
Malam pun telah tiba. Mama Lina telah sampai di rumahnya. Dicky membukakan gerbang kemudian mama Lina pun masuk dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.
Sedangkan di ruang tengah Andre telah menunggu kepulangan mamanya. Ketika mama Lina masuk ke dalam rumah Andre pun menyambutnya dengan hangat.
Melihat tingkah Andre yang tidak seperti biasanya mama Lina pun tersenyum geli.
“ Nggak kayak biasanya Ndre, hangat banget nyambut Mama pulang,” sahut mama Lina pada Andre.
“ emang salah kalau Andre nyambut mama kandungnya sendiri dengan penuh kasih sayang?” kata Andre dengan bergaya.
“ Biasa mah, modus ! Pasti ada maunya,”
sahut Dicky sambil terkekeh.
“ nyamber aja lo! Bikinin mama susu panas sana! “ perintah Andre pada Dicky.
Dicky pun tersenyum, ia segera melaksanakan perintah kakaknya.
Melihat Dicky segera melangkah menuju ke ruang dapur, mama Lina segera mencegahnya. Kemudian mama Lina berkata,
“ bikinin susu panasnya nanti aja ya Dik, mama mau mandi dulu.”
Mendengar perkataan mama Lina, sontak saja Andre memasang wajah cemberut.
Sebelum melangkah ke arah kamarnya, mama Lina menoleh ke arah Andre. Karena wajah Andre yang cemberut mama Lina pun berkata,
“ Sebentar doang mama mandi cepet kok, kamu bisa mengerjakan sesuatu yang lain sambil nunggu mama mandi.”
Mama Lina pun masuk ke dalam kamarnya, sementara Andre tetap menunggu di ruang tengah.
Karena bosan, akhirnya Andre pindah ke taman belakang. Ternyata ada Putri di sana. Putri sedang menelepon atau menerima telepon dari seseorang, entahlah.
Dari kejauhan terdengar percakapan Putri dengan seseorang. Tapi sayang, suara Putri terdengar sayup sayup. Akhirnya Andre sengaja mendekati Putri.
Ketika Andre mendekati Putri, Putri melihat bayangannya. Segera ia mengakhiri percakapannya dengan seseorang di seberang sana.
Andre duduk di atas ayunan, sedangkan Putri masih berdiri. Akhirnya Putri juga duduk di ayunan, bersebelahan dengan Andre.
“Lo teleponan sama siapa?” tanya Andre.
“Ama temen,” jawab Putri.
“Cowok lo?” tanya Andre kembali.
“Ehm, nggak, bukan, bukan cowok gue,” jawab Putri dengan gugup.
“Kalo lo udah punya cowok, bawa ke rumah, kenalin ke mama dan om Faisal, jangan umpet umpetan, biar cowok juga nggak kurang ajar sama lo,”
sahut Andre.
“Ih, siapa yang punya pacar sih Bang!”
Bentak Putri.
__ADS_1
“Lah, kok lo ngotot? Kan gue cuman kasitau lo aja, napa jadi ngotot sih lo! Aneh! “ sahut Andre.
Putri terus mengayun, dan ayunan Putri semakin kencang.
Khawatir Putri terjatuh, akhirnya Andre berusaha menghentikannya. Tetapi anehnya, Putri malah marah marah.
“Iiihhh, awas gak Bang! Gue pengen kenceng kenceng,” sahut Putri.
“Yeeee si bego, di bilangin malah rese' nanti putus ayunannya,” kata Andre.
Andre kembali menghentikan ayunan yang di duduki Putri. Dan akhirnya ayunan itu pun terhenti.
“Heh, pa'ul! Jangan konyol ya. Lo kalo stres jangan ngakitin badan. Tuh nanti kalo ayunannya putus, rantenya bakal kena kepala lo, bego! Paham napa sih Put kalo gue bilangin,”
kata Andre dengan kesal.
Tanpa berkata kata, Putri meninggalkan Andre. Dia melangkah masuk ke dalam rumah, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Andre masih duduk di atas ayunan. Andre heran dengan sikap adiknya, karena tidak Seperti biasanya sikap Putri seperti itu.
Ternyata, dari kejauhan, mbok Yem memperhatikan gerak gerik Andre dan Putri. Saat itu mbok Yem sedang mencuci piring piring kotor. Di ruang dapur terdapat jendela mengarah ke taman belakang. Dari situlah mbok Yem melihat dan memperhatikan keduanya.
Andre masih saja duduk di ayunan dan terus mengayun ringan. Dan mama Lina sudah selesai mandi, lalu ke ruang tengah mencari Andre.
Mama Lina memanggil mbok Yem.
“Mbok!!! Andre mana, liat nggak?”
“Den Andre ada di taman belakang, nyonya,”
jawab mbok Yem.
“Makasih mbok,” kata mama Lina.
Segera mama Lina berjalan menuju taman belakang. Terlihat dari kejauhan Andre sedang duduk di atas ayunan.
Mama Lina melihat Andre dengan berbicara, entah dengan siapa. Padahal Andre tidak memegang ponsel.
Lalu mama Lina menepuk bahu Andre dari belakang. Andre pun terkejut, dan menghentikan ucapannya.
“Kamu lagi ngomong ama siapa sih, kok marah marah gitu?” tanya mama Lina.
“He he he, nggak Mah, cuman kesel aja ama Putri, di bilangin nggak mau banget dengerin, kan Andre kesel,” kata Andre.
“ Putri Kenapa emang dia?”
tanya mama Lina.
Ada rasa penasaran di balik pertanyaan mama Lina. Iya berharap menemukan jawaban yang selama ini ia cari tentang Putri.
Lalu Andre menjawab,
“ Andre cuma tanya, Lu udah punya cowok? Andre bilang, kenalin ke mama dan Om Faisal, ajak ke rumah, Jangan di jalanan, eh dianya malah marah. Dia nggak ngaku kalau dia udah punya cowok mah.”
__ADS_1
“ lalu,”
“ Ya dia malah marah-marah mah, dia bilang gue belum punya cowok,” jawab Andre.
Mereka pun diam sejenak. Mama Lina duduk di bangku depan taman, sedang kan Andre masih duduk di atas ayunan.
“Apa yang mau kamu omongin Ndre?”
tanya mama Lina.
Kemudian Andre pindah duduk berhadapan dengan mamanya.
“Mah, Andre udah ketemu dan ngobrol sama bang Iyan dan bang Beni. Hasil obrolan kita tuh gini, nanti Andre harus temuin mami dan papinya Rika di Lampung,” jelas Andre.
“ Apa?! Kamu harus ketemuin mereka di Lampung? Berarti kamu harus ke sana dong?” tanya mama Lina.
“Iya Mah, Andre harus ke sana. Nanti ke sana ama bang Iyan dan Rika,” jawab Andre.
“ Naik apa?” tanya mama Lina.
“ Naik travel kata Bang Iyan, terus nanti naik ferry-nya ya kita tetap duduk di dalam mobil travel mah,” jawab Andre menerangkan.
Mendengar penjelasan Andre mama Lina manggut-manggut. Lalu di otak mama Lina menanyakan tentang biaya perjalanan.
“ Lalu soal biayanya gimana?” tanya mama Lina.
“ Saat ini Andre belum kepikiran ke sana mah. Tapi sih pantasnya ya Andre yang biayain semua itu,” jawab Andre.
“ Kamu semua?!” tanya mama Lina dengan nada histeris.
“ Kamu pikir biaya perjalanan ke Lampung itu murah? Untuk diri kamu aja itu udah mahal Ndre. Apalagi kamu sok-sokan nanggung mereka berdua,”
jelas mama Lina dengan rasa marah.
“ Kan Andre bilang sepantasnya Ma, Ini kan buat keperluan Andre mah, bukan keperluan mereka. Kayaknya emang pantas Andre yang membiayai semua itu,” kata Andre.
“Tapi liat kemampuan kamu dong, kamu mampu apa nggak?” jelas mama Lina dengan marah.
Di ruang dapur mbok Yem sambil mencuci piring memperhatikan mereka.
“ Yah begitulah, kalau niat baik ada aja halangannya. Ada aja yang menghambatnya, dan sepertinya Nyonya memang nggak suka sama calonnya si Aden,”
kata mbok Yem pada dirinya sendiri.
“Andre pikir, setelah kita bicara, mama mau bantu, eh malah marah marah,”
sahut Andre dengan cemberut.
Mendengar perkataan Andre, mama Lina tercengang. Matanya melotot dan alisnya mengangkat.
“APA NDRE??? MAKSUD KAMU, MAMA YANG HARUS NGEBIAYAIN SEMUA?!”
tanya mama Lina sambil bertelak pinggang.
__ADS_1