Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Konflik yang bersamaan.


__ADS_3

Di saat rencana Andre dan Rika akan menikah, kehamilan putri mulai tercium.


Andre sudah mulai memesan tempat dan katering, sedangkan Rika sudah berbelanja sovenir di bantu Erna. Sedangkan masalah Putri mulai terkuak.


Mbok Yem dengan gigih menutupi kehamilan Putri, tapi sayang, ternyata usahanya tercium juga oleh om Faisal.


Tiba-tiba saja ada tikus yang masuk ke dalam kamar Putri, suasana siang itu pun menjadi gaduh.


Teriakan Putri menarik perhatian om Faisal yang sedang bekerja dengan para karyawannya di ruang samping.


Mendengar suara teriakan Putri, om Faisal segera bergegas melangkah menuju kamar anak tirinya.


“ Ada apa Nak? Kenapa kamu teriak histeris gitu?


Tanya om Faisal yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Putri.


“Itu Om, ada tikus, tadi naik ke kasur!”


Kata Putri, sambil menunjuk ke arah tempat tidurnya.


Ternyata mbok Yem pun mendengar teriakan Putri dari halaman belakang. Lalu ia bergegas menuju kamar Putri. Yang ternyata di sana susah ada om Faisal.


“Ada apa Non? Kenapa teriak kaya gitu?”


Tanya mbok Yem seraya memeluk Putri.


Putri hanya berteriak-teriak sambil tangannya menunjuk tempat tidurnya.


Om Faisal langsung menarik seprei, sementara mbok Yem memeriksa, sampai akhirnya mbok Yem mengangkat kasur bisa yang sangat berat.


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang terjatuh di sana. Om Faisal melihatnya lalu mengambil bungkusan itu.


Betapa terkejutnya om Faisal melihat apa yang telah di temukannya. Dia tahu apa yang telah ia. Pegang.


Saking kagetnya akhirnya om Faisal pingsan dan tak sadarkan diri.


Lalu mbok Yem mendekat dan mengambil bungkusan layaknya permen. Si situ ada tulisan yang menerangkan nama benda itu.


Mbok Yem kalau bertanya,


“Ini milik siapa Non?”


.Tapi yang di tanya malah menangis. Karena takut mentalnya Putri terganggu, akhirnya mbok Yem menghentikan pertanyaannya.


Sebenarnya dia pun kaget dan ingin marah. Tapi karena melihat tuannya jatuh pingsan, akhirnya mbok Yem mengurungkan amarahnya.


Mbok Yem berusaha menolong om Faisal yang pingsan dengan memberikan aroma minyak kayu putih ke hidung tuannya.


Tapi sayang, usahanya tidak berhasil. Akhirnya mbok Yem memanggil Andre di kamarnya.


“Den, Den Andre, bapak pingsan!”


Teriak mbok Yem dari bawah tangga.


Tapi tidak ada sahutan dari lantai atas. Lahirnya mbok Yem terpaksa naik dan melihat kamar Andre.


Ternyata Andre sudah tidak ada di kamarnya. “Sepertinya Sen Andre sudah berangkat,” gumamnya.


Akhirnya mbok Yem turun dan kembali ke kamar Putri.


Sedangkan Putri masih menangis histeris. Entah tangisnya kala itu takut akan tikus, atau karena benda yang telah di temukan papa tirinya, atau pula karena melihat om Faisal pingsan.


Mbok Yem menaruh benda itu di saku bajunya, lalu bergegas keluar kamar mencari pertolongan dengan memanggil para karyawan om Faisal yang sedang bekerja.


Mas Ical, tolong mbok ya, Tuan pingsan!”


Teriak mbok Yem.


Ical dan Koko pun berlari menuju arah yang di tunjuk mbok Yem, yaitu kamar Putri.


Ical memeriksa keadaan om Faisal. Lalu ia berkata pada Koko,

__ADS_1


“Ko, gimana nih? Pak Faisal belum sadar juga.”


“Ya udah, kita bawa aja deh ke rumah sakit. Takutnya jantung pak Faisal kambuh. Ini. Pasti ada sesuatu yang bikin dia begini,”


sahut Koko, sambil menoleh ke arah Putri dan mbok Yem.


Melihat Koko yang menatap tajam ke arahnya, mbok Yem kemudian mengangkat kedua bahunya, seolah-olah ia tidak tahu apa penyebabnya.


“Kamu panasin mobil sana! Trus kita bawa pak Faisal ke rumah sakit, sebelum terlambat. Mudah mudahan nggak apa-apa,” kata Koko.


Akhirnya Ical bangkit, dan berlari menuju garasi. Ia memanaskan mesin mobil dengan terburu- buru.


Selagi mesin mobil sedang di panaskan, Ical kembali berlari menuju kamar Putri. Lalu ia dan Koko mengangkat tubuh om Faisal menuju mobil.


Mbok Yem berusaha menenangkan Putri yang masih terus menangis.


“Tenang Non, tikusnya udah kabur. Non Putri jangan nangis lagi ya,”


Kata mbok Yem, sambil mengelus bahu Putri.


Perlahan tangis Putri pun terhenti. Lalu mbok Yem berkata,


“ Hapus Non air matanya, kita ikut anter papamu yuk.”


Tetapi Putri menggelengkan kepalanya. Lalu mbok Yem bertanya,


“Kenapa Non nggak mau ikut? Masa yang nganter orang lain, ayok Non, biar nanti nggak di marahi nyonya. Kalo Non nggak ikut, malah nyonya curiga.”


Akhirnya Putri pun mengangguk. Dia pun berdiri, dan mengambil switernya yang bergantung di balik pintu, lalu memakainya.


Kemudian mbok Yem menarik tangan Putri dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju garasi.


Sebelum mendekat garasi, mbok Yem membukakan pintu pagar, lalu berjalan masuk ke ruang samping di mana para pekerja masih asyik bekerja.


“Tono, tolong jaga rumah ya, dan nanti tolong jemput Lisa. Saya ikut mobil nganter Tuan,”


Kata mbok Yem pada Tono.


Kemudian mbok Yem kembali ke depan gerbang. Lalu Mobil yang di kemudikan Ical berjalan pelan menuju keluar. Tak lama kemudian mbok Yem menutup gerbang dan masuk ke dalam mobil.


Ical pun melajukan mobilnya perlahan, lalu menambah kecepatannya. Bagusnya keadaan jalan raya saat itu tidak macet. Sekitar 15 menit kemudian mereka pun sampai di rumah sakit.


Ical tidak paham bagaimana mendaftarkan pasien, lalu ia bertanya pada satpam yang sedang bertugas.


“Maap pak, saya bawa pasien yang pingsan, tolong Pak bagaimana ini?”


Tanya Ical panik.


Melihat kepanikan Ical, Satpam tersebut menuntun Ical apa yang harus di lakukan.


Setelah mengikuti perintah satpam, ada beberapa perawat menghampiri mobil yang di kemudikan Ical.


Beberapa perawat itu mengeluarkan Om Faisal sari dalam mobil, dan memindahkannya ke atas ranjang beroda. Lalu mereka membawanya ke dalam rumah sakit agar mendapatkan pertolongan.


Ical memarkirkan mobilnya di lobi, sementara Koko, mbok Yem dan Putri menunggu di ruang tunggu pasien.


Sudah beberapa jam om Faisal tidak sadarkan diri. Lalu mbok Yem bertanya pada Ical,


“Mas Ical, gimana ini, apa nyonya harus di kasih tau swkarang?”


“ Ya udah, mbok Yem aja yang menghubunginya. Saya males mbok,” jawab Ical.


Ical tahu persis karakter mama Lina, hingga ia malas berhubungan langsung padanya.


Mbok Yem pun akhirnya menghubungi ma Lina melalui ponsel Putri.


“Halo nyonya ini saya, mbok Yem.”


“Ada apa mbok? Loh kok kamu pakai ponselnya Putri? Putrinya mana mbok?”


Tanya mama Lina melalui saluran telepon.

__ADS_1


“ Non, nyonya nanyain kamu, gimana nih?” bisik mbok Yem ke telinga Putri.


Sontak saja saat itu Putri berteriak karena perutnya keram.


Akhirnya mbok Yem memutuskan saluran ponselnya secara tiba-tiba.


Mbok Yem mengusap punggung Putri, tapi usapan mbok Yem tidak mengurangi sakit di perut Putri.


Mbok Yem, pun meminta bantuan perawat agar memeriksa keadaan Putri.


Lalu Putri pun di bawa ke ruang perawatan untuk di periksa.


Di seberang sana, mama Lina memaki mbok Yem,


“Babu sialan! Orang lagi nanya kok malah di matiin telponnya. Eh tapi ada apa ya? Kenapa mbok Yem tiba-tiba nelpon? Malahan pake ponsel Putri pula, ada apa ya?”


Mama Lina termenung sesaat. Lalu ia mencoba menghubungi suaminya. Tapi sayang, telepon yang di tujuan sedang tidak aktif.


Perasaan mama Lina pun semakin was-was. Mama Lina akhirnya menghubungi Koko.


“Ya Bu,” Koko.


“Ko, tolong liatin mbok Yem, tadi dia menelpon saya, tapi tiba-tiba ponselnya di matiin, ada apa ya? Coba deh kamu cek,” perintah mama Lina pada Koko.


“ Ini bu, Bapak! Bapak tadi pingsan. Udah di kasih minyak kayu putih, tapi belum sadar juga,” jawab Koko.


Mama Lina pun panik mendengar perkataan Koko tentang keadaan suaminya. Lalu mama Lina kembali bertanya,


“Putri mana Ko?”


“Putri tiba-tiba sakit perut Bu, mbok Yem menyuruh perawat untuk memeriksanya,” jawab Koko.


“HAH, SAKIT PERUT? Kenapa lagi sih, ada-ada aja si Putri, sakit perut aja pake di periksa,”


gerutu mama Lina. Lalu mama Lina bertanya kembali,


“Rumah sakit mana Ko, di kamar apa?”


“Di rumah sakit Harapan Kita Semua Bu, lantai tiga kamar melati, di situ kamar Putri Bu, kalo Pak Faisal masih di UDG, Ibu kapan ke sini?”


Tanya Koko.


“Iya sekarang, saya segera ke sana,”


Jawab mama Lina.


Sementara mbok Yem keluar dari kamar Putri yang sedang di periksa intensif oleh Dokter, menunggu di ruang tunggu pasien.


Lalu Koko mendekati mbok Yem dan berkata,


“Mbok, kata Ibu Lina, sebentar lagi dia akan ke sini.”


Mendengar perkataan Koko, jantung mbok Yem berdegup kencang. Lututnya lemas.


Lalu suster memanggil keluarga pasien. Mbok Yem pun berdiri dan berkata,


“Saya Sus.”


Suster pun mengajak mbok Yem masuk ke dalam, sementara Koko menunggu si luar kamar.


Mbok Yem mendengarkan apa yang dokter sampaikan tentang keadaan Putri. Setelah selesai, mbok Yem keluar dan memberikan resep pada Koko untuk menebusnya.


Tidak lama kemudian mama Lina pun sampai.


“Putri di mana mbok?”


Tanya mama Lina.


Sebelum menjawab pertanyaan mama Lina, mbok Yem bergumam dalam hatinya,


“Haduuuuuh, untung saja, kalo tidak, bisa berantakan semuanya.”

__ADS_1


__ADS_2