
Beberapa bulan kemudian Rika hamil lagi. Itu tandanya Rika hamil anak kedua. Kehamilan Rika berbarengan dengan musibah yang Andre hadapi.
Ya, Andre di pecat dari pekerjaannya. Ia telah di tuduh sebagai pencuri di klub tempatnya bekerja.
“Hai sweety,” panggil Andre dengan lembut pada Rika.
Rika pun menoleh, dan tersenyum menyambut kepulangan suami tercinta. “Eh sayang udah pulang, oh ya, aku punya kabar baik Pa.”
Dengan lemah Andre berjalan dan duduk di ruang makan. Rika pun menyusul, yang sebelumnya masuk ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu.
Rika menyeret kursi dan duduk si dekat Andre. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku dasternya.
“Liat nih Pa, garis dia?! Papa seneng gak?” tanya Rika dengan senyum yang semeringah.
“Alhamdulillah, selamat ya Ma. Kita bakal punya anak lagi, dan Kanza bakal punya ade,” sahut Andre.
Kemudian dia mencium kening istrinya sambil mendoakannya.
Rika melihat wajah Andre yang sendu. “Mungkin dia lelah karna bekerja,” decak Rika dalam hatinya.
“Aku siapin makan ya,”
tanpa menunggu jawaban, Rika kembali menggeser kursi dan keluar menuju dapur untuk mengambilkan makanan.
Andre bergumam, “Gimana ngomongnya, masa gue rusak suasana happy ini? Tapi gimana pun gue harus kasih tau Rika, mungkin enggak sekarang.”
Suasana malam itu terasa romantis, apa lagi di tambah dengan kehadiran Kanza yang ikut makan bersama mereka.
Kanza duduk di samping Andre, sementara Rika masih sibuk menyiapkan makanan.
Setelah itu Rika ikut duduk bersama Andre dan Kanza. Mereka menikmati makan malam yang telah tersedia.
Setelah makan malam selesai, Rika mengajak Kanza untuk tidur.
“Ayo Kak, kita tidur.”
“Ajak papa dong Ma,” kata Kanza.
“Biarin papa di depan dulu, mau ngerokok dulu kali, yuk kita duluan,” ajak Rika.
Kanza menoleh ke arah Andre dan berkata, “Pa, selesai ngelokok, cuci tangan ya.”
Andre pun tersenyum mendengarnya. “Makasih sayang, usah ingetin Papa,” sahut Andre.
__ADS_1
Lalu Rika dan Kanza masuk ke dalam kamar. Tapi tiba-tiba Andre memanggil Rika, “Ma, kamu ikut langsung tidur?”
Rika mengerutkan dahinya, kemudian Andre kembali berkata, “Ada yang mau aku omongin.”
Rika tidak menjawab. Ia hanya memberikan jari jempolnya. Kemudian masuk ke dalam kamar menyusul Kanza.
Beberapa menit kemudian Rika keluar dari kamar, mengingat perkataan Andre barusan. Ia menyusul Andre ke depan teras.
Andre masih bersama rokoknya. Rika mendekatinya dan berkata,
“Kenapa Pa, ada yang mau di omongin?”
Andre menghela napas. Rika merasakan sesuatu yang tidak enak, karena sedari tadi wajah suaminya nampak suram.
Andre memegang tangan Rika dan berkata, “Sweety, maafin aku ya, aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu.”
“Sebenarnya ada apa sih, kenapa sikap Andre aneh malam ini, sok sweet banget, tapi mukanya kok asam,” hati Rika mulai gundah.
“Ada apa sih Pa, ngomong aja langsung,” sahut Rika.
Andre menyenderkan kepalanya di bahu Rika. “Ma, aku di pecat dari klub!”
DEGGG!!! Bagai petir di tengah malam. Rika tidak menyangka apa yang telah Andre alami.
“Maapin aku Sweety, aku di fitnah, aku di tuduh udah nyuri uang kasir 20 juta, dan bukti yang ada mengarah ke aku, aku bersumpah Sweety, aku enggak ngelakuin itu,” jelas Andre.
Rika menarik nafas dalam-dalam, lalu di hembuskannya perlahan. Tanpa di sadari, air mata Rika jatuh dan Andre pun melihatnya.
Andre tertunduk, dia tidak berani menatap wajah Rika. Rika tahun apa yang harus di lakukannya.
Segera dia mengeringkan air matanya yang membasahi pipinya yang gembul, lalu singkatnya dagu suaminya.
“Kenapa kamu menunduk? Roh itu bukan salahmu kok, kamu bisa cari kerjaan di tempat lain. Yang penting kamu jangan patah semangat,” ucap Rika sambil tersenyum.
Walau sebenarnya senyuman Rika terlihat getir, tetapi Andre tidak memahami itu.
Bagaimana tidak? Rika yang awalnya hendak berhenti kerja karena kehamilan ke duanya, dia berniat ingin fokus pada keluarga, tapi malah suaminya terkena. Musibah. Ya, ini adalah musibah juga bagi Rika, jadi, bagaimana pun juga, saat ini Rika adalah bukan hanya sebagai istri saja, tetapi juga sebagai tulang punggung keluarga.
“Sudah lah Dre, sekarang kita tidur, besok kita omongin lagi.”
Pagi-pagi sekali Andre sudah bangun. Rika masih menggeliat di kasur bersama Kanza. Saat itu Kanza masih tertidur pulas.
Rika membuka matanya dan melihat Andre dalam keadaan sudah mandi.
__ADS_1
“Eh, kamu udah mandi? Tumben?”
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Andre duduk di dekat Rika yang masih merebah.
“Aku mau ke rumah mama, kali aja mama bisa ngasih aku kerjaan.”
Rika bangkit dengan pelan-pelan, karena takut Kanza terbangun.
Sambil mengecilkan kelopak matanya, Rika bertanya,
“Kamu yakin? Apa gak bakal bikin mama marah?”
Setelah terasa kering, Andre menghentikan gerak tangannya mengeringkan rambut. Di letakkannya handuk ke atas bahunya dan menjawab pertanyaan Rika.
“Aku yakin, mama mau bantu kita.”
“Kalo gitu, ya udah pergi lah. Muda mudahan mama mau bantu kita.”
Tanpa menyantap sarapan, Andre memanaskan mesin motornya sejenak. Lalu dia pergi meninggalkan rumahnya dengan sedikit terburu-buru.
Setelah Andre pergi, Rika duduk di ruang tamu. Dia memikirkan perkataan Andre, “kali aja mama bisa ngasih kerjaan.”
“Enggak mungkin mama mau ngasih kerjaan begitu aja, gue harus siap ngadepinnya nih, Kira-kira, apa yang mama bakal kerjain buat gue? Enggak mungkin banget kalo enggak ada buntutnya, gue tau banget mama mertua gue, jadi, gue harus waspada.”
Saat di jalan menuju rumah mamanya, Andre sempat ragu untuk mendatanginya. Tiba-tiba Andre menghentikan motornya ke tepi jalan.
Saat itu Jalan Raya belum terlalu ramai karena saat itu waktu masih terlalu pagi dan matahari pun belum sepenuhnya menampakan wajahnya.
Andre mematikan mesin motor, kemudian ia termenung memikirkan kira-kira apa yang akan mamanya katakan padanya.
“ kira-kira Gue bakal kena marah atau atau dapat dukungan dari mama? Ehm, mental gue juga harus siap ngadepin mama. Tapi gimana pun juga,Mama kan banyak rukonya, kali aja gue bisa kerja sama mama di salah satu rukonya.”
Otak Andre berputar-putar, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah mamahnya.
Hari Sudah terang, matahari pun sudah menampakkan wajahnya dengan jelas Andre pun tiba tepat di depan rumah mamahnya. Setibanya Andre di depan gerbang, tiba-tiba Mbok Yem membuka gerbang hendak pergi ke pasar.
Mbok Yem terkejut melihat kedatangan Andre Saat pagi-pagi.
“ Oalah Den Andre, Mbok pikir siapa, ayo Den Silakan masuk,”
Ajak Mbok Yem, Seraya membukakan gerbang dan mempersilahkan Andre untuk masuk.
Andre masuk dan memarkirkan motornya di depan pekarangan rumah mamanya, lalu ia mematikan mesin motor, kemudian masuk ke dalam tanpa ditemani oleh Mbok Yem. Dan Mbok Yem Hanya melihat dan memperhatikan saja dari jarak jauh.
__ADS_1
“ Tumben sekali Den Andre pagi-pagi sudah datang, dan datangnya sendiri ada apa ya? Apalagi ya yang akan terjadi di rumah ini,”