
“Dre, jangan lupa hubungi Rika ya, nanti malam kita makan malam bersama,”
kata mama Lina pada Andre.
Mendengar perkataan mamanya, Andre merasa senang, dan berkata,
"Gak bisa mendadak Ma, kan Rika udah kerja, lagian kerjanya kan sampe pagi, nanti liat dululah jadwal dia libur.”
“Ya sudah, kamu aturlah, bilang adanya kita bakal omongin rencana lamaran,” kata mama Lina.
Andre mendengar apa yang mamanya utarakan, segera mendekat dan memeluk mamanya, yang tak lain adalah mama Lina.
“Ya ampun ma, Andre senang banget dengernya, berarti mama udah nerima Rika kan?”
tanya Andre pada mamanya.
“Ya iyalah, mama gak mau kamu jadi kepikiran, trus sakit,”
jawab mama Lina.
Andre pun segera mengambil telepon genggamnya, dan segera memencet tombol yang ada, sambil melangkahkan kakinya menuju tangga, yang mengarah pada kamarnya.
Andre membuka pintu kamarnya dan segera menutupnya kembali, dan duduk di kursi kecil yang terletak di samping tempat tidurnya.
Andre : "Halo, sweety, kapan kamu libur kerja?”
Rika : “ Belom tau Dre, gue belom dapet jadwal, kenapa mang?”
Andre : “Gak apa-apa, mama ngajak kita makan malem diluar, katanya ada yang mau di omongin.”
Rika : “Omongin apa sih, di omongin sekarang aja mending.”
Andre : “Mama mau ngomongin tentang lamaran kita.”
Rika : “Apa?! Lamaran?”
Andre : “ Iya, lamaran, emang kamu gak mau di lamar aku? Dan kamu bilang sama keluarga kamu agar siap-siap.”
Rika : “ Iya, nanti gue bicarain ama mami dan papi gue, tapi gak secepat itu lah, gue belom gajian, mami papi gue kan ada di Lampung, mereka butuh ongkos buat berangkat ke Jakarta, dan itu gak murah Dre. Nanti deh gue omongin sama mereka kalo kita udah makan malem, okayyy?”
Andre : “ Ya udah, kamu atur aja lah, yang penting kabarin ya kaan kamu libur, biar nanti mamaku bisa ngeluangin waktu. Mamaku juga kan lagi ngurus kasusnya, masih bolak-balik ke kantor polisi."
Rika : “ Iya, semoga masalahnya cepet selesai deh.”
Andre : “ Ya udah, entar kamu berangkat kerjanya hati-hati ya sweety.”
Rika : “ Iya, lo juga ya, ati-ati, jangan tergoda ama yang lain, he he he.”
Andre : “ Gak lah, cuma kamu yang ada di hati aku.”
Rika : “ Hallaaaaa, gombal! Paling di gelendotin Santi juga lo seneng.”
Andre : “ Gak lah, hati aku cuma ada kamu. Ya udah, aku siap-siap kerja dulu ya, baaayyy.”
Andre segera memutuskan saluran ponselnya, dan bergegas berangkat untuk bekerja.
Andre menuruni tangga kamarnya menuju ruang dapur. Di lihatnya mamanya yang sedang sibuk mempersiapkan makan siang untuk keluarga yang di bantu oleh mbok Yem.
Andre pun pamit pada mama Lina dan mencium punggung tangannya, dan tak lupa mencium kening mama Lina.
Tak lupa Andre berpamitan juga pada papa tirinya, yang tak lain adalah om Faisal.
########
Mama Lina bergegas masuk ke dalam kamar tidurnya, dan menutup seta mengunci pintu kamarnya.
Dia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, dan memencet tombol-tombol yang berada. Maka tertujulah saluran telepon genggamnya pada seseorang di seberang sana.
“Halo, Lal, kita ketemu di club Sirkuit jam 8 malam, jangan lupa kamu hubungi yang lain.”
“Siap Bu,”
kata Hilal, yang tak lain adalah pegawai mama Lina yang menjaga gudang.
Mama Lina pun menyajikan makan siang di meja makan di bantu oleh mbok Yem.
#########
Malam pun tiba, waktu telah menunjukkan pukul 8.30 malam. Suasana club malam saat itu agak sepi. Hanya di bagian bilyard dan diskotik yang ramai pengunjung.
Rika menikmati saat-saat kerjanya. Banyak pelajaran yang dia dapat dari kasir seniornya.
Malam itu Rika sudah mendapatkan jam kerja yang penuh, jadi jadwal pulangnya pun sampai pagi, tepatnya pukul 4 pagi.
Di saat Rika sedang menghitung jumlah bon yang ada di atas meja kasir, ada beberapa pria bertubuh tegap masuk ke dalam club itu. Di antara mereka ada seorang wanita berkacamata hitam, rambutnya yang ikal di kuncir tinggi, hingga tengkuk lehernya terlihat.
Beberapa karyawan yang melintas membungkukkan tubuhnya di hadapan wanita itu.
Tapi tidak dengan Rika, karena posisi Rika ada di dalam balkon kasir, jadi keberadaan Rika tidak terlihat.
Rika pun mengendapkan kepalanya, sampai-sampai kasir senior pun merasa heran melihat tingkah Rika.
“Rika, kamu kenapa?”
Tanya Vivi, yang tak lain adalah kasir seniornya.
“Gak apa-apa kok kak, cuma agak jiper aja aku kalo ngeliat orang-orang kaya gitu. Emang mereka itu siapa sih kak Vi?” tanya Rika.
Vivi pun menjelaskan, “Yang wanita itu pemilik saham di sini, dan yang pria-pria tegap itu , mereka pengawalnya.”
Dada Rika bertambah berdegup kencang, hingga lututnya pun terasa lemas, seperti tidak bertenaga.
“ternyata, emaknya Andre seorang gangster, eh kepala gangster,”
Gumamnya dalam hati.
“Oh ya Rik, jumlah bon yang ada berapa, nanti tolong catatnya di buku besar, trus nanti masukin laporannya ke komputer,”
Perintah Vivi pada Rika.
“Iya kak Vi, nanti aku kerjain,” jawab Rika.
Pukul 9 malam tiba, semakin malam pengunjung di klub itu semakin ramai. Para ‘nona” pun sudah mulai berdatangan.
Jam masuk kerja para “nona” lebih malam dari pegawai lain. Jika pegawai lain masuk tepat pada jam 4 sore, mreka para “nona” masuk jam kerja pada pukul 9 malam sampai pukul 3 pagi.
Di ruangan lain, tepatnya di ruang meeting, kelompok mama Lina sudah berkumpul.
__ADS_1
Mama Lina yang memimpin rapat itu. Mama Lina terlihat lebih gahar dari penampilannya sehari-hari.
Beberapa pelayan pun masuk ke ruangan itu dengan membawa sajian makanan dan minuman. Beberapa saat seorang pelayan berbicara berbisik pada mama Lina,
“Ada yang di butuhkan lagi Bu?”
tanya pelayan itu pada mama Lina.
“Tidak, terima kasih. Saya harap tidak ada satu pun orang atau pelayan yang masuk ke ruangan ini lagi selagi ruangan ini sedang saya pakai, tolong konfirmasi pada managermu,”
Perintah mama Lina pada pelayan itu. Dan rapat pun di mulai.
Dengan wajah marah, mama Lina menunjuk orang di antara anak buahnya dan berkata,
“Hei kamu, kamu penghianat! Akan saya habisi kamu!”
Hilal pun terkejut melihat sikap mama Lina.
Mama Lina membuka leptopnya dan memasukkan cip yang berada di saku bajunya, serta menyalakannya.
Mama Lina memutar rekaman CCTV yang berada di gudang. Semua kamera CCTV diketahui Hilal, tapi ada satu yang terlewat yang dia tidak ketahui. Entah bagian mana yang di sembunyikan mama Lina.
Mama Lina mulai berbicara ,
“Liat tuh, ke mana kamu bawa barang-barang saya? Kamu benar-benar penghianat!!! Pantas saja semua pintu gudang gak ada yang rusak, ternyata malingnya kamu. Bawa hilal ke luar, dan habisi dia ! mulai hari ini saya gak mau liat muka penghianat macam dia!”
Beberapa orang pun bangkit dari tempat duduknya, dan segera menyeret Hilal ke luar ruangan.
Suasana di ruangan itu pun menjadi hening. Tiga pria yang menyeret Hilal pun sudah kembali dan duduk di tempatnya.
Mama Lina pun memutar kembali rekaman CCTV itu, terlihat jelas bahwa Hilal lah pelakunya.
Tapi mama Lina masih berbaik hati pada Hilal, karena rekaman yang dia temui tidak di serahkan pada polisi.
Mama Lina pun takut jika Hilal tertangkap, Hilal bisa membuka semua kedok mama Lina dan semua bisnis haramnya.
###########
Mama Lina sampai di rumah pukul 11.00 malam.
Di teras depan om Faisal sudah menunggunya.
Mama Lina keluar dari mobil taksi yang dia tumpangi, dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum Pa, maaf ya, aku pulang larut, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, dan tadi juga aku ke kantor polisi buat bikin berkas pengaduan,”
kata mama Lina sambil meraih tangan suaminya untuk memberi penghormatan.
Melihat istrinya yang terlihat lelah, om Faisal menawarkan minuman.
“Ma, mau teh, nanti papa bikinin, “ kata om Faisal.
“Gak Pa, aku mau langsung istirahat, oh ya, Andre udah pulang belom? “
Tanya mama Lina pada suaminya.
Om Faisal pun menjawab,
“Udah Ma, tuh lagi nonton TV. “
Mama Lina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Di dapati Andre yang sedang menonton TV.
“Kapan Rika libur, kita ajak makan malam di luar, kita bicarakan urusan kamu, biar lebih cepet lebih baik, “
Tanya mama Lina pada Andre.
“Nanti Andre tanyain, “ kata Andre.
Andre pun bangkit dari tempat duduknya dan segera mengambil ponselnya. Di tekannya angka-angka di sana, dan tersambunglah pada telepon genggam Rika.
Rika yang kala itu sedang sibuk melayani transaksi para tamu tidak mendengar deringan ponselnya.
Berkali-kali Andre mencoba menghubungi, tetapi tetap saja belum Rika terima.
Akhirnya Andre berhenti sejenak. Dia mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek.
Andre keluar dari kamarnya dan turun melewati anak tangga satu persatu.
Waktu semakin malam, Andre pun mulai merasa kantuk. Tapi dia berusaha agar tetap terjaga, agar bisa menghubungi Rika malam itu juga.
Pukul 1.00 malam, Andre berusaha menghubungi Rika kembali. Dan akhirnya Rika pun menjawab telepon darinya.
“Ya halo Dre, kenapa? “
Tanya Rika.
“Hai my sweety, kenapa baru di angkat? Kamu ke mana aja?” tanya Andre dengan sedikit rasa cemas.
Suara musik menutupi suara Rika yang berbicara saat itu.
“Coba deh kamu ke toilet dulu, “
Perintah Andre.
Rika mencoba menuruti perintah Andre. Rika meminta izin pada kasir seniornya.
“Kak Vivi, aku izin ke toilet dulu ya, “ kata Rika.
“Ya udah sana, tapi jangan lama-lama ya, lagi rame nih, aku keteter kalo sendirian, ingat jangan lama-lama, “
Kata Vivi.
Rika pun segera bergegas menuju arah kamar mandi.
Rika menghubungi Andre kembali.
“Ya, halo Dre, kenapa? Penting banget ya? Pasti mao nanya kapan gue libur, ya kan? “
tanya Rika.
“Haaaiiii, aku kangen tau, kamu gak pernah duluan ngasi kabar. Iya, aku mao nanya itu, kok kamu tau, kaya dukun, ha ha ha. “
“Gue besok liburnya, udah ah gak usah gombal, cepetan ada apa? Gue gak boleh lama nih ninggalin kasir. “
“Besok aku jemput ya, kita di ajak makan di luar sama mamaku, sekalian ngomongin rencana lamaran. “
“Oke, gue tunggu besok ya. “
__ADS_1
Rika pun segera mematikan saluran ponselnya.
Rika menghadap kaca besar yang berada di sana. Di tatap wajahnya dan merapikan rambutnya.
Ruangan toilet itu besar dan kedap suara. Hingga tak ada suara sedikit pun yang masuk dari luar. Sampai-sampai Rika bernafas pun tersengar.
Ketika dia mulai melangkahkan kakinya hendak keluar, Rika mendengar suara orang merintih. Bulu kuduknya pun mulai berdiri.
Suara rintihan itu semakin jelas, asal suara itu dari ruang toilet ke 4.
Rika mulai mendekat, di bukanya pintu itu perlahan.
Rika pun terkejut manakala melihat sosok laki-laki sedang duduk telungkup. Wajahnya banyak memar, dan di perut dan kepalanya mengeluarkan darah.
Melihat wajahnya Rika merasa tidak asing, seperti pernah mengenalnya. Ingatannya pun berputar.
Ya, Rika mulai mengingatnya. Laki-laki itu orang yang pernah menyekap dia atas perintah mama Lina.
Melihat keadaan dia seperti itu, Rika pun merasa iba.
“Kamu???? Kamu kan yang pernah nyekap aku? “ tanya Rika.
Pria itu pun menjawab dengan terbata-bata,
“Ya, ini aku, orang yang pernah jahat sama kamu, tapi saat ini tolonglah aku, aku sungguh membutuhkan pertolongan, susah seharian aku di sini, aku dah gak kuat lagi, tolong aku Rika. “
“Tapi gimana caranya, aku harus apa?” tanya Rika.
“bawa aku keluar dari sini, dan carikan aku taksi, “ kata pria itu.
“tapi lewat mana, aku belum hafal semua ruangan, “ kata Rika.
“Bawa aku menuju pintu belakang, nanti aku tunjukkan, tolong bopong aku, oh ya, namaku Hilal, “ kata pria itu.
Rika pun menuruti perintah Hilal, di bopongnya tubuh Hilal dengan hati-hati.
Sampailah mereka di pintu belakang dan tak ada satu pun orang yang melihatnya.
Rika menghentikan sebuah taksi. Dia pun meminta tolong pada sopir taksi agar bisa mengangkat tubuh Hilal yang kekar itu.
Sesampainya Hilal di dalam taksi, Hilal mengatakan sesuatu pada Rika,
“Makasih Rika, kamu sungguh baik padaku. Jaga dirimu baik-baik, oh ya, tolong terima uang ini, kamu baru masuk kerja kan? Untuk ongkosmu sehari-hari. Nanti aku hubungi kamu lagi. Ingat, jaga diri baik-baik. “
Rika hanya terdiam mendengar penjelasan singkat dari Hilal. Dan Hilal pun menyuruh sopir taksi agar membawanya ke rumah sakit.
Rika kembali lagi ke tempat di mana dia bertugas. Karena menunggu terlalu lama, Vivi pun menegurnya dan berkata,
“Lama banget sih Rik, ngapain aja sih lo, kan gue da bilang, jangan lama-lama. “
“I..... Iya kak, maap, aku tadi buang air besar, abis mules banget, “
kata Rika berbohong.
Rika dan Vivi pun melanjutkan pekerjaannya.
Dan tibalah waktu pulang, para karyawan mulai membereskan segala ruangan, dan mereka pun pulang melalui basment satu persatu.
##############
Tibalah waktu, di mana Andre berjanji untuk menjemput Rika. Dan Andre pun sudah tiba di depan rumah Rika.
Rika sedang bersiap-siap merapikan dirinya sambil menunggu kedatangan Andre.
Terdengar suara pintu di ketuk, Rika pun segera membukanya. Dan ternyata Andre yang datang.
Senangnya hati Rika saat itu. Andre pun tersenyum melihat sikap Rika yang salah tingkah.
Rika segera menelepon Ando,
“Halo Ndo, gue berangkat ya, nanti kalo malem lo kesini ya. “
Ando pun menjawab dengan singkat,
“Iya, bawel. “
Segera Rika memutuskan saluran ponselnya.
Maka berangkatlah mereka berdua menuju tempat di mana mama Lina janjikan.
Tibalah mereka di sebuah restoran mewah bernuansa balap. Semua dekorasinya tentang balap, bahkan ada motor keren yang di gantung, ya, motor balap berwarna merah dengan stiker bertuliskan Aprilia.
Andre dan Rika memasuki restoran itu. Kedatangan mereka di sambut oleh mama Lina, om Faisal, Putri dan ketiga adiknya.
Om Faisal mulai memesan makanan favorit di resto itu, yaitu Cwimie, makanan khas dari daerah malang.
Mereka pun merencanakan tentang acara lamaran.
“Gimana Rika, apa kamu uda bilang pada orang tuamu? Kalo bisa secepatnya aja, biar bisa segera, tuh, liat aja, si Andre pengennya cepet, pengen buru-buru katanya, “
Kata mama Lina.
Rika pun menjawab dengan terbata-bata,
“I... I... Iya bu.”
“Jangan bu dong, panggil aja mama, gak apa, biar sama ama Andre dan Putri, “ jelas mama Lina.
Andre pun tersenyum mendengarnya.
Karena merasa gugup, Rika meminta izin untuk pergi ke toilet.
Mama Lina pun berkata,
“Yuk bareng, mama juga mau pipis nih.”
Mama Lina langsung menarik tangan Rika dengan mesra. Dan yang lain pun tersenyum melihat keakraban mereka.
Ketika berada di toilet, mama Lina memantau situasi. Setelah terlihat aman, mama Lina langsung menjambak rambut Rika dan berkata,
“Bagaimana dengan tawaranku kemarin, apa kamu mau atau tidak? Jika tidak, putuskan Andre dari sekarang. Dan jika kamu mau, ikuti permainan ku, jangan pernah menuntut lebih dari Andre. Kalo kamu gak kuat, tinggalkan dia, begitu pun juga sama Andre, aku akan membujuknya meninggalkan kamu, bagaimana? “
Dengan rasa takut yang amat sangat, Rika menjawab,
“I... I... Iya bu, saya terima.”
“Bagus, “ jawab mama Lina dengan singkat.
__ADS_1
Mama Lina pun melepaskan tarikan tangannya dari rambut Rika dengan kasar.