
Lisa menangis histeris tatkala mendengar Putri berteriak membentaknya. Hingga suara tangisannya terdengar keluar kamar, dan mengundang bagi mereka yang mendengarnya.
Mbok Yem berlari ke arah kamar Putri, begitu juga Om Faisal. Dia sangat khawatir karena mendengar teriakan Lisa.
“ Ada apa non Lisa?” tanya Mbok Yem.
“ Ada apa Sayang? Lisa kenapa?” tanya om Faisal.
Wajah Putri pun pucat pasi, ketika melihat kedatangan Mbok Yem dan Om Faisal.
Lisa pun menjawab pertanyaan mereka dengan polosnya sambil menangis sesenggukan,
“ Kak Putri pelit, Lisa minta permennya nggak dikasih, malah direbut, terus Lisa dipelototin.”
“ Ya ampun, kirain papa ada apa, berarti Kak Putri sayang sama kamu, Kak Putri nggak mau kamu nanti batuk-batuk,”
kata Om Faisal yang berusaha menenangkan Lisa.
“ Ayo sini Mbok Yem gendong,” sahut mbok Yem.
Putri pun memberi baju ganti Lisa pada mbok Yem, dan mbok Yem menggendong Lisa mengajaknya keluar dari kamar Putri.
Tinggallah Putri dan om Faisal di kamar. Om Faisal masih berdiri di depan pintu kamar, sementara Putri membenahi pakaian seragam sekolah Lisa. Akhirnya om Faisal bertanya,
“ Sebenarnya ada apa Put? Tingkahmu aneh belakangan ini. Se usil usilnya kamu selama ini memiliki adik Lisa, sikap Lisa nggak pernah sehiteris ini, Om jadi bingung sama kamu , Sebenarnya ada apa?”
“ Nggak ada apa-apa Om,” jawab Putri dengan singkat.
Putri pun membenahi Pakaian kotor Lisa, lalu keluar dari kamar dan meninggalkan Om Faisal sendirian di dalam kamarnya menuju ruang belakang untuk menaruh Pakaian kotor itu.
Om Faisal menghela nafas. Dadanya terasa sesak mendengar teriakan Lisa, karena selama ini Lisa tidak pernah bersikap seperti itu.
Akhirnya om Faisal kembali ke kamarnya. Sedangkan Lisa masih menangis sesenggukan di gendongan mbok Yem.
Mbok Yem mengajak Lisa ke taman belakang untuk bermain ayunan. Lisa pun senang. Akhirnya Lisa bisa tersenyum kembali.
Di saat mbok Yem mengayunkan ayunannya, Lisa minta di hentikan. Lisa ingin mbok Yem pun ikut duduk di sampingnya.
Mbok Yem pun menuruti kemauan Lisa.
Tiba-tiba Lisa bercerita tanpa di tanya mbok Yem,
“Mbok, kok kak Putri sekarang pelit ya, Lisa minta permennya aja nggak di kasih.”
“Hah? Permen? Masa permen aja kak Putri nggak ngasih Lisa?” tanya mbok Yem.
“Buktinya tadi kak Putri malah melototin Lisa, serem banget muka kak Putri, Lisa takut,”
kata Lisa mengadu.
Mbok Yem terdiam sejenak.
“Permen? Lisa nggak di bagi? Kak Putri melotot?” jadi, permen apa itu?”
tanya mbok Yem dalam benaknya.
Melihat mbok Yem termenung, Lisa langsung menepuk paha mbok Yem.
“Mbok, kok bengong?”
“Oalah Non, bikin mbok Yem kaget aja,”
Kata mbok Yem menimpali.
Melihat ekspresi mbok Yem, Lisa tertawa terbahak bahak, dan mbok Yem pun ikut tertawa.
########
Saatnya split, Andre dan teman temannya menuju ruang musholla. Tapi tak lama kemudian, Andre memisahkan diri dari teman temannya untuk menghubungi Rika.
“Dre, Lo mau ke mana?” tanya Tommy.
“ kepo lo!” jawab Andre singkat.
“ Anjirrr, gue dibilang kepo,” sahut Tommy.
Andre pun tertawa
Dari lantai 2, Andre menuju ke lantai 3. Sengaja Andre memisahkan diri agar tidak diganggu oleh teman-temannya di saat ia menghubungi Rika.
Di ambilnya ponsel dari saku celananya. Kemudian dia menekan beberapa tombol yang terhubung ke ponsel Rika. Tidak lala kemudian terdengar suara Rika dari seberang sana.
“ Ya Halo Ndre, kenapa,?”
“ Halo sweety Eh kamu lagi apa?”
“ Lagi mau berangkat kerja, lagi siap-siap nih pakai sepatu terus sambil nunggu Erna datang.”
“ Sweety, enaknya aku nemuin Bang Iyan dulu, atau gimana ya untuk ngomongin tentang kita?”
“ Ya enaknya sih bener, temuin Bang Iyan dulu, habis itu ya ikutin deh sarannya dia apa.”
__ADS_1
“ Terus menurut kamu, kira-kira bang Iyan ada waktu kapan, buat aku bisa ketemuin?”
“ Nanti deh aku tanya dulu, kapan Bang Iyan bisa, nanti aku kasih tahu kamu ya.”
“ Ya udah aku tunggu ya kabarnya.”
“ Oke. Oh Ya Ndre, kamu hati-hati ya kerjanya.”
“Iya sayang.”
“Ih sayang, lebay!”
“Kok lebay? Emang kamu nggak mau aku sayang?”
“He he he.”
“Yeeee, malah ketawa.”
“Ah udah lah, aku malu, tau!”
“Ya udah, kamu juga hati hati ya.”
“Bye”
Saluran telepon pun terputus. Andre kembali ke lantai 2 untuk menunaikan sholat asar.
Sementara Rika sedang menunggu Erna untuk berangkat bersama. Sejenak kemudian Erna pun sampai. Mereka pun berangkat kerja bersama-sama.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Iyan. Mereka pun menyapa dan bersalaman.
Kemudian Rika bertanya pada Iyan.
“Bang, kapan bang Iyan libur? Andre mau ketemu katanya.”
“Besok bang Iyan libur. Andre bis ke rumah besok. Atau bisa ketemu di rumah kamu Ka,”
jawab Iyan.
“Ya udah, entar Rika bilangin ke Andre ya Bang,”
sahut Rika.
Dan mereka pun berpisah. Rika dan Erna melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kerja, sementara Iyan kembali ke rumah.
Di dalam perjalanan menuju tempat kerja, Rika menyempatkan diri untuk memberi kabar pada Andre, bahwa besok Iyan libur.
Dikeluarkannya ponsel dari sakunya. Kemudian Rika mengetik beberapa huruf dan mengirimnya ke nomor Andre. Tapi tidak langsung dibaca Andre karena ponselnya Andri saat itu sedang tidak aktif.
Di seberang sana Andre selesai menunaikan salat asar. Lalu Andre keluar dari ruang mushola dan duduk di teras. Dia mengeluarkan ponselnya dari Sakunya, kemudian mengaktifkannya.
Ada beberapa pesan yang masuk, terutama dari Rika. Andre pun membacanya.
Setelah membaca pesan dari Rika Andri pun tersenyum dan segera membalasnya.
Setelah membalas pesan dari Rika Andre pun memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
Ternyata Tommy telah berdiri lama di belakang Andre, dan sempat ikut membaca pesan yang Andre Kirimkan kepada Rika.
“ Ehem ehem, serasa dunia milik berdua ya Ndre,” kata Tomi sambil bertelak pinggang.
“ Apaan sih lo, ngintip-ngintip aja, nggak sopan tau,” sahut Andre dengan mata melotot.
“ Emang kapan Ndre rencana lo buat nikah?” tanya Tommy.
“ Belum tahu sih, ini baru pengen ketemu abangnya, gue konsultasi dulu, langkah apalagi yang bakal gue jalanin ke depannya,” jawab Andre, dengan wajah ceria.
“ Senang gue melihat muka lu cerah Ndre,” kata Tommy.
“ Mangkanya Cepet dah nyusul kayak gue,” balas Andre.
“ Tapi gue ngeliat lo guenya ikut pusing, belum begini belum begitu. Ih ribet ya kalau mau kawin,” kata Tommy.
“Namanya juga mau enak, ya susah dulu lah,” sahut Andre.
Mereka pun tertawa, sedang Tommy menggaruk garukkan kepalanya, walau Sebenarnya tidak gatal.
#######
Mama Lina dan Dian melanjutkan makannya di table-nya. Kemudian mama Lina menghubungi Herman agar datang ke tempat itu.
Di meja cafe Hotel mama Lina dan Dian duduk berhadapan. Semakin siang semakin kencang angin laut yang bertiup.
Mama Linda mengeluarkan ponsel dari dalam tas jinjing nya, kemudian berkata pada Dian,
“ Sebentar ya saya menghubungi anak buah saya dulu.”
Dian pun mengangguk.
Kemudian mama Lina menghubungi Herman. Tidak lama kemudian tersambunglah Saluran telepon pada Herman.
Saat itu Herman tidak mengangkatnya. Herman sedang mengepak dan mengemas barang bersama Paijo. Saat itu Paijo mendengar suara ponsel Herman dia menganjurkan Herman untuk segera mengangkatnya.
__ADS_1
Tetapi Herman mengabaikan saran dari Paijo. Paijo berkata,
“ Angkat dulu tuh bos, kali aja penting.”
“ Ah nanti aja, nanggung nih kerjanya biar cepet selesai,” sahut Herman.
Sejenak kemudian Paijo pun kembali berkata,
“ Bos, Cobalah tengok dulu, kali aja itu penting, kalau penting dan nggak terjawab, nanti kamu kena semprot.”
“ Ih kamu tuh bawel ya, kayak bos kamu itu tuh,” kata Herman memaki.
“ Nah itu dia Bos itu yang saya maksud,”
kata Paijo menegaskan.
Maksud kamu apa sih? Saya nggak ngerti?” tanya Herman.
“ Bisa jadi itu Nyonya Lina yang menghubungi kamu, karena bunyi ponsel kamu tuh berkali-kali, berarti itu sangat penting, kalau kamu nggak percaya, coba sana lihat,” Kata Paijo menyarankan.
“ Ah kamu tuh menakut-nakuti saya aja,” kata Herman.
Herman pun beranjak dari tempat duduknya kemudian ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. Tidak lupa ia mengeringkan tangannya di handuk yang tergantung.
Baru ia mengeluarkan ponselnya dan melihat layarnya.
Matanya pun terbelalak melihat layar ponsel. Kmudian segera ia menekan beberapa tombol, lalu tersambunglah Saluran telepon menuju ke ponsel mama Lina.
Melihat tingkah Herman, Paijo pun terkekeh, Iya tertawa pelan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Terdengarlah suara Herman menelepon mama Lina.
“ Ya Halo Bu, maaf tadi saya lagi ngepak-ngapak barang. Ada apa ya Bu?”
{............... }
“ Oh baik bu, iya sekarang. Tolong share loc aja ya Bu.”
Saluran telepon pun terputus. Kemudian Herman memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, lalu ia melangkah mendekati Paijo.
“Jo, kemon ikut aku,” ajak Herman pada Paijo.
Paijo terheran-heran melihat kepanikan Herman. Lalu ia bertanya,
“ Siapa yang menelpon mu?”
“ Nyonya besar, dia marah-marah teleponnya nggak aku angkat,” jawab Herman.
“ Kan tadi aku udah bilang, lihat dulu. Sepertinya penting, tapi kamu mengabaikan omonganku,” sahur Paijo.
Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke tempat di mana mama Lina menyuruh mereka.
Lalu Herman menyuruh karyawan lainnya untuk meneruskan pekerjaannya.
“ Kartulo, Rocky, tolong terusin kerjaanku ya, aku harus keluar dulu. Bos memanggilku,”
kata Herman sambil berteriak pada karyawan yang lain.
Kartulo menganggukan kepalanya, sedangkan Rocky mengangkat jari jempolnya.
Herman dan Paijo pun keluar ke pelataran gudang. Herman masuk ke dalam mobil sedangkan Paijo berjalan menuju Gerbang untuk membukanya.
Setelah Paijo membuka gerbang, Herman pun melintas pelan-pelan. Setelah itu Paijo menutupnya kembali, Lalu ia naik ke dalam mobil.
Siang itu cuaca sangat terik jalanan pun padat merayap.
Agar tidak dapat omelan, Herman pun berinisiatif untuk memfoto Keadaan jalan, lalu dikirimnya ke ponsel mama Lina.
Tiba-tiba saja Paijo bertanya,
“ Sebenarnya kita mau ke mana sih Bos?”
Wajah Herman terlihat tegang ketika mendengar pertanyaan Paijo.
“ Ke hotel pinggir pantai, Bos Kita ada di sana,” jawab Herman.
Herman terus menyetir mobilnya dengan pelan-pelan karena keadaan jalan masih padat merayap.
Kemudian Paijo kembali bertanya,
“ Untuk apa kita ke sana? tumben banget Bos nyuruh kita nyusul.”
“ Aku juga nggak tahu Jo, kalau Bos manggil kita, berarti ada tugas buat kita,” jawab Herman.
“ Kita??? Kamu aja kali man! “ kilah Paijo.
“ Bu Bos tuh nyuruh kita berdua, bukan cuma aku saja, berarti dia butuh kita berdua,”
jelas Herman.
Mereka pun terdiam sejenak. Sedangkan pikiran mereka menjalar ke mana-mana. Mereka menduga-duga. Tugas apa yang akan mereka terima dari mama Lina?
__ADS_1