
Bab. 26. Ricard kehilangan jejak Rika.
Berkali-kali Ricard menghubungi Rika, tetapi Rika tidak menerima panggilan ponsel dari Ricard.
“Ada apa? Whats wrong with me?”
Pikirnya.
Di apartemennya, Ricard berdiri di ruang tamu, berjalan ke arah depan dan kembali lagi ke belakang, entah apa yang dia pikirkan.
Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan diri Rika.
“Ada apa dengan saya, mengapa saya menjadi memikirkan dia? Brengsek!!! “
Kata Ricard, sambil memukul-mukulkan kepalanya.
“Ada apa denganmu Rika, mengapa kamu tidak mau menjawab telepon ku? “
Kata Ricard sambil menggerutu sendirian.
Tanpa di sadari, ada sedikit kekhawatiran di hati Ricard tentang Rika, tapi dia tidak mau mengakuinya.
Ricard pun kembali berdiri, dan berjalan ke arah balkon.
Di situ dia melihat jalanan yang banyak orang berlalu lalang.
“Oh Tuhan, Erna! Ya Erna!”
Ricard pun kembali ke dalam ruangan apartemennya, dan mengambil kembali ponselnya.
Ricard menekan beberapa nomor yang terhubung dengan nomor Erna.
Tapi sayang, Lagi-lagi terputus begitu saja.
Sedangkan di seberang sana, Erna berjalan menuju rumah Rika. Saat di jalan, ponselnya berbunyi terus, ada seseorang yang mencoba menghubunginya, tetapi Erna mengabaikannya.
Sampailah ia di rumah Rika. Erna pun masuk dan memberi salam.
“Assalamualaikum.”
“Wa alaikumsalam,”
jawab Beni dan Iyan berbarengan.
Beni membukakan pintu untuk Erna, dan mempersilakan masuk.
“Masuk Er, tuh Rika masih di kamar,”
kata Beni.
Erna ke kamar Rika ya bang,”
kata Erna.
“Ya udah, sana,”
jawab Beni.
Erna pun melangkahkan kakinya menuju kamar Rika, dan mendapati sahabatnya.
Rika sedang menekan beberapa tombol nomor di ponselnya, maka tersambunglah pada ponsel Andre.
“Halo Dre,”
Mata Rika tertuju pada Erna yang baru saja datang dan masuk ke dalam kamarnya.
Segera Rika memberi isyarat dengan menaruh jari telunjuknya ke depan ujung bibirnya.
Kemudian Erna pun duduk di kursi kecil di samping tempat tidur Rika.
{............................. }
“Iya, aku jadi libur hari minggu. Muda-mudahan gak ada halangan lagi ya. Oiya, kamu Cuma bertiga aja kan? Jadi gini Dre, papi mami aku juga gak bisa dateng. Kondisi mami lagi enak.
{............................ }
“Iya, iya saaaayyyaaaaang, iiihhh aku gak bisa gombalin kamu ahhh, ya udah, aku mo kerja dulu, baaaaay.”
Rika pun memutuskan saluran ponselnya.
Tiba-tiba Erna berkata,
“Iiiih elo tuh, bikin gue iri aja. Mesra banget sih lo bedua.”
“Ah, biasa aja gue sih.. Kalo Andre mang gitu gayanya, lebay. Omongannya bikin cewek-cewek luluh ama dia. Malah sampe ada yang salah paham. Gak enak juga sih jadi ceweknya, ngeliat cowoknya di gelendotin cewek lain, gerah coy,”
kata Rika.
“Yaaaa, wajarlah, Andre itu cowok ganteng, dan juga ramah, wajar aja sih kalo banyak cewek yang ke ge eran,”
kata Erna.
“Iya ramah sih ramah, tapi ramahnya dia tuh ngobral, jadi gak bagus juga di liatnya,”
jelas Rika.
“Trus, lo sendiri gimana awalnya? Apa awalnya juga karna ke ge eran? Ha ha ha, sorry nih gue nanya kaya gini,”
kata Erna.
“Sebenarnya gue suka ma dia tuh dari dulu. Dia juga suka kok ngajak makan sebelum jadian, itu juga dia tuh modus, karna minta di traktir sama cewek-cewek. Yaaa, kalo saat gue ada sih, ya gue traktir. Kalo gue lagi bokek, ya gue bilang, gue lagi bokek.”
kata Rika.
“Trus pas lo bilang kalo lo saat itu lagi bokek, dia gimana? “
Tanya Erna penasaran.
Rika pun mengernyitkan dahinya sambil berpikir dan mengingat- ingat.
__ADS_1
“Eehmm, kalo gue inget-inget sih, setiap kali gue bilang kalo gue lagi bokek, kita tetep tuh makan bareng, malah jadinya dia yang traktir gue,”
jelas Rika.
“Apa menurut lo itu bukan sinyal?”
Tanya Erna.
“Ah, gak tau juga gue, ha ha ha. Yuk kita berangkat, tar keburu Ricard dateng,”
kata Rika.
Rika segera mengambil tas dan sepatunya. Mereka pun keluar dari kamar menuju ke arah ruang depan.
Di ruang depan masih ada Iyan dan Beni, yang masih asyik berbincang.
Rika duduk di teras depan rumah, sambil memakai sepatu ketsnya, sementara Erna sudah menunggu di luar jalan.
“Cepetan dong Rik, ayooooo,”
kata Erna dengan suara tergesa-gesa.
Rika pun segera menyelesaikan pekerjaannya memakai sepatu, kemudian berlari ke arah Erna, sambil berteriak,
“Bang Iyan, Beni, gue jalan dulu ya.”
Seketika Iyan dan Beni pun serempak berkata,
“Hati-hati.”
Maka Rika dan Erna meninggalkan rumah untuk berangkat kerja.
Sementara Iyan dan Beni masih asyik bercengkerama, tidak lama kemudian datanglah Ricard.
Ricard memarkirkan kendaraannya di depan rumah Rika.
Mendengar suara mobil yang mendekat, Beni pun bangkit dari duduknya dan melihat ke arah luar rumah.
Beni berdiri di depan pintu sambil bertelak pinggang dan mengernyitkan dahi, Beni bertanya pada Iyan.
“Siapa itu Yan, parkir di depan sini?”
Tanya Beni.
Iyan pun bangkit dari duduknya dan melihat ke arah luar rumah.
Iyan pun mengenali Ricard, dan berkata pada beni,
“Oooh, itu Ricard, temennya Rika.”
Ricard berjalan menuju ke arah rumah Rika, dan menemui Beni dan Iyan.
“Selamat Sore, apakah Rika ada?”
Tanya Ricard.
“Rika kerja,”
kata beni.
Tanya Iyan.
“Dari tadi siang saya menghubunginya, tapi kayanya gak aktif nomernya. Oh ya, kira-kira kapan ya Rika liburnya, boleh saya tau?”
Tanya Ricard.
Beni menoleh ke arah Iyan dan memberi kode pada Iyan agar Iyan yang menjawab pertanyaan Ricard.
“Ehm, belum tau juga saya, apa ada perlu? Nanti saya sampein keperluannya,”
kata Iyan.
“Ehm, tidak sih, tidak terlalu, kalau begitu, saya pamit, selamat sore,”
kata Ricard.
Iyan dan Beni pun menjawab,
“Ya, sore juga.”
Setelah itu, Beni masuk ke dalam dan duduk di tempat semula.
Beni mengambil air untuk di minumnya. Setelah meminumnya, Beni bertanya pada Iyan,
“Hubungan Rika ama tuh coowok apa sih, kayanya intens banget deh tuh cowok, masa hampir tiap hari dia mau nganter jemput, jam kerja Rika kan jam kerja ronda, gue aja ogah walau itu istri gue yang kerja, lah, ini, dia siapa?”
“Gue juga gak tau, Rika cuma bilang kalo itu temennya, gak lebih. Kita liatin aja dulu, jangan pake emosi, lo tahan napa sih emosi lo, tar kaya waktu ama Andre, udahannya kan lo sendiri yang malu,”
kata Iyan.
Beni pun tertawa dan berkata,
“Ha ha ha, kaya waktu itu ya, gue maen siram aja tuh si Andre mukanya, bagusnya enggak gue langsung tonjok mukanya, bisa lebih malu ya guenya.”
“Tahan-tahanlah emosi lo, emosi itu gak bakal jadi solusi. Sampe kapan sifat lo kaya gitu, malu lah ama anak, makin lama cepet anak gedenya, liat bapaknya kaya gitu, dia bakal niru,”
kata Iyan, berusaha menasihati adiknya, Beni.
Iyan pun kembali berkata,
“Lo ikutin siapa sih, papi mami gak ada sifat kaya lo, mereka kalo ngomong lembut, sedang elo, parah! Jangan bilang karna pergaulan. Pergaulan gue lebih kacau di banding lo, kalo pergaulan kerja, gue sama lo sama aja. Security di mana aja sama. Pada sokk tau! Tapi kita bisa lah memilah kita di mana, gak boleh di samain.”
“Iya, gue juga gak tau, kenapa sekarang ini gue emosian,”
kata Beni.
“Apaan??? Sekarang ini??? Eh, dodol, sifat lo itu dari dulu, dari lo di brojolin udah kaya gitu, apa-apa marah, ngamuk, gak jelas lo,”
kata Iyan.
__ADS_1
“Iya, iyaaa, gue salah. Gue belajar lagi deh ama lo, buat ngendaliin emosi,”
kata beni.
“Uda ah, cape ngomong ama lo Ben,”
kata Iyan.
Iyan pun beranjak dari duduknya, sementara Beni mengambil bantal di kamar dan tertidur.
#########
Rika dan Erna telah tiba di tempat kerjanya. Mereka masuk melalui lorong karyawan, sementara satpam memeriksa mereka.
Setelah lolos keamanan, mereka masuk ke loker karyawan. Bergantian Rika dan Erna menganti pakaian mereka dengan seragam kerja.
Seperti biasa, sebelum club di buka untuk umum, mereka, para karyawan mengadakan brifing di setiap flour, yang di pimpin oleh manager.
Jika saatnya bekerja, Rika dan Erna terpisah, Rika di lantai dasar, sedangkan Erna di lantai dua.
Erna sebagai waiters diskotik tengah sibuk saat itu. Para tamu mulai ramai berdatangan.
Ada beberapa pria tengah duduk sambil menikmati alunan musik, dan bergoyang, walau mereka duduk.
Tidak lama kemudian datang seorang pria berambut panjang, kurus dan berhidung mancung bersama seorang wanita.
Tidak sengaja Erna melihat, lama kelamaan pemandangan itu menjadi pusat perhatian Erna.
Bagaimana tidak, ternyata Erna mengenal pria itu, ya itu Ricard. Ricard datang dengan seorang wanita.
Wanita itu menggunakan syal dan kacamata hitam. Hingga Erna tidak bisa melihat wajahnya.
Wanita itu duduk di antara para pria yang di kunjungi Ricard di tablenya.
Salah satu pria mengangkat tangan dengan menyalakan korek api di tangannya, sebagai tanda dia memanggil pelayan.
Erna, sebagai waiters menyambut panggilan itu.
Erna berjalan ke arah table tersebut.
“Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”
Tanya Erna.
Sepertinya pria itu adalah kawan dari Ricard.
Dia memesan beberapa minuman dan makanan kecil. Tapi tidak untuk di bawa ke table itu, melainkan minta di bawakan ke ruang meeting.
“Hai kak, bawakan kami beberapa minuman ya,”
Kata pria itu.
Erna pun segera mencatat apa saja yang di pesan pria itu.
Dengan jarak yang amat dekat, Erna melirikkan matanya ke arah wanita itu. Tapi tetap saja, Erna tidak mengenali, karena di ruangan itu penerangannya sangat minim dan juga terganggu dengan kelap-kelipnya sorot lampu.
Segera Erna mempersiapkan apa yang di butuhkan pria itu, dan bergegas ke ruang meeting.
Beberapa teman waiters Erna juga membantu, karena banyak rupa minuman dan makanan ringan yang di pesannya.
“Sepertinya akan ada rapat besar nanti,”
Gumam Erna dalam hati.
Erna dan beberapa orang pelayan memasuki ruang meeting. Mereka membawa makanan dan minuman ringan dan meletakkannya di atas meja yang panjang, yang di gunakan di ruang meeting itu.
Mereka pun merapikan dan membersihkan serta memberi pengharum ruangan.
Hanya kepala waiters yang mengetahui bahwa ruangan meeting akan di gunakan kapan dan berapa lama.
Tugas Erna dan beberapa waiters hanya melayani mereka.
Tidak beberapa lama kemudian, para pria itu masuk ke dalam ruang meeting beserta seorang wanita yang memakai syal.
Pintu pun di tutup. Kemudian wanita itu membuka syal dan kacamata hitamnya yang di gunakan.
Wanita itu pun memulai rapat tersebut.
Erna menghitung dan mengingat-ingat tentang pesanan pria yang menempati ruang meeting sambil memandangi catatan bil.
Ternyata ada beberapa makanan ringan yang belum di antar ke ruangan itu.
Dengan sigap dan cekatan, Erna mempersiapkan makanan ringan yang tertinggal, lalu bergegas melangkah menuju ruang meeting.
Pintu ruang meeting di ketuk dari luar. Tidak lama kemudian, seorang pria tegap membukakannya.
Erna pun masuk dengan membawa beberapa makanan ringan yang tertinggal.
“Permisi nyonya, ada beberapa makanan ringan yang tertinggal,”
Kata Erna kepada wanita yang memimpin rapat itu, sambil membungkukkan tubuhnya sebentar.
Kemudian Erna berjalan ke arah meja panjang, dan menaruh makanan ringan itu.
Wanita itu pun marah pada Erna, dan berkata,
“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruangan ini?”
Erna pun bingung di buatnya. Lalu Erna berkata,
“Maaf nyonya, maafkan saya.”
Wanita itu pun memukul meja. Dia tidak terima keadaan itu.
Melihat wanita itu marah, Erna pun memutuskan untuk bergegas keluar ruangan.
Sempat matanya melirik ke arah beberapa pria yang hadir di situ.
Ternyata, di antara para pria itu ada Ricard.
__ADS_1
Salah satu waiters bergegas menutup pintu dari luar.
Dengan kejadian itu, jelas sekali Erna memandang wajah wanita itu.