
Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 malam. Andre pun telah sampai di rumah setelah pulang dari kerja.
Andre mendapati mama Lina sedang berada di ruang tengah.
“ Assalamualaikum Mah,” sapa Andre.
“ Waalaikumsalam,” sahut mama Lina.
Andre pun menyalami mama Lina, dan menciumnya. Kemudian Andre duduk di samping mama Lina.
“ Mah, Andre mau cerita nih,” kata Andre.
“ Cerita apa sih,” tanya mama Lina tanpa menoleh ke arah Andre.
Karena saat itu mama Lina sedang memegang dan membaca sebuah majalah.
“ Ih Mama, Andre Mau ngomongin soal pernikahan Andre sama Rika,” kata Andri menerangkan.
Andre pun sampai menggoyang-goyangkan tangan mama Lina yang sedang memegang majalah.
Andre ingin mamanya memperhatikan apa yang ia ucapkan.
“ Ya udah, sekarang kamu mandi dulu sana, nanti kalau udah rapi, mama tunggu di taman belakang,” sahut mama Lina.
Andre pun cemberut. Dengan langkah yang lemas Andre meninggalkan mama Lina yang masih duduk di ruang tengah menuju lantai atas tepatnya ke arah kamarnya.
Sepeninggal Andre, mama Lina melanjutkan membaca majalahnya. Tidak lama kemudian Om Faisal hadir di sana. Mama Lina pun menyapanya,
“ Hai pa capek ya,” sapa mama Lina.
“ Yah beginilah Ma, berasa capek karena semuanya Papa yang pegang sendiri. Andai Ada yang bisa bantu, jadi kan bisa bagi tugas, bener nggak Mah,” sahut Om Faisal.
“ Bener banget Pah, kita berdua sama-sama lelah karena kita sendiri yang mengerjakan pekerjaan kita, Harusnya kita bisa makai orang dua atau tiga orang,” kata mama Lina menerangkan.
Om Faisal pun mengomentari penjelasan mama Lina,
“ Tapi kan mah, nggak gampang nyari orang yang cerdas dan bisa dipercaya.”
“ Ya begitulah Pah. Tapi Mama udah ketemu kok orang yang cerdas dan bisa dipercaya, mudah-mudahan Mama nggak salah pilih Pah,” kata mama Lina mengadu.
“ Baguslah kalau begitu, tapi bagaimanapun juga, mama harus hati-hati ya, biasanya penghianat itu adalah orang-orang terdekat mah,” Kata Om Faisal memperingatkan.
“ Iya Pah, mama ngerti maksud Papa. Oh ya Pah, Papa tidur duluan deh, Mama mau ngobrol sebentar sama Andre,” kata mama Lina.
“ Ya udah, Papa tidur duluan ya,” sahut Om Faisal.
Om Faisal pun meninggalkan mama Lina dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.
Setelah melihat suaminya masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu kamarnya, mama Lina bangkit dari duduknya, dan melangkahkan kakinya menuju ketaman belakang.
Dari kejauhan mama Lina Melihat Putri duduk di atas ayunan. Putri Mengayunkan ayunannya perlahan. Tapi lambat laun Putri Mengayunkan ayunannya lebih kencang.
__ADS_1
Melihat Putri mengayunkan ayunannya lebih kencang, mama Lina pun memanggil Putri dengan berteriak sambil berlari,
“ Putri stop Putri,” kata Mama Lina menghampirinya sambil berlari.
Putri pun menoleh, lalu melambatkan ayunannya.
“ Kamu tahu nggak sih, tindakan kamu itu bahaya Put,”
kata mama Lina dengan marah.
Putri pun terdiam. Ketika Putri melihat wajah Mamanya sudah menggarang, akhirnya Putri keluar dari ayunan itu, lalu beranjak pergi meninggalkan mama Lina tanpa berkata apa-apa.
“ Dibilangin kok ngambek,” ucap mama Lina dengan kesal.
Kemudian mama Lina duduk di kursi taman. Sedangkan Putri meninggalkan mama Lina di taman.
Sengaja Putri menghindar dari mama Lina, karena takut banyak pertanyaan darinya.
Putri pun masuk ke dalam kamarnya untuk tidur.
Sementara mama Lina masih berada di taman, menunggu datangnya Andre.
“ Lama banget sih tuh anak,” gerutunya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Andre pun datang dengan membawa susu panas untuk mamanya.
Andre meletakkan susu panas di atas meja, kemudian ia duduk berhadapan dengan mama Lina.
“ Sebelum Andre jawab, mendingan mama minum dulu nih susunya,” sahut Andre tanpa menjawab pertanyaan mamanya.
“ bisa banget kamu drink ngerayu mama,” kata mama Lina sambil tersenyum.
Mama Lina pun mengambil gelas yang berisi susu panas dan meneguknya perlahan. Kemudian ia menaruhnya kembali di atas meja.
Setelah melihat mama Lina telah meneguk susu panasnya Andre pun mulai bicara,
“ Begini mah, kelanjutannya Andre harus bagaimana lagi, apa yang harus Andre lakukan?”
“ Kamu udah bicarain soal tanggal sama Rika? Coba kamu bicarain dulu berdua soal tanggal dan tempat, baru bicarain ***** bengeknya,” jawab mama Lina.
Mama Lina pun meneguk susu panasnya kembali. Lalu ia kembali berkata,
“ Setelah fix tanggal, baru kamu cari tempat. Kamu mau bikin pesta di mana, di rumah atau di gedung? Dibicarain aja dulu. Ingat jangan terburu-buru.”
Andre pun mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda ia mengerti.
“ Menurut mama, baiknya bikin pesta di mana mah?” tanya Andre.
“ Semua tergantung kamu berdua, budget kamu berapa, sesuai atau tidak jika di gedung? Kalau sekiranya kalian berdua nggak kuat, ya udah, bikin aja di rumah,” kata mama Lina menerangkan.
“ Saat ini Andre sih belum ketemu lagi sama Rika, nanti deh Andre coba ngomong berdua lagi, terus menurut mama, soal makanan baiknya masak aja atau catering mah?” tanya Andre.
__ADS_1
“ Kalau kamu Bikinnya di gedung otomatis baiknya ya catering, tapi kalau di rumah, kamu bisa ada alternatif panggil tukang masak. Lagian tukang masak sekarang juga udah kayak catering aja sih, hampir semua tukang masak sekarang punya waiters sendiri, jadi kita nggak perlu lagi nyari waiters,” ungkap mama Lina.
Andre pun kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
“ Ada lagi yang kamu mau tanyain Ndre? Mama ngantuk nih, besok masih banyak kerjaan,” tanya mama Lina sambil menguap.
“Kayanya nggak Mah, saat ini cukup,” jawab Andre.
“ Ya udah, mama masuk ya, udah ngantuk banget nih,” sahut mama Lina.
Mama Lina pun berdiri, dan beranjak meninggalkan Andre di taman. Langkahnya santai masuk ke dalam rumah, melewati ruang dapur dan kamar mbok Yem.
Mama Lina menoleh ke arah kamar mbok Yem yang masih terang dan terbuka pintunya.
Mama Lina menghampiri dan melongok kan kepalanya. Di lihatnya mbok Yem sedang sholat.
Mama Lina menutup rapat pintu kamar mbok Yem, dan melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya melewati kamar Putri.
Sementara Andre masih duduk di kursi taman sambil memainkan ponselnya. Ia sempat mengirim pesan pada Rika yang isinya, “ Aku bobo dulu ya sayang.”
Setelah mengirim pesan, Andre meninggalkan taman dan masuk ke dalam rumah. Tapi dia sempat menoleh ke kamar mbok Yem yang masih menyala lampu kamarnya.
Andre menyempatkan menengok ke sana. Di lihatnya mbok Yem sedang melipat mukena dan sajadahnya. Lalu Andre menyapanya,
“Mbok, tidur lah, udah larut.”
“Iya Den, bentar lagi. Saya belum ngecek pintu,” sahut mbok Yem.
“Biar Andre aja mbok yang ngcek semua pintu,” kata Andre.
Andre pun mulai mengecek pintu belakang, kemudian pintu samping. Setelah itu dia akan mengecek pintu utama.
Untuk menuju pintu utama, Andre harus melewati kamar Putri, ruang tengah dan kamar orang tuanya.
Tapi di saat ia melewati kamar Putri, terdengar suara isak tangis yang memilukan.
Anehnya, bukannya Andre memeriksa, tapi malah lari terbirit-birit ke arah kamar mbok Yem.
Dengan nafas tersengal-sengal Andre langsung masuk ke kamar mbok Yem dan berbisik,
“Mbok, ada suara orang nangis di ruang tengah.”
“Apa! Suara tangis?” tanya mbok Yem.
Mbok Yem pun langsung beranjak keluar dari kamarnya. Tiba tiba ia teringat dengan Putri.
Lalu mbok Yem berkata pada Andre,
“Adem naiklah ke atas tidur lah. Biar mbok yang liatin.”
Andre pun mengangguk. Lalu ia naik ke lantai atas menuju kamarnya.
__ADS_1
Sementara mbok Yem memeriksa ruang tengah, mencari sumber suara tangisan yang memilukan, sesuai aduan Andre.