
Sore itu sengaja Andre meminta izin pada Pak Narto manajer klub untuk pulang lebih cepat, dengan alasan ada urusan keluarga.
Andre pun mengetuk pintu ruang Pak Narto kemudian Pak Narto mempersilakan Andre untuk masuk.
“ Iya Ndre, ada apa?” tanya Pak Narto.
“ Saya izin pulang cepat ya pak, ada urusan keluarga,” jawab Andre.
“ Urusan keluarga? Memangnya kamu sudah berkeluarga?” tanya Pak Narto dengan meledek.
Andre pun tersenyum kemudian berkata,
“ Berkeluarga sih belum pak, tapi menjelang.”
Pak Narto pun memberi izin pada Andri dengan memberikan surat jalan keluar. Andre pun menerima surat itu kemudian ia berucap,
“ Trima kasih ya Pak.”
“ ya Ndre sama-sama, jangan lupa salam buat Rika,” kata Pak Narto.
Mendengar perkataan Pak Narto Andre pun terheran mimiknya pun berubah.
“ Loh kok Bapak tahu kalau saya ada urusan sama Rika?”
“ Ya jelas tahu, kan kamu sendiri tadi yang bilang, kalau kamu MENJELANG,” sahut Pak Narto.
Sejenak Mereka pun tertawa bersama.
Andre pun keluar dari ruang kerja Pak Narto, kemudian turun ke lantai bawah.
Setelah sampai lantai bawah Andre menuju loker karyawan di sana ia pun mengganti pakaian seragamnya.
Saat itu Tommy melihat Andre mengganti pakaiannya . Tommy merasa heran, lalu bertanya,
“ Andre Lo mau ke mana?”
“ Gue mau pacaran dulu,” jawab Andre dengan singkat.
“ Ih Anjir! Enak banget lo pacaran di jam kerja, pakai pelet apa lo bisa naklukin hatinya Pak Narto? Kasih tahu gue Ndre please,”
Minta Tommy.
“ Ah kepo lo!”
Andre pun meninggalkan Tommy di loker karyawan. Kemudian ia keluar menuju Jalan Raya.
“ Sialan! Enak banget tuh Andre pacaran di jam kerja! Atau jangan-jangan dia merencanakan sesuatu ya, sampai Pak Narto ngasih izin,”
celotehnya dalam hati.
Di luar sana Andrs menyeberangi jalan. Ia melewati jalan yang berlawanan dengan Klub tempat kerjanya. Saat itu Andre menunggu angkutan umum.
Tidak lama kemudian angkutan umum yang ditunggunya pun tiba, Andre pun naik ke dalamnya.
Perasaan Andre saat itu bercampur Baur, ada rasa senang, galau, tegang dan Entahlah apalagi rasanya. Mengingat hari itu ia akan bertemu dengan Ian calon kakak iparnya.
Saat itu pun Andre menyusun kata-kata untuk pembuka pembicaraan. Sampai akhirnya dia pun terlewat pada tempat yang seharusnya Ia turun.
Karena tempat yang seharusnya dia turun terlewati maka dengan terpaksa Andri harus berjalan kaki lebih jauh lagi.
Melewati kejadian itu, Andre pun tersenyum sendiri. Ia merasa tegang atas pertemuan ini yang akan ia hadapi sendiri.
Sesampainya Andre di rumah Rika, ternyata Iyan telah menunggunya lebih awal. Andre pun merasa bersalah dan salah tingkah.
Rika pun menyambut kedatangan Andre lalu bertanya,
“ Kok baru datang Ndre?”
“ Iya maaf, hari ini aku tetap kerja,tapi izin pulang cepet. Oh ya kamu dapat salam dari Pak Narto,”
jawab Andre.
Rika pun mengajak Andre masuk ke dalam Sedangkan di dalam sudah ada Iyan Beni dan Ando.
Andre pun tambah gemetaran melihat keluarga Rika telah menunggunya.
“ Mampus deh gue,” gumamnya dalam hati.
Iyan pun menyuruh Andri duduk kemudian Rika menyediakan minum untuk Andre.
Seketika suasana menjadi tegang ketika Iyan menanyakan ini dan itu pada Andre.
Benny pun ikut menanyakan sesuatu perihal mengenai rencana perkawinan Andre dan Rika. Setiap pertanyaan dari Ian dan Beni Andri menjawabnya dengan gugup.
Itulah yang membuat Beni senang. Sengaja Beni melontarkan berbagai Pertanyaan pada Andre, sedangkan Beni pandai mempermainkan perasaan Andre.
Akhirnya pada percakapan itu melahirkan sebuah keputusan di mana Andre harus ke Lampung untuk menghadap Mami dan Papinya Rika.
Andre pun menghela nafas dalam-dalam. Keringat jagung mulai bercucuran. Akhirnya Iyan pun melihat gelagat itu.
__ADS_1
Untuk menghilangkan ketegangan Andre Ian pun mengambilkan selembar tisu.
“ nih Ndre lap dulu tuh keringatnya,” kata Iyan.
Sontak saja Rika dan Beni tertawa terbahak-bahak.
Andre pun tersenyum, tetapi dalam hatinya berkata,
“Sialan ya gue dikerjain, lihat aja nanti!”
“ Udah Ndre jangan dibawa tegang, pokoknya intinya kamu harus menemui Mami dan Papi kami,” kata Iyan.
“ Iya Bang. Nanti saya ke sana, tapi sebelumnya saya ngomong ke mama dulu ya,” sahut Andre.
“ Oh iya dong, justru sebelum berangkat, kamu minta restu dari dia, agar perjalanan berangkat dan pulangnya lancar,” kata Iyan.
Sontak saja wajah Rika memerah. Iyan pun melihat perubahan wajah adiknya seketika itu, tapi ia tidak dapat menerkanya.
“Kamu kenapa Ka, kok tiba- tiba wajahmu pucat?” tanya Iyan.
“Nggak apa-apa bang,” kata Rika.
“ Gue kenapa sih, setiap denger nama emaknya, Kenapa jadi begini guenya? Ya Allah kuatkan aku!”
gumamnya dalam hati.
Untuk menghindari segala pertanyaan kembali dari Iyan, Rika pun menghindari mereka dengan alasan untuk membuatkan minuman kembali.
Rika berdiri dan beranjak melangkah menuju ruang dapur. Tetapi sebelumnya Beni bertanya,
“ Mau ke mana kau Rik? “
“ Mau bikin minum lagi itu kan habis,”
sahut Rika.
Rika pun melanjutkan langkahnya menuju ruang dapur. Rika kembali membuat minum untuk mereka. Tetapi telinganya tetap fokus mendengarkan pembicaraan yang sedang mereka lakukan.
Sengaja Rika berlama-lama di dapur. Rika harus menjaga perasaan Andre. Agar Andre tidak grogi ketika Iyan dan Beni bertanya-tanya.
Reka pun juga harus menjaga perasaannya agar tidak menjadi gundah Gulana ketika mendengar nama mama Lina. Karena tadi yang sudah melihat perubahan sikapnya.
Rika tidak ingin keluarga besarnya tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Dan juga Rika tidak mau bahwa Andre mengetahui segalanya.
Ketika Rika merasa sudah terlalu lama di dapur, Rika pun beranjak melangkah menuju ruang depan.
Akhirnya keputusan bulat mereka dapatkan. Yaitu Andre dan Rika bersama Iyan akan berangkat ke Lampung untuk menemui Mami dan Papinya.
Iyan melihat keadaan Andre, sepertinya Andre merasa tegang. Jadi Ian memutuskan untuk berpindah tempat ke depan.
Iyan mengajak Beni untuk duduk di depan teras. Sengaja Iyan mengajak Beni agar Andre dan Rika sedikit santai.
“ Ben kita duduk di depan yuk, pembicaraan kita kan sudah selesai,”
ajak Iyan pada Beni.
Benny pun berdiri mengikuti langkah Iyan menuju teras depan.
“ Kalian ngobrol-ngobrol deh berdua, mungkin ada yang kalian mau omongin berdua,”
kata Beni pada Andre dan Rika.
“ Baik bang,”
jawab Andre dengan singkat.
Rika pun kembali duduk berhadapan dengan Andre. Sedangkan Iyan dan Beni duduk di depan teras.
Mereka melihat perubahan sikap Anda yang tegang. Lalu Rika mengolok-olok Andre.
“ Tegang banget sih lo Ndry,”
kata Rika Sambil tertawa.
“ Ih siapa yang tegang,”
sahut Andre dengan singkat.
“ Itu keringat jagungmu keluar, dan mukamu pucat pasti tau,”
kata Rika, sambil menunjuk ke arah dahi Andre.
Andre pun tersenyum lalu berkata,
“ Ya tegang lah, kan kita lagi bicarakan masa depan kita,”
sahut Andre sambil tersenyum.
“ Kira-kira Kapan kita ke Lampung? Udah nggak sabar lagi soalnya aku kangen sama mami dan Papi,” kata Rika.
__ADS_1
“ yah mudah-mudahan Mama ngizinin secepatnya, kalau bisa sih sekalian ngasih ongkos. Kira-kira Berapa ongkos kita berangkat ke sana dengan hitungan 3 orang? Dan ke sana kita naik apa?”
tanya Andre.
Hitung-hitungannya nanti deh pokoknya kita dari sini naik mobil travel aja. Nanti travelnya yang naik kapal feri kita tinggal duduk aja,”
jelas Rika.
“ Yah mudah-mudahan aja Mama juga ngasih ongkos buat kita ya,”
kata Andre.
“ Hahaha, Mana mungkin emak lo mau ngasih ongkos buat kita pergi mustahil banget deh,”
gumam Rika dalam hati.
Saat Rika terdiam Andri melihat seperti Rika mengatakan sesuatu.
Akhirnya Andre bertanya untuk mempertegas pendengarannya.
“ Kamu ngomong apa barusan?”
Rika menjadi bingung . Apakah Andre mendengar suara hatinya?
“ Aku nggak ngomong apa-apa kuping kamu aja kali tuh yang konslet,”
jawab Rika Sambil tertawa.
“ tapi wajah kamu kayak lagi ngomong sesuatu,” jawab Andri memperjelas.
“ loh kok wajah? Yang bicara itu kan mulut, kenapa kamu melihat wajah? perasaan kamu aja kali Ndre,”
Kata Rika menutupi.
“ Iya kali ya Mungkin perasaan aku aja yang baperan,” sahut Andre.
Andai pun meminum teh yang telah disediakan oleh Rika. Dan memakan cemilan yang ada.
Rika pun bangkit, sambil membawa dua gelas minuman milik Iyan dan Beni.
Rika meletakkan dua gelas teh di atas teras. Iyan dan Beni pun menikmatinya sambil membakar rokok mereka.
Di ruang depan Andri mengeluarkan ponselnya. Ia hendak menghubungi Mama Lina.
Saat itu Rika melihatnya, lalu Rika bertanya, “ Kamu mau nelpon siapa Ndre?”
“ Aku mau nelpon mama dulu ya biar mama nyediain waktu untuk ngobrol sama aku,” jawab Andre.
Rika pun merasa heran dan bertanya dalam hatinya, “Sampai segitunya nyari Waktu emaknya, mereka kan tinggal serumah.”
Akhirnya sebelum Saluran telepon tersambung pada ponselnya mama Lina, Andre menjelaskan pada Rika.
“ Belakangan ini kita berdua jarang banget ketemu, mama lagi sibuk banget ngurusin bisnisnya, dia lagi ngembangin lagi nih bisnisnya,” kata Andre.
“ Oh begitu ya,” sahut Rika dengan singkat.
Saluran telepon pun tersambung.
“ Halo Ndre, ada apa?” tanya mama Lina di seberang sana.
“ Ma Andre mau ngomong,” minta Andre.
“ Ya udah ngomong aja,” jawab mama Lina.
“ Tapi nggak ditelepon mah, kapan Mama ada waktu? Andre mau ngomong panjang lebar nih,” tanya Andre.
“Nanti malam deh, mama juga kayaknya pulangnya nggak terlalu larut. Yang penting kamu belum tidur aja,” jawab mama Lina.
“ Ya udah, nanti Andre tunggu ya,” sahut Andre.
“Oke nak bye,” kata mama Lina, menyudahi pembicaraan mereka di Saluran telepon.
“ Siapa nyonya?” tanya Dian penasaran.
“ Eh maaf Nyonya, kalau saya kurang sopan menanyakan itu,” kata Dian kembali.
“ Ini anakku, Andre namanya. Dia akan menikah nanti, tapi belum tahu kapan, masih dalam perencanaan,”
jawab mama Lina.
“ Sepertinya banyak jalan untuk menuju Roma,” bisik Dian dalam hati.
“ Suatu saat nanti aku akan memperkenalkan Andre pada kamu Dian,” kata mama Lina sambil tersenyum.
“Kalau suatu saat nanti, apa tidak ada kata terlambat nyonya?” tanya Dian menggoda.
Ehm, jodoh tidak akan kemana Dian, camkan itu, ha ha ha,” kata mama Lina Sambil tertawa.
“ hahaha, sepertinya nyonya besar kita akan membuat rencana besar di balik ini semua,” kata Dian menimpali.
__ADS_1
“ Sepertinya, satu kali menyelam akan kudapatkan 1000 berlian,” bisiknya dalam hati.