Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
pasca tabrak lari.


__ADS_3

Ricard mengemudi kan mobilnya dengan sangat cepat. Dia menginjak pedal gasnya dalam-dalam.


Seperti sedang di kejar sesuatu, dia mengemudi kan mobilnya tanpa arah tujuan.


Sampai akhirnya dia sampai di tepi laut, si bagian pinggir kota.


Dia hentikan mobilnya secara tiba-tiba, hingga suara rem mobilnya terdengar sangat jelas. Dan pasir di sekelilingnya pun beterbangan.


Nafas Ricard terengah-engah, sedangkan mesin mobil masih menyala, dan suara musik di dalam mobil pun masih mengalun dengan kerasnya.


Ricard memukul setir mobilnya sambil berteriak,


“Aaaaaaaaaaaaaaghghhh, Tuhan, apa yang telah saya lakukan? Oh God, help me please.”


Suasana di sekitar pantai masih sangat sepi. Udaranya pun sangat dingin. Karena saat itu masih pukul 4 pagi.


Ricard pun mematikan mesin mobil dan musik yang mengalun keras.


Suasananya pun berubah seketika menjadi hening, sangat hening. Hanya sesekali suara ombak berderu.


Tak terasa, Ricard pun tertidur di atas kemudinya.


############


Sementara Andre masih tergeletak di tengah jalan.


Darah mulai keluar dari tubuh Andre, sementara Rika terbangun dari terperosoknya dia saat di dorong Andre.


Erna yang menyaksikan kejadian itu sudah lemah lunglai, tangisnya tak henti-hentinya. Dia sangat histeris melihat kejadian itu semua.


Beberapa orang karyawan club menyeberang jalan untuk menolong Andre dan Rika.


Satpam club pun ikut turun tangan menyelamatkan mereka.


Rika di runtun oleh satpam wanita yang mengenalnya. Sedangkan Andre tidak sadarkan diri.


Andre di angkat oleh beberapa orang pria yang menolongnya, mereka membawanya ke tepi jalan.


Vivi memberikan air minum untuk Rika dan Erna.


Satu orang satpam segera menghubungi rumah sakit, agar segera di kirimkan mobil ambulan.


Sekitar lima belas menit kemudian, mobil ambulan pun datang.


Keadaan Erna menjadi sesak nafas. Kemungkinan karena trauma. Sedangkan keadaan Rika hanya luka ringan di bagian kepala, tangan dan kakinya.


Segera Andre mendapatkan perawatan. Tentu Erna juga mendapatkan perawatan bantuan pernafasan.


Begitu juga dengan Rika. Rika pun ikut ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan di sana.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, tangan Rika sebelah kanan terus memegangi tangan Andre, sementara tangan kirinya memegang berat tangan Erna.


Erna bersandar pada kursi panjang sambil memegangi alat bantu pernafasan di wajahnya.


Tidak lama kemudian sampailah mereka di sebuah rumah sakit.


Dengan sigap para perawat jaga saat itu menyambut dan melayani perawatan mereka.


########


Menjelang pagi, cuaca amatlah cerah. Suara deburan ombak membangunkan Ricard yang tertidur di dalam mobilnya.


Ricard mengernyitkan dahinya mana kala sinar matahari tembus melewati kaca mobilnya.


Tidak lama kemudian suara ponselnya berdering. Ricard segan melihatnya, tetapi ponsel itu terus berbunyi.


Ricard pun memandang ponselnya, ya, hanya memandang.


Ponselnya kembali berbunyi. Tangannya segera meraih ponsel itu dengan mengangkatnya, kemudian menek tombol terima.


Kepala Ricard masih sangat berat, lantaran semalam ia mabuk berat. Antara ingat dan tidak atas kejadian semalam.


“Halo,”


“Kamu di mana?”


“Ada apa? Aku berada di suatu tempat, tapi entah lah ini di mana.”


“Coba kamu pasang gps mu, agar aku tau posisimu.”

__ADS_1


Tidak lama kemudian saluran telepon pun terputus.


Sekitar 15 menit kemudian, Hilal datang ke tempat di mana Ricard berada.


Hilal keluar dari mobilnya. Dia melangkah ke arah mobil Ricard.


Di ketuknya kaca mobil Ricard, dan Ricard pun membukanya.


“Kamu ngapain di sini? Aku khawatir dengan keadaanmu, mangkanya aku ke apartemenmu, tapi kosong,”


kata Hilal.


“Aku tidak tau apa yang telah terjadi, aku lupa,”


jawab Ricard.


“Ayo kita pulang, kamu kotor sekali,”


kata Hilal.


Hilal pun kembali berkata,


“Pakai mobilku saja, biar kamu tak ada yang mengenali.”


Ricard pun menuruti perintah Hilal. Dan mereka masuk ke dalam mobil Hilal.


Saat itu Hilal yang mengemudi. Dengan perlahan dia mengemudikan mobilnya ke jalan raya.


Saat itu masih sangat pagi. Keadaan jalan pun masih sangat lengang.


Ketika hampir sampai ke arah apartemen Ricard, anak buah mama Lina sudah berada di sana.


Melihat keadaan itu, Hilal pun memutar balik arah kendaraannya.


“Kayanya kamu gak bisa pulang ke apartemenmu dulu saat ini. Coba kamu liat, anak buah nyonya Lina sudah beredar di area apartemenmu. Sebenarnya ada apa?”


tanya Hilal.


“Aku tidak tau, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, aku lupa, Hilal!”


Teriak Ricard, sambil mengacak rambutnya.


“Jangan-jangan dia telah melakukan sesuatu, sampai-sampai keadaan seperti ini,”


gumamnya dalam hati.


“Lebih baik kamu pulang ke apartemenku dulu, biar aman. Kamu bisa istirahat di sana,”


kata Hilal.


Ricard pun menganggukkan kepalanya sambil berkata,


“terserah kamu saja.”


Hilal pun melajukan mobilnya menuju arah apartemennya.


Karena hilal telah mengganti mobil, sebagian anak buah mama Lina yang melihatnya saat itu tidak mengenalinya.


Dengan perlahan, Hilal mengemudikan mobilnya tanpa rasa khawatir.


Sesampainya mereka di apartemen miliknya, Hilal memerintahkan Ricard agar segera mandi dan makan.


Hilal tidak perlu membelinya, karena persediaan makanan saat itu masih ada.


Hilal pun mengeluarkan makanan yang ada untuk di santap Ricard setelah ia mandi.


Setelah makan, Hilal menyuruh Ricard agar istirahat.


“Tidurlah, agar aku dapat berpikir sejenak,"


perintah Hilal pada Ricard.


Tanpa berpikir panjang, Ricard pun bergegas masuk ke dalam kamar Hilal.


Tidak memakan waktu lama, Ricard pun tertidur.


Hilal membuat secangkir kopi hitam, dia melangkah ke arah balkon dan duduk di sana.


Di sana terdapat bangku kecil yang menghadap ke arah jalanan.

__ADS_1


Sambil menikmati kopi hitamnya, Hilal pun berpikir keras.


Apa yang dilakukannya saat ini untuk Ricard adalah kesalahan besar di mata mama Lina. Semua ini pun sudah terlanjur dia lakukan.


Hilal pun tidak ingin nasib Ricard sama dengan nasib dirinya sat itu. Di buang dan di campakkan begitu saja oleh mama Lina setelah segala jasanya mengabdi pada perusahaan milik mama Lina.


Tak satu persen pun uang di yang di berikan oleh mama Lina sat itu, setelah dia di fitnah sebagai pencuri di gudang.


Baginya, saat itu adalah cara pemecatan yang sangat keji.


Bukan hanya di pecat, tapi di fitnah dan di pukuli oleh anak buah mama Lina.


“Dasar, manusia iblis,”


gumamnya dalam hati.


Sampai saat ini, Hilal pu tidak mengerti apa kesalahannya.


Hilal termenung memikirkan nasibnya saat ini.


Hilal mengurutkan atas segala kejadian demi kejadian, antara kejadian satu dengan kejadian yang lain yang menyangkut dirinya.


Hilal menyeruput kopi hitamnya. Kemudian dia membakar rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam.


Terekamlah segala kejadian demi kejadian di mana dirinya berperan di dalamnya.


Selama dia bekerja untuk mama Lina, Hilal selalu patuh atas segala yang di perintahkan.


Tapi di balik kepatuhannya, ada beberapa sesi yang dia dengan tegas menolaknya.


Ya, dengan tegas dan terang terangan Hilal pernah menolak perintah mama Lina, yaitu pada saat mama Lina memerintahkan untuk menghabisi Rika.


Dan ada lagi perintah mama Lina yang pernah dia tolak dengan tegas, yaitu pada saat mama Lina memerintahkan untuk memenuhi hasratnya.


Dan kini sepertinya nasib Ricard akan sama seperti dirinya.


Tapi sebelumnya, apa yang dia telah lakukan?


gumamnya dalam hati.


###########


Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit, di mana Andre, Rika dan Erna di rawat.


Keadaan Andre sampai siang ini belum siuman.


Sementara Rika di nyatakan hanya luka ringan. Dan semua luka di kepala, tangan dan kakinya telah di bersihkan dan telah di obati.


Rika juga mendapatkan obat yang harus di minumnya.


Sementara Erna, keadaannya masih di bantu alat pernafasan karena trauma. Tapi baiknya, Erna dalam keadaan sadar. Dan dia mampu menceritakan apa yang terjadi.


Tapi, sayangnya dia tidak melihat mobil apa yang menabrak Andre.


Karena saat itu, keadaan jalan masih gelap. Dan lampu penerangan sudah mulai mati di sebagian sisi jalan.


Karena saat itu terjadi pada pukul 4.00 pagi, saat para karyawan club di mana Rika dan Erna bekerja pulang.


Beberapa satpam club yang percaya oleh mama Lina bergegas mengabarkan.


Segera mama Lina dan Putri bergegas menuju rumah sakit.


Tetapi sebelumnya, Rika ingin mengabarkan keluarga Andre, tetapi di urungkan niatnya.


Rika segera menghubungi Iyan.


Kedatangan mama Lina beserta Putri beriringan dengan kedatangan Iyan dan Ando.


Pertemuan mereka begitu akrab. Dan Rika pun bersyukur Iyan telah hadir.


Tapi bagaimana pun juga, sikap mama Lina tidak berubah. Mama Lina mengecam Rika, tatkala posisinya berdekatan dengan Rika.


“Awas ya kamu, jika terjadi apa-apa dengan anak saya, maka akan ku habisi kamu, Rika!”


Bisik mama Lina ke telinga Rika.


Tetapi tangan mama Lina menggenggam mesra tangan Rika, seolah-olah mereka saling akrab.


Itulah yang terlihat di mata Iyan dan Ando.

__ADS_1


__ADS_2