Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Om Faisal di rawat.


__ADS_3

Suasana rumah sakit sangat ramai. Om Faisal sudah mulai sadar dan sudah mengenali anggota keluarganya.


Putri mendekati om Faisal, yang tak lain adalah papa tirinya dan memegang tangannya.


Putri memandang wajah om Faisal, dengan lembut putri membelai rambut om Faisal dan berkata dengan berbisik di telinganya,


“Makasih ya Om, Putri salut ama Om.”


Karena kondisi fisik om Faisal masih lemah, dia hanya membalas perkataan Putri dengan senyuman, dan mengangkat alisnya.


Putri pun kembali berkata,


“Udah, om gak usah ngomong apa-apa, Putri sayang ama Om.”


Putri pun memeluk tubuh om Faisal yang masih berbaring. Di dekapnya dengan manja. Om Faisal pun membalas dengan membelai rambut Putri.


Lama sekali Putri mendekap tubuh om Faisal, karena baru kali pertama dia merasakan perhatian yang sangat besar dari om Faisal.


Kejadian malam itu masih terbersit di ingatan Putri.


Malam itu, ketika keluarga Andre hendak mengunjungi rumah Rika untuk melamar, saat tiba di jalan raya yang sepi, tiba-tiba beberapa kendaraan bermotor menghalangi mobil mereka.


Jika di hitung, jumlah kendaraan bermotor itu lebih dari 5 motor, dan mereka pun berboncengan. Berarti jumlah mereka 2 kali lipat dari jumlah kendaraan bermotor yang mereka tumpangi.


Sedangkan jumlah keluarga Andre sedikit, dan mereka membawa barang-barang bawaan untuk di persembahkan pada saat pertunangan Andre dan Rika, serta ada anak-anak kecil juga di dalam mobil.


3 motor menghalangi mobil, beberapa orang turun dari kendaraan mereka dan mengetuk pintu mobil.


Anak-anak pun di dalam histeris, mereka berteriak. Dan akhirnya Andre dan om Faisal keluar menemui mereka.


Tak lama kemudian terjadilah baku hantam, sampai akhirnya om Faisal terkapar.


Semua barang-barang yang mereka bawa di rampas semua, termasuk cincin pertunangan yang Andre bawa untuk Rika.


Semua ponsel mereka di rampas juga, hingga Andre pun tak bisa menghubungi Rika saat itu.


Kejadiannya sangat cepat sekali, seperti mimpi buruk, bagi Putri dan adik-adiknya.


Walau pun mama Lina, Putri dan adik-adik tidak di jahati secara langsung, tapi mereka melihat apa yang terjadi di luar mobil.


Kemungkinan jika om Faisal saat itu tidak memberi perlawanan, bisa jadi semua baik-baik saja.


Tapi om Faisal tidak bisa tinggal diam, begitu pun dengan Andre, dia sempat melawan orang-orang itu dengan mengeluarkan jurus bela dirinya, sedangkan om Faisal tidak punya. Dia melawan semampunya. Maka om Faisal terkena tikaman.


Dan akhirnya orang-orang itu pun pergi meninggalkan keluarga Andre, dan om Faisal yang terkapar di jalan.


Adre pun membopongnya membawa om Faisal ke dalam mobil, di bantu dengan Diki, adik Andre setelah Putri.


Darah pun mulai keluar. Mama Lina pun panik, serta Putri dan Lisa pun histeris melihat om Faisal.


Andre pun berinisiatif melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dan bagusnya sampai di rumah sakit para medis pun langsung menanganinya, dan akhirnya om Faisal tidak sadarkan diri.


########


Andre pun sampai rumah sakit, di lihatnya Putri sedang memeluk om Faisal.


Andre mendekatinya, dan ternyata Putri tertidur dengan memeluk om Faisal.


Om Faisal tersenyum melihat kedatangan Andre. Melihat om Faisal yang ternyata terjaga, Andre pun memberi salam dan mengambil tangan om Faisal serta menciumnya sebagai tanda hormatnya.


Melihat om Faisal ingin mengatakan sesuatu, Andre pun mencegahnya, dia tidak ingin om Faisal mengatakan apa-apa.


“Sstt, iya Om, om jangan bicara apa-apa dulu, ya. Om tinggal mengangkat alis aja,” kata Andre.


Om Faisal pun menuruti apa yang Andre katakan, dan dia langsung mengangkat alisnya.


Seorang perawat masuk ke ruangan itu membawa makanan untuk om Faisal. Andre pun membangunkan Putri, agar segera bangkit dari tidurnya.


Putri pun terbangun dan berkata pada Andre,


“Ih lama banget sih bang sampenya, gue da gatel nih, gerah.”


“Iya, maaf, oh iya, gue bawa makanan nih, mau gak? Eh lo da telepon tempat les lo belom? Jangan sampe gak ngasi kabar,”


kata Andre menjelaskan pada Putri.


“Gimana mau ngasi kabar, mama belom beliin gue hp lagi, gue mau pinjem punya mama, malah gak di kasih. Katanya nanti bisnis mama berantakan gara-gara hpnya di pinjem-pinjem,"


jawab Putri.


Putri menyuapi makan untuk om Faisal, sedang Andre membantunya menyeka makanan yang tak sampai masuk ke dalam mulut om Faisal.


Di perlakukan seperti raja, om Faisal pun merasa bangga pada Andre dan Putri, walau mereka bukan anak kandungnya.


Selesai menyuapi om Faisal, Putri pun pamit untuk pulang, dan mencium tangan om Faisal.


“Gue pulang dulu ya bang,” kata Putri berpamitan.


“Iya, lo ati-ati di jalan, jangan lupa lo mampir dulu ke tempat kursus lo,”


kata Andre mengingatkan.


########


Sampailah Putri di rumahnya pukul 7.00 malam. Adik-adiknya sedang asyik menonton TV dan mbok Yem sedang sibuk di dapur, menyiapkan makan malam untuk keluarga.


“Eh, Lisa, mama mana?”


tanya Putri pada Lisa yang sedang merebahkan tubuhnya di atas karpet sambil menonton TV.


“Di kamar kak Put,” jawab Lisa.


Lisa pun mulai merengek pada Putri untuk di buatkan susu panas. Lisa pun berkata,


“Kak, aku mau susu panas.”


“Tinggal bilang aja sama mbok Yem emang susah?”


Tanya Putri.


“Aku maunya di bikinin sama kak Putri,”


rengek Lisa, matanya pun mulai mengeluarkan air mata.


“Iya, tunggu ya, kak Putri buka sepatu dulu,” jawab Putri.


Putri pun kembali bertanya pada Lisa,


“kalo jam segini kamu minum susu, nanti kamu keburu kenyang, kasian mbok Yem udah masakin kita, trus kalo kamu kenyang, masakan mbok Yem siapa yang makan? Kan biasanya kamu yang makannya paling banyak.”


Lisa pun menangis karena di ejek kakaknya, yaitu Putri.


Melihat adiknya sudah mulai menangis, Putri pun langsung menggendongnya dan mengajaknya ke ruang dapur.


Sesampainya di ruang dapur, Putri menaruh Lisa di atas meja, sambil berkata,


“Duduk sini, diam-diam ya, nanti jatoh.”


Putri pun mulai membuatkan susu panas untuk Lisa.


Lisa berkata,


“Tadi sore Lisa kan minta di bikinin susu ama mama, tapi mamanya malah marah-marah, ya udah, Lisa tahan aja sampe kak Putri pulang.”


Mendengarkan aduan Lisa, Putri pun mengernyitkan dahinya, lalu bertanya,


“Kenapa gak minta di bikinin sama mbok Yem sih? Nunggu kak Putri kan kelamaan.”


“Ehmmm, gak enak rasanya kalo mbok Yem yang bikinin, gak manis,”


jawab Lisa, sambil mengusap matanya yang basah karena air mata.


Putri pun selesai membuatkan susu panas untuk Lisa.


Sambil menggendongnya, Putri mengajak Lisa menuju ruang tengah kembali.


Putri menyuruh Lisa untuk menghabiskan susunya secara perlahan, agar tidak tersedak.


“Kamu tunggu di sini dulu ya, kak Putri mau nyari mama dulu di kamar,”


Perintah Putri pada Lisa.

__ADS_1


Putri pun beranjak meninggalkan Lisa.


“Maaa, Mamaaaa!”


Teriak Putri memanggil.


Karena Putri tidak mendengar sahutan mama Lina, maka Putri melangkah masuk ke dalam kamar mama Lina.


Ketika Putri membuka pintu kamar, ternyata bersamaan pula dengan mama Lina yang hendak keluar dari kamarnya, dan mereka pun saling bertabrakan.


“Ihhh, kamu Put, ngalangin aja,”


kata mama Lina.


“Yeee, mama aku panggil dari tadi gak nyaut-nyaut. Eh, mama mau kemana? Udah rapi aja? Pasti da kangen ya sama om Fisal? “


kata Putri menggoda.


“Enggak, mama gak ke rumah sakit malam ini, mama mau pergi, ada bisnis mama yang harus di urus,”


jawab mama Lina.


“Ini kan udah malem Ma, emang gak bisa besok?”


tanya Putri.


“Gak bisa Put, ini mendadak, tadi orang gudang menelpon mama, katanya ada barang dateng. Mama harus ngecek sendiri, semenjak Hilal mama pecat, tambah repot keadaan Put, semua harus mama cek sendiri, karna karyawan yang lain belom banyak ngerti,”


jawab mama Lina.


Putri pun mengantar mama Lina sampai pintu gerbang, dan menutupnya kembali.


Sebelum berangkat, mama Lina berpesan pada Putri untuk menjaga adik-adiknya.


Putri pun berjalan menuju ruang tengah, masih ada Lisa dan Diki.


Putri pun ikut berbaur bersama mereka bersama-sama menonton TV.


Mbok Yem segera menyiapkan makan malam untuk anak-anak. Satu persatu makanan di letakkan di meja makan.


Mbok Yem pun memanggil anak-anak untuk segera menyantapnya.


“Ayooooo, dede Lisa, abang Diki, Rizky dan Ricky, ayoo makan, mbok da siapin nih makanannya,”


panggil mbok Yem.


Mendengar namanya tidak di panggil mbok Yem, Putri pun protes.


“Owh gitu, Putri gak di ajak makan? Okeh, gak papa,”


kata Putri pada mbok Yem.


“Oalaaah, saya lupa ada non Putri, maap non, iiih, gitu aja ngambek,”


kata mbok Yem.


########


Mama Lina melajukan mobilnya menuju arah gudang. Cuaca malam mulai dingin, dan angin pun berhembus kencang. Suasana jalan pun padat merayap.


Mama Lina ingin segera sampai di sana, untuk membereskan para anak buahnya yang malam itu membuat kekacauan di luar rencana.


Hati mama Lina sungguh gundah. Mama Lina tidak menerima tindakan salah satu anak buahnya yang bertindak ceroboh.


Beberapa meter lagi mama Lisa sampai tujuan. Segera mama Lina menghubungi seseorang,


“Halo, Herman, buka gerbang sekarang.”


Mama Lina pun segera memutuskan saluran teleponnya.


Sesampainya mama Lina di depan pintu gerbang gudang, beberapa pria telah menunggunya, mereka menyambut mama Lina seperti layaknya menyambut seseorang berpangkat tinggi.


Mama Lina turun dari mobilnya yang sebelumnya di antara mereka membukakan pintu mobilnya. Dan mama Lina pun segera melangkah masuk ke dalam gudang.


Di dalam gudang suasana sangat ramai, tapi seketika mereka melihat kehadiran mama Lina, dengan spontan mereka terdiam dan mereka membungkukkan tubuh mereka.


Malam itu di adakan rapat besar. Hampir semua anak buah mama Lina hadir.


Mama Lina berkata:


“Saya sudah bilang pada kalian sebelumnya, agar jangan sampai ada yang terluka. Kalian saya perintahkan hanya mengambil barang-barang yang kami bawa saja, tidak lebih! Tapi kalian malah bertindak bodoh! Saya ingin tau, siapa saja malam itu yang bertugas?”


Karena mama Lina sudah sangat marah, tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajah mereka. Karena tidak ada satu pun yang berani bicara, akhirnya Herman, salah satu anak buah mama Lina yang ikut dalam penyerangan itu memberanikan diri untuk bersuara.


Sebelum bicara, Herman pun mengacungkan tangannya terlebih dahulu, dan mama Lina pun mengangguk.


Herman berkata,


“Malam itu kami 16 orang Bu, sebagian dari kami saat ini tidak hadir.”


“Ke mana mereka?”


Tanya mama Lina.


“Saat ini mereka sedang bertugas di wilayah masing-masing Bu,”


kata Herman.


“Lalu, siapa yang menikam suami saya? “ tanya mama Lina.


Mereka pun terdiam. Tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah mereka.


Beberapa saat suasana menjadi hening. Mama Lina memperhatikan karakter mereka.


Hati mama Lina semakin gundah dan emosi. Mama Lina pun berkata sambil berteriak dan memukul meja,


“Jawaaaabbb!!! Kerja kalian gak becus!!! Kalian gak bisa menjadi andalan saya. Saya akan selidiki, siapa yang telah menikam suami saya.”


Melihat mama Lina semakin marah, akhirnya Paijo memberanikan diri untuk berbicara.


“Ma....maaf nyonya, saya mau bicara. Saya yang menikam tuan, nyonya.”


“Apa?!!! Kamu yang menikam? Apa kamu saat itu ikut beroperasi?”


Tanya mama Lina kepada Paijo.


Paijo pun memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan mama Lina,


“Saya ikut, nyonya. Saat itu saya ikut dan berboncengan dengan Herman.”


“Kalau memang kamu ikut serta malam itu, apa alasan kamu menikam suami saya? Sedangkan saya tidak memerintahkan itu. Saya tidak ingin ada kekerasan. Apa pun yang terjadi, pokoknya jangan ada kekerasan, apa lagi sampai ada jatuh korban. Saya tidak terima ini semua,


kata mama Lina.


Paijo hanya diam dan menundukkan kepalanya.


Mama Lina kembali bertanya,


“Siapa yang menyuruhmu, Paijo? Jawab Paijo?!!! Saya akan menyelidikinya. “


Mama Lina bergumam dalam hatinya,


“Gak mungkin Paijo melakukan ini semua tanpa perintah seseorang, pasti ada orang di balik perbuatannya itu. Lihat saja, akan ku selidiki dan akan ku habisi dia.”


Malam semakin larut, mama Lina pun menuntaskan rapat yang dia pimpin.


Setelah rapat selesai, mereka pun berpencar dan kembali ke tempat masing-masing di mana mereka saling berbeda tugas.


Kedudukan Hilal kini di gantikan oleh Herman. Keamanan gudang dan kerapian barang kini Herman yang bertanggung jawab.


Dan mama Lina pun menutup kasusnya tentang pembobolan gudang malam itu pada polisi. Karena jika terungkap siapa pelakunya, bisnis mama Lina yang lain pun bisa terbongkar karena ulah Hilal.


Mama Lina pun tidak ingin itu terjadi. Dan sayangnya, sampai saat ini, mama Lina tidak mengetahui keberadaan Hilal sekarang.


“Lihat saja, jika aku bisa menemui keberadaan Hilal, akan ku habisi dia! “


Gumamnya dalam hati.


Mama Lina pun meninggalkan gudang dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju arah rumahnya.


Sesampainya mama Lina di rumah, ternyata Putri belum tidur.

__ADS_1


Putri membukakan pintu gerbang untuk mama Lina, dan mama Lina pun memarkirkan mobilnya masuk ke dalam garasi mobil.


Putri menutup kembali gerbang rumahnya, dan melangkah masuk ke dalam rumah.


“Kamu kok belum tidur Put?”


tanya mama Lina.


“Belom Ma, tadi Lisa nangis, lama diem nya, tapi sekarang udah tidur kok,”


jawab Putri.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan masing-masing melangkah ke dalam kamar mereka.


“Put, tidur ya, mama juga mau langsung tidur, cape,” kata mama Lina.


“Iya Ma,” jawab Putri.


########


Di waktu yang sama, di sebuah club di mana Rika bekerja, Rika sedang sibuk melayani para tamu yang datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 2.00 pagi, dan saat itu pengunjung pun masih ramai.


Wanita muda yang pernah datang dan menanyakan perihal penyewaan tempat, kembali datang bersama seorang laki-laki setengah tua.


Mereka mendekati meja kasir, yang saat itu hanya Rika yang ada. Sedangkan Vivi sang kasir senior saat itu sedang libur.


Mereka menyapa Rika,


‘Hai mbak, masih ingat saya gak?” tanya wanita muda itu sambil menggandeng pria setengah tua yang sedang bersamanya.


“Pagi non, masih non, kan belum lama non kesini. Ada yang bisa saya bantu non?”


tanya Rika.


Rika memandangi wanita itu, sepertinya wanita itu sedikit mabuk.


Pria setengah tua itu berkata pada Rika,


“Berapa harga penyewaan tempat ini mbak? Saya ingin menyewa bagian restoran, bisakah?”


“Bisa Tuan,” jawab Rika.


“Saya ingin menyewa tempat ini, saya ingin membuat pesta ulang tahun untuk kekasih saya ini,” kata pria setengah tua itu pada Rika.


Melihat perihal mereka di depan matanya, Rika merasa jijik dan risih. Bagaimana Rika tidak jijik dan risih, mereka mengumbar kemesraan di depan Rika, perlakuan yang tidak pantas di perlihatkan di tempat umum.


Rika pun mengalihkan pandangannya dan mencari berkas yang harus di isi mereka, dan beberapa berkas harga dan menu di resto itu untuk sebuah pesta.


“Saya ingin membuat pesta yang sangat meriah, dengan menu spacial ya,” kata pria itu pada Rika.


“Baik tuan, silakan pilih harga dan menunya, di ceklis aja isinya,” jawab Rika.


Rika pun berusaha menuntun pria setengah tua itu untuk memilih, karena ternyata pria setengah tua itu juga terlihat mabuk.


Untuk mengurus sewa-menyewa, Rika sudah terbiasa, karena pengalaman sebelum bekerja di tempatnya yang baru.


Mulailah pria itu mengisi data dengan sedikit berantakan, karena kurangnya konsentrasinya saat itu tersebabkan mabuk.


Karena kondisi mereka yang susah untuk konsentrasi, Rika menganjurkan untuk di lanjutkan besok, dengan alasan sebentar lagi club ingin tutup.


Rika tidak ingin berhadapan dengan orang yang sedang masuk, bau mulutnya yang sangat yang menyengat.


Mereka pun mengerti, dan pergi meninggalkan Rika.


Tapi sebelum mereka pergi meninggalkan Rika, pria setengah tua itu memberikan tip untuk Rika.


“Terima kasih mbak, mbak sudah melayani kami dengan baik, tolong terima ini ya,” kata pria itu .


Awalnya Rika ragu menerimanya, tapi wanita itu mendesak.


“Udah mbak, terima ya, anggap saja ini sebagai hadiah dari kami, walau sedikit,”


kata wanita muda itu.


Akhirnya Rika pun menerimanya, dan mereka melambaikan tangan pada Rika tanda perpisahan.


“Sampai bertemu besok ya mbak,”


Kata wanita muda itu.


Setelah mereka pergi, Rika membuka genggaman tangannya, dan Rika menghitung uang itu satu persatu. Ternyata pria tadi memberinya tip yang cukup besar, Rika berniat membaginya pada kasir seniornya yaitu Vivi.


Waktu terus berlalu, jam telah menunjukkan pukul 3.30 pagi, waktunya club di tutup. Para karyawan pun segera pulang.


Seperti biasa, Rika bersama Erna pulang bersama. Ternyata, di luar Ricard sudah menunggunya.


“Hai Rika,”


Panggil Ricard dari arah seberang jalan.


Rika dan Erna pun mencari sumber suara itu, dan Ricard pun melambaikan tangan.


“Wah, cowok itu lagi Rik, ehem, jangan-jangan.....” kata Erna.


“Jangan-jangan apa? Jangan-jangan lo suka ama dia, gitu?”


Jawab Rika dengan memotong pembicaraan Erna, sahabatnya.


“Jangan-jangan dia suka sama lo Rik,” jawab Erna.


“Ah, yang bener aja, masa dia suka sama gue? Sama lo kali Er? Ha ha ha,” jawab Rika.


“Kayanya dia suka deh Rik sam lo, tujuannya ya ke elo, bukan gue, tapi lumayan ganteng sih Rik, mending lo sama dia aja, kalo lo sama Andre, rintangannya kayanya berat banget,”


jawab Erna.


“ha ha ha, bisa aja lo,”


balas Rika.


Erna pun melambaikan tangannya pada Ricard. Dan Ricard pun membalasnya.


“Tuh kan, dibales, cie cieee,”


Kata Rika sambil tertawa.


Ricard pun memberi kode, agar mereka yang tak lain adalah Rika dan Erna menunggu. Ricard akan memutar jalan untuk menuju ke arah mereka.


Erna pun mengacungkan jempolnya, tanda dia setuju.


Ketika Ricard sedang melajukan mobilnya dengan memutar jalan, tak lama kemudian Andre tiba, persis di depan Rika dan Erna.


Alangkah terkejutnya Rika dan Erna. Erna pun menjadi bingung untuk bersikap.


Andre segera membuka pintu mobilnya tanpa dirinya turun dari mobil.


“Rika, ayo naik, sweety,”


kata Andre.


“Ngapain lo kesini, gue mau pulang sama temen gue,”


Kata Rika pada Andre.


Mobil Ricard pun berhenti di belakang mobil Andre.


Dan Rika segera menarik tangan Erna dan melangkah ke arah mobil Ricard.


Seketika Ricard pun turun dari mobilnya, dan membukakan pintu depan untuk Rika.


Melihat pemandangan yang tidak mengenakkan, Andre pun segera turun dari mobilnya, dan melangkahkan kakinya ke arah mobil Ricard.


Andre marah sekali saat itu. Di tendangnya ban mobil Ricard hingga alarm mobil itu berbunyi.


Dengan santai, Ricard mematikan alarm mobilnya.


Ricard pun menyapa Andre dengan wajah mengejek dan mengulurkan tangan hendak bersalaman.


Melihat wajah Ricard dengan senyumannya, Andre pun merasa terhina. Andre pun sempat melihat tangan Ricard, di tangannya terdapat sebuah tato bergambar cecak. Dan akhirnya Andre pun mendekat, kemudian di pukulnya wajah Ricard.


Setelah di pukul Andre, wajah Ricard mengeluarkan darah pada pelipis matanya. Melihat kejadian itu, Rika pun tidak tinggal diam.

__ADS_1


__ADS_2