Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Penjemputan Andre.


__ADS_3

Setelah selesai membereskan segala file yang di perlukan oleh Herman, mama Lina beranjak akan meninggalkan gudang.


Sebelum pergi, mama Lina memberikan pesan untuk Herman dan Paijo.


“Man, denger ya. Nanti setelah sampai di sana, kamu minta surat terimanya. Dan bilang sama orang sana, kita pake orang display sana aja, kita kan gak punya. Soal orang yang buat jaga, pake orang sana aja. Nanti ganti di surat perjanjian kerjanya, jadi barang konsinyasi, kamu ngerti gak Man?”


Tanya mama Lina.


“Iya Bu, ngerti,”


jawab Herman dengan singkat.


“Kalo gak tau, tanya, jangan diem aja, jangan sok tau, bisa-bisa bisnis saya berantakan deh. Oh ya, ajak Paijo tuh, buat nurunin barang. Hati-hati pas nurunin barangnya, jangan sampe dusnya rusak,”


kata mama Lina.


“Baik Bu,”


jawab Herman.


Mama Lina pun keluar dari ruang kerjanya menuju pintu depan gudang.


Di lihatnya Paijo sedang asyik menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok di depan pintu keluar.


Mama Lina memandangnya dengan sinis. Kemudian mama Lina berkata sambil menyingkap tangannya,


“Enak ya santai,”


kata mama Lina.


Melihat kedatangan mama Lina, Paijo pun berdiri dan membungkukkan badannya, sebagai tanda hormat pada majikannya.


Paijo berkata,


“Maaf nyonya.”


“Lain kali kalo santai itu ada saatnya ya. Beresin dulu kerjaannya, baru santai. Oh ya, nanti kamu ikut Herman ya, bantu dia. Tugas kamu nururin barang saat sampai sana, trus ati-ati, jangan sampe rusak dusnya,”


kata mama Lina menjelaskan.


“Siap nyonya,”


jawab Paijo.


Mama Lina pun melangkah meninggalkan Paijo, dan masuk ke dalam mobil.


Seorang penjaga membukakan pintu gerbang, kemudian mama Lina melajukan mobilnya dengan perlahan.


Mama Lina menambah kecepatan laju kendaraannya, karena saat itu keadaan jalan tidaklah padat.


Saat lampu rambu lalu lintas berganti menjadi merah, mama Lina menghentikan laju mobilnya.


Beberapa orang ada yang menyeberang jalan.


Mama Lina mengalihkan perhatiannya pada radio tipe mobilnya.


Dia mencari gelombang radio yang ada. Dan tiba-tiba saja matanya mengarah ke luar sana, tepatnya persis di depan mobilnya.


Mata mama Lina terbelalak ketika melihat Ricard sedang menyeberang jalan. Dia membawa sesuatu yang di jinjingnya di dalam kantong plastik.


Segera mama Lina melajukan kendaraannya ketika rambu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau.


Mama Lina memutar kembali kendaraannya ke arah yang berlawanan untuk menyusul Ricard.


Dengan perlahan, mama Lina melajukan kendaraannya, dengan berharap dapat bertemu Ricard.


Tapi sayang, sampai di perempatan jalan, mama Lina tidak menemukannya.


Akhirnya mama Lina memutuskan untuk kembali ke rumah.


Ketika Putri dan temannya baru saja sampai di depan rumahnya, mama Lina pun hampir saja juga tiba.


Mama Lina melihat Putri turun dari sepeda motor temannya dari kejauhan.


Kemudian temannya berlalu, Putri pun melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.


Ya, seorang pria, itulah yang terlihat oleh mama Lina, bahwa Putri anak ke duanya dari suami pertamanya telah di antar oleh seorang pria dewasa.


Mata mama Lina penuh selidik. Perlahan mama Lina melajukan kendaraannya untuk menghindari agar Putri tidak terkejut atas kehadirannya.


Ya, benar saja, Putri tidak terkejut melihat kehadirannya.


karena Putri berpikir mama Lina tidak melihatnya.


Putri segera membuka gerbang rumahnya, dan mama Lina pun masuk dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


########


Pukul 6.00 pagi. Saat itu ponsel mama Lina berbunyi.


Karena saat itu mama Lina sedang berada di kamar mandi, ponsel pun tak terangkat.

__ADS_1


Kemudian ponsel itu berbunyi kembali. Om Faisal mendengarnya.


Saat om Faisal hendak meraihnya, mama Lina muncul.


Om Faisal mengurung kan niatnya.


“Siapa Pa?”


Tanya mama Lina pada suaminya.


“Enggak tau, papa belom sempet liat, keburu Mama nongol,”


jawab om Faisal.


Mama Lina menaruh handuknya di atas bahunya. Kemudian melangkah mendekati meja yang di atasnya terdapat ponsel miliknya.


“Dari telepon rumah kayanya Pa, tapi siapa ya? Nomernya gak ke save,”


kata mama Lina, sambil memandang layar ponselnya.


Lalu mama Lina meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Mama Lina hendak melangkah, tapi tiba-tiba ponselnya kembali berdering.


Mama Lina menghentikan langkahnya. Di raihnya kembali ponselnya dan kembali memandang layar ponsel itu.


Kemudian dia menekan tanda terima.


“Ya halo?”


{............................. }


“Kapan, maksud saya jam berapa?”


{............................ }


“Oke, Terima kasih ya.”


Kembali di letakkan ponselnya di atas meja.


Mama Lina mencari om Faisal ke halaman belakang.


Di lihatnya sang suami sedang berolahraga.


Mama Lina melangkah mendekatinya, seraya berkata,


“Pa, Andre udah bisa pulang entar.”


“Alhamdulillah, jam berapa kita jemput?”


“Jam besuk pertama udah boleh pulang, udah bisa di jemput, kata suster tadi di telepon,”


kata mama Lina.


“Ya udah, entar kita siap-siap Ma,”


pinta om Faisal.


“Pa, Papa aja ya yang jemput Andre, mama masih ada kerjaan. Mama mau ngecek hasil kerja si Herman tuh. Takut gak becus, bisa berabe deh bisnis mama kalo gak sering-sering di cek,”


kata mama Lina.


“Ya udah kalo gitu, nanti papa ajak Putri. Biar Lisa tunggu di rumah aja sama mbok Yem,”


perintah om Faisal.


“Bu, Pak, sarapan sini, saya udah siapin,”


teriak mbok Yem dari dalam rumah.


Mama Lina menggandeng tangan suaminya, dan berkata,


“Kita sarapan yuk Pa,”


ajak mama Lina.


Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk menikmati sarapan yang sudah di siapkan mbok Yem.


Ketika mereka sedang asyik menikmati sarapan pagi, tiba-tiba Putri keluar dari kamarnya.


Om Faisal menyapa Putri dengan berkata,


“Pagi Nak, sini sarapan,”


sapa om Faisal pada anak tirinya.


“Pagi Om, Putri mau langsung ke tempat les Om, mau ujian,”


jawab Putri.


Putri mendekati mereka di meja makan. Mbok Yem mengambilkan piring untuk Putri.

__ADS_1


Kemudian Putri berkata,


“Gak usah Mbok, Putri gak mau makan.”


“Trus perut kamu mau di isi apa? Katanya mau ujian, masa perutnya kosong, mana bisa mikir Put,”


kata mama Lina.


“Ya udah, Putri minum susu aja ya,”


jawab Putri.


Mbok Yem mendengar percakapan Putri dengan mama Lina, segera membuatkan susu panas untuk Putri.


Putri pun beranjak dari tempat duduknya untuk membuat susu panas.


Setelah sampai di dapur, dia melihat mbok Yem sedang memanaskan air di panci kecil.


“mbok, ini untuk apa?”


Tanya Putri.


“Untuk bikin susu buat non Putri,”


jawab mbok Yem.


“Aduuuuuh Mbok, Mbok kan tau kalo mbok manjain Putri, ngelayanin Putri, mama bakal marah, emang mbok mau Putri di semprot terus sama mama?”


Maki Putri, pada mbok Yem.


Mbok Yem pun tersenyum, dan berkata,


“Iya Non maaf, abis udah kebiasaan Mbok ngelayani.


Mama Lina memanggil Putri,


“put, sini cepetan.”


“Iya Ma,”


teriak Putri dari arah dapur.


Putri pun segera bergegas.


“Napa Ma? Ampe tereak begitu pagi-pagi,”


sahut Putri.


“Put, entar bang Andre pulang. Kamu jemput ya ama papa,”


kata mama Lina.


“Jam berapa Ma jemputnya? Putri hari ini kan ada ujian, kenaikan level. Gak tau deh selesainya jam berapa,”


tanya Putri sambil menjelaskan keadaannya.


“Masa ujian lama sih Put, biasanya kalo lagi ujian tuh pulangnya lebih cepet dari biasanya, ini kok malah gak tau bilangnya, aneh banget. Kamu mau main kali?”


kata mama Lina.


“Eng..... Enggak Ma, Putri gak mau main. Putri cuma gak tau selesainya jam berapa,”


kata Putri.


Mama Lina mengaduk makanannya perlahan, sambil matanya memandangi tingkah Putri.


Putri pun merasa canggung di pandang oleh mama Lina seperti itu.


Putri mengaduk susu panasnya dengan sendok perlahan, matanya pun melirik ke arah sang mama.


Dan tiba-tiba pandangan mereka bertabrakan. Wajah Putri pun menjadi pucat pasi.


Mama Lina menyuap makanannya secara perlahan.


Putri pun tidak tahan dalam kondisi seperti itu, ia segera bergegas pamit.


Putri berdiri dan berkata,


“Putri pamit ya Om, Ma,”


kata Putri sambil menyalami ke dua orang tuanya.


Kemudian mama Lina berkata,


“Jam setengah sebelas sudah harus sampe rumah ya, nanti jemput bang Andre sama papa.”


Tanpa menoleh, Putri pun menjawab,


“Siap Ma.”


“Sikap mama kok aneh ya, ngeliatin gue kaya ngeliatin maling aja, enggak kaya biasanya, aneh, bener-bener aneh,”

__ADS_1


gumamnya dalam hati.


Putri pun pergi meninggalkan rumahnya.


__ADS_2