Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Erna sengaja menghindar.


__ADS_3

“Ada apa ini?”


Tanya seseorang di antara mereka yang hendak berangkat ke mesjid.


“tolong saya Pak, ini ada tukang sate yang mau nguntit saya,”


kata Rika sambil berlari ke arah dua orang tadi.


Tukang sate itu pun merasa bingung, dan berkata,


“Kenapa neng, kok takut ama saya?”


Tanya sang tukang sate.


“Kamu mau apa? Kenapa tiba-tiba nongol, trus di tanya malah diem aja!”


Kata Rika dengan suara meninggi.


“Emang abang mau apa?”


Tanya salah satu dari mereka berdua pada tukang sate.


“Ini, saya mau ngasih ini, pesanan dari pak Iyan. Katanya buat non Rika, karna saya biasa mangkal di sini ampe menjelang subuh, pak Iyan nyuruh saya nunggu, trus kasih ini ke non Rika,”


jawab sang tukang sate, sambil menunjukkan bungkus sate.


Mendengar penjelasan sang tukang sate, wajah Rika menjadi semu, ada rasa malu dalam hatinya, karena sudah berprasangka yang tidak baik.


Mata Rika yang bercampur kantuk itu segera menatap lekat pada wajah sang tukang sate, di lebarkan pandangannya, dan ternyata apa yang ia duga adalah kesalahan.


“he he, maapin ya bang, saya salah,”


kata Rika, sambil tangannya merampas bungkusan yang masih berada di tangan tukang sate tanpa izin.


Tukang sate itu pun tersenyum, dan berkata,


“Iya, gak apa-apa Neng, Neng mungkin cape pulang kerja, ngantuk juga kan? Jangan lupa di makan dulu ya satenya.”


“Iya Bang,”


jawab Rika dengan dengan singkat.


Sesaat kemudian, suara azan berkumandang. Segera kedua orang yang lewat tadi pamit untuk bergegas ke mesjid.


“Ya udahlah kalo begitu, lain kali jangan terlalu panik Neng, enggak baik nuduh orang,”


kata salah satu dari dua orang tadi.


“Iya Pak, maap,”


Sahut Rika.


Tukang sate pun berlalu dengan membawa gerobaknya, dan kedua orang yang lewat tadi pun meninggalkan Rika sendirian.


Dengan terburu-buru karena rasa malu dan was was, Rika pun bergegas masuk ke dalam rumahnya, dan menguncinya kembali.


Rika pun duduk dan melentangkan kedua kakinya serta menyandarkan tubuhnya ke dinding.


“Ya ampun, kok gue jadi parno banget ya, kenapa gue gak teliti banget sih liat mukanya? Ehm, mungkin emang bener apa kata tukang sate, gue lelah,”


gumamnya.

__ADS_1


Karena saat itu Rika sedang berhalangan, maka ia tidak melakukan Shalat subuh, dan makan terlebih dahulu sebelum tidur.


Rika menguap, tangan kirinya menutup mulutnya, dan tangan kanan membuka bungkusan sate.


“Ooaahhhm, ngantuk banget, males banget makan,tapi gue laper.”


Rika pun membuka bungkus sate dengan lebar, dan melahapnya dengan perlahan.


Baru saja dua tusuk sate yang ia makan beserta beberapa potong lontong, tiba-tiba matanya terasa berat dan sepat, serta tak sanggup Rika untuk membukanya.


Maka, tubuh Rika pun tergeletak di lantai yang beralaskan karpet tebal Karena sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya.


#######


Siang itu Erna terbangun dari tidurnya, dan matnya menatap ke atas langit-langit kamarnya.


Erna teringat dengan kejadian tadi, di saat waktu pulang kerja. Terbayang saat sahabatnya sedang menunggunya dengan sabar, sedangkan dirinya enggan untuk menemuinya.


Ada rasa bersalah dalam hatinya, sedangkan otaknya meronta-ronta, karena tidak menerima segala keputusan.


Jujur, hatinya pun juga demikian, karena banyak yang terpotong jumlah rupiah dari gajinya untuk menanggung biaya perawatan kekasih sahabatnya.


Dalam otaknya menolak jika hasil kerjanya di pangkas tanpa adanya pemberitahuan.


Sedangkan hatinya? hatinya merasa iba ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa sahabatnya menunggunya sampai keadaan sepi.


“Ya ampun, jahat banget ya gue, maapin gue Rika,”


gumamnya.


Kemudian otaknya pun berputar.


“Eh, enak aja gue yang minta maap. Lagian itu kan pacar lo, kenapa juga gue yang ikut nanggung! Aduuuuh, sial banget ya gue, kenapa juga gue kebawa-bawa,”


Erna bangkit dari tidurnya, dan duduk, saat itu posisinya masih di atas pembaringan.


Erna masih berpikir, apa yang harus ia lakukan terhadap sahabatnya.


Haruskah ia marah pada Rika atas keadaannya? Gajinya yang terpotong begitu saja, Sedangkan apa yang ia alami, Rkia pun merasakannya juga. Ya, pasti Rika pun mengalaminya juga.


“Aduuuuuh, pala gue pusing!”


Teriaknya.


Erna mendekati cermin yang berada di kamarnya, sambil memandangi wajahnya.


Ia pun berkata pada dirinya,


“Nasib lo sial banget sih Er, enggak sedikit loh gaji lo terpotong. Mangkanya jangan jadi lalat di antara mereka. Mereka enak pacaran dan mau nikah, sedangkan elo? Elo cuman jadi penonton kebahagiaan mereka. Liat aja, kesialan apa lagi yang bakal lo alami jika terus berteman ama Rika?”


Erna pun mengedipkan matanya berkali-kali. Terasa ada yang terganjal di sana. Kemudian dia menampar pelan pipinya.


“Ya ampun, gue kenapa sih, kok perasaan gue jadi begini? Aduuuh, kenapa otak dan hati gue enggak akur sih,”


kata Erna dengan dirinya sendiri.


Kemudian Erna mengambil handuk yang tergantung di samping lemarinya, dan melangkah keluar dari kamarnya.


Matanya memandang jam yang menempel di dinding. Waktu telah menunjukkan pukul 1.00 siang. Dan tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


Erna mengernyitkan dahinya sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


“Oh iya, hari ini gue libur, bagus dah. Jadi ada waktu buat gue mikir. Di mana pun Rika sahabat baik gue, dan gue harus bisa ngendaliin otak gue yang lagi kacau tiba-tiba,”


bisiknya dalam hati.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dan Erna pun menoleh ke arah meja. Erna mendekati meja itu, dan memandang layar ponselnya tanpa menyentuhnya.


Dia menghela nafas dalam-dalam, tapi dia mengabaikan panggilan dari ponselnya.


Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering, tapi ia tetap mengabaikannya, walau sempat ia melihat ke arah ponselnya.


Di seberang sana, Rika menghempaskan napasnya, kemudian di letakkan kembali ponselnya di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidurnya.


Sudah dua kali Rika berusaha menghubungi Erna, tapi tak berhasil. Hati Rika saat itu bercampur baur, serta rasa cemas terhadap Erna.


Bagaimana tidak? Tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba ada sekelebat petir yang menyambar. Seperti itulah perasaan Rika saat itu. Tanpa alasan, Erna menghilang.


“Entar lagi deh nelpon Erna, mungkin dia lagi tidur kali,”


katanya dalam hati, untuk menghibur perasaannya.


Tapi bagaimana pun juga, keadaan itu sangat mengganggu. Hati Rika gelisah, khawatir, bahkan ada perasaan bersalah.


Rika terkejut tatkala tiba-tiba pintu depan di ketuk dari luar. Jantung Rika berdegup kencang, dan suara pintu yang terketuk pun terdengar lagi.


Rika berjalan dengan perlahan mendekati jendela, dan hendak melihatnya. Tapi pintu itu terketuk lagi, dan membuat jantung Rika tambah berdebar.


Rika mengelus dadanya ketika tahu siapa yang datang, dan segera ia membuka pintu yang terkunci.


“Iiiih, kebiasaan banget sih enggak beri salam? Bikin orang takut aja,”


kata Rika pada Beni.


“Sorry-sorry, kebiasaan gua jangan di ikutin ya,”


kata Beni menganjurkan.


“Emang susah apa beri salam kalo masuk sini, kajian kan gue jadi tau siapa yang datang, jangan ngetok aja, dan ketokan lo itu bikin gus kaget, tau. Udah pakai ngetok pentungan ronda,”


suara Rika memaki.


“Gua takut lo tidur Ka, mangkanya gua ketok pintu lo keras-keras,”


kata Beni berkilah.


“Emang selamanya jam segini gue tidur? Enggak kan,”


sahut Rika yang masih lemas, menjadikan sikapnya emosi.


“Kok lo jadi kesel amat sih,”


tanya Beni yang merasa tersudut.


“Ya kesel aja, nih kalo lo gak percaya, pegang nih dada gue, debarnya kenceng banget, emang lo mau jantung gue lepas dari tempatnya? “


Sahut Rika, sambil meraih tangan Beni dan meletakkannya di sisi dadanya.


“Eh iya, kenceng banget degup jantung lo? Ya maap deh maap. Iya, gue janji kalo ke sini beri salam,”


jawab Beni, sambil mengacak rambut Rika.


Beni masuk ke dalam ruang dapur, dan mengambil sebuah piring. Di bukanya bungkusan yang dia bawa dari rumah.

__ADS_1


Rika menguntitnya dari belakang, karena rasa ingin tahunya, apa yang Beni bawa.


__ADS_2