
Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Om Faisal sedang bersiap-siap untuk menjemput Andre.
Om Faisal sangat menunggu kepulangan Putri, sedangkan Putri belum juga menampakkan diri.
Sedangkan mama Lina sudah berangkat sejak pagi tadi setelah sarapan.
Akhirnya om Faisal meminta bantuan Rika agar mau ikut menjemput Andre.
Om Faisal meraih ponselnya dan menghubungi Rika.
“Assalamu’alaikum, Rika,”
{.................. }
“Bisa gak kamu bantu Om buat jemput Andre, yaaa sekitar jam 11 ini?”
{................. }
“Oh, ya udah, kita ketemu di sana ya, Terima kasih ya Rika, Assalamu’alaikum,”
telepon pun terputus.
Segera om Faisal mempersiapkan diri untuk menjemput Andre.
Om Faisal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di saat rambu lalu lintas, om Faisal menghentikan laju mobilnya.
Tanpa di sadari, om Faisal menolehkan kepalanya ke arah kanan.
Dia memperhatikan mobil yang berhenti tepat di sebelahnya. Dan jelas sekali wajah pengemudinya, karena kaca mobil tersebut terbuka.
Ya, om Faisal mengenal sang pengemudi dari wajahnya, tapi sayang, om Faisal lupa dengan namanya.
Rambu lalu lintas pun berubah menjadi hijau. Saatnya om Faisal harus melanjutkan perjalanannya.
Dalam perjalanan om Faisal berusaha mengingat pria yang di jumpainya tadi.
Tidak lama kemudian, om Faisal sampai di rumah sakit, sedangkan Rika belum sampai di sana.
#########
Di tempat lain, Rika menumpang angkutan umum untuk menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan, Rika memperhatikan jalanan yang padat merayap.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah sepeda motor yang di kendarai oleh sepasang kekasih.
Rika pun bergumam dalam hatinya,
“Ya ampun, mesra banget sih tuh orang, jadi bikin iri aja.”
Rika terus memperhatikan sepasang kekasih itu yang sedang mengendarai sepeda motor.
Berhentilah kendaraan mereka di depan rambu lalu lintas karena saat itu rambu lalu lintas berwarna merah.
Angkutan umum yang di tumpangi Rika pun ikut berhenti.
Dan jarak antara angkutan umum yang Rika tumpangi dengan sepeda motor yang di kendarai sepasang kekasih itu sangatlah dekat.
Hingga Rika mampu dengan jelas memandang wajah sang wanita yang duduk di belakang sang pria.
Rika pun terkejut. Ternyata Rika mengenal wanita itu.
“Putri!”
Ucapnya dengan pelan.
Rika pun segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Tidak lama kemudian, angkutan umum yang Rika tumpangi pun bergerak melaju, hingga jaraknya dengan sepeda motor itu pun menjauh.
Rika merasa terheran-heran dengan apa yang dia lihat tadi.
Rika tidak menyangka, Putri mampu bersikap mesra terhadap pria dewasa.
Ya, Rika melihat Putri berboncengan mesra dengan pria dewasa.
Tidak lama kemudian, angkutan umum yang Rika tumpangi berhenti tepat di depan gedung rumah sakit.
__ADS_1
Rika pun turun. Kemudian Dia memasuki gedung rumah sakit itu, untuk menjemput Andre.
Sampailah ia di depan kamar rawat inap yang di huni Andre.
Rika mengetuk pintu dari luar, lalu langsung membukanya.
Saat Rika tiba, om Faisal sudah hadir di sana.
“Assalamu’alaikum, Om,”
sapa Rika.
“Wa alaikum salam,”
jawab om Faisal.
Mereka pun bersalaman. Rika mencium punggung tangan om Faisal.
Rika pun menyapa kekasihnya, Andre.
“Hai Dre, gimana, udah enakan?”
Tanya Rika.
“Alhamdulillah, udah dong. Aku udah sehat kok,”
jawab Andre.
Seorang perawat masuk ke ruangan itu untuk memeriksa keadaan Andre.
Rika pun sedikit menjauh dari tempat Andre agar tidak mengganggu pemeriksaan yang di lakukan perawat itu.
Kemudian cleaning servis membawakan makan siang untuk Andre.
Setelah memeriksa kondisi Andre, perawat itu berkata pada om Faisal,
“Maaf Pak, pasien yang bernama Andre sudah boleh pulang, keadaannya baik dan stabil. Tapi ada beberapa vitamin yang harus di minum. Nanti setelah makan siang aja ya pulangnya.”
Om Faisal pun berkata,
“Alhamdulillah, baik Sus, nanti setelah makan siang dan setelah saya membereskan administrasinya Andre pulang.”
“Sepertinya urusan administrasi sudah ditangani Pak.”
“Di tangani? Oleh siapa? Saya sebagai orang tuanya belum merasa mengurus administrasinya Sus,”
tanya Om Faisal.
“Sepertinya dari pihak asuransi Pak yang melunasi semua administrasinya, termasuk pasien Rika dan Erna,”
Kata Suster.
Andre dan Rika saling berpandangan. Rika mengangkat alisnya sebelah kiri, dan Andre pun mengangkat kedua bahunya, dan tatapan mereka masih beradu pandang.
********
Di lain tempat, tepatnya di sebuah gudang milik mama Lina.
Para pekerja sibuk dengan pekerjaan masing-masing di bidangnya.
Herman, sebagai penanggung jawab gudang pun ikut sibuk dengan aktivitasnya.
Sedang mama Lina tengah sibuk dengan file-file.
Ada beberapa file yang digabungkan, ada pula file yang di pisahkan satu dengan lainnya.
Tapi pikirannya tertuju pada anak-anaknya, terutama pada Andre dan Putri.
Mereka sudah dewasa. Punya keinginan yang akan mereka gapai. Sedangkan mama Lina sebagai orang tua pun menginginkan mereka seperti apa yang dia harapkan.
Seperti halnya Andre, telah menjalin hubungan serius dengan Rika, wanita yang jauh dari apa yang mama Lina harapkan.
Sebentar lagi, Andre akan meminta padanya untuk merestui pernikahannya.
Betapa berat bagi mama Lina harus menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.
Sedangkan Putri, mama Lina berharap agar Putri belajar terus. Sedangkan saat ini Putri melanjutkan sekolah hanya sampai menengah pertama.
Putri tipe anak yang tidak suka pelajaran teori.
__ADS_1
Akhirnya mama Lina memasukkan Putri ke tempat kursus bahasa Inggris dan salon.
Itulah dunia Putri, tidak suka dengan study teori.
Dan kini Putri pun sudah dewasa, sampai satu saat mama Lina melihatnya bersama seorang pria dewasa.
Sungguh berat bagi mama Lina sebenarnya.
Mama Lina menarik nafas dalam-dalam. Dia duduk di kursi kebesarannya.
Di pandangi layar leptopnya, sambil melihat segala aktivitas bisnisnya di sana.
Hingga pandangannya terhenti di satu titik.
“Sialan, rugi semuanya. Andre sakit, aku juga yang nanggung biayanya, ampe tiga orang sekali gus... Aduh Tuhan, bangkrut deh kalo begini terus,”
ucapnya pelan.
Mama Lina menghitung laba di setiap club, di mana sahamnya ikut berperan.
Ya, ada beberapa club malam saham mama Lina berperan di sana. Dan tidak ada satu pun karyawan yang mengetahuinya, kecuali Hilal.
Alasan itulah, mengapa mama Lina ingin Sekali menghabisinya.
Mama Lina khawatir jika satu saat Hilal membongkar semua apa yang tidak di ketahui orang lain, termasuk suami dan anak-anaknya.
Lamunannya terhenti ketika pintu di ketuk dari luar.
“Ya, masuk,”
Kata mama Lina.
Herman pun masuk, dengan membawa beberapa berkas.
Herman pun duduk, dan menyerahkan semua berkas yang ada di tangannya.
“Ini Bu, surat-surat yang semalem dari orang gudang depstore,”
kata Herman.
Mama Lina mengambilnya dan mengamati seluruh tulisan di sana.
“Owh, jadi marginnya lebih mahal jika barang kita pake orang mereka, ya enggak apa-apa. Kan kita gak punya SPG. Serahin ajanke mereka,”
kata mama Lina.
“Kenapa kita gak pake SPG sendiri Bu? Kan kita punya karyawan yang jaga ruko,”
kata Herman.
“Bodoh kamu, Man. Kalo di depstore itu ada standar kepegawaiannya. Kita gak punya itu. Mereka harus tinggi. Standar tinggi mereka itu 160, lah kita pada 150 ampe 155 aja,”
sahut mama Lina.
“Kamu tuh kalo ngasih ide itu lihat situasinya dong Man, lihat kapasitas kita, jangan asal cuap cuap se udelmu aja,”
kata mama Lina.
“Ya udah bu, kita buka lowongan aja Bu, cari pegawai yang cantik-cantik, tinggi, dan.... “
Belum saja Herman menyelesaikan pembicaraannya, mama Lina sudah naik vitam.
Di siramnya wajah Herman dengan secangkir kopi miliknya, yang baru saja dia seruput sekali.
“Enak aja kamu kalo ngomong! Pikir dulu kalo mau ngomong ya!”
Celoteh mama Lina, sambil menyiram Herman dengan air kopi.
Herman pun terkejut dan mataanya terbelalak.
Herman sungguh sangat terkejut atas perlakuan mama Lina terhadapnya.
Tanpa berpikir panjang, Herman pun pergi meninggalkan ruangan mama Lina tanpa menoleh sedikit pun.
Ya, Herman sangat kecewa atas sikap mama Lina.
Sungguh dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu.
Herman berpikir hasil kerja dan idenya akan di hargai, tapi malah sebaliknya.
__ADS_1
Malah guyuran air kopi yang ia dapatkan dari mama Lina.