
Dua bulan kemudian.
Berlangsunglah pernikahan antara Rika dan Andre dengan amat sangat sederhana.
Hampir semua keluarga Rika hadir, baik yang di Jakarta maupun di Lampung, semua hadir ikut berbahagia, sedangkan keluarga Andre tidak.
Keluarga Andre dihadiri oleh sang Mama, Dicky dan Andre sendiri. Sedangkan Putri tidak ikut menghadiri pernikahan Andre, karena sibuk dengan perutnya yang buncit dan mulai menunjukkan reaksi untuk melahirkan.
Setelah akad nikah berlangsung, maka mereka pun menikmati hidangan yang sudah ada.
“ Selamat ya Rika, gue ikut senang banget sama acara Lo ini, selamat juga ya Andre, jagain ya sahabat gue, bahagiain dia,” kata Erna dengan terharu.
Erna memeluk Rika dan Andre di kedua tangannya. Mereka sempat berfoto yang di ambil gambar boleh Iyan.
Beberapa menit kemudian, di saat orang-orang sedang menikmati hidangan, ponsel Andre berdering.
Saat Andre sedang menerima telepon, Andre melihat sang mama sedang memberikan selamat pada menantunya, yaitu, Rika
“Selamat ya sayang, semoga kalian berdua bahagia,” sahut mama Lina menyalami Rika.
Rika pun menyambutnya. Lalu mama Lina memeluk Rika di depan banyak orang, sampai-sampai Nyai dan Papi pun terharu, sambil berbisik di telinga Rika,
“Kamu telah memasuki tahap awal, kini kau masuk tahap berikutnya!”
“Sontak saja wajah Rika memerah, badannya bergetar, dan senyumnya berubah menjadi kecut.
Erna melihat ada perubahan di wajah Rika setelah sahabatnya di peluk ibu mertuanya, karena hanya Erna yang mengetahui seluk-beluk kisah mereka.
Lalu setelah mama Lina melepaskan pelukannya, Andre memanggilnya dan mendekat.
“Ma!” panggil Andre.
Mama Lina Pun menoleh dengan senyumannya yang khas.
“Ada apa sayang?” tanya mama Lina, seraya mengerutkan keningnya.
Ada wajah panik di sana, mama Lina sudah dapat menebak, apa yang Andre akan katakan.
Andre mendekat dan berbisik,
“Kata mbok Yem, Putri pendarahan Ma!”
Nafas Andre mulai tersengal-sengal, kepanikan pun mulai tampak.
Sebagian keluarga besar Rika saling memandang, entah apa yang ada di pikiran mereka.
Andre membayangkan keadaan Putri si rumah, sementara ia asyik dengan pestanya.
Melihat kegaduhan yang samar, akhirnya Iyan mendekati mereka berdua, dan menawarkan bantuan.
“Ada yang bisa saya bantu Mah, biar Andre tetap bisa di sini.”
__ADS_1
“Sial! Ini orang bikin perubahan rencanaku!” gumamnya dalam hati.
“Tapi saya butuh Andre juga Bang saat ini, keadaan adiknya sudah genting,” sahut mama Lina.
“Untuk apa?” tanya Iyan keheranan.
“Untuk nyetir Bang, Dicky belum mahir untuk nyetir mobil,” jawab mama Lina.
“Ya udah, biar saya yang nyetir, sementara biarkan Andre menikmati akad nikahnya,” kata Iyan.
“Ayo!”
Tanpa berpamitan pada Nyai dan papi, mama Lina dengan cueknya meninggalkan acara itu. Sempat kesal Andre di buatnya. Tetapi Rika berusaha memenangkan.
“Udah, biarin aja, kan udah ada Bang Iyan. Tuh tugas kamu bilang ke papi mami, biar mereka tenang,” kata Rika.
“Aduh, kamu kan enggak tau Rik, kenapa aku sepanik ini,” sahut Andre xengan nada kesal.
Rika pun jadi kesal dengan sikap Andre. Rika meninggalkan Andre yang duduk di antara para tamu.
Rika masuk ke dalam kamarnya, lalu Erna mengikutinya. Sambil merapikan riasannya dengan tisu, Rika menoleh ke arah pintu kamar.
Di lihatnya sahabatnya berdiri di sana.
“Kenapa Rik?”
“Tau tuh Andre, gak jelas banget, sebel gue jadinya,” sahut Rika.
Erna duduk di pinggir tempat tidur, sementara Rika masih sibuk merapikan dandanannya.
“Enggak, dia enggak bilang apa-apa. Tapi dia nyuruh gue untuk ngertiin dia, aneh gak sih?” kata Rika mengomel.
Tiba-tiba Erna malah tertawakan sahabatnya. “Ha ha ha, lo Rik, di bawa santai aja napa sih, kaya enggak tau aja biang keroknya,” timpal Erna.
“Iya, gue tau, ini pasti akal akalan emaknya aja, biar Andre langsung pulang, eh bagusnya Bang Iyan peka ya, he he he,” balas Rika.
“Ya alhamdulillah deh, jadi Andre tetap di sini. Sekarang tugas lo, bikin Andre nyaman, biar dia bisa ngelupain emaknya dulu,” Perintah Erna.
Akhirnya mereka pun keluar dari kamar, dan berbaur kembali dengan para tamu.
Sedangkan di lain tempat, Iyan sedang berjibaku dengan keluarga mama Lina dan Dicky.
Sampailah mereka di rumah Andre, sedang mbok Yem dan Putri sudah menunggu kepulangan mereka.
Putri sedang menangis menahan sakitnya, keadaannya yang memegang perut sempat membuat Iyan heran. Dan benar-benar membuat Iyan terkejut. Tapi bagaimana pun, Iyan harus menyembunyikan sikap kagetnya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Putri tengah hamil besar.
Mbok Yem dan Dicky membopong Putri masuk ke dalam mobil. Mbok Yem pun ikut menemani Putri di dalam mobil.
Sedang Dicky tinggal di rumah. “Dic, kamu di rumah ya, jaga rumah dan Adik-adikmu,” kata mama Lina.
Mama Lina masuk ke dalam mobil di samping Iyan. Sikap Iyan yang diam saja di lirik oleh mama Lina, dan Iyan pun merasakan itu.
__ADS_1
“Muda mudahan jalanan enggak macet ya mah, kasian Putri,” kata Iyan mengalihkan.
“Iya, semoga saja,” sahut mama Lina sambil memakai sabuk pengaman.
Dalam hati Iyan berkata, “Oh, mungkin ini yang bikin Andre jadi memangkas pestanya, kasihan Andre ama Rika. Eh tapi suaminya mana ya? Nanya gak ya? Ah, enggak ah, takut salah.”
Iyan terus menyetir, sementara mama Lina dan lainnya merasa tegang, karena Putri yang nangis terus di kursi belakang menahan sakitnya.
Tidak lama kemudian sampai mereka di rumah sakit. Segera beberapa perawat menyambut dan melayani, sementara mama Lina berlari untuk mendaftar.
Iyan memarkirkan mobil, sedangkan mbok Yem masih di dalam mobil bersama Iyan.
Setelah Iyan selesai memarkirkan mobil, dan menghentikan suara mesin, Iyan memperkenalkan diri pada mbok Yem.
“Ehm, bu, kenalin, saya abangnya Rika, istri Andre,” kata Iyan, sambil mengulurkan tangannya.
Saat itu mereka masih di dalam mobil, Iyan masih duduk di kursi kemudi, sementara mbok Yem masih duduk di kursi belakang.
Mereka pun berjabat tangan.
“Jangan panggil saya bu, panggil saja saya Mbok, mbok Yem,” sahut mbok Yem.
“Oh, iya iya,” kata Iyan tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Mbok Yem neneknya Andre?” tanya Iyan.
“Bukan, saya pembantunya, udah lama saya bekerja di sana,” jawab mbok Yem.
“Oh ya? O iya, kita turun yuk, pasti mama Andre udah nunggu kita,” ajak Iyan.
Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit, sambil Iyan menggandeng tangan mbok Yem. Dan mbok Yem pun tersipu malu.
Itulah Iyan, selalu saja membuat hati orang yang di dekatnya merasa tenang. Entahlah, apa penyebab sebenarnya mantan istrinya dulu meninggalkannya, outhor pun merasa heran.
Semua menunggu di ruang tunggu pasien. Dengan rasa gelisah, raut wajah yang kusut dan menegangkan menunggu kabar tentang Putri yang sedang berjuang di ruang operasi.
Ya, Putri harus menjalani operasi untuk melahirkan bayinya, karena keadaan bayi yang tidak memungkinkan untuk lahir secara normal.
Kalau di hitung, tidak seharusnya Putri melahirkan sekarang, karena belum sampai sembilan bulan usia kandungannya.
Untuk mencairkan suasana yang menegangkan, Iyan mengajak mama Lina dan mbok Yem untuk berdoa.
“Mah, baiknya kita berdoa saja, semoga keadaan Putri dan bayinya selamat dan baik-baik saja,” ajak Iyan.
Mama Lina pun mengangguk, dan mengakar tangannya untuk berdoa.
Di saat mama Lina mengangkat tangannya, Iyan memperhatikan punggung tangannya, yang terdapat cincin berlian.
Iyan mengernyitkan dahinya, seolah olah Iyan mengingat sesuatu. Tapi lamunannya buyar ketika seorang dokter keluar dari ruang operasi.
“keluarga nyonya Putri?” panggil Dokter.
__ADS_1
Mama Lina segera mengangkat tangan dan berjalan menuju tepat seorang dokter berdiri.
“Iya Dok, saya ibunya, bagaimana keadaan Putri saya, apakah Baik-baik saja? Dan bagaimana dengan bayinya?” tanya mama Lina bertubi-tubi.