Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Korban tabrak lari.


__ADS_3

Suasana di tempat kerja Andre yaitu SINGGASANA CLUB saat itu sangat ramai dengan pengunjung.


Para karyawan sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Seperti biasa, tepat itu buka jam 11.00 siang dan split jam 3.00 sore. Kemudian buka kembali pukul 6.00 sore.


Siang itu masih di buka untuk umum, di mana banyak pengunjung yang datang dari beberapa karyawan PT lain, yang letaknya masih berdekatan dengan club.


Mereka banyak menghabiskan waktu makan siang di tempat itu.


Sedangkan nanti, setelah split berlangsung, club di buka khusus, karena club telah di booking oleh seseorang untuk acara uang tahun.


Biasanya, jika club akan di booking, maka waktu split di gunakan untuk bersiap-siap dalam penataan ruangan.


Penataan tergantung dari orang yang membookingnya, sedangkan pihak club hanya menyediakan beberapa tema saja.


Jika booking untuk acara ulang tahun, pihak club akan melihat usia. Maka dekorasinya pun akan mengikuti sesuai usia, begitulah seterusnya.


Saat split pun tiba. Para karyawan, termasuk Tomi dan Andre sibuk mempersiapkan acara untuk nanti malam.


Mereka pun bergantian untuk Shalat asar. Dan sebagiannya lagi mempersiapkan menu.


Biasanya, jika ada acara berlangsung, ada beberapa menu tambahan.


Para koki pun sibuk di area kichen. Mereka mempersiapkan menu spacial.


Tomi bertanya pada Andre yang tengah sibuk menata ruangan,


“Gimana Dre acara lo kemaren, lancar? Kok lo gak ngundang anak-anak sih?”


Andre menjawab dengan asal,


“alhamdulillah lancar. Ih, ngapain ngundang anak-anak sih, ngaco! itu cuman acara lamaran doang, itu juga sederhana aja."


"Kok lo keliatan gak seneng gitu sih Dre, harusnya kan lo bahagia, biasanya lo kalo lagi girang langsung curhat ke gue, cerita begini begitu bla bla bla, ini kok enggak. Sebenarnya gue dari tadi nunggu lo cerita, tapi kayanya lo males cerita ya,”


kata Tomi.


“Bukan males ceritanya Tom, tapi gue males tar lo cerita lagi ke Santi, halaaaah, lebih ribet jadinya,”


celoteh Andre.


“Icaaa aaeee lo Dre,”


jawab Tomi, sambil mendorong tubuh Andre perlahan.


Andre pun tidak mau kalah. Di tendangnya kaki Tomi perlahan, dan mereka pun tertawa.


########


Di sebuah apartemen, Ricard duduk di depan TV. Tetapi pandangannya kosong, seolah-olah ada beban yang dia pikirkan.


Tiba-tiba pintu terketuk dari luar, Ricard pun terkejut hingga tak sadar dia melompat dari tempat duduknya.


Setelah tersadar, dia mendengar kembali suara pintu yang di ketuk.


Dia menoleh ke arah pintu dan berjalan hendak membukakannya. Sebelum membukanya, Ricard melihat ke arah luar pintu melalui lubang pintu.


Ternyata Herman yang datang. Ricard segera membukakan pintu untuk Herman.


Herman pun masuk ke dalam apartemen Ricard tanpa menunggu aba-aba, dan duduk di atas meja.


Melihat apa yang di lakukan Herman, Ricard pun marah.


Segera Ricard mengambil botol minuman dan hendak memukul Herman.


Tapi sayang, Herman lebih sigap dari Ricard. Herman mampu menghalau pukulan Ricard, hingga pecahan botol yang terbentur ke dinding berhamburan di lantai.


Herman mengambil remot TV, lalu membesarkan suaranya, agar perkelahian mereka tidak terdengar keluar.


Sikap Herman yang santai, mampu mengelabuhi pikiran Ricard.


Ricard mengambil seutas tali. Dengan cepat dia melemparkan ke arah Herman, untuk mencekiknya.


Tap sayang sekali, usaha Ricard kembali gagal, Herman begitu sigap dan cekatan. Herman mengambil pecahan kaca dan langsung menikam ke arah wajah Ricard.


Tapi Herman dengan sengaja tidak mengenai wajah Ricard.


Tujuan Herman hanya memberikan peringatan untuk Ricard, agar lebih waspada dan cekatan.


Di lilitnya leher Ricard hingga Ricard susah bernafas.


Herman pun menyampaikan pesan pada Ricard, agar nanti malam dia melakukan tugas sesuai yang di harapkan, tanpa melepaskan lilitan tangannya.


Ricard pun segera menganggukkan kepalanya, kemudian Herman pun melepaskan lilitannya sambil mendorong tubuh Ricard ke arah dinding.


Maka tubuh Ricard pun terbentur ke dinding.


Herman menilai bahwa Ricard terlalu lemah menjalankan tugas ini. Hingga akhirnya Herman berkata pada Ricard,


“Jangan seperti banci kau! Tunjukkan bahwa kamu bisa di andalkan.”


Mendengar perkataan Herman, Ricard hanya berdiam. Kemudian Herman pun meninggalkan apartemen Ricard.


Betapa sakitnya hati Ricard di anggap banci. Marahlah ia, hingga dia melempar beberapa botol kosong ke arah pintu.


Sementara Herman meninggalkan apartemen Ricard dan sudah berada di lobi. Ketika dia hendak keluar, Hilal melihatnya dari kejauhan. Dan hilal pun terus melihatnya dari kejauhan sampai Herman menghilang dari penglihatannya.


Setelah yakin bahwa Herman telah pergi, Hilal meninggalkan lobi dan berjalan menuju apartemen Ricard.


Hilal mengetuk pintu beberapa kali. Tapi tak ada sambutan dari dalam.


Hilal pun mengetuk kembali dan berulang kali. Tapi tetap saja tidak ada sambutan dari dalam.


Rasa penasaran menyelimuti hati Hilal, hingga akhirnya Hilal membuka paksa pintu apartemen Ricard.


Setelah Hilal membuka paksa pintu apartemen Ricard, Hilal melihat Ricard sedang duduk termenung.


Pandangannya kosong, tapi tiba-tiba dia mengambil botol kosong yang masih utuh, dan di lemparnya ke arah Hilal.

__ADS_1


Hilal segera menghindar dari lemparan botol yang mengarah padanya.


Setelah itu, Ricard kembali duduk di atas meja, dan kembali termenung.


Hilal memandangi Ricard dengan seksama.


Karena ruangan itu sangat berantakan dengan pecahan beling, Hilal pun membersihkan lantai itu dengan sapu.


Dan tak lupa, Hilal menyingkirkan benda-benda berat yang tertata rapi dan beberapa botol minuman yang sudah kosong, agar tidak di lempar kembali oleh Ricard.


Begitulah Ricard. Dirinya akan seperti itu jika jiwanya tertekan. Dan Hilal sangat paham dengan kawannya ini.


Setelah melihat keadaan Ricard yang sudah mulai tenang, Hilal membuat dua cangkir kopi.


Setelah selesai, di letakkannya di atas bupet. Jika Hilal meletakkan di atas meja, khawatir Ricard akan menumpahkannya.


Karena saat itu, Ricard masih duduk di atas meja.


Hilal memandangi Ricard sambil bersender di bupet.


Setelah mengira keadaan Ricard sudah mulai tenang, Hilal mengajak Ricard agar duduk di atas kursi. Ricard pun menurutinya.


Hilal mengambil dua cangkir kopi tadi dari atas bupet, dan memberikannya satu cangkir untuk Ricard.


“Ini minumlah,”


kata Hilal sambil menyodorkan secangkir kopi pada Ricard.


Ricard pun mengambilnya tanpa berkata apa-apa.


“semoga setelah ini, keadaanmu bisa lebih tenang,”


kata Hilal.


Hilal tetap memperhatikan gerak gerik Ricard. Beberapa teguk kopi di minumnya.


Dan beberapa saat kemudian, Ricard masih terdiam.


Hilal pun memerintahkan Ricard kembali untuk meneguk beberapa tegukan kopi, agar keadaan Ricard bisa lebih segar.


Ricard pun menuruti apa yang Hilal perintahkan.


Di lihatnya Ricard lebih segar, Hilal pun mulai bicara.


“Card, lebih baik kau tinggalkan pekerjaan ini. Pekerjaan ini tidak baik untukmu. Dan suatu saat, jika nyonya Lina sudah tidak membutuhkan kau lagi, dia akan melemparmu jauh-jauh,”


kata Hilal.


Ricard mendengarkan perkataan Hilal. Pandangannya sudah tidak kosong lagi.


Hilal masih memperhatikan gerakan Ricard. Hilal melihat mata Ricard sudah berkedip-kedip. Itu tanda bahwa Ricard menyimak segala perkataannya.


“Jangan sampai apa yang menimpaku ini terjadi padamu. Aku telah di fitnahnya. Dia membuangku seperti sampah. Dan yang lebih memalukan, orang yang aku sakiti adalah orang yang menolongku di saat aku sudah babak belur. Entah apa yang akan terjadi jika saat itu Rika tidak menolongku. Mungkin aku sudah mati di dalam toilet,”


jelas Hilal.


Ricard menaruh cangkir kopi di atas meja, kemudian dia berdiri dan berjalan menuju jendela.


“Ku pikir kau sudah mati saat itu, beruntung sekali kau masih hidup,”


kata Ricard, sambil memandang ke arah jendela menembus tirai, dan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.


“Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika saat itu Rika tidak menolongku,”


kata Hilal.


Hilal pun kembali berkata, sambil menepuk bahu Ricard,


“Lebih baik kau tinggalkan pekerjaan ini, Ricard. Dan berhentilah menyakiti Rika, sesungguhnya dia itu wanita yang baik. Biarkan hubungannya berjalan dengan Andre, jangan kau usik di atas perintah nyonya Lina.”


Ricard hanya terdiam. Dan Hilal pun pergi meninggalkan Ricard di apartemennya.


Hilal berjalan keluar dari apartemen Ricard menuju lobi, dan masuk ke dalam mobilnya.


Tidak lama kemudian, Hilal pun melajukan kendaraannya meninggalkan area apartemen Ricard.


Sementara Ricard masih termenung sendiri. Dia masih berdiri di depan jendela


Pandangannya menembus tirai jendela hingga sampai keluar sana.


Ricard merenungi perkataan Hilal, sambil menyalakan rokoknya dan menghisapnya.


Tidak lama kemudian, Ricard memandangi ke sekelilingnya, yang saat itu ruangan apartemennya masih sangat berantakan.


Ricard pun mulai tersadar. Segera dia menghubungi petugas kebersihan di apartemen itu.


Sekitar lima menit kemudian, pintu di ketuk dari luar. Ricard pun membukanya, yang ternyata seorang laki-laki tua, dia adalah petugas kebersihan room di apartemen itu.


Segera laki-laki tua itu masuk ke dalam apartemen Ricard dan membersihkan seluruh ruangan itu, sementara Ricard duduk di atas kursi panjang sambil mengangkat kedua kakinya dan di rebahkan ke atas kursi panjang itu.


Hati Ricard saat itu masih sangat galau. Dia merasa bingung harus berbuat apa. Di samping itu, ada tekanan dari pekerjaannya.


Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Tanda ada satu pesan yang masuk.


Ricard pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, dan segera ia membaca pesan tersebut.


Isi pesan tersebut adalah:


“Habisi Rika sebelum waktu Subuh.”


Setelah membaca pesan itu, tubuh Ricard menjadi gemetaran dan keringat mulai bercucuran.


Padahal ruangan itu sangat dingin dengan pendingin ruangan.


Laki-laki tua itu telah selesai dengan pekerjaannya. Segera ia keluar dari ruangan apartemen Ricard.


Melihat pekerjaan laki-laki tua itu telah selesai, Ricard pun berkata,

__ADS_1


“Hai Pak, ini ambillah untukmu. Semoga bermanfaat.”


Laki-laki tua itu pun mengambilnya sambil berkata,


“Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikanmu.”


Setelah laki-laki tua itu keluar, Ricard pun menguncinya. Dia bergegas ke dalam kamar.


Di rebahkan tubuhnya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hati dan pikirannya saat itu telah di rasuki rasa takut yang mendalam.


##########


Malam semakin larut. Suasana club semakin ramai. Tomi dan Andre masih sibuk melayani para tamu.


Karena saat itu club sedang mengadakan acara, biasanya jika telah di booking, para karyawan pulang pada saat hampir pagi.


Ketika itu Andre teringat akan kekasihnya, yaitu Rika.


Andre meninta izin pada kepala waiters untuk bergegas ke kamar mandi.


Andre pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi karyawan.


Sesampainya di sana, dia tidak masuk ke dalam kamar mandi, melainkan ke dalam ruangan kichen.


Di sana dia menghubungi Rika dengan ponselnya.


Di seberang sana , Rika pun merasakan getaran ponselnya. Tapi saat itu, Rika tidak langsung mengangkatnya.


Rika melihat situasi terlebih dahulu, mengingat jika waktu jam kerja, tak ada satu pun karyawan boleh menerima telepon.


Rika meminta izin pada Vivi untuk meninggalkan area sebentar, dan Vivi pun mengizinkannya.


Rika segera bergegas meninggalkan area menuju lorong yang tembus ke arah loker karyawan.


Di situ lah Rika membuka ponselnya. Ternyata ada panggilan telepon yang terlewat.


Setelah di lihatnya, ternyata Andre yang telah menghubunginya.


Kemudian Rika menghubungi kembali kekasihnya. Dan di sana, Andre menerima panggilan telepon dari Rika.


“Hai sweety, tadi kamu ke mana?”


Tanya Andre, melalui ponselnya.


“Maaf, tadi lagi rame banget, dan posisiku lagi di tengah area. Ada apa Dre?”


Tanya Rika.


“Gak ada apa-apa sih, cuman pengen bilang, kalo aku kangen,”


kata Andre.


“Iiih, mulai deh, cepetan ah, ada apa? Gak enak nih ninggalin floor kelamaan,”


tanya Rika.


“Eh sweety, nanti pulang kerja bareng yu’? saat ini aku lagi ada Event, biasanya kan pulangnya sebelum subuh, kita pulang bareng yu’, mau kan? Mau doooong???”


Ajak Andre.


“Ehm, berarti kamu jemput aku?”


Tanya Rika.


“Iya, nanti aku jemput,”


kata Andre.


“Wokeh, berarti kita Pulang bertiga ya sama Erna,”


pinta Rika.


“Iya sayang,”


kata Andre.


“Ya udah, bye...”


Rika pun memutuskan saluran ponselnya, dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


Setelah itu, Rika meninggalkan lorong dan kembali ke area di mana dia bertugas dan menjalankan pekerjaannya.


Malam semakin larut, semakin meriah pula tempat di mana Andre dan Rika bekerja, di masing-masing club dengan berbeda keadaannya.


Tibalah para karyawan pulang, di mana Andre akan menjemput Rika.


Sedangkan Rika dan Erna tengah menunggu kedatangan Andre.


Di saat Rika dan Erna sedang menunggu, ternyata Andre ada di seberang jalan.


Rika pun melambaikan tangan ke arah Andre, begitu pun sebaliknya.


Saat itu keadaan jalanan sangat sepi dan sangat renggang, karena tidak banyak kendaraan yang melaluinya.


Andre menyeberang jalan hendak menjemput Rika dan Erna.


Ternyata Rika dan Erna pun menyeberang jalan juga.


Mereka pun bertemu tepat di trotoar tengah.


Kemudian mereka, yaitu Andre Rika dan Erna menyeberang jalan kembali ke arah mobil Andre yang terparkir.


Sontak dari kejauhan, ada mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi akan melewati jalan itu.


Karena posisi Rika saat itu berjalan lebih dulu dari Andre, posisi Erna saat itu di depan Rika dan Andre di belakang Rika, nyaris saja Rika tertabrak oleh mobil itu, sebelum Andre mendorong tubuh Rika dengan keras hingga terperosok ke aspal jalan.


Sementara Andre, keadaannya telah tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah.

__ADS_1


__ADS_2