
Atas kesepakatan dan dorongan keluarga besar, Rika menuntut cerai Andre. Di dampingi oleh Beni sebagai pendampingnya, Rika mendatangi pengadilan agama.
Tidak begitu saja, Rika harus menyertai bukti yang kuat.
Sementara Andre di tempatnya, mengerjakan pekerjaan milik mama Lina, menemukan beberapa kejanggalan. Bukan Cuma kejanggalan, tetapi Andre menemukan bisnis lain mamanya, tetapi belum jelas.
Andre terus meraba keadaan yang belum jelas itu, sementara Dian lebih banyak di rumah. Hanya sesekali dia keluar, entah ke mana karena Andre tidak begitu peduli.
Perut Dian semakin besar dan kemauannya yang aneh-aneh, membuat Andre semakin penat.
Beberapa waktu Andre mempelajari bisnis mamanya jingga akhirnya Putri pun di libatkan. Banyak kejanggalan di sana. Karena suatu waktu Andre menandatangani kontrak kerja untuk memperpanjang masa kounter di sana, tetapi tandatangannya tidak berlaku, sedangkan semua urusan bisnis mama Lina telah di limpahkan padanya. Di situlah Andre curiga.
Di tambah lagi kelahiran atas Putranya yang Dian lahirkan, tidak mirip dengan dirinya. Membuat hati Andre semakin bertanya-tanya.
Andre semakin gigih mencari kebenaran, tetapi Putri begitu lamban untuk bekerja, dengan alasan menjaga Satria.
“Gue iri Bang sama lo, hidup lo enak sama Rika, dan gue benci itu semua,” gumamnya dalam hati.
Tetapi Andre tidak mengetahui isi hati Putri.
Putri selalu membuat hidup Andre berantakan, terutama hubungannya dengan Rika dan anak-anaknya.
Andre membawa laporan dan menyerahkan pada mamanya.
“Ma, ini laporan kerja bulan ini, Andre liat banyak kejanggalan di sana, apa mama gak pernah ngecek?”
“Maksud kamu apa?” tanya mama Lina.
Saat itu sore hari, mama Lina sedang minum teh di taman belakang dan sambil membaca buku.
Setelah bertanya, mama Lina membetulkan duduknya dan mengamati Andre.
Andre menunjukkan sesuatu berkas yang menurutnya janggal. “Lihat Ma, di sini tandatangan Andre gak berlaku, malah tandatangan Dian yang kepake di sini. Bukankah mama udah limpahkan semua urusan bisnis pada Andre? Kenapa tandatangan Dian masih berlaku? Ini baru satu ya Ma yang Andre tau, yang lainnya Andre belum tau.”
Mama Lina tersenyum, dia merasa senang melihat kegigihan Andre dalam menjalani bisnisnya.
Hingga menjelang maghrib, ada seseorang yang datang.
“Permisi,” teriak orang itu dari luar.
Mbok Yem melihatnya dan membuka gerbang.
“Ya, ada apa?”
“Ini Bu, ada berkas buat bapak Andre, tolong di tandatangan di sini bu,” kata pengirim surat.
__ADS_1
Setelah menandatangani surat, mbok Yem menerimanya dan membawanya masuk ke dalam.
Mbok Yem berjalan menuju taman belakang, dan menyerahkan berkas itu pada Andre.
“Den, ini ada surat, katanya buat Den Andre,” kata mbok Yem.
Andre menerimanya dari tangan mbok Yem lalu membukanya. Tapi hanya sekilas saja dia melihatnya, lalu di masukkannya kembali ke dalam amplop coklat.
“Andre mandi dulu Ma, tolong Ma, di beresin soal tadi. Andre malu tandatangan Andre gak berlaku, malah dibilang tukang tipu,” gerutunya.
Mama Lina tersenyum.
Tiba-tiba mama Lina terpaku pada amplop coklat yang Andre Terima.
“Amplop apa ya? Kayanya bukan berkas kerjaan, tapi apa ya? Kok Andre kaya nyembunyiin dari aku,” gumamnya pelan.
Tidak lama kemudian mama Lina masuk ke dalam rumah.
Beberapa jam kemudian, Andre menerima pesan dari Rika lewat ponselnya.
“Pa, udah baca belum berkas yang aku kirim? Segera tandatangan ya Pa, biar urusan kita cepet selesai.”
Andre membacanya dan kembali meletakkan ponselnya setelah membaca pesan dari Rika.
“Aaahhgghh, kenapa keadaan jadi runyem begini sih! Ni pasti ada kompor yang manas manasin Rika, gak mungkin dia sampe senekat ini!”
Andre pun membuka kembali amplop coklat tadi. Dia membaca satu persatu kata yang terdapat di sana.
“Segampang Inikah proses cerai? Nggak! gue nggak bakalan cerein elo Rik, sampai kapanpun gue nggak bakalan cerein lo!”
Andre merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, tangannya dilipat di atas kepala, dan tanpa sadar, terbayang wajah anak-anaknya di sana. Andre tersenyum terbayang wajah Khansa dan Anisa, walau bagaimanapun Dia sangat merindukan anak-anaknya.
Lalu Andre pun tertidur. Sesaat kemudian Andre terbangun karena mendengar ponselnya berdering.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Dian. Akhirnya Andre memutuskan untuk menelepon Dian.
“Halo ada apa?” tanya Andre pada Dian melalui saluran telepon.
“Kenapa kamu nggak pulang ke sini Ndre?”
“Nggak papa, aku lagi males aja,” jawab Andre.
“Tapi saat ini aku butuh kamu bantu aku jagain anak kamu,” celoteh Dian di seberang sana.
Entahlah, Andre begitu segan melihat bayinya, bayi laki-laki yang di lahirkan Dian, begitu malas jika dia berdekatan dengannya.
__ADS_1
Ada rasa ragu di hati Andre mengenai putranya itu. Tak ada kemiripan sedikit menurut Andre, hingga memberi nama pun dia segan, semua di serahkan pada Dian.
Saluran telepon pun dia matikan sepihak. Tapi tiba-tiba ada rasa ingin tahu lebih jauh mengenai bayinya. Otaknya berputar maka Andre memutuskan untuk tes DNA.
Keesokan harinya Andre datang, Dian meminta Andre untuk menjaganya sebentar, Dian akan ke mini market membeli kebutuhan bayinya.
Saat Dian pergi, Andre menggunting rambut dan kuku bayinya sebagai sample. Lalu dia menyimpannya di dalam dompetnya dengan tisu. Satu jam kemudian, Dian pun pulang. Dian ingin malam itu Andre berada di rumahnya, dengan berpura-pura malas, akhirnya Andre mengiyakan.
“Malam ini kamu tidur di sini kan? Ayolah, sudah berapa hari kamu gak di rumah,” kata Dian.
“Ya, aku tidur di sini,” sahut Andre.
Saat Dian sudah nyenyak dalam tidurnya, Andre mengambil beberapa helai rambut Dian, takut kalau diperlukan nanti, dan di simpan juga dengan tisu ke dalam dompetnya.
Saat sedang memasukkan ke dalam dompet, ada secarik kertas di dalam dompet, Andre pun membukanya.
Dia baca dengan pelan-pelan, kertas itu mengingatkannya pada Rika. Sontak saja rasa rindunya tak tertahankan. Malam itu juga dia beranjak ke rumah Rika.
Tengah malam Andre mendatangi rumah Rika, yang saat itu Rika belum tidur, karena baru saja pulang bekerja.
Rika pun kaget melihat kehadiran Andre. Dengan memohon, Andre berkata,
“Maapin papa Ma, tolong maapin aku. Aku janji akan ceraikan Dian.”
Akhirnya Rika membukakan pintu untuk Andre. Dan malam itu Andre pun bermalam di rumah Rika.
Keesokan harinya, Beni, Iyan dan Ando datang. Mereka pun terkejut melihat keberadaan Andre pagi itu.
“Tolong Bang, jangan ganggu keluarga gue lagi, gue pengen hidup damai,” kata Andre pada Beni, Iyan dan Ando.
Mereka memandang ke arah Rika. Rika pun berkata, “Udah, biarin aja kalo dia mau pulang, ini kan rumahnya juga.”
Beni mengangkat tangan. “Kalo gitu, jangan kau libatkan kita juga ya Rik, persoalannya sekarang ada di lo, kita gak bakal itu campur lagi.”
Akhirnya Beni, Iyan dan Ando pulang. Mereka menuju rumah Iyan. Dalam perjalanan menuju rumah Iyan, Beni berucap, “Secepat itu hati Rika berubah, gila!”
“Sabarlah, kita liatin aja dari jauh, kita tetap pantau ke adaan Rika, gimana pun Rika adik kita, bersikaplah seolah-olah kita mengabaikannya,” sahut Iyan.
Andre berkata pada Rika, “Kita mulai lagi ya Ma dari nol, kita bangun kembali tangga kita yang sudah hancur ini.”
Rika pun tersenyum, dan menerima Andre kembali.
Tiba-tiba ponsel Andre berbunyi, tetapi Andre saat itu mengabaikan. Berkali-kali ponsel itu kembali berbunyi.
Dengan kesal, Andre mematikan ponselnya, hingga tak ada lagi dering dari ponselnya.
__ADS_1