
Mbok Yem melangkah ke ruang tengah dari arah dapur, ia melihat Om Faisal dan Andre masih berada di ruang tamu.
Untuk memastikan gerak-geriknya tidak di curigai mereka, ia mengambil kemoceng dan serbet. Kemudian Mbok Yem masuk ke dalam kamar Putri.
Dipandangi ruang kamar Putri sampai ke pelosok sudut. Keadaan kamar Putri tidak begitu rapi. Sengaja Mbok yang tidak merapikan kembali, karena takut Putri tahu bahwa dia masuk ke kamarnya.
Pintu kamar pun ditutup kembali oleh mbok Yem dari dalam.
Mbak Iyem mulai mencari dari sesuatu dari sudut satu ke sudut yang lain, dari kolong meja rias sampai kolong tempat tidur, dan akhirnya Mbok Yem harus menggeser letak tempat tidur.
Ternyata di sana pun tidak terdapat apa-apa, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Akhirnya Mbok yang masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di ruang kamar Putri.
Mbok yang pun memandang dari segala sudut, hingga memeriksa di segala tempat.
Tapi tetap saja Mbok Yem tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Dan Mbok Yem duduk di tempat tidur Putri, sambil ia membayangkan apa yang tadi pagi ia temukan, tapi bagaimanapun Mbok yang tidak tahu itu apa.
Awal kecurigaan mbok Yem berawal dari saat mbok Yem melihat sesuatu di tengkuk leher Putri. Sejak saat itu Mbok Yem selalu memperhatikan gerak-gerik Putri, apapun yang menyangkut Putri, Mbok Yem selalu ingin tahu.
Begitu besarnya rasa sayang Mbok Yem terhadap Putri, sampai-sampai Ia lupa diri bahwa ia hanya pembantu di rumah itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Andre dan Om Faisal sedang berbincang-bincang di ruang tengah, letak ruang tengah berhadapan dengan kamar Putri.
Mendengar suara Andre dan on Faisal Mbok yang pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar Putri.
“Kamu tadi ngapain sih Ndre, lari ke depan gerbang jinjit jinjit, kamu lihat apa?”
Tanya om Faisal, penasaran.
“ Itu tadi suara motor, nggak lama Putri keluar terus tiba-tiba ada suara motor, pas banget di depan rumah kita, apa Putri dijemput seseorang? “
Jawab Andre dengan wajah curiga.
Maksud kamu apa Ndre, Om nggak ngerti, “
Kata om Faisal, sambil mengernyitkan dahinya.
Mbok menyimak pembicaraan mereka. Mbok Yem mulai menduga-duga.
Dengan nada emosi, Andre berkata,
“Om, Andre pernah mergokin Putri pulang di anter cowok naek motor. Putri sih nngak ngaku kalo itu cowoknya. Yang Andre liat, kalo itu cuman temen, masa ama temen pake pegang pegang pipi! Kan kesel Andre liatnya. “
“Kamu liat di mana? “
Tanya om Faisal penasaran.
“Andre liat dari atas balkon. Pulang tengah malem ama cowok. Pake pegang pegang segala lagi, pengen tonjok banget tuh cowok, “
Tutur Andre.
“Kamu liat cowoknya jelas? “
Tanya om Faisal kembali.
“Nnggak sih, cowok itu pake helm, jadi mukanya nnggak keliatan, “
jawab Andre dengan pelan.
“Apa bener Putri sudah punya pacar? “
Gumam om Faisal pelan.
Karena Andre mendengarnya pelan, jadi pertanyaan om Faisal tidak jelas di dengar Andre, maka Andre pun kembali bertanya,
“Kenapa Om? Om hilang apa? “
“Akh, nnggak, udahlah lupain. Om Faisal bangkit dan beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Andre beranjak menuju lantai atas tepatnya ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Sementara Mbok Yem ,begitu dia tidak mendengar suara siapa-siapa lagi, maka mbok Yem baru keluar dari kamar Putri.
Mbok Yem merapikan kembali ruang tengah. Setelah selesai, ia pun beranjak ke ruang dapur untuk memasak.
########
Di tempat lain mama Lina sedang berjibaku dengan pekerjaannya. Beberapa rangkaian pekerjaan telah di aturnya.
Dari bisnis bahan kulitnya sampai bisnis klubnya. Hingga mama Lina membuat jadwal pertemuannya kembali dengan rekan bisnisnya yang baru saja ia kenal.
Hingga akhirnya mama Lina mengkhayal tentang dirinya memperkenalkan Andre pada Dian. Rekan bisnis yang baru saja di kenalnya yang cantik jelita, dan terlihat kaya raya, dan berpenampilan elegan.
Senyumnya pun semakin lebar tatkala ia membayangkan tentang segala aset yang bakal ia peroleh.
Ya, mama Lina membayangkan tentang bisnisnya yang bakal meroket setelah memperkenalkan Dian pada anaknya.
Selama ini dia membayangkan sosok perempuan yang pantas untuk Andre, tapi bukan Rika. Dan setelah ia mengenal Dian, mama Lina merasa Dian lah Yang pantas untuk Andre, mendampingi Andre, dan menjadi istri Andre.
Mama Lina pun membayangkan jika bisnisnya dan bisnis Dian disatukan, betapa hasilnya yang sangat melimpah, hingga tujuh turunan pun tidak akan habis, itulah yang ada di pikiran mama Lina saat itu.
Mama Lina duduk dan bersandar di kursi kerjanya, sambil Mengayunkan ayunkan kakinya yang tengah dilipat. Tangan kirinya bertopang dagu sementara tangan kanannya memutar-mutar bulpen. Saat itu mama Lina sedang berkhayal tentang kehidupan keluarga besarnya kelak, jika Dian menjadi istri Andre.
Khayalannya buyar ketika Herman masuk ke dalam ruang kerjanya dan menyapanya. Herman menawarkan Secangkir Kopi pada mama Lina sedangkan saat itu mama Lina tidak menyadari kehadiran Herman.
Tiba-tiba saja suara Herman membuat nya kaget,
“ Kamu bikin saya kaget aja, kalau masuk Ketok dulu dong. Tadi kamu ngomong apa, saya nggak ngeh. “
__ADS_1
“ Saya udah ketok pintu kok, Ibu aja yang nggak denger, terus saya ngomong juga Ibu nggak denger, malah kaget dan marah-marah, “
sahut Herman.
Herman pun kembali berkata,
“Ibu Mau kopi nggak, kalau mau saya buatin. “
“Huh, bisa aja kamu tuh kalau mengelak dari marahnya saya, ya saya mau, pakai krim ya, “
sahut mama Lina.
Herman pun langsung keluar dari ruang kerja mama Lina, dan segera membuatkan kopi untuknya dan untuk dirinya.
Apa yang dilakukan Herman diperhatikan oleh Paijo.
“ ngatain aku cari muka, kalau dia apa namanya?”
Bisiknya dalam hati.
Paijo pun terus melakukan pekerjaannya hingga selesai, dan melaporkan apapun hasil kerjanya pada mama Lina setelahnya.
Kalau dilihat bisnis mama Lina bagian barang-barang terbuat dari kulit itu, harusnya memakai banyak orang. Tapi untuk menghemat biaya, mama Lina membuat lebih simple. Satu karyawan dapat melakukan 5 sampai 7 pekerjaan. Sedangkan mereka digaji dengan harga satu pekerjaan.
Paijo sudah mengepak barang-barang yang akan dikirim besok ke daerah Mall Senen. Di mana tempat itu adalah tempat dept Store yang pertama kali mama Lina miliki.
Sementara omset di sana sangat bagus sekali hingga mama Lina berkeinginan untuk menambah brand lagi.
Kemudian mama Lina membuat janji pertemuan kembali dengan Dian. mama Lina sudah merancang apa yang akan mereka bahas nanti. Termasuk memperkenalkan Andre pada Dian. rencana itu masuk sebagai catatan kecilnya.
Semua catatan disimpan di dalam laptopnya. Ketika selesai, mama Lina memandang layar laptop dan tersenyum lebar.
“ semoga berhasil, “
katanya pada dirinya sendiri.
Karena waktu sudah sore, mama Lina pun segera pulang. Sebelumnya ia merapikan barang-barang yang bergeletakan di atas meja kerjanya, lalu semua dimasukkan ke dalam tas kerjanya dan dijinjing dengan tangannya.
Ketika mama Lina keluar dari ruang kerjanya, Paijo melihatnya. Lalu Paijo segera mendekat pada mama Lina dan menawarkan jasa untuk membawakan tas kerja yang mama Lina pegang.
Paijo berkata pada mama Lina,
“ Maaf Nyonya boleh saya bantu? “
Mama Lina pun menoleh ke arah Paijo dan menjawabnya,
“ Nah gitu dong. Sekalian tolong parkir kan mobil saya ya tepat di depan pintu, biar saya keluar nggak kepanasan. Saya mau langsung pulang. “
“ Siap Nyonya, laksanakan! “
Mama Lina mengulurkan tangan yang menjinjing tas kerjanya, dan Paijo pun meraihnya. Kemudian Paijo berlari kecil menuju arah tempat parkir di mana mobil mama Lina terparkir di sana.
Sesampainya di pintu keluar Paijo pun keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil pada mama Lina.
Ternyata, dari dalam Herman memperhatikan mereka. Gerak-gerik Paijo diperhatikan oleh Herman.
Tiba-tiba Herman membanting barang sambil berkata,
“ Dasar licik! Lihat saja ntar! “
Antara Herman dan Paijo terdapat satu persaingan dalam pekerjaan. Mereka saling mencari perhatian dari mama Lina. Dan pada dasarnya kelakuan Mereka pun sudah diketahui oleh mama Lina. Itulah kesempatan mama Lina untuk menggunakan mereka, terutama menggunakan mereka dalam memajukan seluruh bisnisnya.
Sore itu jalanan sangat macet, hingga membuat mama Lina bad mood.
Untuk menghilangkan bad mood, mama Lina menyetel musik dari dalam mobilnya.
Tiba-tiba mama Lina terikat pada Andre, mama Lina pun segera menghubungi Andre melalui ponselnya. Saluran ponsel pun tersambung, tetapi Andre tidak mengangkatnya.
Kembali mama Lina menghubungi Andre, tetapi lagi-lagi Andre tidak mengangkatnya.
Hingga akhirnya mama Lina menghubungi suaminya untuk menanyakan keberadaan Andri di mana.
“ Halo Pa, Papa lagi apa? Mama sebentar lagi sampai pak ke rumah.
{..................... }
“Oh ya pah, Andre ke mana Pah ya? Kok Mama telepon nggak diangkat-angkat, sampai dua kali lho mama nelpon dia, tapi nggak diangkat juga.
“Oh ya udah deh, ini sebentar lagi mama sampai lo Pah, tolong bukain gerbangnya ya Pah. “
Sambungan telepon pun terputus. Dan sekitar 5 menit kemudian mama Lina pun sampai tepat di depan rumahnya.
Dicky sudah membuka gerbang untuk mama Lina, kemudian mama Lina pun melajukan mobilnya perlahan menuju garasi.
Mama Lina keluar dari mobilnya dan berkata pada Dicky,
“ tutup lagi nak gerbangnya. “
Dicky pun segera menutup gerbang dan mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama.
“ Papamu mana? “
Tanya mama Lina pada Dicky.
“ Om di dalam mah lagi nonton TV, “
jawab Dicky, sambil menunjuk ke arah ruang tengah.
Mama Lina pun melangkah ke ruang tengah untuk menemui suaminya.
__ADS_1
Ia mendapati suaminya sedang menikmati acara tv bersama Lisa.
“Assalamualaikum Pah, “
Siapa mama Lina.
“ Waalaikumsalam, “
jawab Om Faisal bersamaan dengan Lisa.
“ Yey Mama sudah pulang, “
kata Lisa dengan nada gembira.
Lisa pun menyambut kepulangan mamanya dan memeluknya. Mama Lina pun membalas pelukan Lisa.
“ Kak Putri mana Lis? “
tanya mama Lina pada Lisa.
“ Kak Putri belum pulang mah, “
jawab Lisa.
Mama Lina pun heran dengan jawaban Lisa.
Kemudian mama Lina bertanya pada Om Faisal,
“ Kok jam segini Putri belum pulang Pah?”
“ Papa juga nggak tahu mah, Putri juga belum ngasih kabar, “
jawab Om Faisal.
Mama Lina pun bertanya kembali,
“ Dia berangkat jam berapa Pah, terus dia izin keluarnya untuk apa? “
Om Faisal menjawab dengan santai,
“ Jalannya sih pagi sekitar jam 09.00, sekitar 1 jam Setelah Mama berangkat deh. “
“ Jalan jam 09.00 jam 05.00 sore belum pulang juga, kira-kira dia ke mana ya pah?”
Tanya mama Lina heran.
“ Dia bilang sih ada dua les, les bahasa Inggris dan les salon, “
sahut Om Faisal.
Dari ruang dapur, percakapan antara Om Faisal dan mama Lina diperhatikan oleh Mbok Yem. Mbok Iya merasa takut jika mama Lina marah.
“ Aduh, non Putri ke mana sih, kok ginari belum pulang ya, “
Kata mbok Yem pada dirinya sendiri.
Untuk mengalihkan perhatian mama Lina Mbok yang menanyakan makan malam.
Mbak yang keluar dari ruang dapur menuju ruang tengah dan mendekati mama Lina, Lalu ia bertanya,
“ Nyonya malam ini mau dimasakin apa?”
“ Apa aja mbok, yang ada aja, “
jawab mama Lina sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi panjang.
“ Kelihatannya Nyonya lelah sekali, mau Mbok pijitin? “
tanya Mbok Yem pada mama Lina.
Tapi tanpa menunggu jawaban, Mbak Mbok Yem segera mendekati bagian kaki mama Lina. Mbok Yem pun mulai memijit Kaki mama Lina dengan pelan-pelan.
Pelayanan seperti itulah yang mama Lina suka dari Mbok Yem. Mbok yang selalu membuat mama Lina menjadi lebih tenang.
Saat mbok Yem sedang memijit Kaki mama Lina, tiba-tiba Putri pun pulang.
Putri memberi salam.
“ Assalamualaikum, “
Mereka pun menjawab salam Putri dengan berbarengan.
“ Waalaikumsalam. “
Tetapi sikap Putri ketika pulang itu berwajah cemberut. Rambutnya sedikit berantakan mungkin karena tertiup angin.
Tanpa bersalaman pada orang tuanya, Putri langsung masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu kamar.
Tidak lama kemudian terdengar suara Deru motor dari balik gerbang. Sedangkan Om Faisal dan mama Lina tidak menggubris suara motor tersebut. Sedangkan Mbok Yem merasa aneh mendengar deruan motor tersebut dengan nyaringnya.
Melihat sikap Putri yang tidak biasa, mama Lina pun merasa heran. Segera mama Lina hendak bangkit dari duduknya. Tetapi Om Faisal mencegahnya.
“ Sudah mah. Biarkan saja , Mungkin ia lelah, “
kata Om Faisal.
Akhirnya mama Lina mengurungkan niatnya.
Tetapi hati mbok Yem, bertanya-tanya ada apa dengan Putri? “
__ADS_1