
Satu pagi yang cerah, mama Lina tergesa-gesa mempersiapkan dirinya. Setelah merapikan kamarnya mama Lina membenahi tubuhnya. Segera ia mandi dan berhias.
Setelah ia berhias, Ia membuka lemari pakaiannya. Dia memilih pakaian kantor yang elegan. Ada beberapa potong pakaian yang ia pilih, kemudian ia bawa keluar dari kamar menuju ruang jahit di mana Om Faisal bekerja bersama para karyawannya.
Mama Lina masuki ruang samping, kemudian mendekati suaminya, lalu bertanya,
“ Pah tolong pilihin dong, Bagusan mana Apa ini, atau ini? “
Om Faisal pun memperhatikan potongan yang satu dengan yang lainnya. Tidak lupa ia membandingkannya. Kemudian om Faisal bertanya,
“ Emang mama mau ke mana? kalau disuruh pilih kayak gini, Papa juga harus tahu tempatnya, jadi Papa bisa menyesuaikan modelnya. “
“ Mama ada meeting penting Pah, mama sih udah nyari tempat di pinggir pantai Ujung kota, udah di booking sih kemarin. mudah-mudahan kolega mama bisa ya hadir Iya Pa, “
kata mama Lina.
“ Kalau di pinggir pantai yang ini aja Mah, blazer dengan celana panjang bahan, dalamnya pakai blus mah, uh Mama tambah cantik banget deh pokoknya, ini style kantoran elegan tapi casual mah, “
kata Om Faisal, sambil memegang hanger.
Mama Lina melihat potongan baju yang dipegang Om Faisal, mama Lina pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Kemudian mama Lina berkata,
“ Yes, yang ini aja. Papa pintar banget deh milihin baju buat Mama, makasih ya Pa. “
Mama Lina pun kembali ke kamar sambil membawa beberapa potong pakaian yang ia bawa dari ruang samping.
Sebelum ia membuka pintu kamarnya, mama Lina berdiri tepat di depan pintu kamarnya, kemudian ia menoleh ke arah pintu kamar Putri. Mama Lina berfikir, karena dari tadi subuh Putri belum keluar kamar.
Seketika itu kakinya melangkah ke arah pintu kamar Putri. Tapi tidak lama kemudian, ia mengurungkan niatnya. Ia melihat beberapa potong baju yang masih berada di tangannya, yang ia bawa.
Dengan spontan mama Lina kembali melangkah dan masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar ia mengganti pakaian santainya, dengan pakaian pilihan Om Faisal. Sambil melihat cermin, ia bergaya ke kanan dan ke kiri, sambil tersenyum.
Kemudian ia berpindah tempat dan duduk di pinggir tempat tidur. Lalu ia mengambil ponselnya.
Saat itu mama Lina menghubungi seseorang. Iya menekan beberapa tombol, kemudian tersambunglah saluran ponselnya pada ponsel seseorang di seberang sana.
“ Halo selamat pagi Mbak Dian apa kabar? “
ternyata mama Lina menghubungi Dian, Dian adalah koleganya yang baru.
“ Ya Halo Nyonya Lina,Kabar saya baik. Oh ya, bagaimana tentang pagi ini, apa kita jadi bertemu? “
sahut Dian dari dalam saluran teleponnya.
“ Oh, jadi dong. Saya sudah booking table di restoran pinggir pantai, Apa kamu suka? “
tanya mama Lina yang masih berada di Saluran telepon.
“ Oh my God! Saya suka sekali nyonya, selama ini saya tidak terpikir untuk ke sana. Saya hanya berpikir tentang bisnis bisnis dan bisnis, paling juga kalau mengadakan Meeting itu di hotel-hotel tengah kota, “
jawab Dian.
“ Menyebarlah, sesekali kita boleh lah bermain-main di pinggir, jangan berada di tengah terus, kita ganti suasana, “
kata mama Lina.
“ Baiklah kalau begitu, nanti jam 08.00 saya on the way ke sana, “ kata Dian.
“ Oke saya tunggu, “ sahut mama Lina.
Dan saluran telepon pun terputus.
Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 07.00 Lisa Dicky Ricky dan Rizki sudah berangkat ke sekolah. Dan seperti biasa Mbok Yem sibuk di dapur.
Mama Lina keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi, dan membawa tas jinjing. Sedangkan mata mama Lina tertuju pada pintu kamar Putri, dilihatnya pintu itu masih rapat. Seakan-akan belum ada tanda-tanda kehidupan.
Kemudian mama Lina duduk di ruang makan. Tidak lama kemudian Mbok Iyem menghampirinya, dan bertanya,
“ Nyonya, mau sarapan sekarang? “
“ Bikinin saya kopi aja mbok. Saya mau sarapan di luar, “ jawab mama Lina.
“ Baik nyonya. Oh ya, pakai krim atau tidak? “ tanya Mbok Yem.
“ Iya pakai, “ jawabnya dengan singkat.
Setelah mendengar jawaban mama Lina, Mbok Yum segera bergegas menuju ke ruang dapur. Iya memanaskan air sedikit untuk menyeduh kopi.
__ADS_1
Di saat mbok Yem sedang membuat kopi, mama Lina memperhatikan pintu kamar Putri kembali. Mama Lina melihat jam, seakan-akan ia sedang menghitung waktu.
Ketika Mbok Yem selesai membuatkan kopi, kemudian mbok Yem membawakannya ke ruang makan, mama Lina bertanya pada Mbok Yem,
“ Putri udah bangun belum sih Mbok? Kok dari tadi dia nggak keluar-keluar kamar ya? “
“ Mungkin sudah Nyonya, tapi dia belum keluar kamar. Nanti mbok liatin nyonya, Nyonya kalau mau berangkat, berangkat saja nanti telat, “
kata mbok Yem.
Sejenak mama Lina terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.
Kemudian dia melangkah meninggalkan mbok Yem di ruang tengah menuju ruang samping untuk menemui kembali suaminya.
“Pah, mama berangkat dulu ya. “
“Iya Mah, Hati-hati, “
Jawab om Faisal sambil menggandeng istrinya menuju garasi. Tidak lupa dia membukakan gerbang untuk istrinya. Mama Lina pun melambaikan tangan pada om Faisal.
Mama Lina melintas mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Kemudian ia menambahkan kecepatannya jingga melaju cepat. Tapi sayang, jalanan saat itu padat merayap, hingga dengan terpaksa ia menurunkan kecepatan laju mobilnya.
Untuk mengurangi perasaan tidak enak, mama Lina memasang musik di mobilnya. Sambil menyetir, ia memutar gelombang radio, hingga ia menemukan satu lagu yang cukup menarik baginya. Dia terdiam sesaat.
Mama Lina mendengarkan lagu itu dengan seksama. Lama kelamaan bibirnya pun ikut melantunkan. Ya, lagu yang mengingatkan dirinya pada Hilal.
Mama Lina terus melajukan mobilnya di tengah-tengah jalanan yang sangat padat merayap di temani dengan senandung lagu.
Tiba-tiba dia tersenyum. Otaknya melintas bayangan Hilal. Laki-laki tampan yang pernah mengisi hari-harinya dengan pengabdiannya. Tapi sayang, Hilal terlalu banyak tahu tentang dirinya, hingga keberadaannya sangatlah mengancam bagi mama Lina. Dan akhirnya mama Lina menyingkirkannya tanpa basa basi. Entah segan apa yang melintas di pikirannya saat itu.
Tanpa di sadari, mama Lina telah sampai di depan hotel pinggir pantai. Seruan ombak terdengar walau masih berada si tempat parkir, sementara ia menghentikan mobilnya saat petugas parkir memeriksanya.
Setelah selesai, mama Lina melajukan kendaraannya sebentar. Tidak lama kemudian seorang pelayanan menunggunya untuk membantu memarkirkan mobilnya. Mama Lina pun segera turun dan memberikan kunci mobil pada pelayan itu.
Lalu dia memasuki lobi hotel di temani oleh pelayanan lainnya untuk menuju ke table yang ia telah pesan. Sementara pelayan yang lainnya menaruh mobil mama Lina di basemen hotel tersebut.
Dari kejauhan mama Lina melihat seorang wanita tengah menunggunya di table itu. Wanita cantik nanti anggun dengan kaca mata hitamnya serta rambut yang tergerai. Tepat sekali tampilannya untuk kongkow di pinggir pantai.
Wanita itu berdiri menghadap Laut. Pagi itu udara sangat terik hingga sinarnya mengenai tubuh wanita itu.
Dan tibalah mama Lina hadir di sana, dan kemudian pelayan yang menemaninya berlalu.
“Halo, pagi. “
Wanita cantik itu pun menoleh. Angin pantai meniupnya hingga rambutnya menutupi wajahnya. Walau demikian, tapi kecantikannya tetap terpancar.
“Halo Nyonya, pagi juga, “ sahut Dian.
Dian menghampirinya. Tidak lupa ia menyalami dan mencium pipi kanan dan kiri mama Lina.
“Begitu elegan sikapnya, “ lirih mama Lina dalam hati.
“Maaf, saya terlambat, jalanan macet sekali. Tadinya saya pikir 30 menit cukup mencapai ke sini, ternyata tidak, “
kata mama Lina.
“Tidak nyonya, sayanya aja yang terlalu kepagian, terlalu bersemangat kalo udah ngomongin bisnis, “
kata Dian.
Sontak mereka berdua pun tertawa.
Mama Lina mengajak Dian untuk duduk. Dan memanggil pelayan.
Mereka pun duduk di temani oleh deruan suara ombak yang angin laut yang kencang.
Tidak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya sambil menyodorkan data menu, lalu berkata,
“Ada yang bisa saya bantu, nyonya? “
Ada 2 lembar data menu yang di berikan oleh pelayan. Mama Lina memberikan 1 lembarnya pada Dian. Dan mereka pun mulai memilih menu. Setelah itu, pelayan pun berlalu untuk menyiapkan segala pesanan mereka.
Setelah pelayan meninggalkan mereka, mama Lina bertahan pada Dian,
“Bagaimana tempat ini menurutmu? Apa Anda suka dengan tempat ini? “
Dian tersenyum lebar sampai menampakkan gigi putihnya.
Dia kembali berdiri di pinggir pagar, pagar yang pembatas antara restoran dengan letak pantai.
__ADS_1
“Suka banget, Nyonya. Saya suka tempat ini. Sedikit jauh dari kesibukan di tengah kota. Dan sinar matahari yang langsung tembus ke tubuh saya, membuat lebih segar rasanya. Karna tidak terhalang dengan tingginya dinding gedung, “
jawab Dian.
Kemudian mama Lina menyusulnya dan berdiri tepat di samping Dian.
Mama Lina membuka kacamata hitamnya dan menaruh di atas kepalanya. Rambutnya yang tertiup angin membuat sedikit berantakan tataannya, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Walau usianya sudah tidak muda lagi, tapi pesona dan semangatnya mengalahkan yang muda.
Mereka pun mulai membicarakan bisnis mereka. Di awal pertemuan, Dian mengajak bisnis bersama dalam satu brand. Sedangkan mama Lina sudah memiliki beberapa brand.
“Keren sekali Nyonya, nnggak nyangka, ternyata udah banyak brand yang nyonya miliki, “
sahut Dian.
Mama Lina pun tersenyum.
Mereka masih menatap laut saat itu. Kemudian Dian bertanya,
“Apa ini suatu penolakan buat saya? Padahal saya ingin menawarkan produk luar negeri yang harganya lumayan murah dan dapat di jual tinggi di sini. “
Mendengar perkataan Dian, mama Lina tertawa. Dian pun merasa heran dengan sikap mama Lina, hingga timbul satu pertanyaan di benak Dian, dan akhirnya Dian memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa ada yang salah dengan ucapanku, nyonya? “
Masih tertawa mama Lina saat menjawab pertanyaan Dian, yang tersengar polos.
“Tidak, kamu tidak salah, Dian.”
Sejenak mama Lina terdiam, dan menghentikan tawanya. Lalu mama Lina melanjutkan,
“Aku lebih suka dengan produk dalam negeri. Kualitasnya sangat bagus dan tidak memakan biaya banyak untuk pengiriman. Soal label, kita bisa beli label luar negri, untuk menarik pembeli, dengan harga jual yang terjangkau. Masa kita membiarkan produk dalam negri kita sendiri, sedangkan kita berada di sini, di negri kita sendiri, dan jangan sampai kita membodohi masyarakat kita, bisa jadi di antara mereka ada anak, tetangga atau kerabat kita. “
“Bagaimana dengan kualitas? Bukankah produk luar kualitasnya lebih bagus? “
tanya Dian.
“Ha ha ha, bagus dari mana? Kita harus bisa menjelajahinya. Ibarat makanan, harus ada test food. Begitu juga barang. Malah banyak barang luar yang asalnya dari sini. Kita sebagai pengusaha jangan tolol lah. Jangan kita mengekspor barang tanpa merk. Mereka bisa mengelabuhi kita dengan iming iming, padahal kita lagi di bodohi, “
jelas mama Lina.
Dian pun mendengarkan segala penjelasan mama Lina dengan seksama. Hingga menimbulkan satu pertanyaan.
“Loh, bukankah menjadi kebanggaan jika kita bisa ekspor barang? “
tanya Dian.
“Ya, memang suatu kebanggaan, asal jangan polos. Asal kita sudah memberi label pada produk kita. Jangan mau menjual barang polos. Mereka bisa menempelkan label mereka di produk kita, lalu mereka menjual kembali di sini, apa itu bukan suatu pembodohan? “
Jelas mama Lina, dengan memberi detail permasalahan perekonomian saat itu.
“Bagi pengusaha, berpikirlah yang bijak, bukan hanya soal hasilnya saja. Lebih baik kita beli merk mereka langsung, tanpa kita ekspor terlebih dahulu, “
Kata mama Lina.
“Loh, bukannya cara seperti itu sama saja? “ tanya Dian.
“Beda lah. Lebih hemat dalam biaya. Kita tidak membodohi masyarakat, katakan pada mereka, bahwa ini lisensi, “
jawab mama Lina.
Kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka. Tapi tiba-tiba mata mama Lina tertuju pada mobil yang terparkir di tepi pantai.
Sontak saja mama Lina bertanya pada pelayan,
“Mas, maaf, kenapa mobil itu parkir di sana, emang boleh? “
Pelayan itu pun mengalihkan pandangannya ke arah mobil tersebut. Kemudian pelayan itu menjawab,
“ Sudah lama juga Bu mobil itu terparkir di sana, entah siapa pemiliknya, yang jelas sekitar dua pekan sudah berada di sana. “
Dian memperhatikan wajah mama Lina, karena mimiknya berubah, kemudian ia bertanya,
“ Apa Nyonya mengenal mobil itu? “
Tanpa menjawab pertanyaan Dian, mama Lina segera berlari dengan cepat menuju ke arah mobil, yang terparkir di tepi pantai itu.
“ Ada apa sebenarnya? Mengapa Nyonya Lina berlari secepat itu? “
bisik Dian dalam hatinya.
__ADS_1