Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Mbok Yem hanya bisa diam.


__ADS_3

“Dre, lihat deh sini, bagus gak?”


Tanya mama Lina mengeluarkan cincin yang berada di dalam tasnya.


“Coba liat Ma,”


pinta Andre.


Mama Lina pun memperlihatkan cincin yang tadi siang di ambil oleh mbok Yem dari toko emas yang kemarin di pesan mama Lina.


“Bagus Ma,”


kata Andre.


“Siapa dulu dong yang milihin, mama gitu loh,”


kata mama Lina.


Andre pun memeluk mamanya sambil berkata,


“Makasih ya Ma, udah pilihin cincin buat Rika yang bagus.”


Melihat itu semua, mbok Yem hanya terdiam. Padahal mbok Yem tahu persis berapa harga cincin tersebut.


Ya, tadi pagi, saat mbok Yem hendak ke pasar seperti biasanya, mama Lina memerintahkan mbok Yem untuk mengambil pesanannya pada toko emas yang kemarin mereka kunjungi.


Dengan membawa uang sisa pembayaran kemarin, mbok Yem bertambah yakin, bahwa harga cincin itu tidak mahal, bahkan bisa di bilang sangat murah untuk acara lamaran.


Mbok Yem di berikan uang sebanyak tujuh puluh lima ribu, untuk menebus cincin itu, dan di tambah dua puluh ribu sebagai ongkos sepuhannya.


Saat itu, Andre terlihat sangat senang dengan cincin pilihan mama Lina.


Mama Lina menyuruh Andre untuk menyimpannya dengan hati-hati.


“Simpan baik-baik ya Dre, jangan sampai hilang,”


kata mama Lina.


Andre pun mengangguk, dan beranjak pergi ke kamarnya untuk menyimpannya.


Mbok Yem pun kembali ke dapur setelah membereskan ruangan itu tanpa berkata apa-apa.


Tiba-tiba Andre kembali lagi ke ruangan itu untuk menemui mama Lina.


“Ma? “


Panggil Andre.


“ Apa lagi?”


tanya mama Lina, sambil mendongakkan kepalanya yang sedari awal sedang membaca sesuatu di ponselnya.


“Trus kapan rencananya kita ke rumah Rika? Ehmmm, maksud Andre, kapan rencana mama mau ngelamar Rika buat Andre?”


Tanya Andre dengan nada malu-malu.


Mama Lina menarik napas panjang, dan membenarkan duduknya. Tetapi ponselnya masih di genggamnya.


“Mama juga bingung Dre, saat ini mama masih sibuk, mama lagi mau kontrak di dep store, jadi masih belum ada waktu, tapi kalo kamu mau cepet, ya udah, kita bisa dateng hari minggu, gimana? Paling kita aja bertiga, atau berempat ajak Diki,”


kata mama Lina, memberi penjelasan pada Andre.


“Kita aja Ma, gak ajak nenek atau sodara yang lain?”


Tanya Andre.


“Gak usah lah, bikin simple aja Dre, yang penting kan lamarannya. Lagian kondisi papa kamu kan belum sembuh, gak apa-apa kali, keluarganya Rika juga bakal ngerti,”


jawab mama Lina.


Andre pun menarik nafas panjang. Sepertinya tidak akan terjadi apa yang dia inginkan.


Acara lamaran yang meriah, keluarga besar kedua belah pihak hadir dan menyaksikan.


Itulah bayangan Andre tentang hari pertunangannya bersama Rika.


Mendengar keterangan dari sang mama, Andre pun pasrah saja, dan mengikuti apa yang mama Lina katakan.


###########


Malam itu tepat pukul 7.00. Suasana club malam di mana Rika bekerja sangat ramai.


Bukan hanya di lantai dasar, tetapi di lantai atas pun ramai.


Sebab lantai atas yang berfungsi sebagai Diskotek saat itu sedang mengadakan acara ulang tahun.


Seorang wanita muda dan pria setengah tua yang pernah datang dalam keadaan mabuk, mereka yang menyewa lantai iitu, untuk merayakan hari ulang tahun sang wanita muda, maka pria setengah tua yang sebagai kekasihnya membuatkan pesta.


Di bantu oleh manajemen club, acara tersebut sangat meriah, dan sang wanita itu pun sangat senang.


Begitu pun di lantai bawah, yang berfungsi sebagai restoran.


Saat itu ruangan tersebut ssdang mengadakan acara temu kangen alias reuni.


Para pengunjung pun yang datang sangat ramai. Rata-rata mereka yang datang sudah berumur, layaknya para opa dan para oma.


Mereka datang ada yang berpasangan, ada pula yang datang sepertinya di antar dengan cucunya, ada juga yang datang beramai-ramai.


Mereka berbincang-bincang, bernyanyi dengan saut-sautan, bahkan mereka saling tertawa.


Pihak dari manajemen club pun membantu acara tersebut, hingga berjalan lancar.


Dari segi dekorasi, sampai ke menu penutup, semua di sesuaikan, hingga mereka merasa senang, dan puas atas segala pelayanan yang di berikan club.


Rika dan Vivi pun ikut turun membantu para waiters. Mereka ikut membantu melayani para tamu.


Ada beberapa tamu laki-laki tua yang merasa puas akan pelayanan, maka mereka pun tak segan memberikan tip kepada pada waiters.


“Apa ada lagi Opa, yang di perlukan?”


tanya Rika pada seorang tamu dengan nada sedikit berteriak, dan tubuh Rika pun sambil membungkuk mendekat pada telinga tamu itu.


Sengaja suara Rika lebih besar, karena terbentur dengan suara musik di panggung.


“Saya ingin di ambilkan air putih, tenggorokan saya sudah sangat kering, sebenarnya saya sudah tidak boleh meminum soda, tapi di sini, saya tidak mampu menolak,”


Kata tamu itu.


Mendengar perkataan tamu itu, Rika pun tersenyum dan mengangguk.


Rika kembali bertanya pada para tamu yang duduk di table itu,


“Halo opa-opa dan oma-oma, apa ada lagi yang ingin air putih? Biar nanti sekalian saya ambilkan.”


Beberapa opa dan oma mengangkat tangan mereka. Di antara mereka pun berkata,


“Ambilkan saja beberapa botol minuman air mineral, sepertinya kita semua memerlukannya.”


Mendengar perkataan opa itu, yang lainnya pun tertawa.


Ada seorang oma pun ikut berkata,


“Mangkanya jangan selalu merasa muda, sadar diri lah, kita ini sudah tua, yang di perlukan adalah air putih, bukan air soda, ha ha ha.”

__ADS_1


Rika dan Vivi ikut tertawa mendengarnya.


Rika pun segera bergegas mengambilkan air putih untuk mereka di bagian bar tender.


Ketika Rika sedang berada di area bar tender, Rika melihat Ricard dan beberapa pria yang sedang bersamanya di ruang sebelah, yaitu ruang biliard.


Mereka asyik bermain di temani para nona.


Rika pun bergegas kembali ke table di mana para opa dan para oma di layani oleh mereka.


Dengan membawa tray yang berisi beberapa botol air mineral, Rika melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati.


Rika pun melewati para tamu yang sedang berdansa, dan akhirnya sampai juga pada table yang di tuju.


Rika menaruh botol-botol itu di atas meja.


Para oma dan para opa pun mengambilnya satu persatu.


Setelah mereka mengambilnya, ternyata masih saja kurang. Ada beberapa opa dan oma yang tidak kebagian.


Mereka pun meminta Rika agar mengambilkan untuk mereka.


“Hai nona, bisakah kamu mengambilkan kembali air buat kami? Kami belum mendapatkannya!”


Teriak seorang opa pada Rika.


Rika pun tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya, memandang wajah seorang opa.


Senang hati Rika melayani dan memanjakan mereka dengan segala servis. Terlihat di wajah mereka pun rasa senang atas perlakukan Rika dan Vivi.


Ketika Rika membalikkan tubuhnya hendak melangkah ke arah bar tender, matanya tertuju pada sedang pria yang sedang menggandeng seorang nona.


Pria yang di lihat Rika tidak lain adalah Ricard. Entah apa yang Ricard lakukan, tapi sepertinya pemandangan itu sungguh tidak mengenakkan bagi Rika.


Mereka berjalan menuju bar tender, sementara Rika pun akan mengarah pada tempat yang sama.


Ricard dan nona itu duduk di kursi putar. Tidak lama kemudian Rika pun sampai di sana, untuk mengambil air mineral.


Rika berdiri di samping Ricard, maka Ricard pun terkejut melihat kehadiran Rika.


Segera Ricard melepaskan tangannya dari bahu nona.


“Hai Rika, kamu sedang apa?”


Tanya Ricard.


Rika mencium aroma yang tak sedap dari mulut Ricard.


“Mau ngambil minum buat tamu,”


Jawab Rika dengan suara datar.


Sebenarnya Rika enggan berbicara dengan Ricard, saat dia sedang bekerja. Apa lagi keadaan Ricard terlihat sedikit kacau.


Rika pun kembali ke area di mana awalnya Rika sedang melayani para opa dan para oma.


Terlihat Vivi pun masih sibuk bergantian dari table satu ke table yang lain.


Sementara Rika kembali ke meja kasir dan menghempaskan tubuhnya di kursi.


Terbayang kembali di ingatan Rika saat melihat Ricard menggandeng seorang nona sambil tertawa di area bar tender.


“Kok gue ngerasa muak ya ngeliat Ricard kaya gitu? Sumpah, gue gak suka ngeliatnya, kaya bukan dia,”


Pikir Rika dalam hati.


Waktu pun terus berjalan, dan alunan musik pun menjadi sendu.


Melihat para tamu saat itu yang sudah manula, saat mereka bertemu dengan teman-teman mereka di masa lalu, tiba-tiba Rika teringat oleh ke dua orang tuanya yang berada di kota Lampung.


Bagaimana keadaan mereka saat ini, apakah mereka merasakan kebahagiaan juga seperti para tamu saat ini yang Rika saksikan? Hati Rika pun menjadi sedih, mengingat perjuangan mereka membesarkan anak-anaknya dalam keadaan seadanya.


Apa lagi saat ini, mereka pun hidup seadanya, hanya berharap dari kiriman anak-anaknya yang tinggal di kota besar, yaitu Jakarta.


Sangat berbeda sekali Rika melihat para opa dan para oma saat ini, mereka sepertinya tidak di pusingkan dengan masalah ekonomi, mereka hidup dengan segala kemewahan.


Waktu pun semakin larut. Lantai dasar sudah mulai senggang, karena para tamu sebagian sudah pulang.


Ternyata, lantai atas pun sudah mulai lengang juga, karena sebagian tamu pun sudah meninggalkan acara tersebut.


Seorang opa menghampirinya ke meja kasir, dan bertanya,


“Halo nona, kamukah pelayan yang mengambilkan saya air mineral tadi saat acara berlangsung?”


Rika pun segera mengingat-ingat. Kemudian Rika pun tersenyum dan berkata,


“Yang opa hilang, sebenarnya saya sudah tidak meminum soda bukan?”


Sang opa pun tertawa, sampai menunjukkan gusinya yang tanpa di tumbuhi gigi.


“Ha ha ha, iya benar, nona. Jika istri saya tau, saat ini saya meminum soda, dia akan marah dan memaki saya,”


Kata sang opa itu pada Rika.


Rika pun ikut tertawa, dan kemudian kembali berkata pada sang opa tadi,


“Awas, penyakitmu akan kambuh, ha ha ha, benar gak, opa?"


Sang opa pun kembali tertawa, bahkan lebih terbahak-bahak.


“Benar sekali nona, dia pun bukan hanya marah, tetapi akan memaki saya, hingga saya akan di di usirnya dari kamar tidur, ha ha ha,”


Kata sang opa pada Rika.


Sang opa pun kembali berkata,


“Ini untukmu, nona. Tolong di terima, sebagai hadiah bahwa kamu telah membuat saya bahagia."


“Saya terima ya Tuan, terima kasih,”


kata Rika.


“Oh ya, saya akan melunasi pembayaran acara ini, bagaimana caranya?"


Tanya sang opa pada Rika.


Rika pun tersenyum, dan menuntun sang opa agar menunggu dan duduk di kursi.


“Tunggu sebentar ya Tuan, akan saya panggilkan kasir senior,”


kata Rika.


Rika pun meninggalkan sang opa dan mencari Vivi.


Rika kembali ke meja kasir dan menghubungi area bar tender dengan iPhone yang tertempel di dinding.


“Kak Boy, liat kak Vivi gak?”


Tanya Rika pada Boy.


Boy adalah seorang karyawan yang memegang area bar tender restoran.


“Di sini gak ada, mungkin di belakang kali, coba deh lo hubungin ke bagian belakang,”

__ADS_1


jawab Boy.


Rika pun mencoba menghubungi bagian belakang, yang tak lain adalah ruang kichen. Ternyata di situ pun Vivi tidak ada.


Rika pun mencoba mencari Vivi ke ruangan biliard. Ternyata Vivi ada d situ dan sedang berbicara dengan Ricard.


Mau tidak mau, Rika menghampiri mereka yang sedang berbincang.


“Kak, maaf, pemilik acara ingin membayar semua tagihan, dia nunggu kak,”


kata Rika pada Vivi.


Vivi pun menoleh ke arah Rika. Wajah Vivi menunjukkan rasa tidak suka pada Rika.


“Ehm aduuuh, bisa gak sih lo gak ganggu gue, lo kan bisa nanganinnya,”


kata Vivi.


“Tapi kak, aku kan gak ngerti, aku belum pernah ngerjain ini sebelumnya, lagian kan di awal yang megang acara ini kan kak Vivi,”


Vivi pun menarik tangan Rika dan menjauh dari Ricard.


Vivi berbisik pada Rika,


“Bisa ga sih lo urus dulu, gue lagi ngobrol dulu sama ni orang.”


“Aduh kak, tapi aku gak bisa, aku belum ngerti,”


kata Rika.


“Ya udah lo ajak aja ke ruang manager langsung, biar dia yang urus,”


kata Vivi.


Vivi pun kembali mendekati Ricard dan melanjutkan kembali perbincangan mereka yang terputus.


Melihat sikap ke duanya, Rika pun meninggalkan mereka, dan kembali ke meja kasir.


Setelah mengambil beberapa berkas, Rika pun mendekati sang opa yang sedang menunggunya dengan sabar.


Rika sudah mengetahuinya, bahwa pak manager pun saat itu sudah pulang lebih awal, karena waktu saat itu telah menunjukkan pukul 2.30 menit.


Mau atau tidak, Rika semampunya melayani sang opa, dan bagusnya saat itu sang opa membayar pelunasan acara dengan debit.


Tidak lama kemudian, transaksi pun selesai. Dan sang opa meninggalkan club itu.


Rika pun merasa lega, karena sudah menjalani tugasnya sebagai kasir, walau sebenarnya dia belum pernah melayani pembayaran saat acara besar.


Club pun segera tutup. Dan para karyawan pun bersiap-siap hendak pulang.


Seperti biasa, Erna mendatangi lantai dasar untuk mengajak Rika pulang bersama.


Tapi saat itu, sikap Rika menunjukkan tidak bersahabat.


“Kenapa lo Nek, cape?”


Tanya Erna.


“Cape sih pasti, tapi gue sebel, gue gak mau ah pulang di anter Ricard,”


jawab Rika sambil menggerutu.


“Kenapa mang?”


Tanya Erna penasaran.


“Tadi pas acara, di bar tender gue deketan sama Ricard, trus mulutnya bau banget, gak mau ah gue di anter pulang ma dia, ngeriiiii,”


kata Rika berbisik.


Mendengar perkataan Rika, Erna pun berpikir.


“Apa dia mabuk?”


Tanya Erna.


“Iya lah. Gerak geriknya pun gue gak suka. Malahan nempel mulu ama nona, ih males banget deh gue,”


jawab Rika.


“Ya udah, kita pulang pake mobil karyawan aja, gimana?”


Tanya Erna.


“Kita naik taksi aja deh, biar cepet. Kan bisa patungan, bisa jam 7 pagi sampenya kalo kita nebeng mobil karyawan,”


jawab Rika.


Erna pun setuju dengan gagasan Rika.


Akhirnya mereka pun bersembunyi di saat waktu pulang.


Seperti biasa, Ricard menunggu Rika dan Erna, tetapi dia tidak menemukannya, hingga semua karyawan pulang dan area club pun sepi.


“Whats wrong?”


Tanya Ricard dalam hati.


Akhirnya Ricard pun meninggalkan tempat itu dengan membawa kendaraannya.


Saat sedang menyetir, Ricard menghubungi Rika lewat ponselnya, tetapi nomor tersebut sedang tidak aktif.


Ricard pun mencoba menghubungi Erna, tetapi tidak di terima oleh Erna.


“ke mana mereka? Apa mereka sudah pulang lebih dulu?”


Gumamnya dalam hati.


“Ah, sudahlah. Kalau ini bukan tugas negara, aku malas mengerjakannya, lebih baik aku pulang dan tidur,”


gerutunya dalam hati.


Ricard pun mengarahkan mobilnya ke arah apartemennya.


Di lain tempat, Rika dan Erna sudah sampai di rumah masing-masing.


Rika merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rika telah mengunci pintu depannya hingga dua kali.


Di luar sana, seperti ada yang mencurigai. Karena tidak seperti biasanya, ada tukang sate yang mangkal di depan rumahnya hingga waktu subuh masuk.


Rika tidak ingin kejadian dengan Hilal terulang kembali.


Rika melihat ke luar rumahnya dari balik jendela. Sosok tukang sate yang berbadan tegap, sering kali pandangannya mengarah ke rumahnya.


Rika menjadi merasa curiga, takut jika orang itu adalah orang suruhan mama Lina.


Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi, tanda ada sebuah pesan yang masuk.


Di bukanya pesan tersebut, ternyata dari kekasihnya, Andre.


“Hai sweety, pasti cape ya pulang kerja. Kira-kira kapan kamu libur? Nanti bikin jadwal ya, beri tau aku yach.”


Setelah membaca pesan dari Andre, Rika pun meletakkan ponselnya, dan tanpa sengaja, Rika pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2