
Tiba-tiba kehadiran Andre sangat mengejutkan mbok Yem, Putri dan Irfan, mata mereka pun mengarah ke Andre semua.
Dan pandangan Andre tertuju pada Irfan. “ Eh lu siapa,” tanya Andre, sambil menunjuk ke arah Irfan dengan jari telunjuknya.
Saat tangannya masih menunjuk, Andre melangkah mendekati Irfan. Lalu Mbok Yem dengan Sigap menghalang, agar tidak ada baku hantam.
“ Gue nanya sama lo, Lo ini siapa?” teriak Andre.
Karena keadaan sudah memanas, nafas Putri pun tersengal-sengal. Kemudian Putri berteriak karena merasakan sakit di perutnya. Perut Putri tiba-tiba saja keram.
Sambil menahan sakit, Putri memegangi perutnya, dan berkata,
“Udah Bang, stop Bang, jangan ladenin, kita masuk aja.”
Andre pun tidak tinggal diam. Karena keadaan menjadi rancu, hati Andre semakin penasaran.
Mbok Yem pun berpikir, sepertinya ada baiknya si selesaikan sekarang, mumpung mama Lina dan om Faisal tidak ada.
Akhirnya mbok Yem menengahi keadaan yang rumit itu.
“ Den Andre, gimana kalau kita bicarakannya di dalam, biarkan Den Irfan masuk dulu,” kata mbok Yem.
Andre langsung mengecilkan matanya mendengar ucapan mbok Yem.
“Mbok, mbok sepertinya udah kenal dekat dengan cowok ini,” kata Andre dengan pemasaran.
Matanya masih di kecilkan, sementara mbok Yem mengerti karakter Andre yang sedang marah besar.
Mbok Yem berusaha mendinginkan suasana walau susah.
“Aden, kita masuk dulu aja, kita selesaikan malam ini segera, kalo berdiri begini kepala kita bakal panas terus Den,”
Kata mbok Yem.
Akhirnya rasa penasaran Andre pun mulai susut, sementara Putri masih kesakitan.
Sambil menahan sakit perutnya dan memeganginya, Andre menuntun Putri masuk ke depan teras, di susul mbok Yem dan Irfan.
Akhirnya di teras itulah mbok Yem menerangkan semuanya.
Sontak saja Andre berdiri dan memukul wajah Irfan, sedangkan Irfan sengaja tidak melawan. Ia merasa, bagaimana pun juga, Andre adalah kakak Putri, yang bakal menjadi kakak iparnya.
“Kenapa lo diam aja? Banci lo, anjing!” kata Andre memaki.
“Udah Bang, udah! Perut gue sakit nih, tega lo ngeliat gue kaya gini,” rengek Putri sambil menangis.
“Jadi om Faisal begini gara-gara lo?! Tega ya lo Put, nyakitin orang tua,”
Andre pun menjambak rambut Putri.
“Sakit Bang,” teriak Putri, sambil menendang kaki Andre.
Irfan pun serba salah. Dia berusaha melerai keributan itu, dan akhirnya satu pukulan melayang ke wajahnya.
Tanpa gentar, Irfan pun berdiri kokoh di hadapan Andre sambil mengusung kan dadanya, dan berkata,
“Pukul lagi, terus pukul lagi, biar kamu puas, biar pukulanmu bisa memaafkan kesalahan saya.”
__ADS_1
Akhirnya mbok Yem menarik baju Andre dan berdiri di antara keduanya.
Mbok ayem menarik nafas panjang, tangan kanannya menahan dada Andre dan kirinya menahan dada Irfan.
Lalu mbok Yem berkata dengan pelan,
“Semakin kalian berteriak, otak dan hati kalian semakin panas, apakah ini jalan keluarnya, dengan keributan?”
Akhirnya Irfan mundur satu langkah dan duduk di teras. Ternyata Andre pun mengikuti, dia pun mundur satu langkah dan duduk di teras.
Mbok Yem pun duduk di kursi, tepatnya duduk di antara ke duanya.
Lalu mbok Yem menggenggam tangan Andre dan berkata,
“Maafkan mbok ya Den, dari beberapa waktu belakangan mbok Yem menutupi semua, mbok Yem nggak mau acaramu kelak bakal berantakan karna masalah non Putri.”
Lalu Andre berdiri, dan berteriak,
“Tau nggak sih mbok, alasan om Faisal di rawat aja, mama udah nyuruh aku bikin pesta di rumah aja, gimana dengan kejadian ini mbok??? Bisa-bisa Andre nggak jadi nikah! Sialan lo Put!”
“Tenang Den, tenang. Kita bicarakan baik-baik, jangan pake emosi, semakin kita emosi, semakin otak kita nggak mampu berpikir,”
Sahut mbok yem.
Irfan hanya tertunduk malu, tanpa berkata apa-apa.
“Eh, Anjing, gimana pun lo harus nikahin ade gue ya, awas aja lo lari dari tanggung jawab,” kata Andre pada Irfan.
Irfan menerima kekesalan Andre, dia pun berkata dengan pelan,
“Maaf Bang, bukannya saya tidak mau bertanggung jawab, udah lama saya mau datang menghadap orang tua kalian, tapi Putri melarang saya, dia takut katanya.”
Begitulah kejadian malam itu, yang jelas, mbok Yem berusaha menjadi penengah.
******
Pagi pun tiba. Andre teringat pesannya pada mama Lina akan menggantikan untuk menjaga om Faisal yang sedang di rawat.
Kala itu mbok Yem seperti biasa sibuk dengan mempersiapkan sarapan buat anggota keluarga yang ada.
Anak-anak sudah pergi ke sekolah, dan Andre baru saja turun dari lantai atas kamarnya menuju ruang makan.
Tapi Putri sudah ada di sana. Putri sedang sarapan lebih dulu.
Mbok Yem menaruh sarapan untuk Andre. Saat itu mbok Yem membuat nasi goreng.
Andre menatap Putri yang berada tepat di depannya. Awalnya mereka hanya diam saja. Tapi karena Putri terlihat malas malasan menyuap makanannya, akhirnya Andre memulai percakapan.
“Makan yang bener Put, jangan males,” kata Andre.
“Ehm,” sahut Putri.
“Lo punya vitamin gak?” Andre bertanya kembali.
“Ada,” jawab Putri dengan singkat.
“Jangan lupa di minum, biar lo dan dede di dalem perut lo sehat,” Perintah Andre.
__ADS_1
Mendengar perintah sang kakak, Putri tiba-tiba saja menangis.
Andre pun merasa iba, dan berkata, “Udahlah, jangan cengeng, kita adepin sama-sama. Paling acara gue nanti bakal berantakan, lo kaya nggak tau mama aja, semua di kaitin,” sahut Andre.
“Maapin gue ya Bang, gue kotor,” kata Putri sambil terisak dengan tangisnya.
Andre pun memegang bahu Putri.
“Udahlah, semua udah terjadi, mungkin gue yang nggak bisa jagain lo, mangkanya lo nyari perhatian di luar, sedangkan gue asyik sendiri dengan dunia gue,” kata Andre.
Mbok Yem sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua dari dapur.
“Biarlah mereka ngobrol, biar mereka mencari jalan keluar sendiri, mumpung nyonya belum pulang ke rumah,” bisiknya dalam hati.
Andre pun menghela nafas dalam-dalam, dan berkata,
“Udahlah, jangan nangis terus. Pokoknya lo harus sehat, lo harus terima kalo mama marah. Sadar atau nggak, keluarga kita ini hancur pelan-pelan, entah apa sebabnya, hus juga pusing Put.”
Setelah menghabiskan sarapannya, Andre pun meminta izin pada mbok Yem untuk pergi ke rumah sakit menggantikan mamanya berjaga.
Tiba-tiba Putri berkata,
“Gue ikut Bang! “
Andre pun menoleh, lalu berucap, “Ngapain lo ikut? Mending lo istirahat, makan yang banyak biar nggak oleng.”
“Gue mau ketemu om Faisal, gue mao minta maaf, dia sakit karna gue bang,” sahut Putri.
Andre pun meminta pendapat pada mbok Yem. “Mbok!!! “
Teriak Andre memanggil.
Mbok Yem segera menghampiri Andre dan Putri.
“Ya Den, ada apa?” tanya mbok Yem.
“Ni Putri mau ikut ke rumah sakit, mao minta maap katanya ke om Faisal,”
tutur Andre.
“Emang kamu nggak pusing, atau sakit perut? Mbok takut perutmu keram lagi,” kata mbok Yem mengingatkan.
“Putri Cuma mau minta maaf mbok ke om Faisal, kasian dia,” jawab Putri.
Tiba-tiba suara mobil terdengar dari luar. Mobil itu membunyikan klaksonnya berkali-kali, tanda minta di bukakan pintu.
Andre dan Putri pun saling melempar pandangan.
“Waduh, gawat! Nyonya pulang!” kata Mbok Yem dengan suara panik.
“Udah mbok, biar Andre aja yang bukain, udah sikap kita biasa aja, seolah-olah nggak ada apa-apa, lo Put, balik sono ke kamar lo, paling mama pulang buat mandi aja, trus jalan kerja,”
Perintah Andre, mengatur strategi.
Andre pun berlari membukakan gerbang. Dengan kecepatan tinggi mama Lina melintasi mobil yang ia kendarai masuk ke dalam dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.
Ketika Andre baru saja menutup pintu gerbang, tiba-tiba saja mama Lina bertanya,
__ADS_1
“Ndre, Putri mana?” tanya mama Lina dengan suara meninggi, dan wajahnya menunjukkan kemarahan.