
Dengan cepat mama Lina berlari ke arah mobil yang terparkir di pinggir pantai. Jarak dari restoran ke pinggir pantai itu lumayan jauh karena mama Lina harus berlari memutar.
Akhirnya Dian pun ikut menyusulnya dengan dibantu seorang pelayan. Dian berhasil sampai lebih cepat dari mama Lina.
Sesampainya mama Lina di pinggir pantai mama Lina merasa heran melihat Dian yang telah lebih dulu sampai di sana.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, mama Lina bertanya pada Dian, “
Loh kenapa kamu bisa sampai duluan? “
Ketika Dian ingin menjawab, tetapi pelayan itu segera menyelip pembicaraan mereka.
“ Kenapa Ibu tadi tiba-tiba lari kencang, coba tadi ibu tanya saya dulu, saya akan antar ibu lebih cepat, karena tadi ibu Berjalan Lebih Jauh. Ibu bisa lewat sana. lewat sana itu bisa lebih cepat sampainya,”
kata pelayan itu menjelaskan dengan menunjuk ke arah lobi dengan jari jempolnya.
“Maaf, kalo begitu, “ sahut mama Lina.
Kemudian mama Lina memperhatikan mobil itu dengan seksama.
“Sialan! Kabur ke mana tuh anak? Ternyata mobilnya di tinggal di sini, bagus ketemu! “
Gerutunya dalam hati.
Melihat gerak gerik mama Lina, pelayan itu pun bertanya,
“Apa Ibu mengenal mobil ini? “
Dengan suara keras mama Lina menjawab,
“Ya jelas, saya mengenal mobil ini, karna saya pemiliknya. “
“Kalau memang benar Ibu pemilik mobil ini, silakan Ibu menghadap manager hotel, agar Ibu bisa mengambilnya, huuhdengan membawa surat suratnya, “
saran pelayan.
“Ya, nanti saya ke sana, setelah meeting saya selesai, “
kata mama Lina.
“Lebih baik selesaikan dulu aja nyonya, saya bisa menunggu,”
kata Dian.
“Oh tidak, saya harus profesional dong, enggak boleh mencampur adukkan masalah bisnis dengan pribadi, “
sahut mama Lina.
“Tapi ini kasusnya kan beda nyonya, ayo!”
kata Dian, sambil menarik tangan mama Lina.
Mereka pun berjalan beriringan di antar pelayan menuju ruang manager hotel. Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di lantai di mana ruang manager itu berada.
########
Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 pagi, saat itu Andre sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Posisi Andre masih berada di lantai atas tepatnya di dalam kamarnya.
Setelah memasuki satu setel seragam ke dalam tasnya, Andre pun menutup resleting tas tersebut. kemudian ia mengambil ponsel dan duduk di sisi tempat tidur.
Andre ingin menghubungi Rika, tapi ia lupa, bahwa waktu-waktu tersebut seperti biasa Rika gunakan untuk tidur.
Beberapa kali ia menghubungi nomor Rika, tapi tidak diangkat oleh Rika. Andre pun terdiam sejenak.
“ Ih goblok! Ini kan masih pagi, Rika pasti masih tidur, bego banget ya gue, saking semangatnya Mau ngomongin kawin sampai lupa sama jadwal pacar sendiri, “
Kata Andre, pada dirinya sendiri sambil menepuk jidat.
Setelah teringat pada jadwal Rika, Andre segera melangkah menuju lantai bawah. Kemudian ia masuk ke ruang makan. Andre pun duduk di sana dan menikmati sarapan yang telah disediakan oleh Mbok Yem.
Di tengah-tengah saat ia menikmati sarapannya, ia melihat pintu kamar Putri masih tertutup rapat. Biasanya jam 09.00 pagi ketika Putri masih berada di rumah, sudah pasti pintu kamarnya sudah terbuka.
Tiba-tiba mbok Yem melintas melewati ruang makan. Andre pun bertanya pada Mbok Yem,
“ Mbak udah lihat Putri bangun? “
“ Sepertinya Putri memang belum bangun Den, “ jawab Mbok Yem.
Kemudian Mbok Yem melanjutkan langkahnya menuju ruang depan.
Saat itu juga Andre berdiri dan beranjak mendekati pintu kamar Putri. Andre mulai mengetuk pintu kamar Putri. Sudah tiga kali ia mengetuk tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Akhirnya Andre menggedor pintu kamar itu, tiba-tiba ada suara dari dalam.
“ Siapa? “
terdengar suara putri dari dalam kamar.
“ Gue! Buka Put, “ perintah Andre.
Dengan malas Putri pun membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Setelah Putri membukakan pintu kamarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia bertanya pada Andre,
“ Apa sih Bang, teriak-teriak gitu, pagi-pagi udah rusuh aja. “
“ Oh lu masih hidup, gua pikir lu udah mati, nggak biasanya lu bangun siang, “
sahut Andre.
Putri pun keluar dari kamarnya dan duduk di ruang makan.
Mbok Yem melihat putri sudah keluar dari kamarnya, kemudian Mbok Yem berjalan mendekati Putri, lalu bertanya,
“ Mau sarapan sekarang non? “
Melihat Mbok Iyam menawarkan sarapan pada Putri Andre pun tidak terima.
“ Mbok Yem, ngapain sih ngurusin Putri, Biarin aja, dia udah gede, dia bisa bikin sarapannya sendiri kok, tuman banget! “
kata Andre sambil menebak kepala Putri.
“Ih sakit tahu Bang, “ sahut Putri.
Putri pun tidak terima diperlakukan seperti itu. Putri melihat bahwa Andre sudah rapi. Kemudian ia mengambil air minum dan menyiramkannya ke tubuh Andre dari belakang.
Andre pun terkejut, karena rasa dingin dari air yang disiram Putri.
Akhirnya Andre marah besar.
“Sialan lo ya, gua udah mau berangkat kerja, monyet! “
Putri pun berlari masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci pintunya dari dalam.
Makian Andre terdengar ke ruangan sebelah membuat Om Faisal menghentikan pekerjaannya, dan menghampiri Andre.
“ Ada apa sih ribut-ribut? Andre, Kenapa kamu kasar begitu ngomongnya? “
“ ini Om, Andre udah rapi disiram air sama Putri, kan basah, malahan udah jam segitu, Andre takut telat Om, “
jelas Andre.
“Ya udah, ganti sana, “ perintah om Faisal.
Dengan muka cemberut, Andre kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Mbok Yem melihat itu semua hanya tersenyum. Kemudian om Faisal bertanya pada mbok Yem,
“Mbok, kenapa Putri sampe nyiram Andre? Mbok tau? “
“Tadi Den Andre ngelepak kepala non Putri, mangkanya non Putri membalasnya. “
“Kenapa Andre ngelepak pala Putri Mbok? “ tanya om Faisal kembali.
Karena tadi Putri di bangunin, di ketok pintu kamarnya pelan pelan tapi nggak nyaut. Akhirnya di gedor, baru nyaut. Non Puttinya juga ngeyel, Tuan, “ jawab mbok Yem.
Om Faisal mengangguk angguk.
“Ya sudah lah, makasih mbok, “ sahut om Faisal.
“Nggeh, Tuan, “ jawab mbok Yem.
Kemudian ponsel om Faisal berbunyi. Segera om Faisal mengambil dari saku celananya, kemudian menerima panggilan telepon itu.
Sebelumnya om Faisal melihat layar ponsel, yang ternyata istrinya yang menghubunginya.
“Ya, halo Ma? “
{....................... }
“Posisi mama di mana?”
{....................... }
“Oke ma, sherlok aja ya ma, nanti papa ke situ. Oh ya, apa aja yang harus mama bawa? “
{..................... }
“Oke ma, papa siap siap dulu ya. “
Saluran telepon pun terputus. Kemudian om Faisal berjalan menuju kamarnya. Lalu ia mencari beberapa berkas di laci meja rias. Beberapa tumpuk fail di keluarkan dari dalam laci, kemudian ia menaruh di atas kasur. Satu persatu di lihatnya dengan seksama.
Kemudian ponselnya kembali berdering. Ada satu pesan yang masuk, lalu om Faisal membacanya. Ia pun kembali melanjutkan melihat fail fail yang berserakan di atas kasur.
Setelah menemukannya, om Faisal merapikan kembali, lalu menaruhkan lagi ke dalam laci. Lalu ia mencari sesuatu lagi ke dalam lemari. Ada banyak kunci di sana. Lalu ia mengambil beberapa kunci dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
Om Faisal keluar dari kamarnya menuju ruang samping tempatnya bekerja. Dia berbicara pada salah satu karyawannya,
“Cal, saya keluar dulu, mungkin agak lama. Nanti tolong rapikan semua ya, sebelum pulang. Oh ya, jangan lupa di pak pakin ya per size dan per artikel.”
“Baik Pak, “ jawab Ical. “
Ketika om Faisal membalikkan tubuhnya, kemudian ia mengurungkan langkahnya lagi dan berkata dengan karyawan lainnya,
__ADS_1
“Ko, nanti bantu Ical ya. “
“Baik Pak, “ jawab Koko.
Om Faisal bergegas menuju garasi di susul oleh mbok yang akan membukakan pintu gerbang. Begitu sigap mbok Yem melayani semua orang yang menjadi majikannya.
Mbok Yem pun berkata ketika om Faisal hendak melintas di hadapannya,
“Hati-hati ya Tuan, jangan ngebut. “
Om Faisal pun tersenyum dan melambaikan tangannya. “Iya mbok,” jawab om Faisal.
Setelah om Faisal pergi, mbok Yem menutup pintu gerbang. Tapi matanya melihat ada ke arah seberang jalan, ada sebuah sepeda motor yang parkir di sana beserta pengemudinya, tapi sayang, pengemudi itu menggunakan helm yang tertutup hingga wajahnya tak dapat terlihat.
Mbak Yem menutup gerbang dan menguncinya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Ketika di sampai di dalam rumah mbok ya Melihat Putri sedang duduk di ruang makan. Putri sedang menikmati sarapannya.
Mbok yang memperhatikan penampilan Putri. Dia melihat tampaknya tubuh Putri lebih kurus dari sebelumnya.
Mbok Yem menyapanya,
“Hayo, sarapannya dihabiskan ya biar badannya gemuk lagi. “
“Ih gemuk ini aja Putri sengaja di kurusin,” jawabnya.
“ Jangan non, jangan dikurusin, non Putri itu jelek kalau kurus, “ sahut Mbok Yem.
Putri hanya terdiam, dan melanjutkan sarapannya.
Mbok yang membereskan piring-piring kotor yang berada di meja makan tetapi Putri mencegahnya.
“ Nggak usah Mbok, Putri aja nanti sekalian ama bekas Putri. “
“ Udah, biar mbok aja, lagian non Putri kan mau berangkat. Nanti terlambat loh,”
Putri mengernyitkan dahinya dan berkata,
“ Hah! Siapa yang mau pergi? Putri nggak pergi kok hari ini, nggak ada jadwal hari ini Mbok, dua-duanya libur. “
“ Benar? “ tanya Mbak Yem.
“Beneran mbok, tapi kok Mbok Yem ngomongnya gitu? “ sahut Putri.
“Tapi kok....”
Omongan Mbok Yem terputus ketika karyawan Om Faisal meminta gunting.
Mbok Yem segera bergegas mencari gunting dan langsung mendapatkannya di dalam laci. Setelah itu ia memberikan pada karyawan Om Faisal.
Tanpa melanjutkan perkataannya Mbok Yem segera ke atas lantai 2.
Mbok yang berdiri di atas balkon Di mana tempat Andre sering beristirahat di sana.
Mata Mbok Yem menjelajahi jalanan dan berhenti di satu titik tepatnya di depan gerbang rumah. Ternyata orang yang mengendarai motor sport masih berada di situ.
Mbok Yem berpikir, sedang apa orang itu? Sedangkan Putri tidak ada jadwal untuk keluar rumah hari ini. Kemudian Mbok Iyem kembali turun ke lantai dasar menuju ruang dapur untuk membersihkan seluruh piring-piring kotor.
Selesai sarapan Putri merapikan meja makan dan membawa bekas piringnya ke ruang dapur lalu mencucinya.
Selesai mencuci piring Putri mengambil sapu dan hendak membantu Mbok Yem untuk membersihkan seluruh rumah.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pag, di mana saat itu Mbok Yem seperti biasa pergi ke pasar untuk berbelanja sayuran ikan.
Mbok Yem mempunyai keinginan untuk mengajak Putri ikut ke pasar, setelah Putri menyapu lantai tentunya.
“ Non, mau ikut Mbok Yem nggak ke pasar? Ya hitung-hitung jalan-jalan, “
Ajak Mbok Yem.
Putri pun tersenyum, lalu bilang,
“ Ayo siapa takut? “
“ Loh, siapa yang mau nakut-nakutin Non? “
Seketika itu juga, mereka berdua tertawa.
Putri pun mempersiapkan diri untuk ikut Mbok Yem ke pasar, begitu juga Mbok Yem, mempersiapkan apa yang harus ia bawa.
Mbok Yem dan Putri berjalan beriringan menuju keluar rumah melewati gerbang. Ketika Putri membuka gerbang Putri terkejut, melihat seseorang yang ternyata telah menantinya.
Mbok Yem bersikap seolah-olah ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mbok yam berjalan ke arah jalan raya sementara Putri berada di belakang mbok Yem.
Seketika Putri berkata pada Mbok Yem,
“ Mbok tunggu sebentar ya, Putri ada perlu sebentar. “
Mbok Yem pun mengangguk. Mbok Yem berdiri di pinggir jalan untuk menunggu Putri. Sementara Putri menghampiri orang yang berada di atas motor sport itu.
Mbok Yem bersikap seolah-olah tidak memperhatikan mereka. Tapi gerak-gerik mereka seolah-olah seperti sedang berkelahi.
__ADS_1
“Apa yang mereka sedang Bicarakan ya? kayaknya non Putri lagi marah-marah, Ah sudahlah Lebih baik aku diam tapi tetap memantau, “ bisik Mbok Yem dalam hati.