
Riko memperhatikan Dena pada saat masak di dapur. Riko melihat Dena berbelanja lebih banyak daripada biasanya.
“ Dek, kayanya kamu belanja kayaknya banyak banget deh, ini mau dimasak semua?”
“Sebagian sih masuk kulkas, tapi sebagian Aku mau masak semuanya, kenapa emang? Tumben nanya-nanya?”
Dena bertanya kembali.
“Nggak papa sih, aku cuma nanya doang kok,” sahut Riko.
Dena tersenyum melihat wajah Riko yang kebingungan. Akhirnya denah berkata apa adanya, sambil melingkarkan kedua tangannya pada bahu Riko Dena berkata,
“Maaf ya Yang, aku belum cerita semuanya ke kamu, sebenarnya dari kemarin-kemarin aku masak, terus aku bagi dua buat mama Caca, kasihan mereka, Papanya nggak pulang-pulang dan nggak ninggalin Uang belanja.”
Riko tersenyum dan membelai rambut istrinya. Sambil tersenyum ia berkata,
“Iya nggak apa-apa, aku juga seneng kok bisa berbagi.”
“ Maaf ya aku belum sempat izin sama kamu, karena kan dari kemarin kamu pulangnya larut terus, jadi kita nggak ada kesempatan buat ngobrol bareng,” kata Dena, sambil melepaskan ke dua tangannya yang melingkar di bahu suaminya.
Dena kembali menyiapkan makanan untuk di bawa ke rumah Rika.
“Ketika kita tahu bahwa tetangga kita kelaparan, orang yang wajib memberikan mereka makan adalah Tetangga, karena tetangga adalah orang yang paling dekat pada mereka, karena itu aku merasa berkewajiban walaupun sedikit, tapi paling tidak bisa membantu mereka Yang,” kata Dena menerangkan.
Beberapa saat kemudian, Sami pulang dari sekolah. Dia melihat Dena sedang menyiapkan makanan.
“ Mau dibawa ke mana Itu Mi?” tanya Sami.
“Buat Caca, nanti abang bawain ya,” perintah Dena pada Sami.
“Ih Abang sebel deh, gara-gara Andre nih kita jadi kesusahan,” Sami memaki pelan.
“Eh Abang, nggak boleh begitu, ketika kita tahu bahwa tetangga kita sedang kesusahan, maka kita wajib membantu mereka,” kata Dena pada Sami sambil memberikan bungkusan.
Dena pun kembali berkata,
“Soal Papanya, Itu urusan mereka. Masalah mereka, kita nggak perlu ikut campur, kalau mereka cerita, kita cukup menyimak dan mendengarkan, itu saja yang mereka perlukan, nggak usah komen-komen yang lain ya nak.”
Kami pun keluar ke rumah Rika sambil membawa bungkusan yang diberikan Dena.
“Assalamualaikum, Mama Caca,” sapa Sami sambil mengetuk pintu.
Dari dalam Rika menjawab, “Waalaikumsalam.”
Rika pun membuka pintu, dan melihat Sami sudah berada di depan pintu.
“Eh Bang Sami, ada apa?”
Sambil mengulur tangannya yang memegang bungkusan sambil memberikannya pada Rika, “Ini dari mami,” sahut Sami.
__ADS_1
Rika pun menerimanya dan berkata, “Terima kasih ya bang Sami, oh ya Bang Sami mau main dulu di dalam?”
“Nggak ah nanti sore aja mainnya, ya udah aku pulang ya mama Caca.”
Sami pun pulang dan kembali ke rumahnya. Sambil mengganti baju sekolahnya dengan baju rumah, Sami menggerutu,
“Emang dasar ya si Andre, pergi nggak bilang-bilang, terus nggak pulang-pulang. Emang dia nggak mikir apa ya, nyusahin orang tua gue aja, Ih sebel!”
Dena mendengar ocehan anaknya. Dena pun tidak tinggal diam, dia khawatir keadaan mental anaknya melihat permasalahan orang dewasa.
“ Abang, sini Duduk, Mami mau bicara,” panggil Dena.
Sami pun duduk di lantai. Dena mendekati Sami sambil menggenggam tangan Sami.
“Bang, Denger ya. Itu masalah keluarga mereka. Biarin aja, kita selagi bisa bantu mereka Ya udah kita bantu, nggak usah cari tahu siapa yang salah siapa yang benar, takutnya kita salah menilai. Kita nggak tahu permasalahan yang sebenarnya apa, dan kita nggak boleh menuduh orang tanpa bukti.”
“Tapi Abang sebel banget Mi kalau Papanya Caca nggak pulang-pulang, Papanya Caca nggak mikirin Anisa, kemarin aja Anisa manggil-manggil Papanya sambil nunjuk-nunjuk foto, Kan Abang jadi tambah sebel.”
Dena tersenyum mendengar penjelasan Sami.
***
Malam pun tiba. Dari sore rumah Rika sudah ramai dengan keluarga besarnya. Kedatangan Nyai dan Papi dari Lampung membuat semua keluarga Rika berkumpul di sana.
Sore sudah berganti senja. Terdengar dari rumah Dena suara orang sedang berbincang-bincang. Terkadang mereka tertawa lalu terdiam.
Terdengar pula suara canda tawa Anisa dan Khansa.
Tiba-tiba kebahagiaan mereka terusik dengan kepulangan Andre. Sami dan Khansa serta Kiki sedang bermain di depan teras.
Terlihat Khansa bahagia melihat kepulangan Andre dan Sami pun ikut menyapanya,
“Eh Papa Caca sudah pulang.”
Andre tidak menjawab sapaan Sami, Ia hanya mengucap-ucak rambut Sami saja. Andre pun membungkukkan tubuhnya untuk menggendong Kansa.
“Ih papa ke mana sih nggak pulang-pulang, Caca kan kangen Papa.”
Andre tidak menjawab pertanyaan Khansa Ia hanya mencium dan memeluknya. Setelah itu Andre menurunkan Kansa dari gendongannya.
Lalu Andre masuk ke dalam dan sebelumnya membuka sepatu di depan pintu semua orang-orang di dalam menoleh ke arah Andre.
Mereka pun terkejut melihat kepulangan Andre dengan tiba-tiba. Andre masuk dan memberi salam.
“ Assalamualaikum.”
Lalu Andre mendatangi Nyai dan Papi untuk bersalaman.
Saat itu Rika berada di kamar. Dia tidak mengetahui bahwa Andre telah pulang. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening.
__ADS_1
Tak ada suara berbincang ataupun suara tawa. Benar-benar hening. Membuat Rika penasaran, akhirnya dia keluar dari kamar sambil menggendong Annisa.
Rika terkejut melihat Andre pulang. Kata rindu yang dia harapkan, tapi sayangnya tak terlontar dari mulut Andre.
Malah Andre menanyakan prihal ijazahnya.
“Ma, udah ketemu ijazah aku?” tanya Andre.
Tapi Rika tidak menjawabnya. Dia hanya memandangi sosok pria tinggi yang berdiri di hadapannya. Matanya berbinar-binar menatap wajah yang Kanza dan Annisa rindukan.
“Ih mama, di tanya malah ngeliatin aku aja,” sahut Andre.
Mendengar kalimat yang di lontarkan Andre, Nyai berkata,
“Mungkin Rika kangen ama kamu Ndre. Kamu ke mana aja? Sini duduk, kita bicara.”
Andre mengernyitkan dahinya, seolah-olah dia tidak paham apa yang Nyai maksud.
Akhirnya Andre duduk di antara keluarga Rika.
“Nih pada ngumpul ada apa ya?” tanya Andre.
Beni menuang air ke dalam gelas dan memberikannya pada Andre.
“Minum dulu Ndre, kau pasti haus dalam perjalanan. Cengkareng- pasar minggu kan sangat jauh, kau pasti lelah,” kata Beni.
Andre menarik napas panjang. Dia duduk di antara Beni dan papi, ayah Rika.
Nyai pun ikut duduk di antara mereka, yang sebelumnya berada di dapur.
Tidak lama kemudian Iyan datang.
“Assalamu’alaikum.”
Iyan masuk dan terkejut melihat kehadiran Andre. Karena rasa kangennya pada adik iparnya, Iyan memegang kepala Andre. Iyan hendak mengusap kepalanya.
Mungkin karena kondisi Andre yang tegang, tiba-tiba saja Andre menepis tangan Iyan.
Iyan pun kaget tangannya di tepis Andre. Sontak saja Beni ikutan kaget, hingga dia bangkit dari tempat duduknya.
Keributan mulai terjadi. Kanza yang tadinya sedang bermain di depan teras bersama Sami langsung masuk ke dalam. Sami pun ikut masuk, tapi akhirnya hanya bisa berdiri di depan pintu masuk.
Melihat Beni yang tiba-tiba saja bangkit, Andre pun ikut bangkit. Suasana menjadi tegang. Iyan pun merasa bingung keadaan di rumah itu.
Melihat Andre yang tiba-tiba berdiri, Beni merasa di tantang oleh Andre. Karena sikap Andre yang tidak bersahabat, memancing emosi Beni.
Dengan gerakan reflek, Beni mengambil botol air mineral yang berada di lantai dengan kakinya, seperti layaknya pemain sepak bola.
Spontan saja Beni menyiram Andre dengan air itu, membuat Andre basah kuyup.
__ADS_1