
Pagi itu tak sengaja Rika membuka ponselnya, di pandangi kontak teman-temannya satu persatu, maka matanya tertuju pada satu nama, yaitu Erna.
Sempat ragu di hati Rika untuk menghubunginya, tapi dengan gerakan refleks, jarinya memencet tombol memanggil. Maka tersambunglah jaringan telepon seluler itu ke arah nomor Erna.
Betapa terkejutnya Erna saat itu mendengar ponselnya berbunyi, sedangkan yang dia ingat, saat itu ponselnya sedang off.
Ya, Rika menghubunginya bukan melalui saluran internet, melainkan saluran telepon langsung.
Karena nomor tersebut tidak dia save, maka nama si penelepon pun tidak tampak.
Dengan hati-hati Erna menerima telepon itu dan berkata,
“halo, pagi. Dengan siapa saya bicara?”
Mendengar suara sahabat lamanya itu berbicara dengan formal, Rika pun langsung tertawa.
“Ya elah lo Er, kaku banget gaya bahasa lo, apa jangan-jangan lo lagi nunggu telepon dari rentenir ye?”
tanya Rika sambil tertawa di seberang sana.
Mendengar jawaban dari sang penelepon yang tak asing suaranya di telinga Erna, sedangkan dia lupa, dia pun bertanya,
“Eh, lo siapa?”
Mendengar Erna masih saja bertanya, Rika pun sedikit dongkol, lalu berkata,
“Gue tutup nih teleponnya kalo lo masih nanya gue siapa. Ya udah, lo inget-inget dulu deh siapa gue, gue berak dulu, kalo lo da inget ma gue, lo telpon baik!”
Mendengar jawaban itu Erna pun langsung menjerit dengan bahagia. Dan Erna pun berkata sambil berteriak,
“Rika! Ya ampun, apa kabar lo, da lama banget kita gak jumpa.”
Rika pun senang mendengarnya, yang ternyata sahabat lamanya masih mengenalinya.
Rika mengajak Erna untuk bertemu. Erna pun sangat senang, dan segera menyetujuinya.
Mereka berjanji untuk bertemu di suatu taman, di mana tempat tersebut tidak terlalu jauh dari rumah Rika.
Rika pun menyudahi obrolan dengan menutup saluran telepon selulernya.
Maka Rika segera bergegas merapikan dirinya.
Ketika Rika hendak keluar dan membuka pintu rumahnya, Rika melihat ada seorang laki-laki bertubuh tegap, bersandar di sebuah pohon lebat yang tumbuh di depan rumahnya.
Tiba-tiba laki-laki itu melihat ke arahnya, tempat Rika berdiri, pandangan mata mereka pun menyatu.
Bergetar hati Rika saat itu, rasa takut menyelimuti perasaannya kala itu.
Dengan hitungan detik, laki-laki itu berjalan ke arahnya.
Benar saja, laki-laki itu mendekati Rika.
Tanpa basa basi laki-laki itu langsung menarik tangan Rika menuju ke dalam rumah, dan menutup pintu rumah Rika rapat-rapat.
Rika pun hendak menjerit, tetapi tangan laki-laki itu segera menutup mulut Rika dengan kuat, hingga Rika pun tak dapat bernapas apa lagi berteriak.
Laki-laki itu pun mengambil ponsel Rika. Jarinya memencet beberapa nomor, seperti akan menghubungi seseorang.
Ya, laki-laki itu benar, sedang menghubungi seseorang.
Laki-laki itu berkata dalam sambungan ponsel milik Rika yang sedang terhubung dengan seseorang,
“Aman Bu!”
Ya, hanya itu yang dia ucapkan saat telepon tersambung. Lalu laki-laki itu segera memutuskan saluran ponsel milik Rika.
Laki-laki itu pun melepaskan tangannya dari sekapan mulut Rika, dan berkata dengan nada perintah,
“Diam kamu, dan duduk lah!”
Tidak lama kemudian, datang seseorang, yang ternyata seorang wanita.
Awalnya Rika pun tidak mengenali wanita itu. Dia mengenakan syal dan kaca mata hitam.
__ADS_1
Setelah berada di dalam rumah Rika, wanita itu menutup pintu rumah Rika, dan menguncinya dari dalam.
Sungguh kejadian yang sangat tidak mengenakkan bagi Rika, dengan sedikit keberanian, di pandangi wanita itu dari kaki sampai atas kepalanya.
Wanita itu pun memandangi Rika dengan senyum sinisnya.
Kemudian wanita itu membuka syal dan kaca mata hitamnya, maka Rika pun mengenali wajah wanita itu. Wajah wanita yang baru saja dia kenal, wanita yang semalam menyambutnya dengan penuh kehangatan.
Ya, dia adalah mama Lina, yang tak lain adalah mamanya Andre, kekasihnya.
Rika sangatlah terkejut kala itu, melihat penampilan mama Lina yang sangat berbeda.
Penampilannya layaknya bos mafia, dan Rika saat itu seperti tawanannya.
Mama Lina mendekati Rika. Di pegangnya dagu Rika ke atas dengan perlahan.
Wajah mama Lina pun mendekati wajah Rika, dengan jarak 1 jari, mama Lina berkata,
“Kamu belum mengenal saya, saya mampu membuat hidupmu lumpuh!!!”
Mendengar ancaman mama Lina, tubuh Rika pun bergetar.
Sungguh ancaman mama Lina membuat Rika ketakutan, tubuhnya bergetar, dan basah dengan butiran keringat.
Mama Lina pun kembali berkata dengan penuh ancaman,
“Kehadiranmu di kehidupan Andre menjadi candu!!! Saya tak terima itu! Apa yang Andre lihat dari kamu, PEREMPUAN MONSTER?!?!"
Mendengar ucapan mama Lina yang sangat menghina dirinya, membuat hati Rika sakit, Rika pun tidak dapat menahan air matanya yang sedari tadi dia tahan.
Maka jatuhlah butiran air mata Rika satu persatu.
Ternyata, air mata Rika jatuh mengenai tangan mama Lina, yang saat itu masih memegang dagu Rika.
Betapa marahnya mama Lina saat itu. Mama Lina langsung mendorong wajah Rika, hingga Rika tersungkur di lantai.
Hingga akhirnya mama Lina meludahi wajah Rika sambil berkata,
“CUUIIIH !!! Gak rela tangan saya kena air mata kamu !!! Apa yang kamu liat dari Andre? Karna anakku tampan, bukan? Atau kamu melihat kekayaan Andre? Jangan harap!”
Mama Lina menawarkan 1 permainan pada Rika.
“Dengar ya PEREMPUAN MONSTER!!! Aku izinkan kamu menikah dengan anak saya, dengan syarat, jika nanti kamu tidak dapat bertahan karena biduk rumah tangga, kamu harus meninggalkan Andre, begitu pun sebaliknya, bagaimana?”
Rika tak sanggup menjawabnya, dia hanya bisa menangis dan menangis.
Mama Lina kembali berkata,
“Saya tunggu jawabanmu!”
Tak lama kemudian ada suara dari luar rumah mengetuk pintu rumah Rika.
Suara itu memanggil nama Rika, hingga membuat mama Lina merasa panik.
Mama Lina bertanya pada Rika sambil tangannya menarik rambut Rika,
“Di mana letak pintu belakang?”
Rika pun menunjuk ke arah belakang tanpa berbicara.
Mama Lina dan laki-laki itu segera pergi melalui pintu belakang.
Suara dari depan rumah pun semakin terdengar memanggil nama Rika.
Dengan tergesa-gesa, Rika melangkah menuju kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dan merapikan kembali rambutnya.
Suara itu pun kembali memanggil Rika lebih keras lagi.
Rika pun membuka pintu itu, ternyata yang datang adalah Beni, kakak Rika.
“Tumben lama banget, lo kemana sih, tidur?” tanya Beni.
“Ehm!” jawab Rika.
__ADS_1
“Ya udah, tidur lagi sono, gue mo nonton TV,” kata Beni.
Rika pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Di rebahkan tubuhnya di tempat tidur, masih bergetar tubuhnya saat itu.
Sungguh kejadian tadi di luar akal sehat Rika, seperti mimpi, ya, mimpi buruk, mimpi yang sangat buruk.
Tiba-tiba Rika teringat akan janjinya pada Erna.
“Ya Alloh, gue lupa! Aduh, gimana ya, gue gak mood banget keluar rumah,” gumamnya dalam hati.
Rika mengambil ponselnya, dia segera mengirim pesan pada Erna, bahwa saat ini dia ada masalah yang sangat mendesak, hingga dia tak bisa menjumpai Erna di taman.
Di seberang sana, Erna membaca pesan dari Rika, dan segera menutup ponselnya.
Erna tahu betul siapa sahabatnya itu, karena sikapnya yang tidak biasa, membuat Erna merasa heran dan penasaran.
Hingga akhirnya Erna berniat untuk mendatangi rumah Rika, yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman, di mana awal mereka membuat janji untuk bertemu di sana.
Erna pun bergegas untuk berangkat menuju rumah Rika.
Dalam perjalanan rumah Rika, hampir saja dia terserempet sebuah mobil sedan, Erna pun terpelanting dan terjatuh.
Sontak mobil sedan itu berhenti seketika di depan tubuh Erna yang terpental di pinggir jalan.
Pemilik mobil tersebut membuka kaca mobilnya, dan mengarahkan kepalanya keluar jendela.
Orang itu seorang wanita, sayang wajahnya tak terlihat jelas di mata Erna, karena wanita itu mengenakan syal dan kaca mata hitam.
Wanita itu berteriak dan mengeluarkan kata-kata pedas dengan suara keras,
“Heeyyy, kalo jalan pake mata, bodoh!”
Erna hanya terdiam mendengar perkataan wanita itu. Dia pun bangkit sambil mengusap bokongnya yang terasa sangat sakit.
Mobil sedan itu pun melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Erna yang sedang kesakitan.
Erna pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Rika.
tak berapa lama Erna pun sampai di depan rumah Rika.
dia melihat pintu rumah Rika terbuka. Ada sosok laki-laki yang sedang berbaring di lantai beralaskan karpet sedang menonton TV.
Erna mengetuk pintu walau sudah terbuka, dan memberi salam,
“Assalamualaikum.”
“Wa alaikumsalam,” jawab Beni.
“Rika ada bang?” tanya Erna.
“Ada, di kamarnya, masuk aja,” perintah beni pada Erna.
Beni pun bergegas memanggil Rika dengan berteriak,
“Rikaaaa, ada temen lo nih!”
Erna pun melangkah menuju kamar Rika. Di ketunya pintu kamar Rika yang tertutup rapat.
Ternyata tak ada jawaban.
Erna berinisiatif membuka langsung pintu kamar Rika.
Ketika Erna membuka pintu kamar, di dapati sahabatnya sedang duduk termenung dan menopang dagu di bibir tempat tidur.
Erna melangkah mendekati Rika, di pandangi wajah Rika. Sorot mata Rika kosong, dan terlihat matanya yang sembab serta pipi Rika yang basah.
Di peluknya sahabatnya itu dengan erat, maka tumpah lah tangis Rika di pelukan Erna.
Erna pun berbisik di telinga Rika,
“Nangislah Rik, tumpahin emosi lo ke gue, gue siap nampung kok.”
__ADS_1
Mendengar bisikan Erna, Rika pun membalas dekapan sahabatnya itu.
Setelah merasa lebih tenang, Rika pun menceritakan pada erna, apa yang telah terjadi.