Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Bertemu Hilal.


__ADS_3

Karena merasa bosan, Hilal keluar dari apartemennya yang berada di tengah kota, dan melajukan mobilnya ke jalan raya dengan perlahan.


Walau malam itu keadaan jalanan sudah lengang, tetapi Hilal tetap pada kecepatan rendah saat mengendarai mobilnya.


Hilal pun menyalakan musik di mobilnya serta menyalakan rokoknya dan membuka jendela mobil. Sambil mengikuti alunan musiknya, Hilal sangat menikmati alunannya, hingga dia terlewat pada saat menuju mini market yang hendak dia kunjungi.


“Aduuuuuh, kelewatan deh, “


Gumamnya dalam hati.


Mau atau tidak, Hilal harus memutar balikkan kendaraannya kembali, agar dapat menuju mini market yang akan dia kunjungi.


Sebenarnya, Hilal bukan hanya merasa bosan, Hilal juga akan membeli kebutuhan dirinya dan apartemennya yang sudah lama ia tinggali.


Karena dia sudah tidak bekerja dengan mama Lina, dia kembali menempati apartemennya yang saat itu kosong tanpa penghuni.


Kini, Hilal tidak memiliki pekerjaan. Untuk memenuhi segala kebutuhannya, Hilal menyewakan mobilnya pada orang lain.


Bahkan, dia rela menjadi sopir sewaan, manakala ada yang membutuhkan keahliannya.


Hilal sempat terlena dengan kehidupan yang diberikan oleh perusahaan mama Lina.


Hidup berfoya-foya, wanita, judi bahkan minum-minuman yang memabukkan.


Hampir setiap malam, Hilal dan teman- temannya melakukan itu semua di tempat club malam yang mama Lina miliki.


Hanya Hilal dan beberapa orang saja yang mengetahui bahwa ada beberapa club malam milik mama Lina yang mereka sering kunjungi.


Tapi semenjak malam itu, malam na’as baginya, dia yang diperintahkan mama Lina untuk membongkar barang, akan tetapi dia juga yang di tuduh sebagai pencuri oleh mama Lina. Entah apa alasannya, yang jelas sampai saat ini pun Hilal tidak mengetahuinya.


Hilal berusaha melupakan kehidupannya yang dulu. Dia menganggap kehidupan yang dulu sebagai kehidupan yang konyol.


Kini, Hilal berusaha memulai kehidupannya yang baru.


Hilal memutar kembali kendaraannya. Sebelum sampai di mini market, Hilal melihat seorang wanita berdiri mematung seorang diri di tepi jalan.


Hilal pun memperlambat kecepatan kendaraannya, dan mendekat ke tepi jalan, dan menghentikan laju kendaraannya.


Kemudian Hilal membuka jendela kaca mobilnya. Hilal memperhatikan sosok wanita yang berdiri di tepi jalan itu.


Ternyata, Hilal mengenali wanita itu, ya, itu Rika.


“Hai! Sedang apa kamu d sana?”


Sapa Hilal pada wanita itu, yang tak lain adalah Rika.


Hilal mengingat, bahwa Rika pernah menolong dirinya saat terluka akibat ulah anak buah mama Lina, yang telah di perintahkan untuk menghabisi dirinya.


Rika pun membungkukkan tubuhnya, agar Rika bisa melihat pengemudi kendaraan yang ada di hadapannya.


Tapi Rika hanya terdiam. Dia tidak menyambut sapaan Hilal.


Hilal pun kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Rika. Ya, Hilal menghampiri Rika, kala itu dia melihat Rika menangis sambil memegangi kepalanya.


“Kau Rika kan? Ngapain kamu ada di sini, ini sudah malam loh?!”


Tanya Hilal.


Tetapi tetap saja Rika tidak menjawabnya. Rika hanya terdiam.


Akhirnya Hilal berinisiatif membuka pintu mobilnya, dan mempersilakan agar Rika masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa berpikir panjang, Rika pun menurut, dan masuk ke dalam mobil Hilal.


Hilal mengambilkan tisu untuk Rika, dan Rika pun menerimanya.


“Kita ke mini market dulu ya, ada sesuatu yang harus aku beli, nanti setelah itu aku antar kamu pulang,”


Lanjut Hilal.


Rika pun hanya terdiam. Rika mengeringkan air matanya yang membasahi pipinya.


Sesampainya mereka di sebuah mini market, Hilal memarkirkan mobilnya.


Hilal pun turun dari mobil, sementara Rika di tinggalkannya, dan tetap berada di dalam mobil.


Hilal masuk ke dalam mini market, dan mengambil segala kebutuhan yang dia perlukan.


Hilal pun mengambil beberapa batang coklat dan minuman kaleng, dan tak lupa dia menghampiri meja kasir dan membayarnya.


Setelah membayar semua yang dia beli, Hilal kembali masuk ke dalam mobilnya.


Hilal memberikan beberapa batang coklat dan sebuah minuman kaleng untuk Rika.


Kemudian Hilal melajukan mobilnya keluar dari area mini market, dan terus melaju.


Hilal berusaha memberikan ketenangan untuk Rika, karena Hilal melihat ada sesuatu yang mungkin telah terjadi dengan Rika.


Rika pun menerima coklat pemberian Hilal tanpa berkata-kata.


Dan Hilal menghentikan mobilnya di tepi jalan, berhadapan dengan sebuah taman.


Hilal pun turun dari mobil, dan mengajak Rika untuk turun juga dari mobilnya.


Hilal membukakan pintu mobil untuk Rika, agar Rika mau segera keluar dari mobil, dan ternyata, Rika pun menuruti kemauan Hilal tanpa berkata apa-apa.


Mereka pun berjalan menuju taman, dan duduk di kursi yang berada di tengah taman.


Malam semakin larut, dan udara pun semakin dingin.


Hilal membuka jaket yang dia pakai, dan memakaikannya ke tubuh Rika, dengan menaruh asal di bahu Rika.


Rika pun menerimanya dengan membetulkan letak jaket itu ke tubuhnya walau masih terdiam tanpa kata-kata.


Hilal membuka bungkus rokoknya, dan menyalakannya dengan korek api, sementara Rika mulai membuka kertas coklat sebagai pembungkusnya.


Suasana masih hening, tak satu pun dari mereka berbicara.


Karena Rika menilai Hilal dari sisi baiknya, Rika pun memecahkan keheningan itu dengan bertanya pada Hilal.


“Sebenarnya kamu mau ke mana?”


Tanya Rika.


Hilal : “Aku mau ke mini market, banyak yang harus ku beli untuk kebutuhan apartemen. Uda lama banget apartemen itu aku tinggal. Semenjak aku bekerja untuk ibu Lina, aku gak pernah pulang. Dan kamu sendiri, sedang apa kamu tadi di tepi jalan? Apa kamu gak takut nanti di ganggu orang?”


Rika hanya tersenyum. Rika terus memakan coklat yang Hilal berikan.


Hilal : “Kalo kamu gak mau jawab, ya gak apa-apa. Tapi yang jelas, kamu harus berhati-hati dengan ibu Lina, dia orang yang berbahaya, dia itu jahat.”


Rika pun kembali tersenyum, dan terus mengunyah coklat.


Hilal : “Oh ya, aku minta maaf ya sama kamu, aku udah jahatin kamu. Saat itu pun aku gak tau apa maksud bu Lina selama ini, aku hanya menjalankan tugas yang dia beri, dan gak boleh nanya-nanya.”


Hilal pun melanjutkan,


“Sampai-sampai, aku di suruh terus mengikuti kamu sampai di rumah, serta memperhatikan siapa saja yang berkunjung ke rumah kamu.”


Rika : “oh, pantas aja sekarang ini bukan kamu yang nguntit aku. Kayanya orang suruhan mama Lina itu seorang tukang sayur deh. Karna tukang sayur yang biasa mangkal, orangnya beda.”


Hilal : “Bisa jadi. Lalu, apa hubungan kamu dengan ibu Lina? Atau kamu berpacaran dengan anaknya?”

__ADS_1


Rika : “Ya, aku mencintai anaknya, Andre namanya. Dan kayanya, gak ada yang tau siapa mamanya sebenarnya, termasuk om Faisal, suaminya.”


Rika kembali bertanya,


“eh, apa bener, club malam itu miliknya? Atau dia hanya punya saham aja di situ?”


Hilal : “Aku gak tau banyak soal itu. Yang jelas, semua aturan club, dia yang atur.”


Rika : “Tapi aku kerja di situ, sedangkan dia gak tau.”


Hilal : “Lambat laun juga dia akan tau, catat deh omongan ku.”


Rika : “Lalu menurutmu, aku harus apa? Temenku juga bekerja di situ. Lalu, gimana nasib temen ku juga?”


Hilal : “Aku antar kamu pulang sekarang, perasaan aku gak enak. Ayo cepat masuk mobil.”


Rika : “ emang ada apaan sih, kenapa tiba-tiba kamu kaya gini? “


Hilal : “ udah, ayo cepetan masuk mobil, tar juga kamu tau. “


Hilal pun menarik tangan Rika. Langkahnya di percepat.


Hilal membuka pintu depan mobilnya agar Rika segera masuk. Hilal pun menyusulnya, dan kemudian dia mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


“Liat! Itu orang-orang mereka. Orang – orang suruhan ibu Lina, “


kata Hilal sambil menunjuk ke arah depan jalan yang berlawanan.


Ada banyak pengendara motor dengan atribut yang sama. Entah mereka menuju mana.


Hilal terus mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi.


Setelah jauh, Hilal pun mengurangi kecepatan mobilnya, dan dia memperhatikan Rika.


Sikap Rika begitu ketakutan, hingga dia memejamkan matanya.


Hilal pun menghentikan mobilnya dengan perlahan ke tepi jalan.


“Kamu kenapa, Rika? Kamu takut? Sebenarnya ada apa dengan kamu? Ngomong dong, Rika, mungkin aku bisa bantu?”


Tanya Hilal dengan rasa penasaran.


Akhirnya Rika pun bercerita.


“Sebenarnya, hubungan ku dengan Andre itu gak dapet restu dari mama Lina. Kayanya dia gak suka ama aku, mungkin karna aku miskin dan aku gak cantik, gak seperti yang dia harapkan. Dia merasa bahwa aku gak layak buat anaknya. Tapi Andre kekeh, sampe aku di ancam. Ya, itu, yang sama kamu, sampe kamu nyekap aku di rumahku sendiri. Aku juga bener-bener gak nyangka sampe segitunya. Bahkan Setiap kali ketemu dia, aku takut. Tapi gimana pun juga, aku harus kuat, aku harus ngadepin rintangan ini.”


“Termasuk itu, luka di kepala kamu? “


Tanya Hilal.


“Ya, termasuk ini. Sepertinya dia sengaja menyiksaku terus, liat aja, aku akan tetep kok pertahanin hubungan ku dengan Andre. Aku sayang ama dia. “


Jawab Rika.


“Oke, berarti kamu tau resikonya. Tapi gimana pun, kamu harus jaga diri, ibu Lina orang yang super tega, dia gak akan ngebiarin orang yang menghalangi kemauannya.”


Jelas Hilal.


Hilal bertanya kembali,


“Trus, kamu dari mana tadi? “


“Aku habis jenguk om Faisal. Aku gak tau kalo om Faisal kena tikam, di saat malam pertunangan aku dan Andre. Mereka gak sampe ke rumah, karna mereka di hadang para pengendara motor. Semua barang di ambil, termasuk cincin lamaran buat aku. Aku malu, bang Hilal. Aku malu dengan keluargaku, karna keluarganya gak dateng. Dan ternyata, keadaannya kaya gini. Aku bener-bener nyesel, udah nuduh mereka yang enggak-enggak.”


Jelas Rika.


“Kamu yakin, ini semua bukan rekayasa?”


Tanya Hilal.


Jelas Rika.


“Atau, semua ini kecelakaan di dalam rekayasa bu Lina?”


Tanya Hilal.


“Ehmmm, aku gak tau bang. Dan kita, maksudnya aku dan Andre juga belum lagi bikin rencana ke depannya.”


Jawab Rika.


“Ya sudah, sekarang aku antar kamu pulang, dan istirahatlah. Sekali lagi, aku minta maaf ya, atas kebodohanku selama ini.” Kata Hilal.


“Iya, “ jawab Rika sambil mengangguk kan kepalanya.


Hilal pun kembali melajukan mobilnya dengan perlahan, dan tak lama kemudian, Hilal menambah kecepatan mobilnya menuju arah rumah Rika.


#########


Setelah menurunkan Rika di jalan, mama Lina mengendarai mobilnya menuju gudang.


Herman pun langsung membukakan pintu gerbang gudang, kemudian mama Lina masuk ke pekarangan depan gudang dan memarkirkan mobilnya di pelataran.


Malam itu cuaca sangatlah dingin. Mama Lina segera masuk ke dalam gudang, dan di ikuti Herman dari belakang.


Mama Lina memasuki ruangan kantornya, dan mengambil beberapa berkas.


Dia memilah-milah berkas itu, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


Mama Lina memanggil Herman dengan suara besar sambil berteriak,


“Herman! Sini kamu!”


Mendengar mama Lina memanggil, Herman pun segera bergegas, dan meninggalkan aktivitasnya saat itu.


Herman melangkah masuk ke ruangan kantor mama Lina.


“Ya Bu, ada apa?”


Tanya Hilal.


“Berapa orang yang jaga?”


Tanya mama Lina.


“Sekitar sepuluh orang Bu,” jawab Herman.


Mama Lina langsung mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Herman.


“Kamu bilang sekitar? Apa maksudnya? Saya gak suka sesuatu yang gak pasti ya. Pastikan ada berapa orang di gudang saat ini yang jaga, jangan bilang sekitar sekian, bodoh banget sih kamu! Di catat goblok! Pake absen, dan tandatangan! Kamu pikir tenaga kalian itu tidak saya bayar?!”


“I, iya Bu, siap, akan saya buat absen,” jawab Herman terbata-bata.


“Besok pagi, serahkan ke saya, udah harus ada di meja kerja saya pagi jam 8 tepat,”


Perintah mama Lina pada Herman.


“Ba, baik bu,”


Jawab Herman.


Mama Lina pun bergegas meninggalkan ruangan itu menuju ruang penyimpanan.

__ADS_1


Herman masih mengikuti mama Lina dari belakang.


“oh ya, siapkan barang-barang untuk di antar besok ke ruko-ruko. Jangan lupa siapkan surat jalannya, hitung satu persatu, jangan sampai selisih. Jika kurang akan ku potong gaji kamu!”


Perintah mama Lina pada Herman.


“Maaf Bu, jam berapa besok barang di kirim ke ruko?”


Tanya Herman.


“kaya biasa aja, setelah makan siang, kamu anter ke ruko terjauh dulu, baru ke yang terdekat, jadi gak bolak-balik.”


Kata mama Lina.


“Baik Bu,” jawab Herman sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah berbicara dengan Herman, mama Lina bergegas meninggalkan gudang.


Setelah mengantar mama Lina ke depan gudang dan membukakan pintu gerbang, Herman pun masuk kembali, dan sebelumnya mengunci gerbang tersebut.


“Woyyy, kopi woooyyy,”


Teriak Herman.


Tidak lama kemudian seseorang membawakan secangkir kopi, dan meletakkannya di atas meja kecil yang berada di samping kursi yang Herman duduki.


“Njiiiir, tegang banget gue kalo ada nyonya, otak gue jadi keram,”


Kata Herman pada Paijo.


“Di minum dulu bos, kopinya,”


Kata Paijo.


Herman pun meminum kopi yang di buat Paijo, sedikit demi sedikit, dan meletakkan kembali ke atas meja kecil.


Herman memerintahkan Paijo untuk memanggil teman-temannya yang lain, yang sedang berjaga di belakang gudang.


“Pai, lo panggil deh anak-anak yang lain, suruh ke sini, tar gue kasih tugas.”


“Siap bos,”


jawab Paijo.


Tidak lama kemudian, beberapa orang anak buah mama Lina menghampiri Herman.


“Cong, lo bikin surat jalan besok ya, jangan ampe selisih, nah lo Met, lo siapin barangnya, buat 5 ruko besok. Jangan ampe salah deh pokoknya, kalo salah, kepala gue bisa ilang ma nyonya. Nah elo Gel, lo bantuin Memet nyiapin barang-barangnya, inget, jangan ampe ke tukar ya, karna tiap ruko beda-beda barangnya,”


Kata Herman memerintahkan teman-temannya.


“Cepetan kerjain, biar bisa tidur, besok siang kita jalan,”


Kata Paijo kepada teman-temannya.


Mereka pun mulai bekerja di bagian masing-masing tugasnya.


##########


Sampailah mama Lina di rumahnya tepat tengah malam. Putri masih terjaga dan juga Diki, mereka masih menonton acara TV.


Diki membukakan pintu gerbang rumah untuk mamanya, sedangkan Putri bergegas ke ruang dapur untuk membuat teh panas.


Mama Lina segera masuk ke dalam, dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang.


Putri pun segera menghampirinya, dan menaruh teh yang baru saja dia buat di atas meja.


“Minum dulu Ma,”


Kata Putri kepada mama Lina.


“Makasih ya Put. Oh ya, kok kamu belum tidur? Adik-adik gimana, Lisa cengeng gak?”


Tanya mama Lina.


“Gak Ma, gak cengeng, tenang aja. Dari tadi siang main terus ama aku. Dan sore aku ajak maen sepeda aja, ngiter-ngiter, “


Kata Diki.


“Maapin mama ya, mama harus pulang larut malam terus, abis siang kan gak bisa. Karyawan papa siapa yang awasin, kalo bukan mama? Trus, kerjaan mama gimana, itu juga masih bagus ada yang gantiin mama kalo siang, ya tapi saat malam mama harus cek lagi. Makasih ya buat kalian, kalian bisa mama andalkan,”


kata mama Lina pada Putri dan Diki.


“Iya Ma, sama-sama. Mama juga jaga kesehatan, masa nanti om Faisal sembuh, mama jadi sakit karna gak ngejaga?! “


Kata Putri, sambil bergelayutan di kaki mama Lina dengan manja.


“Ih, berat Put, mama da gak kuat nopang kamu, kamu da gendut,”


Kata mama Lina.


Mendengar perkataan mama Lina, Diki pun tertawa.


“Tuh, diet mangkanya, udah kaya kebo tuh badan,”


Kata Diki yang ikut menimpali.


“Yeee, gendut dari mana? Tinggi gue 155, berat gue 55, sedenglah, lo tuh kerempeng, kaya teriplek bedeng, lo tau bedeng gak?”


Kata Putri membalas ejekan Diki.


“Heeeyy, sudah-sudah stop, gak usah ribut lagi, uda malem. Yuk kita tidur, “


Kata mama Lina, sambil beranjak meninggalkan Putri dan Diki.


“Dik, lo konci ya pintu depan, gue mau tidur, “


Perintah Putri pada adiknya, Diki.


Tanpa menunggu jawaban dari Diki, Putri pun langsung bergegas menuju kamarnya.


#############


Mereka yang tak lain adalah Rika dan Hilal telah sampai di depan rumah Rika.


Rika berpamitan pada Hilal yang sebelumnya berkata,


“Terima kasih ya sudah nganter aku pulang, aku turun dulu.”


“Iya, sama-sama. Sekali lagi, aku minta maaf ya. Kamu jaga diri baik-baik. Jika kamu butuh bantuan, hubungi aku segera. Aku akan berusaha meluangkan waktu buat kamu. Kamu juga sudah menyelamatkan hidupku,”


kata Hilal.


Rika pun keluar dari mobil Hilal. Serasa mengamati sekeliling jalan yang sepi, dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Sesampainya Rika di dalam rumah, kakinya melangkah menuju kamar tidurnya.


Di hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang lembut, dan terbayang wajah kekasihnya, yaitu Andre.


“Ya Tuhan, kenapa semua ini jadi begini? Haruskah aku terus mengikuti permainan mamanya? Mampukah aku terus bertahan? Tuhan, tolong beri aku kekuatan. Beri aku kemampuan agar aku tetap bertahan, dan mempertahankan cintaku pada Andre,”


Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Tak sadar, Rika pun tertidur.


__ADS_2