Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Cerita Sami.


__ADS_3

“Mi, tadi kan abang denger Mama Caca nangis, terus ada om-omnya pada dateng, terus Omnya yang gede tinggi itu, yang kulitnya hitam tuh Mi marah-marah ke mama Caca. Terus Berdiri sambil telak pinggang,”


Kata Sami, mengadu pada ibunya.


“ Ih Abang, ngapain sih nguping pembicaraan orang, biarin aja itu urusan mereka, kamu main-main aja sama Caca, nggak usah dengerin obrolan orang dewasa,”


sahut Dena pada Sami anaknya.


“Tapi Mi Abang denger, abang bukan nguping, suara mereka gede banget jadi kedengaran sampai luar,” kilah Sami.


Dena mendengarkan keluhan Sami. Lalu Dena mendekati Sami dan berkata,


“Lain kali, kalo main di situ trus ada tamu, mending abang pulang aja. Atau ajak Cacanya main di sini aja.”


“Iya Mi,” sahut Sami. Dengan wajah cemberut Sami keluar dari dapur menuju ruang depan. Di sana ada Kiki sedang menonton TV.


Saat itu Dena sedang mengeringkan cucian di mesin. Sebagian akan dia jemur malam itu. Dena pun melangkah ke depan teras untuk menjemur pakaian.


Di saat Dena sedang menjemur, Dena mendengar suara Kanza menangis sambil berkata,


“Mama, Caca laper, Caca mau makan.”


Dena pun mendengar suara Rika dengan berkata,


“Entar ya Kak, Kakak tidur dulu aja. Mama juga mau tidur dulu, kalo tidur nanti laper nya bilang.”


“Ya Alloh, ada apa dengan kekuarganya?” batin Dena.


Belum saja Dena menyelesaikan pekerjaannya, Dena segera masuk ke dalam menuju dapur.


Di lihatnya persediaan makan malamnya, sekiranya cukup untuk berbagi.


Tanpa sadar, Dena meneteskan air matanya dan memohon ampun pada Tuhannya, “Ya Alloh, maapin aku yang lalai pada tetanggaku.”


. Lalu Dena mengambil plastis dan memasukkan beberapa potong ayam dan mengikatnya.


Saat itu Sami melihat Dena membungkus sesuatu, lalu ia bertanya,


“Mi, itu buat apaan?”


“Stts, ini buat Caca. Kasian mereka belum makan malam ini,” jawab Dena pelan sambil meletakkan jari telunjuknya di depan kedua bibirnya.


Mata Sami menyelidik, kemudian kembali bertanya,


“Cukup gak Mi buat kita, Abang kan juga belum makan.”


Sambil tersenyum dan membelai rambut Sami, Dena menjawab,


“Insya Allah cukup sayang, tuh masih ada beberapa potong, cukup buat kamu, Mami, Kiki dan Babe.”


Dena pun beranjak meninggalkan Sami nyang masih mematung di dapur. Tapi langkahnya terhenti, dia memanggil Sami.

__ADS_1


“Bang, sini!”


Sami pun kembali menampakkan dirinya dan bertanya, “Iya Mi, ada apa?”


Dena memberikan bungkusan lauk dan nasi pada Sami.


“Tolong ke rumah Caca sana, abang aja yang anterin.”


“Trus nanti abang bilangnya gimana?” tanya Sami merasa bingung.


“Beri salam dulu, trus bilang, ini buat mama Caca, gitu,” jawab Dena menerangkan.


Sami pun mengangguk. Lalu berlari menuju rumah Rika.


Saat itu pukul 8 malam, memang saatnya waktunya makan malam.


Dan Dena pun melanjutkan pekerjaannya. Tapi Dena berpikir, bahwa besok dia harus masak lebih banyak lagi, agar dapat berbagi pada Rika.


Keesokan harinya,


Sekitar pukul 10.00 pagi Dena sudah selesai memasak. Sebagian makanannya lauk dan nasi ia bungkus, kemudian dia membawanya ke rumah Rika.


Tapi ternyata Rika tidak ada di rumah pintu depannya pun terkunci. Dan akhirnya Dena kembali ke rumahnya.


Sampai anak-anak Dena pulang sekolah pun, Rika dan keluarganya belum juga pulang. Akhirnya makanan yang telah Dina bungkus Tadi ia buka kembali dan dipanaskan lagi.


Setelah dipanaskan denah menyimpan makanannya di dapur dan tanpa sengaja Dena tertidur.


“ Mi bangun Mi, Mama Caca udah pulang tuh,” kata Sami sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dena.


Dena pun terbangun, lalu ia duduk. Kemudian dia melangkah ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Setelah menyiapkan makanan Dena memanggil Sami.


“ Bang tolong bawain Caca nih,” perintah Dena pada Sami.


Sami langsung bergegas ke rumah Rika untuk membawakan lauk pauk.


Ketika malam tiba, Rika datang ke rumah Dena bersama anak-anaknya. Sambil menonton TV mereka saling bercengkrama. Tidak lupa Dena pun menawarkan makan malam untuk Rika dan anak-anaknya.


“ Mama Caca ikut aku yuk ke dapur,” ajak Dena pada Rika.


Rika pun membuntuti denah dari belakang.


Sesampainya mereka di dapur, Dena berkata pada Rika,


“ Mam sendok nasi sana, suapin anak-anaknya, jangan lupa kamu juga makan ya.”


“Iya Mi, Mami udah makan belum?” sahutrika Dina memperhatikan wajah Rika, matanya berkaca-kaca.


Dena pun mengambil dua piring dan memberikannya kepada Rika. Lalu Rika mengisi piring itu dengan makanan yang sudah Dena sediakan.

__ADS_1


Sambil menyuapi Kansa dan Annisa,Rika dan Dena berbincang-bincang soal keadaan rumah tangganya.


“Mi, Papa Caca kan nggak pulang-pulang, Katanya sih dia di rumah Mamanya itu kerja, bantuin mamanya jualan.”


“Oh bagus deh kalau memang udah ada kerjaan. Doain aja biar dia di sana baik-baik aja,” sahut Dena.


Sebenarnya Dena tidak ingin mendengar curhatan Rika. Bukannya Dena tidak peduli pada kehidupan Rika, tetapi Dena tidak ingin ikut campur urusan keluarga kecilnya.


“Dii sana Papanya Caca tuh Mi bantuin mamanya kerja, dia jaga ruko-ruko yang mamanya punya, jadi semua pekerjaannya Papa Caca yang ngerjain,” kata Rika.


“ Oh ya, Wah hebat dong Papa Caca sekarang, ya Doain aja biar lancar usahanya,” sahut Dena.


“Mangkanya Papa Caca nggak pulang-pulang Mi, karena kalau bolak-balik kan bisa habis di ongkos, dan juga kalau Papa Caca pulang, konsentrasinya bercabang antara pekerjaan sama keluarganya,” kata Rika meneruskan kisahnya.


“Konsentrasinya bercabang? Apa harus dia meninggalkan anak dan istrinya sampai kelaparan kayak gini hanya demi pekerjaan, dan kalau memang kerja Kenapa anak istrinya sampai kelaparan? Di mana tanggung jawabnya?”


hati Dena terus bergumam.


Dena menatap wajah Rika yang sembab. Saat itu Rika masih menyuapi makanan untuk Kansa dan Annisa. Diana melihat bahwa Rika sudah selesai menyuapi lalu denah menyuruh Rika untuk makan.


“ Mam, sekarang giliran kamu makan sana, sendok lagi sana nasinya sama lauknya,” perintah Dena pada Rika.


Dena pun mengajak Rika untuk kembali ke dapur, dan mengambil makanan. Setelah mengambil makanan Dena dan Rika kembali ke ruang depan.


Rika melahap makanan yang baru saja ia ambil. Dena memperhatikan gerak-gerik Rika. Dena pun memperhatikan Kedua anak-anak mereka yaitu Kansa dan Anisa.


Betapa teririsnya hati Dena melihat keduanya, setelah Dena mengetahui bahwa Andre tidak pulang-pulang ke rumahnya, bahkan membiarkan anak dan istrinya kelaparan.


“ Oh ya Mi, aku mau jual kulkas aku yang gede Mi, kira-kira jual ke mana ya Mi?” tanya Rika pada Dena setelah selesai makan.


“Yah maaf Mam, aku nggak tahu kalau jual-jual barang kayak gitu. Kalau emas sih aku tahu, langsung ke tokonya aja, tapi kalau barang-barang rumah tangga Aku nggak ngerti cara ngejualnya ke mana,” jawab Dena.


“Kemarin aku sih mau jual mas kawin aku Mi, tapi rasanya nggak tega deh, akhirnya nggak jadi,” kata Rika berbohong.


“ kalau keadaan Kepepet sih nggak apa-apa Mam dijual, insya Allah nanti dapat gantinya yang lebih baik,” sahut Dena.


Malam semakin larut, Rika pun sudah selesai makan.


Tidak lama kemudian Rika pamit.


“ Mi aku pulang ya. Makasih banyak ya atas makan malamnya.”


“Iya mam santai aja lah. Alhamdulillah lagi ada, jadi bisa bagi-bagi,” sahut Dena.


Rika pun masuk ke dalam rumahnya, dan mengajak anak-anaknya untuk tidur.


“Ayo Kakak, Adik cuci kakinya dulu terus tidur ya,” perintah Rika pada anak-anaknya.


Sambil menunggu Khansa dan Annisa mencuci kaki, Rika mengambil ponsel dan berusaha menghubungi suaminya.


Sudah dua kali Rika menelepon Andre lewat ponselnya, tapi sayang Andre tidak menerimanya.

__ADS_1


Lalu Rika pun kembali mengulang panggilan telepon. Betapa kagetnya Rika, ternyata Andre di seberang sana menolak panggilan teleponnya.


__ADS_2