Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Penyelidikan mobil telah selesai.


__ADS_3

Om Faisal telah tiba di hotel di mana mama Lina dan Dian bertemu. Sambil membawa berkas yang dibutuhkan mama Lina, Om Faisal menuju lobi Hotel itu, lalu dipandu oleh beberapa pelayan Hotel menuju lantai di mana ruang Manager berada.


Pelayanan mengetuk pintu ruang manager. Salah satu pelayan yang berada di dalam membukakan, lalu om Faisal di persilakan masuk.


Ternyata, di dalam ada dua orang polisi juga, selain seorang manager, mama Lina dan seorang rekan bisnis istrinya.


“DEGH” Gemetar tubuh om Faisal melihat kehadiran mereka yang berseragam. Ada rasa enggan berurusan dengan mereka, karena menurutnya terlalu lamban dalam bertindak. Om Faisal melihat dari sisi kasus terbongkarnya milik istrinya, yang sampai saat ini kasusnya bungkam, menurutnya.


Dia tidak tahu, padahal istrinya yang telah menarik berkas, hingga polisi tidak berhak lagi dalam penyelidikan.


Om Faisal menyerahkan apa yang dia bawa pada istrinya. Kemudian mama Lina menyerahkan pada polisi, lalu mereka memeriksanya.


Karena perasaan om Faisal saat itu menjadi gundah, dia meminta izin untuk keluar dari ruangan itu.


“Maaf bapak-bapak, saya izin keluar ruangan ya, sedikit gerah soalnya,”


kata om Faisal saat itu.


Melihat sikap om Faisal yang salah tingkah, membuat mama Lina menjadi kesal. Pak manager pun membaca gelagatnya. Hingga akhirnya untuk mencairkan suasana, pak manager hotel itu berkata,


“Oh ya, nyonya Lina belum memperkenalkan bapak ini, he he he.”


Sontak saja wajah om Faisal berubah lebih rileks. Mama Lina akhirnya memperkenalkan suaminya pada orang-orang yang berada di ruangan itu.


“Oh ya, perkenalkan ini suami saya,”


kata mama Lina.


Pak manager pun mengulurkan tangannya, dan mereka pun bersalaman. Di susul oleh kedua polisi dan Dian.


Mama Lina juga memperkenalkan Dian, sebagai rekan bisnisnya. Om Faisal di persilakan duduk oleh pak manager, dengan menyediakan segelas koktail.


Dalam pemeriksaan, pak manager berpindah tempat mendekati bangku om Faisal yang berada berseberangan dengan meja kerjanya.


“Jangan tegang-tegang pak, sebenarnya saya juga tegang ngadepin hal beginian,”


Bisik pak manager, tepat di telinga om Faisal.


Sontak saja, om Faisal tertawa, hingga membuat kedua polisi, mama Lina dan Dian menoleh.


Salah satu polisi itu pun berkata, “


“Di lanjut aja pak, santai saja, ini kan bukan kantor polisi he he he.”


Polisi pun melanjutkan pemeriksaan berkas kepemilikan mobil. Sedangkan pak manager dan om Faisal asyik berbincang.


“Sebenarnya saya juga tegang Pak, karna ini area saya. Sudah 2 pekan mobil itu terparkir di area pantai, enggak tau siapa pemiliknya. Maksud saya, siapa pengendaranya saat itu,” kata pak manager.

__ADS_1


Om Faisal hanya mengangguk angguk. Karena untuk menjawab apa pun pertanyaannya di saat menghadapi suatu kasus, dia merasa takut salah atas jawabannya.


Pak manager pun meneruskan,


“Pengemudinya meninggalkan koncinya juga loh Pak! La wong koncinya masih nyatel! Tapi nggak ada identitas sama sekali.”


Om Faisal masih saja menganggukkan kepalanya, hingga akhirnya dia ingin mencoba koktail yang dibidangkan datin pihak hotel.


“Saya coba ya Pak koktailnya, sepertinya menyegarkan,” kata om Faisal.


“Oh ya, silakan Pak,” sahut Pak manager.


Penyelidikan pun selesai. Akhirnya polisi memutuskan bahwa pemilik mobil tersebut adalah milik mama Lina dengan semua bukti yang ada.


Mama Lina pun tersenyum dan merasa senang.


Sebenarnya dalam hati om Faisal merasa bingung, karena dia tidak mengetahui tentang mobil itu. Dia tidak tahu bahwa istrinya memiliki mobil yang lain. Tapi bagaimanapun juga mama Lina memiliki bukti bahwa mobil itu adalah miliknya.


Setelah selesai pemeriksaan, mama Lina meminta izin untuk keluar ruangan dan melanjutkan pekerjaannya.


Om Faisal pun pamit untuk kembali pulang. Tapi di sela-sela itu, Dian mengajak Om Faisal untuk makan bersama.


“Maaf, saya tidak bisa ikut makan bareng, karena di rumah masih banyak pekerjaan,” Kata Om Faisal.


Dian pun tersenyum kemudian Om Faisal berpamitan pada istrinya.


“ Mah, aku pulang dulu ya. Semua udah bereskan? Alhamdulillah ya mah.”


Om Faisal pun mengernyitkan dahinya, sebagai tanda bahwa Om Faisal sebenarnya merasa bingung.


“ Kapan kamu beli mobil itu? kok saya nggak tahu ya? Apa itu invest kamu di gudang? Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku?”


gumamnya dalam hati.


Setelah berpamitan, Om Faisal pun meninggalkan mama Lina dan Dian. Om Faisal beranjak menuju lobi di mana kendaraannya di parkir di sana.


Dan mama Lina pun kembali melanjutkan bisnisnya bersama Dian.


Sambil menyetir mobilnya Om Faisal terus berpikir tentang istrinya. Walau sudah sampai di rumah pun Om Faisal Masih memikirkan perihal istrinya.


Dia berkata pada dirinya sendiri,


“ Selama ini aku sudah menaruh kepercayaan penuh padamu. Selama ini apa yang kau kerjakan di luar rumah, aku percaya, sampai aku tidak pernah menanyakan tentang pekerjaanmu satupun. Karena aku menghormatimu dan menghargai jerih payahmu selama ini untuk anak-anak kita. Tapi mengapa hal seperti ini aku tidak tahu?”


Salah satu karyawan Om Faisal yang bernama Ical membukakan pintu gerbang. Karena Om Faisal dalam keadaan melamun, Iya tidak mengetahui bahwa pintu gerbang sudah terbuka akhirnya Ical mengetuk kaca pintu mobil.


Om Faisal pun terkejut, kemudian segera ia mengemudikan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah dan memarkirkannya ke dalam garasi.

__ADS_1


Melihat kepulangan tuannya,Mbok Yem. menyambutnya. Karena waktu itu sudah masuk waktunya makan, mbok Yem menawarkan makan siang pada tuannya.


Om Faisal masuk ke dalam rumah melewati pintu depan, lalu Mbok Yem membukakannya lalu menyapanya,


“ Sudah pulang Tuan? Apa semuanya sudah beres?”


Dengan wajah lesu, Om Faisal menjawab, “Sudah mbok. “


“ Mau makan siang sekarang tuan? Semuanya sudah matang, tadi saya masak dibantu sama non Putri,” kata mbok Yem.


“ Nanti saja Mbok. Saya lelah,Saya mau istirahat,” sahabat om Faisal.


Kemudian Om Faisal masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Di dalam kamar Om Faisal mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.


Karena rasa lelah dan penat Om Faisal merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa sadar, ia larut pada pikirannya. Apa yang ia telah alami selama, ini ia kait-kaitkan dan ia menerka-nerka.


Karena lelah berpikir akhirnya Om Faisal pun tertidur.


Di luar kamar, Putri bergegas hendak menjemput Lisa. Ternyata Lisa sudah sampai di depan rumah. Lisa pulang bersama temannya yang dijemput oleh orang tuanya.


“Assalamualaikum. Eh ada Kak Putri! “ teriak Lisa.


Lisa pun berlari mendekati Putri dan memeluknya. Putri pun menyambut Lisa dengan pelukan hangatnya.


“ ih udah pulang aja, Kak Putri mau jemput kamu kok,” kata Putri.


“ Abis lama banget yang jemput Lisa, Ya udah ikut mamanya Tamara aja, dia ngajakin Lisa bareng,” sahut Lisa.


“ Ya udah, kita ganti baju dulu yuk. Habis itu kita makan, oke” ajak Putri.


Lisa pun mengangguk, dan mengikuti langkah Putri masuk ke dalam kamarnya.


Ketika sudah berada di dalam kamar, Putri pun menggantikan pakaian Lisa. Baru saja Putri membuka pakaian seragamnya, Lisa pun sudah berlari-lari dan melompat-lompat di atas tempat tidur.


Saat Lisa asyik melompat-lompat di atas kasur, Putri membuka lemarinya dan mencari pakaian ganti Lisa.


Di dalam keasikannya, Lisa melihat sesuatu yang melompat ke atas tempat tidur yang berasal dari balik kasur.


Lisa pun mengambil dan memegangnya, kemudian bertanya pada Putri,


“ Kak Putri ini apa?”


Karena saat itu Putri masih mencari pakaian ganti untuk Lisa, Putri tidak segera menoleh ke arah Lisa.


Hingga akhirnya Lisa bertanya dengan cara berteriak,


“ Ih Kak Putri lihat sini, ini apaan? Ini pasti permen kan Kak, buat Lisa ya?”

__ADS_1


Mendengar perkataan Lisa, sontak saja Putri melototkan matanya, kemudian menoleh ke arah Lisa.


“APA?!” Putri pun berteriak.


__ADS_2