Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Sampai di Lampung.


__ADS_3

Pagi itu cuaca sangat cerah angin laut berhembus kencang. Suasana di Kota Lampung tidak begitu ramai.


Berbeda dengan Kota Jakarta jam berapa pun suasana ramai jalanan padat merayap.


Pukul 08.00 pagi, tibalah Rika Andre dan Iyan di rumah orang tua Rika. Papi dan mami Rika telah menunggu di depan rumah.


Mereka menyambut kedatangan Andre dengan senyuman yang semringah. Nyai telah menyiapkan makanan ringan untuk sarapan.


Andre pun menyalami Papi dan mami.


“ Assalamualaikum,” sapa Andre.


“ Waalaikumsalam,” jawab mereka.


Papi mempersilahkan Andre masuk. kemudian Andre duduk di ruang tamu ditemani Iyan. Sedangkan Rika masuk ke dalam rumah membawa tas Andre dan Iyan.


“ Bagaimana perjalanannya Andre, apa melelahkan?” tanya Papi.


“Andre nggak lelah sih Om, kan Andre tidur di mobil, he he he,” jawab Andre.


“Ya udah, kalian istirahat dulu sana, setelah sarapan. Mami udah rapiin kamarnya. Yan, ajak Andre sana,”


perintah Nyai.


“ Iya Mi,” kata Iyan.


Iyan dan Andre pun menikmati sarapan yang telah disediakan oleh Nyai. Di sela-sela saat menikmati sarapan mereka Ian berbisik pada Andre,


“Obrolan seriusnya Nanti aja Ndre, saat makan siang atau malam, baru kita ngobrol serius, oke?”


kata Iyan menganjurkan.


Andre pun tersenyum dan mengangguk. Lalu kemudian Ian pun kembali berkata,


“ Santai aja Ndre nggak usah gugup ya, mereka kan calon mertua kamu, berarti mereka akan jadi orang tuamu juga nanti,” sahut Iyan.


Sedikit lega hati Andre mendengar perkataan Iyan. Dari awal Andre berangkat, naik kendaraan, sampai saat ini, sebenarnya hati Andre itu gundah Gulana, bercampur Baur, entah Seperti apa jika digambarkan, mungkin pantasnya seperti gambar Benang Kusut.


Yang lebih sulit lagi dalam keadaan seperti itu Andre berusaha untuk tetap tenang setenang-tenangnya seperti genangan air di sungai.


Ketegangan Andre terbaca oleh Iyan. Apa yang Andre rasakan saat ini Iyan pernah merasakannya juga. Karena itu yang berusaha membuat hati Andre bisa lebih tenang.


Setelah sarapan, Iyan mengajak Andre untuk beristirahat di kamar yang sudah Nyai siapkan.


Andre pun mengikuti langkah Iyan ke dalam rumah. Lalu Iyan menyuruh Andre untuk masuk ke kamar dan Iyan pun meninggalkan Andre sendirian.


Rika hanya terdiam melihat Andre beristirahat di dalam kamar. Hati Rika senang melihat Iyan memperlakukan Andre sebaik-baiknya.

__ADS_1


Rika terus menikmati sarapannya di ruang tengah. Sengaja Rika memisahkan diri agar Andre tidak merasa canggung.


Dan setelah sarapan, Rika hanya membersihkan meja dan menumpuk piring-piring kotor. Karena rasa lelah, dia hanya menumpuki dan menaruhnya di dapur.


Nyai pun mengerti dengan sikap Rika. Nyai mamaklumi karena betapa lelahnya perjalanan dari Jakarta ke Lampung.


Setelah menumpuki piring-piring kotor di dapur, Rika mencuci tangannya lalu bergegas ke kamar sebelah untuk beristirahat.


Beberapa jam kemudian tibalah sore hari. Nyai Menyiapkan makan malam untuk keluarga dibantu dengan Rika dan Iyan. Sedangkan Andre masih berada di dalam kamar.


Tidak lama kemudian keluarga Rika yang lainnya pun datang. Mereka ingin mengenal Andre lebih dekat karena selama ini mereka hanya mendengar lewat cerita Nyai dan Papi.


Keluarga yang lainnya antara lain adik-adik Papi dan adik-adik Nyai, mereka orang-orang tua yang hampir sepuh juga.


Nyai menyediakan makan malam lesehan. sengaja Nyai membuatnya di lantai karena yang akan hadir makan malam saat itu Keluarga besar Rika yang berada di Lampung.


Ketika semuanya sudah hadir Iyan memanggil Andre yang masih berada di kamar.


“ Andre come on, kita makan malam,”


ajak Iyan.


Sontak saja Andre gemetaran. Keningnya basah dengan keringat tangannya pun basah.


Saat Iyan mengajak Andre untuk keluar dari kamar, Andre hanya tersenyum kecut. Tapi Iyan tahu apa yang Andre rasakan. Kemudian Iyan menepuk bahu Andre dan menarik tangannya untuk diajak keluar kamar.


“ Ayolah Dre, santai aja. Semua yang ada di sini kan keluarga kamu juga,” kata Iyan menyemangati Andre.


Wajah Andre terlihat kecut manakala dilihatnya banyak orang yang duduk lesehan. Di tengahnya sudah ada menu makanan yang banyak sekali.


Di benak Andre, alangkah bahagianya ketika mamanya tahu bahwa penyambutan di sini sangat luar biasa terhadap dirinya.


“ Duduk sini Ndre,” kata Nyai.


Andre pun duduk di samping Nyai yang diapit juga oleh Papi Rika.


“ Iya mami,” jawab Andre.


Sebelum mereka menyantap hidangan, Papi menyuruh Iyan untuk memimpin doa.


Setelah pembacaan doa selesai, maka Nyai mempersilahkan Andre untuk mencicipi makanan terlebih dahulu, kemudian disusul dengan anggota keluarga yang lain.


“ Ayo Ndre, silakan makan. Mau coba yang mana, ambil sendiri ya,” sapa Nyai.


“Iya Mi,” sahut Andre.


Andre pun mulai mengambil makanan satu persatu dan ditaruh di atas piringnya.

__ADS_1


Sambil menyantap makanan, Papi memperkenalkan anggota keluarga yang lainnya satu persatu pada Andre.


“Kamu tampan sekali nak, beruntung sekali Rika mendapatkan suami kamu,” kata bibinya Rika.


Mendengar pujian itu Andre hanya tersenyum. Tetapi Rika pun tidak mau kalah.


“ Ya ampun Latih, nanti keselek deh Andre dipuji begitu lagi makan, Lagian Sebenarnya dia kali yang beruntung bisa dapetin Rika, hehehe,”


kata Rika untuk mencairkan suasana.


Andre pun menoleh ke arah Rika kemudian dia mengeringkan sebelah matanya.


Tak sadar, ternyata tingkah Andre dilihat Iyan. Iyan pun tertawa.


“ Sudahlah sama-sama diuntungkan,”


celoteh Iyan.


Setelah mereka saling bercengkrama, maka saatnya lah mereka membicarakan hal inti untuk kedatangan Andre ke Lampung.


“ kedatangan Andre ke sini untuk agar bisa lebih kenal Mami dan Papi dan juga untuk meminta Restu pada Mami dan Papi untuk Andre meminang Rika menjadikan Rika sebagai istri Andre,”


kata Iyan.


Kemudian Iyan pun melanjutkan pembicaraannya.


“Karena jarak tempuh yang sangat jauh, jadi Andre datang dengan seorang diri dan dengan memberanikan diri. Dan kami sekeluarga besar Rika sangat memaklumi dan menerima kedatangan kamu, Andre.”


Andre pun mengangguk Dan Tersenyum.


Dengan santainya Papi bertanya pada Andre,


“Tanggal berapa rencana kamu akan menikah Andre?”


Mendengar pertanyaan sang Papi, Andre segera menoleh ke arah Rika. Sedangkan Rika pun sendiri bingung untuk menjawab apa, lalu Rika hanya mengangkat kedua bahunya.


“ Secepatnya Papi, kalau saya bisa,” jawab Andre dengan gemetaran.


Sang papi pun mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata,


“ lebih cepat lebih baik.”


“ Nanti Pi, Andre akan bicarakan kembali pada keluarganya, dan tentunya pada Rika sendiri,” sahut Iyan.


“Andre minta waktu dulu Om sekitar 3 sampai 4 bulan untuk mengurus semuanya,” kata Andre.


“ Jangan panggil Om,panggil papi aja, lebih enak didengarnya,”

__ADS_1


Perintah Papi.


Semua yang hadir di saat itu pun tertawa bersama, sedang Andre wajahnya malah pucat Pasi.


__ADS_2