Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Erna menginap.


__ADS_3

Sambil menunggu datangnya mobil Travel, Hilal mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk segala keperluan Ricard.


Melihat apa yang di lakukan Hilal, Ricard pun tidak tinggal diam. Ia pun menyiapkan apa yang dia perlukan.


“Aku bisa melakukannya teman,”


kata Ricard, sambil mengambil beberapa potong pakaiannya dan melipatnya.


Dia pun memasukkannya ke dalam tas milik Hilal.


“Itu aja?”


Tanya Hilal.


“Ya, ini saja, biar lebih ringan membawanya,”


jawab Ricard.


Tidak lama kemudian, ponsel Hilal berbunyi. Hilal segera menerima sambungan telepon tersebut.


“Ya Halo,”


{................. }


“Di jalan mekar saja, nanti saya dan teman saya menunggu di sana.”


Hilal pun memutus sambungan telepon itu, dan bergegas kembali memilih apa yang harus di bawa.


Setelah selesai mempersiapkan segalanya, Hilal dan Ricard keluar dari apartemennya melalui lorong belakang, hingga tak ada satu pun penjaga yang melihatnya.


Dan tibalah mereka di jalan Mekar, seperti yang Hilal sebutkan di saluran telepon tadi.


Lima menit kemudian, mobil Travel pun datang, dan mereka menaiki mobil itu, menumpang ke arah yang mereka tuju, yaitu kota Lampung.


########


Azan subuh berkumandang, ayam pun mulai berkokok. Cahaya matahari mulai tampak dan menyinari bumi.


Udara pun masih sejuk, manakala Rika terjaga dari tidurnya, tapi kesejukan pagi itu membuat Rika enggan untuk bangun.


Tangannya ingin sekali menarik kembali selimutnya, tapi di urungkan niatnya, ia segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Sebelum masuk ke kamar mandi, Rika mengambil handuk yang terjemur di samping pintu kamar mandi, dan membawanya masuk ke dalam.


Ia mulai membasahi tubuhnya sedikit demi sedikit, karena rasa dingin yang menyelimutinya, hingga dia tidak berani langsung mengguyur tubuhnya.


Erna pun sudah bangun dari tidurnya, karena dia semalam menginap di rumah Rika.


Erna bangkit dan duduk di sisi tempat tidur. Erna merapikan rambutnya dan menguncirnya, lalu beranjak mencari Rika.


“Rikaaaaa, lo di mana?”


Panggil Erna dengan suara berteriak.


Karena Rika masih berada di dalam kamar mandi yang tertutup, dan juga panggilan Erna tertutup dengan suara air yang keluar dari keran, suara Erna tidak terdengar.


Kemudian Erna melangkah ke arah dapur, dan berteriak kembali memanggil Rika.


“Rikaaaaaaa, lo di mana?”


Karena letak dapur dan kamar mandi berdekatan, suara Erna pun terdengar.


Rika tidak membalas panggilan Erna. Dan Rika segera mengeringkan tubuhnya dan membalutnya dengan handuk, serta keluar dari kamar mandi.


“Apaan sih, pagi-pagi udah teriak-teriak, brisik tau!”


Kata Rika.


“Iiiiiih, nyaut napa sih kalo di panggil, abis gue bangun lo gak ada. Ya udah, gua teriak aja,”


sahut Erna.


“”Gak baik tau, teriak dari kamar mandi, ya udah, mandi sana, sholat deh,”


perintah Rika.


“Anduknya mana?”


Tanya Erna.


“Ambil sana di lemari. Ada beberapa anduk kok. Terserah lo pilih yang mana,”


perintah Rika.


Erna pun kembali lagi ke kamar tidur dan membuka lemari yang ada di sana.


Di pilihnya satu handuk yang berwarna jingga, dan membawanya ke kamar mandi.


Sebelumnya Erna bertanya,


“Gue boleh pake anduk yang ini? Gue suka warnanya.”


“Boleh, pake aja. Nanti lo ganti baju ya, pake aja baju gue yang mana aja, tinggal pilih, gue mau sholat dulu,”


jawab Rika.


Rika pun beranjak ke kamar tidurnya dan melaksanakan Shalat subuh.


Sedangkan Erna, dia segera masuk ke dalam kamar mandi.


Satu jam kemudian,


Suasana pagi itu sangatlah damai.


Rika membuka pintu rumahnya dengan membuka lebar, hingga kesejukan di pagi itu memasuki di setiap ruang rumah Rika.


Satu jam berlalu. Aktivitas di luar sudah ramai.


Para pekerja, pelajar bahkan para ibu ikut dalam aktivitas keseharian berlalu lalang di jalan.


Ada beberapa tukang sayur yang mangkal di depan rumah Rika telah di kerumuni oleh ibu-ibu yang hendak berbelanja.

__ADS_1


Rika duduk di teras, sambil mengamati sekelilingnya.


Matanya tertuju pada para tukang sayur.


Rika mengamati satu persatu tukang sayur yang berjualan. Ke empat tukang sayur itu sangat Rika kenal.


Dan tidak ada satu pun di antara mereka yang wajahnya tidak Rika kenali.


Dan Rika mengingat beberapa hari yang telah berlalu, dia melihat tukang sayur yang wajahnya tidak dia kenal.


Rika berusaha mengingat wajah tukang sate yang semalam dia lihat dengan teropong.


Mata Rika terbelalak. Ada kemiripan di antara mereka.


“Ya, gak salah lagi. Tukang sate yang semalam dan tukang sayur yang pernah mangkal di sini adalah satu orang. Ya, dia Herman, namanya Herman kata Hilal. Aku harus mengingatnya,”


gumamnya dalam hati.


Rika pun masuk ke dalam untuk memberitahukan Erna. Rika melangkah menuju kamar tidurnya.


Rika melihat Erna tertidur di atas ranjangnya.


“Yeeeee dia molor lagi, bangun lo! Lo gak mau makan ya? Kita cari makan yuk,”


ajak Rika.


“Ehmmm, gue masih ngantuk, beneran gue ngantuk banget,”


kata Erna, sambil membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan, dan kembili memeluk guling.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar.


Rika mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara pintu di ketuk, kemudian dia beranjak menuju jendela.


Rika melihat ke arah balik pintu melalui jendela.


“Huh, gue pikir siapa,”


gumamnya dalam hati.


Rika membuka pintu, ternyata yang datang adalah Beni dan Iyan.


Setelah Rika membuka pintu, tanpa menunggu perintah, Beni masuk ke dalam rumah Rika, di susul dengan Iyan.


Seperti biasa, Iyan membawakan makanan untuk Rika.


“Nih, buat kamu, cepet makan, entar keburu dingin,”


kata Iyan.


Rika menerima pemberian Iyan dan membuka bungkusannya.


“Ehmmm, enak nih kayanya, bubur ayam ya?”


Tanya Rika, sambil membuka bungkusan.


“Iya, bubur ayam,”


jawab Iyan.


Tanya Beni.


Eh, iya, bubur nasi,”


jawab Iyan.


“Tapi ini ada ayamnya, jadi yang bener apaan, bubur ayam apa bubur nasi?”


Tanya Rika.


Ya elah kau Ka! Kau tinggal makan sajalah, pakai tanya-tanya segala,”


sahut Beni.


“Iiiii,,, lo sendiri yang nanya duluan, napa jadi gue sih yang lo pojokin, ribet lo! Yang jelas, ini bubur nasi pake ayam. Dan Sekarang permasalahannya ini cuman satu, sedangkan di sini ada Erna. Masa gue makan seporsi bedua ama dia, gak kenyanglah,”


jawab Rika menimpali sambil tertawa.


“Owh, ada Erna, mana?”


Tanya Iyan.


“Tidur lagi, barusan Rika udah bangunin, ngajakin nyari makanan, eh katanya masih ngantuk. Trus gak lama bang Iyan dateng bawa bubur, ya udah deh, Rika enak tinggal makan,”


jawab Rika.


“Ya sudahlah, kau makan saja dulu. Erna nanti belakangan, nanti gue beliin sekalian gue beli rokok,”


sahut Beni.


Rika mulai menyuap buburnya. Dia sangat menikmati rasa bubur itu, dan melahapnya secara perlahan.


Kemudian Rika mulai menimpali ucapan Beni,


“Emang Ratu nyisihin uang saku buat lo Ben, bisa-bisanya lo beliin makanan buat Erna?”


“Ya bisa-bisa gua lah, gua selipin selembar dari gaji gua, si Ratu gak tau, kalo tau bisa ngamuk dia,”


kata Beni.


Mendengar penjelasan Beni, Rika segera mengambil air minum, dan meneguknya.


Kemudian dia segera berkata,


“Beeeen Ben, ternyata lo yang segahar ini masih ada rasa takut juga ya, takut sama bini, ha ha ha.”


“Bukan gua takut sama dia, gua cuman males ribut aja,”


jawab Beni mengelak.


“Halaaaah, kelakuanmu Ben, kalo takut bilang aja takut, masih aja mengelak,”

__ADS_1


ejek Iyan.


“Sumpah, aku bukan takut sama Ratu, aku cuman males ribut, tau sendiri kan kalo Ratu udah mulai ngoceh, suara kereta jabotabek aja kalah layyy,”


kata Beni sambil bergaya.


Rika pun telah menyelesaikan makannya, dan membuang bungkusnya. Rika bangkit dari duduknya hendak membuang sampah sambil berkata,


“Kalo takut bilang aja takut Ben, ngomong kok pake muter-muter.”


.


“Aduuuh, sial amat awak saat ini, jadi bahan celaan ku ini,”


kata Beni.


Mereka bertiga pun tertawa berbarengan.


Karena mendengar suara mereka, Erna pun terjaga dari tidurnya.


“Ya ampun, berisik amat sih, ada siapa sih?”


Gumamnya pelan.


Erna bergegas turun dari tempat tidur, dan beranjak keluar kamar menuju ruang tamu.


Ketika Erna menuju ruang depan, Erna melihat hadirnya Iyan dan Beni.


Erna pun menyapa mereka,


“Eh ada bang Iyan.”


“Eh ada Erna, di elap dulu itu pipinya,”


Sapa Iyan dengan canda.


“Sentimen kali kau Er, kenapa kau sapa cuman dia, si Iyan, aku tak kau sapa?”


Tanya Beni meledek.


“Yeeee, bang Aben kali yang sensi, kan yang tuaan yang harus di sapa duluan,”


kata Erna membalas.


“Ehmm, jangan bawa-bawa tua napa, gak enak banget dengernya,”


kata Iyan sambil tertawa.


Karena Erna belum makan, dia pun merasa lapar. Perutnya sudah mulai keroncongan.


“Rik, gue laper nih, cari makan yuk,”


ajak Erna pada Rika.


Rika pun langsung menunjuk ke arah Beni.


“Noh, tadi si Aben tuh pengen beliin lo makanan, benerkan Ben?”


Tanya Rika.


“Lo mau makan apa, nanti gua beliin, sekalian gua mau beli rokok, kasian nih si jomblo belum ngebul dari tadi,”


sahut Beni sambil menunjuk ke arah Iyan.


“Ih Bang Aben, segitunya ke Bang Iyan, kasian kan bang Iyan di cela mulu,”


kata Erna menimpali.


Iyan tersenyum mendengar celotehan Beni dan Erna. Kemudian Iyan berkata,


“jomblo mah bebas bergerak dan bertindak, ha ha ha.”


“Sialan lu, udah ah gua jalan dulu, tar keburu mati anak orang belum di kasih makan,”


kata Beni, sambil beranjak pergi.


Melihat tingkah Beni, Rika tak tidak diam. Dia pun ikut berceloteh,


“Awas Ben ketemu Ratu di jalan, tar lo di tanya beli makanan buat siapa, Siap-siap deh perang, ha ha ha ha.”


“Awas kau ya, gua jambak nanti,”


teriak Beni dari kejauhan, dan berlalu.


Itulah mereka. Kakak beradik hidup di perantauan yang saling bahu membahu satu sama lainnya.


Tak ada dendam saat bercanda, begitu pula sang kakak, Iyan. Dia berusaha sebijak mungkin dalam bersikap, walau sebenarnya pada kenyataannya hidupnya selalu penuh dengan air mata.


Iyan bertanya pada Rika,


“Kapan kamu mulai masuk kerja?”


Rika pun menjawab,


“Besok bang, kita dapet kebijakan satu minggu buat istirahat.”


“Wah, enak sekali, dapet kebijakannya lama, kalo di tempat bang Iyan paling tiga hari,”


kata Iyan.


“Ya gak tau juga Bang, kita sih ngikut aja apa kata atasan, lagian enggak ngerugiin kita kok di kasih libur lama, he he he,”


sahut Erna dengan tawa.


Dalam obrolannya, perut Erna sudah semakin lapar, sedangkan Beni yang sedang membelikan makanan untuknya, sampai saat ini belum juga menampakkan batang hidungnya.


“Rik, gue udah laper banget, kok bang Beni lama ya?”


Tanya Erna.


“Eh iya ya, kok Beni lama, padahal kan warungnya deket, apa jangan-jangan.....”

__ADS_1


Belum saja Rika menyelesaikan bicaranya, tiba-tiba Erna memotong ucapan Rika.


“Maksud lo apa? Jangan-jangan kenapa?”


__ADS_2