Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Kehadiran Hilal dan Ricard yang mengejutkan.


__ADS_3

“Emmm, lepasin, tooloooong, lepasin,”


teriak Riak Rika.


Saat itu mulut Rika di bekap dari belakang oleh seseorang dengan telapak tangannya yang besar dan kekar.


Telapak tangan itu semakin mengedor dari mulut Rika, dan Rika pun bisa bernafas dengan lega.


Rika pun menoleh ke belakang tubuhnya.


Rika terkejut melihat kehadiran Hilal dan Ricard di rumahnya.


Bagaimana tidak, cara mereka masuk sangat mengagetkan, terutama tingkah Hilal yang sampai menyekapnya, membuat Rika gemetaran.


“Maap Rika, maap banget ya, aku pake nyekap mulut kamu. Aku takut kamu teriak, trus aku nanti di gebukin masa deh,”


kata Hilal.


“Ya ampun Bang Hilal, bikin jantung aku mau copot deh. Bisa gak sih masuk dari pintu depan? Kaya maling aja ngendep-ngendep,”


kata Rika sambil mengomel.


“He he he, iya, iya, maapin banget ya, aku takut ada yang liat kami ke sini, nih buat kamu, tadi aku ke mini market trus aku inget ama kamu, aku beli coklat deh,”


kata Hilal sambil menyerahkan dua batang coklat pada Rika.


“Ehmmm, nyogok aku ya, biar aku enggak teriak nih,”


kata Rika, sambil menerima coklat yang di berikan oleh Hilal.


Lalu mata Rika tertuju pada Ricard. Ricard yang hanya terdiam, duduk lebih dulu di lantai yang beralaskan karpet tebal.


Ricard hanya tertunduk dan tidak melihat ke arah Rika.


Rika pun berkata,


“Bang Hilal kok ama dia, ngapain dia di ajak-ajak? Aku gak suka ama penghianat. Aku gak suka bersahabat pada orang yang hanya mengejar bayaran,”


kata Rika.


Mereka pun terdiam. Ricard semakin menundukkan kepalanya.


“Udah-udah, kita ke sini mau ngejelasin, Rika. Ngejelasin semua muanya agar kamu ngerti dan waspada,”


kata Hilal yang mencoba menenangkan hati Rika.


Rika pun terdiam, dan Hilal mulai berbicara.


Satu persatu Hilal menerangkan secara detail. Semua keterangan yang di berikan Hilal membuat Rika membelalakkan matanya yang sipit.


Semakin banyak keterangan yang di berikan Hilal, semakin geram hati Rika di buatnya.


Dan akhirnya secara reflek, Rika meraih tisu yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya ke arah wajah Ricard.


“Bengsek lo Card! Jahat banget ya lo ternyata, gue pikir lo mau ngejalin persahabatan ama kita tuh tulus, sialan lo! Ada ya manusia kaya lo!”

__ADS_1


kata Rika dengan marah.


Sikap Rika membuat Ricard semakin malu dan takut. Dan Ricard tidak menyangka akan sikap Rika mampu semarah itu.


Hilal pun berusaha menenangkan hati Rika yang sedang kalap.


“Sabar dong Rika, sabar,”


kata Hilal.


“Gimana mau sabar Bang! Nyawa aku taruhannya!!! Trus gimana kalo Andre akhirnya mati di tabraknya? Bisa ya kamu ngelakuin ini semua hanya untuk nyari duit?!”


kata Rika memaki.


Hilal mengambil air minum, dan memberikannya pada Rika.


“Minumlah dulu, agar kamu sedikit tenang,”


kata Hilal.


Rika pun mengambil air itu, dan meneguknya perlahan.


Semakin Rika melihat Ricard yang ada di hadapannya, hatinya semakin geram.


Hingga akhirnya gelas yang ada pada tangan Rika, tanpa sadar Rika meremukkannya, hingga tangan Rika pun terluka.


“Aauuu....”


Rika bersuara.


Hilal terkejut atas apa yang telah Rika perbuat.


“Kamu ini apa-apaan sih, ini tindakan konyol, tau! Kamu sama aja bunuh diri kalo kaya gini,”


bentak Hilal.


Rika pun tak kalah dalam membentak, dan berkata,


“Daripada muka temen lo gue sambit!!! Gue kesel Bang, Gue muak sama tingkahnya, gue....”


Karena tidak tahan lagi, akhirnya Rika pun menangis.


Rika duduk di atas karpet sambil memeluk kakinya yang di tekuk.


Sementara Hilal yang salah tingkah melihat Rika menangis tersedu-sedu, dia merasa bingung harus berbuat apa.


Akhirnya Hilal duduk di hadapan Rika, sambil membelai rambut Rika perlahan, tapi hanya beberapa kali saja.


Hilal takut Rika berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


Hilal pun menghentikannya, dan mengambilkan tisu untuk Rika.


Rika menyambutnya, dan mengeringkan air matanya yang membasahi ke dua pipinya.


Rika menghela napas dalam-dalam. Dia berusaha menguasai diri, agar amarahnya tidak meledak-ledak.

__ADS_1


Setelah merasa nyaman, mulailah ia bertanya,


“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”


“Itu yang harus kita pikirkan, keselamatan kami, dan juga kamu, Rika,”


kata Hilal.


Rika membenarkan duduknya. Dia memeluk bantal kecil yang ada di sana.


“Aku bingung, sebenarnya kamu sendiri kenapa? Masalah kamu itu apa dengan nyonyamu?”


Tanya Rika pada Hilal.


“Sebenarnya aku enggak tau persis permasalahannya. Yang aku heran, kenapa aku di fitnahnya? Aku di fitnah sebagai pencuri di gudang miliknya. Sebenarnya sih bukan gudang, tapi dia menamakan tempat itu adalah gudang. Persisnya sih kantor,”


kata Hilal.


“Di fitnah gimana? Sorry nih aku nanya-nanya, karna emang aku enggak tau,”


tanya Rika.


“Aku telah di fitnahnya. Dia yang menyuruh aku memindahkan barang-barang yang baru datang ke tempat pembelj. Karna konci gudang rusak dan si ganti, aku belom megang duplikatnya. Dia yang menyuruh aku lewat atap. Karna harus malam itu di pindahkan barangnya ke tempat pembeli, mungkin udah di bayar. Ya, karna aku dapet perintah langsung, ya aku kerjakan. Tapi kok malah kaya gini hasilnya, aku malah di tuduh sebagai pencuri,”


begitu penjelasan Hilal.


Rika mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah-olah dia mengerti apa yang di jelaskan Hilal.


Hilal kembali berkata,


“Untung kamu nolong aku waktu aku di pukuli di toilet. Andai saja kamu gak nolong aku, bisa mati aku saat itu. Darah yang keluar dari perutku deras banget. Aku berhutang budi sama aku, Rika.”


“Ha ha ha, hutang budi, jangan bawa-bawa budi lah, kasian budi gak tau apa-apa, jadi jangan di libatin,”


kata Rika dengan candanya.


Rika pun kembali berkata,


“Semua itu hanya kebetulan, aku denger suara orang lagi merintih, ya aku cari sumber suaranya. Jujur ya Bang, awalnya aku merinding loh. Aku takut sesuatu yang enggak keliatan. Eh ternyata kamu Bang.”


“Aku di pukuli oleh teman-temanku sendiri atas perintah bu Lina. Mereka percaya atas segala penjelasannya,”


kata Hilal.


“Ya percayalah, dia kan bosnya. Ini nih, kaya si ini, di suruh nungging juga dia nungging,”


sindir Rika, sambil melirik ke arah Ricard.


“Bukan cuma dia Rika, tapi semua pekerja yang bekerja padanya akan seperti itu. Kami harus tunduk atas segala perintahnya. Apa pun itu perintahnya. Kami ini pekerjaan kasar, Rika. Ya, pekerjaan halusnya ya jualan. Ibu Lina banyak buka ruko, dengan berjualan tas, ikat pinggang, dompet, accessories lainnya yang terbuat dari kulit, selain shoes. Kami gak jualan itu. Dan ada lagi sih usahanya selain buka ruko,”


jelas Hilal.


Tidak terasa, hari sudah sore. Mereka pun terkejut mendengar suara pintu di ketuk dari luar. Dan mereka pun terdiam.


Beberapa kali pintu itu di buka dari luar, tapi tidak berhasil. Karena sebelumnya Rika telah menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Rika, Hilal dan Ricard pun terdiam. Rika mengendap-endap ke arah jendela, untuk melihat siapa yang datang saat itu.


__ADS_2