Yem. Kalo kamu gak suka susu buatan mbok Yem, nanti minta bikinin sama bang Diki, dia bisa, oke Lisa?”
Kaka mama Lina pada Lisa.
Lisa pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia telah mengerti dengan perkataan mamanya.
Setelah mengatur semuanya, mama Lina mengemudikan mobilnya, dan melajukannya dengan perlahan.
Mama Lina meninggalkan rumah dan hendak ke rumah sakit menjenguk suaminya.
Suasana jalan sangat ramai dan padat. Sehingga waktu perjalanan dari arah rumah tempat tinggalnya ke arah rumah sakit memakan waktu lebih lama dari biasanya. Sehingga membuat mama Lina menjadi kesal.
Dan tibalah mama Lina di area rumah sakit, di mana om Faisal di rawat.
Mama Lina memarkir mobilnya di bagian lobi. Dan tidak lama kemudian ponselnya berdering.
Ada seseorang yang menghubunginya melalui telepon genggamnya. Mama Lina menekan ponselnya tanda mama Lina menerima panggilan itu.
“Ya, halo,” kata mama Lina.
Mama Lina terdiam sesaat, kemudian mama Lina kembali berkata,
“Sebodoh itu kamu ya ternyata, pakai inisiatifmu, pokoknya jalani peranmu sebaik mungkin dan jangan sampai tercium, oke.”
Mama Lina pun memutuskan saluran telepon genggamnya, dan memasukkan ponselnya ke dalam tas yang dia bawa.
Kemudian mama Lina melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit.
########
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam, waktunya makan malam.
Perut Andre sudah merasa lapar, begitu pun Rika, yang sebenarnya keadaan perutnya juga sudah lapar.
Putri pun berkata,
“Bang, gue mau pulang, lo kalo mau makan, makan aja dulu, biar om Faisal gue jagain dulu. Tapi jangan lama-lama ya.”
Andre pun mengajak Rika untuk makan malam di kantin rumah sakit itu.
Andre berkata pada Rika,
“Sweety, kita makan dulu yu’, kaya biasa, kamu traktir aku ya, he he he.”
Rika pun tersenyum mendengar perkataan Andre, dan mengangguk.
Tapi berbeda dengan tanggapan Putri, setelah mendengar apa yang Andre ucapkan pada Rika,
“Ih abang, malu-maluin banget ih! Jangan mau kak Rika, sama cowok matre! Kalo jadi Putri sih, jau jau lah, sana ke laut aja!”
Melihat sikap Putri, mereka pun tertawa.
Ketika mereka hendak keluar dai kamar perawatan, tidak lama kemudian terdengar suara pintu terketuk dari luar dan terdengar suara seseorang memberi salam.
Putri pun membukakan pintu itu, dan ternyata yang datang adalah mama Lina.
Betapa terkejutnya mama Lina melihat kehadiran Rika, dan begitu pula dengan Rika, Rika pun terkejut melihat kehadiran mama Lina.
Sikap Rika pun menjadi canggung beserta rasa takut.
Mama Lina memasuki ruang kamar itu dan mendekati suaminya, yaitu om Faisal.
Rika pun mendekati mama Lina untuk menyalaminya, tapi sayang, sikap mama Lina begitu dingin, hingga terlihat enggan memberikan tangannya untuk bersalaman.
Andre pun melihat sikap mamanya, hingga Andre merasa heran.
“Mengapa mama bersikap seperti itu?” gumamnya dalam hati.
Untuk mencairkan suasana, Andre meminta izin untuk mengajak Rika makan di kantin.
“Ma, Andre makan dulu ya, udah laper banget nih, mama di sini dulu ya. Put, lo kalo mau pulang, ya udah, pulang deh sana, takut kemaleman juga. Ma, Andre tinggal dulu ya,” kata Andre.
Tanpa menunggu jawaban dari mamanya, Andre pun bergegas menuju ke luar kamar, sambil menarik tangan Rika, dan Rika pun mengikutinya tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya.
Di luar kamar, Andre melepas genggaman tangannya, dan segera melihat raut wajah Rika.
Rika hanya terdiam dan tertunduk malu. Andre pun kembali menarik tangan Rika, dan mereka pun berjalan beriringan ke arah kantin rumah sakit.
##########
Di dalam kamar perawatan, Putri meminta izin untuk pamit pulang lebih dulu pada om Faisal dan mama Lina.
Mama Lina pun bertanya,
“Kenapa kamu bukan dari tadi pulangnya?”
“Dari tadi sebenarnya Putri mau pulang, tapi pas Putri mau pulang, kak Rika dateng, ya udah kita ngobrol dulu deh. Oh ya ma, ternyata bang Andre sama kak Rika itu berantem. Keluarga kak Rika malam itu udah nunggu kita ma, ternyata kita gak nongol-nongol, mereka jadi salah paham deh. udah ah, Putri pulang,"
__ADS_1
Kata Putri.
Dan Putri kembali berkata,
“Ma, entar pulangnya jangan malem-malem ya, kasian Lisa.”
Mama Lina pun menjawab,
“Liat nanti Put, abis dari sini mama juga masih ada urusan bisnis.”
“Gak bisa besok ma, ini kan udah malem,”
Kata Putri.
“Masih banyak bisnis mama yang harus mama urus, Putri,”
Kata mama Lina.
Putri pun keluar kamar, meninggalkan mama Lina dan Om Faisal.
“Pa, gimana keadaannya, udah enakan?” tanya mama Lina kepala suaminya.
Om Faisal pun tersenyum dan mengangkat alisnya dengan tinggi.
“cepet sembuh dong, urusan aku jadi banyak yang terbengkalai, siang sampe sore aku harus ngawasin karyawanmu, mereka pulang aku harus beres-beres, malem aku harus kontrol anak buahku, kasian juga kan anak-anak kalo malem aku harus tinggal terus, apa lagi Lisa, gak mau banget di bikinin susu sama mbok Yem, katanya gak manis kalo mbok Yem yang bikin,”
Kata mama Lina sambil bersikap manja di depan suaminya yang masih terbaring tidak berdaya.
Om Faisal pun mengambil tangan mama Lina, dan menggenggamnya, sambil menepuk-nepuk punggung tangan mama Lina.
Mama Lina pun mengerti apa yang om Faisal maksud.
Mama Lina pun tersenyum dan mengecup kening suaminya.
Kemudian mama Lina merapikan ruangan itu, dan memasukkan pakaian kotor milik suaminya ke dalam tas besar yang dia bawa.
Tidak lama kemudian Andre dan Rika kembali, sesaat mereka mengisi perut mereka yang kosong.
Mama Lina berpamitan pada suaminya dan berkata,
“Pa, mama pulang dulu ya, tapi sebelum aku pulang, aku mampir dulu ke gudang, masih banyak yang harus di urus di sana.”
Sebelum mama Lina keluar dari kamar, mama Lina mengambil tas besar yang berisi pakaian kotor untuk di bawanya pulang.
Melihat mama Lina meminta izin untuk pulang, Rika pun merasa sedikit lega. Tapi sayang, semua itu berubah seketika, manakala mama Lina mengajak Rika untuk pulang bersamanya.
“Oh ya Dre, ini kan sudah malam, gimana kalo Rika pulang bareng mama? Nanti mama anter dia sampai rumahnya,”
Pinta mama Lina.
Andre pun merasa senang mendengarnya, karena Andre merasa sedikit khawatir jika Rika pulang hanya seorang diri.
Berbeda dengan tanggapan Rika, dia akan sangat tersiksa jika berdekatan dengan mama Lina, apa lagi mereka hanya berdua, entah apa jadinya Rika nanti.
Akhirnya Rika menolak ajakan mama Lina, dengan alasan tidak mau merepotkan.
Tetapi, mama Lina pun tidak kalah dalam berbicara, mama Lina punya alasan lagi yang tak mungkin Rika bisa menolaknya di depan Andre dan om Faisal.
“Rika, ini sudah malam, dan kamu juga kan naik kendaraan umum, lebih baik dan lebih aman jika kamu bareng mama, nanti mama anter kamu sampe depan rumah kamu,”
Kata mama Lina.
“Eh, iya sweety, lebih baik kamu bareng mama ku aja, enakkan kamu di anter sampe depan rumah, lebih aman,”
Kata Andre.
Rika memandang wajah Andre, terlihat wajah yang penuh dengan rasa percaya.
Begitu juga dengan om Faisal, dia pun memberi senyuman yang hangat pada Rika.
“Aduuuuh, sialan, gimana ini, gimana gue bisa nolak? Bakal jadi omcom nih gue di buatnya,”
Gumamnya dalam hati.
Hati Rika saat itu bercampur baur. Untuk menghilangkan rasa yang tidak menentu, Rika membetulkan tali sepatunya.
Rika duduk di kursi dan membungkuk, sambil membetulkan tali sepatunya yang sebenarnya sudah kencang.
“Ya ampun, gue pengen kabur aja deh kalo kaya gini, andai bisa gue lakuin saat ini, gue bakal kabur sejauh-jauhnya,”
Gumamnya dalam hati.
Akhirnya Rika pun bangkit dari tempat duduknya, dan bersalaman pada om Faisal,
“Pamit ya Om, lekas sembuh ya, Rika pulang dulu. Dre, aku pulang ya.”
Mama Lina pun menggiring Rika keluar kamar dengan mesra di hadapan Andre.
Dan mereka pun meninggalkan kamar rawat menuju ruang parkir di lobi rumah sakit.
Dalam perjalanan dari kamar menuju tempat parkir, sikap mama Lina tetap baik dan ramah.
Bahkan, mama Lina pun rela membukakan pintu mobil untuk Rika, dan mempersilahkan Rika agar segera masuk ke dalam mobil.
Mama Lina melajukan mobilnya perlahan hingga mobil yang di kendarainya keluar dari area rumah sakit, dan setelah itu mama Lina menambah kecepatan mobilnya. Karena jalanan sudah lengang, mama Lina bisa menambah kecepatan mobilnya kembali.
Karena kecepatan mobil yang mama Lina kendarai terlalu tinggi, hingga membuat Rika takut, Rika pun sampai berpegangan tepat di atas kepalanya dengan kuat.
Tiba-tiba mama Lina menekan rem dengan mendadak, sehingga membuat kepala Rika pun terbentur.
Mobil mama Lina pun terhenti seketika. Melihat raut wajah Rika yang ketakutan, mama Lina pun tertawa terbahak-bahak.
Mama Lina berkata pada Rika dengan suara keras,
“ha ha ha, kamu kenapa Rika, apa kamu takut? Ini belum seberapa Rika! Ingat, permainan sedang di mulai, kapan pun dan di mana pun kamu harus siap!”
Hampir saja jantung Rika copot di buatnya. Rika pun merasakan sakit di bagian kepalanya yang terbentur.
Mendengar perkataan mama Lina, Rika hanya mampu menarik nafas panjang.
Akhirnya dengan nekat, Rika pun bergegas membuka sabun pengaman.
Mama Lina pun tidak tinggal diam, dia pun segera melajukan kendaraannya kembali, dengan kecepatan tinggi.
Dalam beberapa meter, mama Lina pun menghentikan mobilnya seketika.
Dan tak lupa, mama Lina menarik rambut Rika, dan menghempaskannya, hingga kepala Rika kembali terbentur di kaca mobil.
Rika pun meringis kesakitan, dan mama Lina pun berkata,
__ADS_1
“Turun kamu, sekarang! Tidak sudi saya mengantarmu pulang!”