Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Om Faisal wafat.


__ADS_3

Mama Lina beranjak dari duduknya. Ia membuka gerbang, dan alangkah terkejutnya melihat kedatangan Irfan, yang sudah sedari tadi berada si balik gerbang.


“Untuk apa kamu ke sini?” tanya mama Lina dengan marah.


“Saya mau ketemu Satria Ma, bagaimana pun Satria adalah anak kandung saya,” jawab Irfan dengan nada memelas.


“Apa katamu? Anak kandung? Kamu hanya ayah biologisnya, enggak lebih. Kalo mau ngasih jatah Satria, transfer aja, enggak usah dateng, bikin repot aja,” sahut mama Lina sambil menutup gerbang dengan membantingnya. Mama Lina langsung masuk ke dalam. Sementara, Irfan masih terdiam di luar.


Di ruang tengah ada Putri yang menjaga Satria beserta Lisa. Mereka menonton TV sambil menikmati cemilan.


Mama Lina bersiap-siap untuk keluar menemui Herman sesuai perintahnya.


“Put, Mama pergi dulu, jaga rumah ya. Mbok Yem, saya keluar dulu, mungkin pulang agak malam, tolong jaga bapak ya,” teriak mama Lina memerintah.


Dengan terburu-buru mama Lina melangkah menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya. Lalu mbok Yem mengikuti dari belakang untuk membukakan gerbang.


Sudah beberapa tahun ini semenjak om Faisal sakit, mama Lina lebih sering berada di rumah. Karena dia pikir, bisnisnya sudah ada yang mengurusnya, yaitu Herman dan Dian.


Mama Lina menyetir mobilnya menuju klub, di mana dia akan bertemu dengan Herman dan anak buahnya yang lain.


Saat memasuki klub, semua karyawan yang berada di lantai dasar menunduk, sebagai tanda hormat terhadap pemilik klub.


Penampilan mama Lina kini lebih terbuka dari biasanya, ia tidak menggunakan kacamata hitam lagi, tapi hanya menggunakan syal.


Mama Lina memasuki ruang meeting di antar salah satu pelayanan klub. Dan mama Lina duduk di kursi kebesarannya.


Beberapa anak buah mama Lina memberikan laporan di setiap klubnya. Setiap klub ada laporan keuangannya dan lain-lain.


Mama Lina tidak banyak bicara, hanya seperlunya saja.


“Herman, apa ada laporan dari Dian?” tanya mama Lina.


“Ehm, tidak Bu, mungkin dia akan berikan laporan langsung ke Ibu,” jawab Herman.


“Ya sudah, pertemuan kita cukup di sini dulu, jika ada hal-hal atau masalah, langsung telepon saya,”


jelas mama Lina pada seluruh anak buahnya.


Pukul 10.00 malam, mama Lina memandang jam yang bertengger di dinding. Lalu bergegas keluar dari ruangan meeting.


Sepeninggal mama Lina dari ruang meeting, sesaat ruangan berubah jadi gaduh. Mereka heran terhadap sikap bosnya, tidak biasanya sikapnya sedingin itu.


“Baguslah dia pulang cepat, itu lebih baik, agar dia fokus dengan keluarganya,” lirih Herman pelan, senyumnya terlihat sebelah.


Karena jalanan tidak macet, mama Lina cepat sampai rumah. Tak di sangka, Irfan ada di rumahnya. Putri pun kaget, ia tidak menyangka mamanya pulang lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


Irfan sedang menggendong Satria. Wajah Satria terlihat sangat senang.


“Turunkan cucuku, dan keluar dari rumahku!” bentak mama Lina.


Irfan pun terlihat pucat, ia langsung menurunkan Satria, lalu Putri mengambil alih untuk menggendongnya.


“Aku bilang, CEPAT KELUAR!!!” teriak mama Lina.


Irfan pun cepat keluar dari rumah itu dengan mengendarai motor sportnya. Lalu Satria menangis di pelukan Putri melihat papa biologisnya pergi dan melihat omanya memaki papanya.


“Oma jahat, Oma jahat,” teriak Satria sambil menangis.


Untuk menghindari amukan mama Lina, Putri pun membawa masuk Satria ke dalam kamar.


Di ruang tengah, mama Lina menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang. Sambil berteriak mama Lina berkata dengan makian,


“Jangan harap kamu bisa ketemu lagi dengan Irfan Put, munafik kamu!!!”


Di samping mama Lina tidak ingin Putri menikah dengan Irfan, di awal pun Putri mengatakan bahwa dia tidak mau menikah dengan Irfan, karena Irfan susah memiliki istri. Tapi kenyataannya, Putri masih ingin bertemu dengan Irfan, karena itu mama Lina sangat marah pada Putri.


Mbok Yem mendekatinya dan bertanya,


“Nyonya mau saya buatkan susu panas?”


Mbok Yem segera bergegas ke dapur untuk membuatkan susu panas kesuakaan mama Lina. Setelah membuatkan, mbok Yem menaruhnya di atas meja, lalu duduk di lantai dekat dengan mama Lina.


“Bok ya sabar sedikit Nyonya, jangan terlalu emosi, nanti tensinya naik,” kata mbok Yem mengingatkan.


“Istighfar, Nyonya,” kata mbok Yem kembali.


Mama Lina hanya terdiam, tapi ia tetap mendengarkan nasehat mbok Yem.


“Mau saya pijit Nya?” tanya mbok Yem.


Tapi tanpa menunggu jawaban, mbok Yem langsung mendekat, dan memijit bahu nyonyanya.


Malam pun telah larut. Setelah memijit, mama Lina menyuruh mbok Yem untuk tidur.


“Tidur sana Mbok, da malem, besok takut kesiangan. Oh ya, besok yang nganter Satria kamu aja ya mbok, Putri enggak usah keluar rumah,” perintah mama Lina.


“Baik, Nyonya,” jawab mbok Yem dengan singkat.


Mbok Yem meninggalkan mama Lina sendirian di ruang tengah.


Selang beberapa waktu, mama Lina hendak masuk ke dalam kamarnya, serasa melirik ke arah ruang sebelah, di mana suaminya bekerja dengan para karyawannya.

__ADS_1


Semenjak om Faisal sakit, produk pakaian yang dijalankan om Faisal terhenti. Kini ruangan itu hanya ada sisa barang-barang yang tidak terpakai, seperti beberapa mesin jahit, dan gulungan bahan.


Mama Lina menelan ludah yang terasa pahit, walau habis minum susu yang manis. Lalu ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Di pandangi suaminya yang sedang tertidur pulas.


Lalu ia merebahkan tubuhnya di samping suaminya. Pikirannya melayang entah ke mana. Lalu ia menghadap ke arah suaminya, kembali ia memandangi wajah suaminya, yang kini masih belum bisa bicara. Bahkan tubuhnya pun sebagian tidak dapat di gerakkan.


Entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba mama Lina bangkit dan duduk. Ia mengambil bantal yang baru saja ia pakai, lalu menutupnya ke arah suaminya.


Tak ada perlawanan sesaat, tapi ketika mama Lina menekan bantal itu, om Faisal bersuara, “EHM, EHM, EHM!!!”


Sudah 4 tahun semenjak om Faisal di rawat, dia tidak dapat bicara. Hingga kini, sampai nafas terakhirnya, sang istri mendengar suaranya. Dan ia tersenyum mendengarnya.


Sadis memang, tapi itulah yang terjadi. “Lebih baik kamu mati Pa, dari pada hidup cuman jadi bebanku,” gumamnya dalam hati.


Ia pun mengangkat bantalnya kembali dan tertidur di samping suaminya.


Beberapa jam kemudian, azan subuh pun berkumandang. Mbok Yem yang sudah dari tadi bangun sedang berwudhu hendak sholat subuh.


Setelah berwudhu, mbok Yem melaksanakan sholat. Di tengah sholatnya, ia mendengar nyonyanya berteriak-teriak. Tapi tanpa menghiraukan, mbok Yem tetap melanjutkan sholatnya. Dan setelah selesai, ia segera bergegas menuju kamar mama Lina.


Di rumah Rika, pada saat yang sama, Andre menyenggol cangkir yang terletak di atas meja. Anehnya, cangkir itu tidak berada di pinggir, melainkan di tengah. Tumpah sudah kopi yang baru saja ia buat.


Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Tapi Andre tidak segera mengangkatnya. Ia sedang membersihkan meja yang terkena tumpahan kopi.


Bergegas Rika membantunya untuk membersihkan meja dan beling. Karena Andre pikir ponselnya berbunyi adalah suara alarm, maka ia tidak mengetahui jika suara itu adalah suara sambungan telepon.


Beberapa kali ponselnya berbunyi, hingga mencuri perhatian Rika.


“Ih, alarm kok enggak berenti-berenti sih,” omelnya.


Rika pun melihat layar ponsel Andre, maka terlihatnya bahwa ada 10 panggilan tak terjawab dari Dicky.


“Ada apa Dicky jam segini nelpon?” tanyanya dalam hati.


“Pa, Dicky nelpon tuh, udah misscol ampe 10 kali,” kata Rika.


“Paling mao minta duit,” sahut Andre.


Karena hari itu adalah hari libur bagi mereka berdua, mereka pun kembali tidur setelah sholat subuh.


“Ma, aku tidur lagi ya, mumpung Kanza belum bangun,” kata Andre.


“Aku juga ah Pa, aku masih ngantuk banget,” sahut Rika.


Akhirnya mereka pun kembali tidur tanpa menghiraukan panggilan tak terjawab dari Dicky.

__ADS_1


__ADS_2