Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Pertunangan direncanakan kembali.


__ADS_3

Suasana Singgasana club malam itu sangat ramai, hingga tak satu pegawai pun bisa bersantai-santai.


Tapi berbeda dengan Santi, dia terus mengusik Andre dalam bekerja.


Ke mana pun Andre melangkah, selalu di buntuti oleh Santi. Sampai-sampai Andre pun merasa risih.


“Lo ngapain sih Nek ngikutin gue terus, entar malah ke injek baru tau rasah deh,”


kata Andre pada Santi.


“Gue pengen dekat lo terus, kan sekarang udah gak ada saingan gue, dengan sendirinya dia tersingkirkan. Dan juga, sekarang ini kan lo baru masuk kerja lagi, gue kan kangen, Dre,”


rengek Santi.


“Ya ampuuuuun, sonoan gak, ribet kalo kerja kaya gini, langkah gue sempit,”


gerutu Andre pada Santi.


Tapi tetap saja, Santi terus mengekori Andre yang sedang melayani tamu. Bahkan, Santi pun ikut melayani tamu dan ikut menyuguhkan hidangan dengan berpura-pura bersikap manis.


“Silakan nyonya, tuan, silakan menikmati hidangannya, “


kata Santi sambil membantu Andre dalam penyajian.


Setelah melayani tamu, Andre bergegas menuju ruang kichen. Karena posisi Santi berada tepat di belakang Andre, dan saat itu Andre sedang membawa tray yang di atasnya ada gelas berisi air sisa minum tamu, tanpa sengaja Andre menabrak Santi.


Maka, tumpahlah gelas itu dan terkena baju seragam yang di kenakan Santi.


“Nah, kan, apa gue bilang, “


kata Andre.


Santi pun berteriak dan berkata,


“Aduuuuh Beeeeebbb, mata kamu ke mana seeeeh, baju ekeeh basah deh.”


Andre pun meninggalkan Santi begitu saja tanpa menoleh lagi. Dan Santi pun bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi karyawan.


Sedangkan tamu yang baru saja di layani oleh Andre dan Santi tertawa melihat tingkah mereka.


Melihat kejadian itu Ema dan Tomi segera bergegas menuju area tersebut.


Tomi mengambil pengering lantai, sementara Ema mengambil pewangi lantai.


Betapa sigapnya sikap mereka saat bekerja. Itulah yang membuat pak Narto dan pak Bambang bangga pada mereka.


Setelah membersihkan pakaian seragamnya, Santi mencari Andre.


Santi bertanya pada Tomi,


“Tom, lo liat My baby gak? “


Mendengar pertanyaan Santi, Tomi pun balik bertanya,


“Siapa baby lo? Emang lo kerja bawa baby?”


“Iiiiiiih, Tomi! Itu loh si tampan pangeran gue, lo liat gak?”


tanya Santi dengan nada kesal.


“Kagak, gue kagak liat, kenal juga enggak,”


jawab Tomi sambil berlalu.


Waktu split pun tiba. Para karyawan beristirahat dan resto pun di tutup untuk sementara.


Santi mencari Andre di setiap sudut ruang, tapi sayang, Santi tidak menemukan Andre.


Ternyata, Andre sengaja menghindar dari Santi. Andre merasa muak dengan tingkahnya.


Andre bersembunyi di kolong meja besar yang berada di dalam musholla.


Sengaja Andre tidur di kolong meja itu untuk menghindar dari Santi, yang sebelumnya Andre memberitahukan pada Ema, agar jika sudah masuk waktu buka resto, Ema segera membangunkan Andre.


Baru saja Andre terlelap dalam tidurnya, Santi melihat kaki Andre yang terlihat dari arah bawah meja.


Saat itu Santi ingin melakukan Shalat asar. Ketika itu dia tidak sengaja membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kain yang berada di lantai. Sontak matanya terkejut lantaran melihat sepasang kaki yang tergeletak.


“Oh ahhaaaa, ternyata kau di sini rupanya. Bentar baby, i'm coming,”


gumamnya dalam hati.


Santi pun melaksanakan Shalat asar.


Beberapa menit kemudian, Santi selesai mengerjakan Shalat asar. Kemudian dia merapikan kain dan mukena serta sajadah yang baru saja dia pakai, dan menaruh kembali ke dalam lemari kecil yang tersedia di ruangan itu.


Ketika Santi membungkukkan tubuhnya ke bawah meja, ternyata Andre sudah tidak ada di sana.


Betapa geramnya Santi saat itu.


“Ya ampuuuuuun, cepet banget sih lo kaburnya Dre, what wrong with you?”


gumamnya pelan.


Santi pun melangkahkan kakinya menuju teras musholla. Santi duduk di sana, dan memakai sepatu ketsnya.


Santi termenung sesaat, dan dari kejauhan ada Tomi yang menghampirinya.


Tomi duduk di samping Santi yang sedang termenung. Tomi pun tak berkata apa-apa. Dia hanya memainkan korek api yang ada di tangannya.


Tiba-tiba Santi berkata pada Tomi,


“Kenapa ya sikap Andre sekarang berubah, gak kaya dulu, dulu asik aja ama gue, kenapa sekarang dia kaya batu es?”


Tomi : “Kan lo tau San, sekarang dia bokinan ama Rika, jadi wajar aja sih kalo sikapnya sekarang kaya gitu. “


Santi : “Mereka berdua itu gak serius, Tomi. Saat itu Andre cuma bantuin Rika aja, biar Rika gak malu, cuma itu, gak lebih.”


Tomi : “Tapi kenyataannya gak gitu kan? Mereka itu mau nikah San, lo sadar gak sih, lo tuh udah gangguin calon suami orang!”


Santi : “Apa lo punya bukti mengarah ke sana, hah?! Mana buktinya, lo bisa nunjukin ke gue gak?”


Tomi : “San, sadar napa sih lo! Jangan lo menghibur diri dengan cara lo, bangun San, Andre itu udah milik Rika, keliatan juga sih kalo dia cuma nganggap lo temen, gak jauh beda kaya lo sama gue, jangan berharap lebih San, lo bakal kecewa.”


Santi : “Liat aja nanti Tom, gue gak bakal tinggal diam. Gue bakal cari cara apa dan gimana,”


Tomi : “Ah, lo San, gak jelas lo kalo ngomong, mimpi aja terus.”


Tomi pun pergi meninggalkan Santi yang masih duduk di teras depan musholla.


Tomi berjalan menuju lantai dasar. Tak begitu lama, Tomi berpapasan dengan Andre.


Tomi : “Hei Dre, di cariin lo sama Santi, lo ke mana?”


Andre : “Aduuuuh, males gue Tom ngeladenin dia, sumpah.”


Tomi : “Lo tuh terlalu ngasih harapan ke dia, jadi dia ngarep juga.”


Andre : “Ngasih harapan apa? Gue gak pernah ngasih harapan apa pun ke dia. Kalo gue suka minta traktir, kan bukan dia aja yang gue palakin, kayanya hampir semua cewek di sini pernah gue palakin. Dan gak ada satu pun yang gue tembak.”


Tomi : “Tapi kayanya Santi beneran suka ama lo Dre, kasian.”


Andre : “Trus gue harus apa, harus macarin dia, gitu? Lo aja sana! Gue gak bisa main-main lagi sekarang. Gue mau kawin Tom.”


Tomi : “Serius lo?! Ama Rika??? “


Andre : “Iyalah, ama siapa lagi, cewek gue kan, dia.”


Tomi : “Tapi gosip yang gue dengar, katanya lo gak jadi nikah ama Rika.”

__ADS_1


Andre : “Ahhh.... Gosip lo dengerin, tanya sini sama sumbernya. “


Tomi : “Ya ini, mangkanya gue nanya ama lo Tong.”


Andre : “Pokoknya gue bakal jadi nikah. Kemaren emang lamaran gue gak jadi, karna ada halangan, dan bokap gue masuk rumah sakit, mangkanya gue ambil cuti gue yang belum pernah gue ambil.”


###########


Di rumah Andre, mama Lina sibuk mengurus suami dan anak-anaknya.


Mama Lina dan mbok Yem sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga.


Keadaan om Faisal saat itu sudah membaik, sudah mampu berjalan tanpa bantuan orang lain untuk menuntunnya.


Saat itu om Faisal sedang duduk di ruang tengah bersama anak-anak kandungnya sambil menikmati acara yang di tayangkan di TV.


Mbok Yem memanggil anak-anak untuk segera makan malam.


“Ayo anak-anak, kita makan dulu, mbok Yem sudah sediain makan nih ayo, sini duduk.


Segera Lisa menghampiri dan duduk di kursi makan. Di susul dengan yang lainnya.


Om Faisal pun duduk berdekatan dengan Lisa. Dan di susul juga oleh mama Lina, yang duduk di samping om Faisal. Dan mereka pun makan bersama.


Tetapi mbok Yem tidak ikut serta, karena mbok Yem tidak pernah di izinkan oleh mama Lina makan satu meja bersama mereka.


Tapi mbok Yem tidak pernah merasa kesal. Karena dia sadar diri siapa dirinya di tengah keluarga Andre. Ya, ia hanya seorang pembantu. Tidak bisa di pungkiri hal itu.


Sedekat apa pun hubungan keluarga Andre dengan mbok Yem, mama Lina tetap menjaga hubungan itu seperti layaknya majikan dan pembantu, begitu lah mama Lina.


Dan mbok Yem tidak pernah protes akan hal itu.


Di tengah-tengah saat mereka menikmati makan malam, mama Lina membuka pembicaraan dengan om Faisal, suaminya.


“Pa, gimana kelanjutan hubungan Andre dan Rika? Aku mau mereka segera menuntaskannya.”


Om Faisal menjawab,


“Ya sudah, kita rencanakan lagi dari awal. Semoga tidak ada lagi halangan.”


“Ya sudah, nanti aku bilang ke Andre, biar dia bisa siap-siap,”


kata mama Lina.


“Emang kira-kira kamu mau bikin jadwalnya kapan? Kan kondisiku masih kaya gini Ma,”


kata om Faisal.


“Bikin sederhana aja kayanya Pa, gak apa-apa kalo papa gak ikut. Kan aku bilang, bikin yang sederhana aja,”


jelas mama Lina.


“Kalo papa gak ikut, trus yang ikut nanti siapa aja?”


tanya om Faisal.


“Paling, mama, Putri, ama Andre, kalo Diki mau gak apa-apa ikut, ngeramein dikit. Yang pentingkan kita udah lamar dia Pa. Udah Pa, jangan terlalu banyak mikir, kapan sembuhnya? Kalo begini terus mama bisa kedodoran Pa, karna ngurus semuanya mama sendiri,”


kata mama Lina.


“Maafkan papa Ya, papa udah ngerepotin,"


kata om Faisal.


“Lagian papa sih, so’ jago, coba papa diem aja saat malam itu, kan gak begini jadinya,”


kata mama Lina, sambil menambahkan lauk ke dalam piring om Faisal.


“Ih si mama, jangan banyak-banyak, tar papa gendut,”


kata om Faisal.


kata mama Lina.


Lisa meminta ayam goreng kesukaannya.


"Ma, tambah lagi dong, Lisa minta paha,”


kata Lisa.


“Nasinya nambah ya nak?”


tanya mama Lina pada Lisa.


“Gak mau, Lisa mau makan paha ayam aja,”


kata Lisa merengek.


“Iya-iya. Ya udah nih makan, yang penting abisin ya, mama gak suka kalo makan sampe gak abis. Ayo Diki, nambah ya?”


kata mama Lina.


“Gak ah Ma, kenyang. Ma, Diki langsung ke atas ya, banyak tugas,”


kata Diki.


“Oh no! Rapikan meja makan dulu, kalo udah selesai, baru mama izinin kamu naik ke atas kamar. Kalo mendesak, kamu bilang mbok Yem saat ini kamu gak sempet cuci piring, ngerti?


perintah mama Lina pada Diki.


Itulah mama Lina, mendidik anak-anaknya dalam bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga.


Setiap anak mendapat tugas dalam mengurus rumah, termasuk Lisa, anak yang paling kecil, yang masih berusia 5 tahun pun sudah mendapatkan tugas rumah tangga.


Tetapi tugas Lisa masih ringan, yaitu merapikan sendal dan sepatu harus rapi tertata di rak.


Mama Lina akan berteriak pada Lisa jika melihat sendal dan sepatu berserakan.


Makan malam pun selesai. Segera mama Lina menuntun saminya ke arah depan rumah, sambil menikmati udara dingin di malam hari.


Lisa pun turun dari kursinya dan mengikuti langkah orang tuanya, sambil membawa tugas sekolahnya.


Sedangkan Diki, membereskan dan merapikan meja makan yang saat itu masih berantakan dan di bantu oleh mbok Yem.


“Mbok, aku cuci piringnya entar ya, aku mau ngerjain tugas dulu, beneran mbok, jangan mbok yang kerjain ya, janji mbok?”


Kata Diki.


“Oalaaah Den Diki, ini kan memang sudah tugas mbok, kamu kan hanya membantu aja, gak apa-apa mbok nanti yang ngerjain,”


kata mbok Yem.


Diki pun menumpukkan piring-piring kotor dan langsung dia mencucinya. Diki tidak ingin tugas rumahnya di gantikan oleh mbok Yem.


“Ya ampun den Diki, kan tadi mbok sudah bilang , biar aja nanti mbok yang cuci, mending kamu kerjain sana tugas sekolahnya, nanti kamu keburu ngantuk,”


kata mbok Yem.


“Udah mbok, gak apa-apa.


Malam semakin larut, udara pun semakin dingin.


Mama Lina mengajak om Faisal untuk masuk ke dalam rumah, dan menggiringnya ke dalam kamar.


Lisa pun membuntutinya dari belakang.


“Ma, jangan lupa, kalo bisa nanti langsung bicara dengan Andre,”


Kata om Faisal pada istrinya,

__ADS_1


“Iya Pa, mama juga belom nagantuk, sambil temenin Lisa ngerjain tugas nunggu Andre nanti,”


kata mama Lina.


Mama Lina meninggalkan om Faisal yang hendak beranjak tidur. Dia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, di mana ada Lisa yang masih sibuk dengan tugas sekolahnya.


Tidak lama kemudian, Putri pulang dari tempat lesnya.


“Assalamualaikum Lisa,”


kata Putri pada Lisa.


“Wa alaikumsalam, kak Putri,”


jawab Lisa.


Putri mendekati mamanya, dan mencium tangan mama Lina sebagai penghormatan.


Putri menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang, dan membuka sepatunya. Putri menaruh sepatunya di bawah meja.


Ternyata, Lisa memperhatikan gerak-kerik kakaknya.


Ketika Putri meletakkan sepatu di bawah meja, Lisa langsung berdiri dan tangannya di taruh di pinggang.


Sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, dan mengancungkan jari telunjuknya, Lisa berkata,


“Ayo kak Putri, kolong meja bukan tempat naruh sepatu ya, ayo cepet pindahin, entar Lisa ynag kena omel ama mama.”


“Ye elaaah Nek, gitu doang, kak Putri cape nih, bantuin kek, pijitin kek, tolongin kenapa sih pindain,”


kata Putri.


Melihat sikap Putri yang kurang mengenakkan di mata mama Lina, dia pun langsung berkata dengan nada sedikit meninggi,


“Bersikaplah mendidik pada Lisa, Put, kasih contoh yang baik buat adik kamu, kalo kamu kayak gitu, gimana adiknya bersikap?”


“Iya, maaf Ma, Putri kan cuman becandain Lisa,”


kata Putri.


“Becanda itu yang lucu, bukan yang ngeselin, sikap kamu itu ngeselin,”


kata mama Lina pada Putri dengan nada omelan.


Mendengar perkataan mamanya yang mulai naik pitam, Putri pun bergegas ke arah teras sambil membawa sepatunya, dan memasukkan sepatunya ke dalam rak.


Lisa pun tersenyum melihat apa yang sudah Putri lakukan, dan Lisa berkata,


“Nah, gitu dong, itu baru kakak Lisa, kakak yang rajin, hehe he.”


Tidak lama kemudian, Andre pun pulang. Dia memberi salam dari balik pintu.


“Assalamualaikum.”


“Wa alaikumsalam,”


jawab Lisa, Putri dan mama Lina serentak.


Andre melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang saat itu sudah hadir mamanya, Putri dan Lisa.


Karena saat itu sudah hampir tengah malam, Lisa pun berpamitan hendak tidur.


“Ma, Lisa mau bobo, Lisa nagntuk,”


kata Lisa pada mama Lina.


“Ya udah, sana. Pipis dulu ya, takut ngompol,”


kata mama Lina pada Lisa. Dan Lisa pun mengangguk.


Andre duduk di lantai, sambil melentangkan kakinya yang panjang.


Dengan ke usilannya, Putri melempar kaus kaki yang sudah dia kenakan.


“Tangkep Bang,”


perintah Putri pada Andre.


Dengan cekatan, Andre menangkap bola-bola yang di lempar Putri, yang ternyata itu adalah kaus kaki.


Setelah sadar bahwa yang dia tangkap adalah kaus kaki kotor, Andre pun melempar kembali bola-bola itu ke arah wajah Putri, sambil berkata,


“Makan tuh,”


Andre pun berlalu meninggalkan mama Lina dan Putri untuk mengambil air minum dari alat pendingin.


Mama Lina memanggil Andre yang tak kunjung datang kembali.


“Dre, sini dulu. Ada yang mau mama omongin ama kamu.”


Mendengar panggilan dari mama Lina, Andre pun kembali ke ruang tengah. Seperti sebelumnya, Andre duduk di lantai.


“Ya Ma, ada apa? Kayanya penting,”


Kata andre.


“Mama mau ngomongin soal pertunangan kamu ama Rika. Apa kamu udah punya rencana?”


Tanya mama Lina.


“Saat ini belum sih Ma, karna kan Andre liat situasi, om Faisal masih sakit, mama masih sibuk gantiin tugas Om, Andre sih pengennya cepetan, tapi gimana dong. Lagian Rika juga ngertiin kok,”


jawab Andre.


“Mama juga pengennya cepetan, tapi kalo liat kondisi papamu, pemulihannya lama. Kamu ada ide? Atau kamu Put?”


Tanya mama Lina pada Andre dan Putri.


“Ya udah, di segerakan aja kalo emang mau cepet-cepet. Berarti formasi gak lengkap. Itu resiko lo Bang, om Faisal gak bisa di paksain,”


kata Putri.


Andre termenung.


Melihat sikap Andre, mama Lina bertanya,


“Trus, menurut kamu gimana Dre?”


tanya mama Lina.


“Ya udah lah, mama atur aja, Andre ikutin mama aja,”


kata Andre dengan pasrahnya.


“Ya udah, mama punya ide. Karna kondisinya kaya gini, lamaran tetep berjalan, tapi di sesuaikan dengan kondisi. Gak apa-apa ya kita bikin sederhana aja. Paling nanti yang ikut mama, kamu, Putri dan Diki. Itu juga kalo Diki mau, gimana Dre menurut kamu? Kalo menurut mama sih, gak masalah deh kalo yang datang kita aja, kan juga kondisi kita lagi kaya gini. Kamu juga sebelumnya bilang dulu ke Rika, biar Rika jelasin ke keluarganya, biar bisa ngertiin, dan mereka pun mengkondisikan keadaan kita, biar imbang,”


jelas mama Lina.


“Iya, Andre terima usul mama,”


kata Andre.


“Oke,”


jawab mama Lina.


Ya, memang seperti itulah yang mama Lina harapkan, sesederhana mungkin. Dan juga, agar Andre menyerahkan segala urusan pertunangannya pada dirinya, akan dia buat Rika kembali malu.


Mulailah pikiran liar mama Lina berkelana mencari jalan untuk menyakiti Rika.

__ADS_1


__ADS_2