Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Rika benci Andre


__ADS_3

Azan subuh berkumandang. Suaranya terdengar sampai dalam kamar Rika. Nyai yang tak lain adalah maminya Rika sudah terbangun lebih awal dari Rika, sedangkan Rika masih terlelap.


Nyai bangkit dari tidurnya, dan duduk di tepi tempat tidur. Nyai memandangi wajah Rika, terlihat sembab di matanya, karena menangis semalaman.


Nyai sedih melihat keadaan Rika sekarang, bagaimana tidak, acara lamaran anaknya tiba-tiba batal entah apa penyebabnya, sedangkan dia datang dari jauh, yaitu kota Lampung ke Jakarta.


Bukan hanya butuh biaya yang banyak, tetapi kondisi tubuh harus prima selama perjalanan.


Nyai pun bergegas keluar kamar, kakinya melangkah hendak menuju kamar mandi.


Semua anak-anaknya masih tertidur pulas, tetapi sang papi sudah bangun lebih dulu. Papi hendak melaksanakan Shalat subuh.


“Mi, gimana Rika?”


tanya papi.


“Rika Tidur juga kok akhirnya, tapi gak tau jam berapa, aku sudah tidur duluan, Pi,”


kata Nyai.


“saya tak sangka keadaan jadi begini, kasian anak kita,”


Kata papi pada Nyai.


“Udalah Pi, jangan di pikirin, nanti kamu sakit, baiknya saat ini tak usah lah tanya-tanya Rika, biar dia selesaikan masalahnya sendiri. Semakin kita tanya, nantinya Rika bisa semakin sedih, kau bilang dengan anak-anak, tak usah tanya-tanya Rika soal pacarnya itu,”


Kata Nyai.


Papi pun mengangguk tanda setuju.


Nyai meninggalkan papi dan melangkah menuju kamar mandi. Dengan pelan-pelan, Nyai memasuki kamar mandi sambil berpegangan pada dinding.


Usia Nyai saat itu sudah cukup tua, sekitar 60 tahun, dan sang papi sudah 65 tahun. Kondisi mereka terbilang sehat.


Setelah Shalat subuh, papi pun membangunkan Iyan dan Beni. Mereka yang tak lain adalah Iyan, Beni, Ando dan Desi, tidur di ruang depan, hanya beralaskan karpet tebal.


“Rika, bangun nak, Shalat dulu ya”


kata Nyai.


“Ehmmm, iya bentar lagi, “


Kata Rika dengan suara berat.


Nyai pun membiarkannya.


Desi menuju ruang dapur untuk membuat kopi dan teh. Sedangkan Nyai memanaskan makanan semalam yang Desi simpan di dalam kulkas.


Ando tidur kembali, sedangkan Beni, Iyan dan papi berbincang-bincang di teras depan. Papi pun menyampaikan pesan Nyai, agar mereka tidak menanyakan soal Andre.


Papi berkata, “tak usah kalian tanya-tanya sama Rika, biarkan saja, biarkan Rika menyelesaikan masalahnya sendiri, kita tak usah ikut campur.”


Beni pun bertanya, “Maksud papi apaan, kita diem aja gitu, membiarkan Rika sakit hati?”


“Bukan itu Beni,” kata Nyai yang kehadirannya datang tiba-tiba.


“Kita diamkan Rika bukan berarti kita tidak peduli, justru kita peduli, kita harus diam. Semakin kita tanya-tanya Rika, dia malah tambah sedih. Ada baiknya kita diam saja, kau ini bagaimana, apa-apa cepat kali kau marah, Ben,”


Kata Nyai.


Desi pun datang dengan membawa minuman, dan mereka pun duduk di lantai sambil berbincang-bincang.


Mendengar anggota keluarganya sedang berbincang-bincang, Rika enggan keluar kamar. Rika menahan malu pada kedua orang tuanya beserta kakak-kakak dan adik-adiknya. Rika bingung harus bersikap apa.


Ingin sekali Rika menemani papi dan maminya, tapi rasa malunya lebih besar dari pada rasa rindunya, dan akhirnya Rika hanya terdiam di dalam kamar.


“Des, panggil Rika sana, suruh dia minum tehnya, bilang takut keburu dingin,”


Kata Nyai pada Desi.


Desi pun melangkah ke dalam rumah menuju kamar Rika. Sebelum sampai di depan kamar, Desi pun sudah mulai teriak memanggil nama kakaknya.


“Rikaaaaaa! Ayo kita minum teh, keburu dingin teh kau nih.”


Sejenak desi menghentikan langkah kakinya. Secara perlahan dia berjalan sambil mengendap-endap.


Desi mengintip dari balik pintu kamar Rika, Desi ingin tahu, apa yang sedang Rika lakukan di dalam kamar. Desi melihat Rika di dalam kamar sedang duduk termenung.


Desi melangkah masuk ke dalam kamar Rika, di dekati Rika yang sedang duduk termenung.

__ADS_1


“Udahlah kak, gak usah terlalu kau pikirkan, jika memang jodoh tak kan lari kemana, “


Kata Desi.


Mendengar perkataan Desi, Rika segera mengusap pipinya yang basah karena air mata.


“Gue ngerti kok kak perasaan lo saat ini, tapi jangan berlarut-larut, gak baik. Semua kan sudah ada yang mengatur, kita cuma ngejalanin,” kata Desi.


Desi pun kembali berkata,


“Yuk, kita ke depan, kasian kan mami papi dateng dari jauh malah di anggurin, kemon.”


Desi beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Rika. Rika pun menurutinya.


Mereka berdua pun ke luar kamar dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya.


“Ini Ka, tehnya, sayang keburu dingin nanti,” Kata Nyai.


Suasana menjadi hening. Untuk mencairkan suasana, papi bertanya pada Rika,


“hari ini masuk kerja gak Rik?”


“Masuk Pi, nanti sore masuk jam 4,” jawab Rika.


“Pulangnya jam berapa, mau papi jemput?” tanya papi kembali.


“Gak usah pi, kan pulangnya pagi, jam 4 pagi. Lagian Rika pulangnya di anter mobil karyawan kok,” jawab Rika.


“Owh, di anter, berarti aman ya.” Kata papi.


“Insyaalloh aman pi,” jawab Rika


#########


Waktu menunjukkan pukul 3.30 sore, Erna pun sudah sampai di rumah Rika.


Seperti biasa, Erna selalu mengajak Rika untuk berangkat bekerja bersama-sama.


Dan tak lupa, Erna pun memperkenalkan diri pada kedua orang tua Rika. Setelah memperkenalkan diri mereka yang tak lain adalah Erna dan Rika pergi untuk bekerja.


Dalam perjalanan mereka saling berincang-bincang, aa pun di bicarakan, termasuk acara semalam, Erna pun bertanya,


Erna : “Rik, gimana acara semalem, sukses ya,”


Erna : “Maksud lo, Maksud lo apa Rik?”


Rika : “Keluarganya gak dateng Er, kita udah nunggu berjam-jam, tapi gak nongol juga. Akhirnya gue telpon Andre, masa ponselnya gak aktif, sialan gak sih?”


Erna : “Trus hari ini lo gak telpon lagi, atau kirim pesan?”


Rika ; “Maunya sih, tapi males banget gue mulai duluan, rasa kecewa gue saat ini udah ngalahin sayang gue ke dia. Dan gue malu banget Er sama keluarga gue.”


Erna : “Ehm, trus langkah selanjutnya lo mau apa? Lo mau lanjut atau gimana?”


Rika : “Gak tau Er, saat ini gue males mikir.”


Akhirnya mereka pun sampai. Mereka masuk dari lobi karyawan menuju loker. Sesampainya di ruang loker, mereka mengganti baju mereka dengan seragam.


Setelah rapi, mereka pun berpisah. Tugas Erna berada di bagian waiters diskotik, sedangkan Rika bertugas sebagai kasir di lantai dasar, yang berfungsi sebagai restoran.


Seperti bisa, Rika bertugas di dampingi oleh kasir senior, yaitu Vivi. Dia memerintahkan Rika agar mengambil kertas print pembayaran cash. Rika pun menuruti perintah Vivi.


Tidak seperti malam-malam sebelumnya, kali ini suasana club lebih sepi, baik di lantai atas maupun bawah.


Rika pun sudah kembali setelah mengambil kertas print alat pembayaran cash. Mereka pun kembali bekerja.


Seorang wanita muda mendatangi meja kasir yang sebelumnya sudah memesan makanan.


“Hai mbak, boleh saya bertanya?”


Vivi pun bangkit dari tempat duduknya, dan menyambut kedatangan wanita muda itu.


“Ya Non, ada yang bisa kami bantu?”


“Saya mau tanya mbak, bisa gak tempat ini saya booking? Lalu saya harus menghubungi siapa?”


Mendengar pertanyaan wanita itu, Vivi pun dengan tegas menjawab,


“Bisa non, non bisa mengurus administrasinya melalui kami, sebagai kasir.”

__ADS_1


“Kenapa bukan langsung managernya? Bukankah itu tugas manager mengurus booking?”


“Oh, itu nanti non, kita lihat jadwal dulu, apakah waktu yang non minta itu masih kosong atau sudah isi. Jika sudah isi, non bisa mencari waktu lain, nah kalau masih kosong, non bisa langsung lihat harga dan memilih menu, setelah itu non baru bertemu dengan manager kami, membicarakan tentang administrasinya. Jika non ingin menambah aksesoris ruangan, bisa di bicarakan nanti dengan pak manager.”


Wanita muda itu pun mengangguk-anggukan kepalanya sambil mendengarkan penjelasan dari Vivi.


Di samping Vivi ada Rika, yang ikut menyimak penjelasan dari Vivi.


Sambil menyimak, Rika membandingkan manajemen antara tempat kerja dia yang terdahulu dan yang sekarang.


Waktu terus berlalu, dan malam pun semakin larut, pengunjung pun semakin ramai.


Wanita itu kembali berkata pada Vivi,


“Besok malam saya kembali lagi ya mbak, nanti saya akan mengajak pacar saya.”


Vivi pun berkata,


“Oke non, kami tunggu.”


Pembicaraan mereka pun selesai. Wanita muda itu sudah meninggalkan meja kasir. Sedangkan Vivi dan Rika kembali sibuk melayani para pengunjung.


Tibalah saatnya para karyawan pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi.


Seperti biasa, Rika dan Erna pulang bersama-sama, saling berbincang dan saling bercanda.


Erna kembali menanyakan kabar Andre,


“Lo udah nelpon Andre lagi Rik?”


Rika “ “Belom, males ah, gue benci sama dia, dia tuh baukan cuma nyakitin gue doang, tapi dia juga udah bikin gue malu. Trus ngapain gue ngejar-ngejar dia?”


Erna : “ Lo yakin sama ucapan lo Rik? Apa sayang lo ke dia udah ilang?”


Rika : “Sayang??? Apa patut rasa sayang gue itu masih ada? Udah lah, mending jangan di bahas. Gue cape Er, mati-matian gue perjungin, tapi malah kaya gini.”


Erna : “Tapi lo kan belom tau keadaannya kaya apa, gak salah kok lo cari tau. Mungkir ada halangan atau apa. Atau mungkin ini semua ada rencananya mamanya, coba deh lo selidikin, bair lo gak nyesel nantinya.”


Rika : “Kalo ini kerjaan mamanya, kayanya gak mungkin deh Er, kan gue udah jawab pertanyaan dia, oke, gue mau ikutin apa maunya dia.”


Ernaa : “Ya udah, kalo gitu baiknya lo selidikin dulu aja.”


Seperti biasa, mereka pun berpisah di persimpangan jalan, yang menuju arah rumah Erna.


Rika melanjutkan perjalanan pulangnya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, sang papi sedang menunggunya di teras depan.


Rika pun masuk dan memberi salam,


“ Assalmu alaikum Pi, kok papi ada di luar? Kenapa gak di dalem pi< dingin pi di luar.”


Rika pun mengambil tangan papinya dan menciumnya sebagai tanda penghormatan.


Papi pun mengulurkan tangannya, dan berkata,


“Papi nunggu kamu, oh iya, Shalat dulu ya, udah azan Subuh.”


“Iya Pi,” jawab Rika.


########


Sudah 1 minggu semenjak malam pertunangan Rika yang batal tanpa sebab, keberadaan Andre laksana di telan bumi, tak ada kabar sama sekali.


Berkali-kali Rika menghubunginya melalui telepon genggamnya, tetapi ponsel Andre dalam keadaan tidak aktif.


Hampir setiap jam, bahkan lama kelamaan Rika melakukannya setiap beberapa menit sekali mencoba menghubungi Andre, tapi tetap saja tidak tersambung.


Lelah hati Rika saat itu, hingga saat di dalam kamar, ketika seluruh keluarganya sedang berada di teras rumah, Rika melempar ponselnya mengarah ke dinding, sambil memaki, Rika berkata,


“Sialan lo Dre, lo udah berhasil nyakitin gue, lo udah berhasil bikin gue malu, lo jahat, lo jahat Dre!”


Rika pun kembali berucap dengan makian sambil menangis,


“Gue kurang apa Dre sama lo, semua udah gue korbanin buat lo, gue rela di sakitin, gue rela di teror tiap saat, semua itu demi lo, tapi kenapa semua jadi begini??!!!”


Mendengar suara gaduh, Desi pun panik, dan segera bergegas menuju kamar Rika.


Desi mendapati Rika sedang menangis tersedu-sedu dan memeluk boneka kesayangannya.


Desi pun masuk ke dalam kamar Rika dan mendekati Rika. Desi duduk di bibir tempat tidur, Desi pun memeluk dan membelai rambut Rika.

__ADS_1


“Sabar kak, ini ujian buat kak Rika, kalo sekarang kau tak sanggup, bagaimana ke depannya? Bagaimana jika nanti setelah kalian menikah dan punya anak, bisa jadi ujiannya lebih besar, lebih berat. Emang sih, Desi masih kecil, belom waktunya mikir ke arah sana, tapi Desi kan liat yang lain, kaya bang Beni, Bang Iyan, mereka pun kena ujian juga, sabar ya kak,”


kata Desi.


__ADS_2