Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Gejala trimester.


__ADS_3

Mbok Yem mengindik-indik berjalan di sekitar ruang tengah dan ruang tamu, mencari sumber suara tangisan yang memilukan itu.


Tapi semakin Mbok Yem melangkah ke depan, suara itu semakin samar dan menghilang.


Lalu Mbok Yem melangkah mundur. Mbok Yem mendekati kamar majikannya. Kemudian mundur ke ruang makan. Tidak lama kemudian mbok Yem mendekati pintu kamar Putri.


Ternyata, sumber suara tangisan pilu itu berasal dari kamar Putri.


Mbok Yem mendekat, kemudian menempelkan telinganya di daun pintu, untuk memastikan benar atau tidak sumber suara itu berasal dari kamar Putri.


Ternyata benar, mbok Yem yakin bahwa suara itu berasal dari kamar Putri. Kemudian Mbok Yem membuka dengan pelan daun pintu kamar Putri.


Cahaya di ruang kamar Putri sangat redup. Mbok Yem melihat Putri sedang duduk di pojokan tempat tidur sambil menangis.


Lalu Mbok Yem mendekat, kemudian menaiki tempat tidur Putri.


Setelah mendekat, Mbok Yem duduk di samping Putri. Saat itu Mbok Yem hanya terdiam dan menunggu sampai Putri berhenti menangis.


Karena tak kunjung reda, akhirnya Mbok Yem memegang tangan Putri. Putri pun berhenti menangis.


Sambil membelai rambut Putri, mbok Yem berkata,


“Tidur yuk Non, biar Non Putri sehat, kasian dedenya kalo Non Putri nangis terus.”


Putri pun mengusap air matanya yang membasahi pipinya dengan ke dua telapak tangannya.


“Mau mbok Yem temenin tidurnya?”


Bisik mbok Yem.


Putri pun mengangguk.


Akhirnya mbok Yem ikut tidur di kamar Putri malam itu.


Lalu paginya mbok Yem bangun lebih awal dari biasanya, karena takut mama Lina mengetahui jika malam tadi dia tidur di kamar Putri.


Mama Lina akan marah jika mengetahui hal itu. Bagaimana tidak? Saat makan saja mbok Yem tidak di izinkan makan bersama di meja makan, apa lagi soal tidur!


Itulah peraturan yang di buat mama Lina untuk mbok Yem.


Setelah bangun, mbok Yem memastikan bahwa belum ada yang terbangun saat itu. Lalu mbok Yem segera keluar dari kamar Putri.


Ternyata dugaannya salah, mama Lina sudah berada di dapur. Ia sedang memanaskan air untuk membuat susu untuk Lisa.


Tanpa basa basi, mbok Yem segera mengambil alih tugas yang mama Lina sedang kerjakan.


Mama Lina tidak berkata apa-apa. Berarti dia tidak melihat kehadiran mbok Yem dari arah mana. Karena saat mbok Yem masuk ke ruang dapur, posisi mama Lina sedang menghadap ke arah kompor. Sedangkan pintu dapur terbuka setengah.


Jadi pintu kamar mbok Yem tidak terlihat dari dalam dapur.


Setelah mbok Yem selesai membuatkan susu untuk Lisa, mama Lina mengambilnya. Lalu meninggalkan mbok Yem di ruang dapur.


Mbok Yem lalu duduk di kursi. Dia mengelus elus dadanya, dan berkata pelan, “Selamat selamat, untung saja nyonya nggak tau. Kalo tau, bisa habis saya!”


Lalu mbok Yem meninggalkan ruang dapur menuju kamarnya untuk melakukan sholat subuh.

__ADS_1


Dan seperti biasanya, mbok Yem melakukan tugas rutinnya, membuat sarapan untuk seluruh anggota keluarga di kala pagi.


Dan anggota keluarga yang lainnya pun sudah terbangun. Seperti biasanya, mbok Yem mengantar Lisa untuk berangkat ke sekolah.


Setelah mengantar Lisa ke sekolah, mbok Yem baru menyadari bahwa ponsel Putri masih berada pada saku dasternya.


Di perjalanan menuju rumah, mbok Yem membuka ponsel Putri. Ada beberapa pesan yang masuk, di antara dari Irfan.


Mbok Yem membuka pesan dari Irfan yang isinya,


“Kabar kamu gimana Put? Tolong jaga bayi kita ya. Jangan stress. Nanti kita cari jalan keluarnya. Aku sayang kamu.”


Setelah itu, mbok Yem memasukkan kembali ponsel Putri ke dalam saku dasternya, dan melanjutkan perjalanan pulangnya menuju rumah.


Sesampainya di rumah, mbok Yem melihat Putri sedang menyiram tanaman di halaman samping. Segera mbok Yem masuk ke dalam rumah dan bergegas ke dapur.


Mbok Yem memanaskan air untuk membuat susu. Susu itu akan di berikan pada Putri. Setelah itu mbok Yem menaruh susu panas itu di atas meja dapur.


Mbok Yem pun berjalan menuju taman samping, di mana Putri berada.


“Sini Non,bok gantiin,mbok aja yang ngerjain,”


Kata mbok Yem, sambil mengambil selang yang Putri pegang.


Dan tidak lupa, mbok Yem berbisik di telinga Putri.


“Mbok udah bikin susu buat kamu. Mbok taro di meja dapur, non minum ya,”


Bisik mbok Yem.


Putri pun mengangguk. Dan tanpa berkata apa-apa, Putri meninggalkan mbok Yem dan bergegas ke dapur.


Tidak lama. Kemudian, Andre turun dari lantai atas hendak menuju ruang makan. Saat ia menoleh ke arah dapur, Andre melihat Putri sedang meminum susu.


Lalu Andre menghampiri Putri dan bertanya,


“Woi, sejak kapan lo suka susu?”


Mendengar pertanyaan Andre, Putri tersenyum, lalu menjawab dengan singkat,


“Sejak saat ini.”


Andre pun mengerutkan alisnya. Lalu meletakkan tangannya di atas kening Putri.


“Lo nggak lagi gila kan? Aneh aja lo tiba-tiba suka susu, padahal kan lo jijik banget ama susu, udahlah, bukan urusan gue,”


kata Andre, sambil meninggalkan ruang dapur menuju meja makan.


Andre duduk di sana menikmati sarapannya. Sementara Putri telah menghabiskan susunya dan keluar dari ruang dapur.


Putri berjalan menuju meja makan dan duduk di sana bersama Andre.


Tanpa izin, Putri mengambil potongan roti yang ada di piring Andre. Awalnya Andre diam saja. Karena Putri terus menerus mengambil potongan roti yang Andre telah potong kecil-kecil, akhirnya Andre menabok tangan Putri.


“Ah elluuuu, bikin sendiri napa sih, males lo!” kata Andre memaki.

__ADS_1


“Bikinin dong Bang, gue males banget bikinnya,” sahut Putri.


“Manja banget sih lo! Harusnya elo yang bikinin gue, malah elo yang minta bikinin,” kata Andre.


Akhirnya Andre mengambil beberapa lembar roti selai coklat. Andre mulai mengoles lembaran roti dengan selai coklat, sedangkan Putri hanya bertopang dagu.


Melihat sikap Putri yang terlihat malas, Andre memperhatikan gerak geriknya.


“Put, muka lo kok pucet banget, lo begadang ya semalem?”


Tanya Andre tiba-tiba.


“Enggak, gue nggak begadang,” jawab Putri singkat.


“Hari ini lo nggak jalan? Nggak ada les lo?” tanya Andre kembali.


“Enggak,” jawab Putri, sambil mengambil dan memakan roti yang Andre buatkan.


Andre mulai memotong motong roti dengan kecil kecil, dan Putri pun mulai memakannya.


Andre memperhatikan kelakuan Putri yang sangat menikmati roti buatannya.


“Gila lo Put, 4 lembar roti habis, doyan apa maruk lo?


“ Dua duanya... Doyan iya maruk iya,” jawab Putri dengan ketus.


“Kan lo abis minum susu, emang perut lo nggak takut meledak apa?” tanya Andre penasaran.


“Oh iya ya, gue abis minum susu, kok gue lupa ya,” sahut Putri.


Putri masih saja cuek dan terus menikmati roti. Sementara Andre memeriksa kening Putri.


Andre menempelkan punggung tangannya ke kening Putri. Tapi Putti dengan terburu-buru mundur, menghindar dari sentuhan Andre.


“Apaan sih lo Bang? Lo pikir gue sakit? Gue sehat kok,” sahut Putri.


“Muka lo pucet, makan lo banyak, aneh banget,” kata Andre.


Tiba-tiba mbok Yem memanggil Putri dari arah dapur.


“Non Putri, sini deh, bisa bantu mbok nggak?”


“Iya mbok, bentar,”


Sahut Putri.


Putri pun menggeser kursi yang ia duduki dan melangkah dengan lunglai ke arah dapur.


“Ada apa mbok? Putri bantuin apaan?”


Tanya Putri.


“Sini, duduk sini dulu, entar ikut mbok yuk ke pasar, biar Non Putri nggak jenuh di rumah,” ajak mbok Yem.


“Aduh mbok, Putri males banget keluar, panas rasanya,” sahut Putri.

__ADS_1


“Ehm, sepertinya Non Putri udah ngerasaain hal-hal aneh nih, moga aja nggak ada yang meratiin,”


Gumam mbok Yem dalam hati.


__ADS_2