Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Kesalahpahaman.


__ADS_3

Mami dan papi Rika masih berada di Jakarta, tepatnya di rumah Rika, karena mereka masih berusaha berpikir positif, mereka masih menunggu kabar dari keluarga Andre.


Karena dalam waktu 1 minggu lebih tak juga ada kabar dari keluarga Andre, maka mami dan papi Rika izin pulang ke Lampung, di mana kota mereka berasal.


Akhirnya dengan berat hati dan dengan menahan rasa malu, Rika pun mengizinkan mami dan papinya pulang.


Iyan dan Beni segera mengurus kepulangan mami dan papinya. Segera Iyan menghubungi pihak Travel untuk membuat jadwal keberangkatan orang tuanya.


Nyai yang tak lain adalah maminya Rika memeluk Rika dan membelai rambut Rika yang panjang sambil berkata,


“Sabar ya Rika, kamu bisa kok ngadepin semua ini, jangan lupa beri kami kabar, dan jangan sungkan.”


“Iya mi, maapin Rika ya mi, Rika malu mi,” kata Rika.


“Kenapa malu, ini semua kan bukan maunya kamu, ini semua proses, Rika. Nikmati prosesnya, dan banyak-banyaklah berdoa,”


kata Nyai.


Tidak lama kemudian mobil Travel pun datang, segera mami dan papi Rika masuk ke dalam mini bus itu.


Setelah mengantar mami dan papi, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Rika bersama Desi pulang ke kediaman Rika. Sesampainya mereka, Andre sudah menunggu di depan teras rumah Rika.


Betapa murkanya Rika saat itu melihat kehadiran Andre, kekasihnya, hingga Rika membuang muka di hadapan Andre.


Karena Desi tidak mengenali sosok Andre, Desi pun bingung melihat sikap kakaknya, yaitu Rika.


Andre pun menyapa Rika dan menarik tangan Rika dengan segera.


Rika pun marah dan memaki Andre, hingga Rika tak mampu menahan air matanya.


Rika : “Ngapain lo ke sini? Kurang puas lo nyakitin gue? Kurang puas lo bikin gue malu?”


Andre : “Denger dulu sweety, denger dulu penjelasan aku,kalau kamu gak dengerin, kamu gak akan tau.”


Rika : “Males gue dengerin, mending lo pulang aja sana! Buat apa lo ke sini, buat nyakitin gue lagi? Masih kurang puas?!”


Andre : “Oke, kamu boleh marah sama aku, kamu boleh maki-maki aku, tapi tolong denger dulu penjelasan aku, Rika, my sweet!”


Rika : “Ogah! Gue bilang ogah! Sana pergi, dan gak usah lo nampakin muka lo lagi di sini! Gue udah muak sama lo!


Andre : “Aku gak akan pergi sebelum kamu dengerin penjelasan aku dulu, aku bakal diem di sini walau sampe malam pun.”


Rika : “Terserah lo! Pokoknya gue udah gak mau liat muka lo lagi, Dre!”


Andre : “Please sweety, denger dulu penjelasan aku, setelah kamu denger penjelasan aku, terserah kamu deh untuk selanjutnya.”


Rika : “Gak, gue gak mau! Gue gak mau denger suara lo lagi! Gue udah gak mau liat muka lo lagi, pergi sana!”


Melihat Rika dan Andre bertengkar hebat, Desi pun meleraikan perkelahian mereka.


Rika pun masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Andre dan Desi dengan membanting pintu.


Rika berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar, Rika menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka kesayangannya.


Di depan rumah, masih ada Andre dan Desi, mereka saling diam, dan suasana pun menjadi hening.

__ADS_1


Akhirnya Desi memperkenalkan diri pada Andre, yang sebelumnya menanyakan diri Andre, karena sebelumnya Desi belum mengenal sosok Andre.


“Maaf, abang siapa ya? Oh ya, saya Desi, adik Rika.”


Dengan wajah sedih Andre menjawab pertanyaan Desi, dengan memperkenalkan diri.


“Oh ya, aku Andre, calonnya Rika, kakak kamu.” Jawab Andre.


“Silakan duduk bang,” kata Desi.


Andre pun duduk di teras di temani Desi.


Mereka pun berbincang-bincang, dan akhirnya Desi memberi saran pada Andre.


“Mending bang Andre nemuin abang Iyan atau bang Beni, biar lebih jelas persoalannya. Bang Andre terangin deh semuanya ama mereka, biar nanti mereka yang ngejelasin duduk perkaranya pada kak Rika.


Desi pun berkata kembali,


“Oh ya, mending bang Andre nemuin bang Iyan aja, dia orangnya lebih adem ketimbang bang Beni. Kalo ama bang Beni, bisa-bisa dia ngamuk duluan, he he he.”


Mendengar penjelasan dari Desi, Andre pun menyetujui saran dari Desi.


Andre pun kembali bertanya,


“Gimana caranya ketemu bang Iyan?”


Desi pun menjawab,


“Ini nomer bang Iyan, nanti kau hubungi nomer ini, gak usah takut, nanti sebelum kau hubungi dia, Desi lebih dulu bilang ke bang Iyan, kalo bang Andre mau telepon, gimana?”


Andre pun mengangguk tanda setuju.


Setelah Andre meninggalkan rumah Rika, tanpa pikir panjang, Desi pun bergegas pergi menuju rumah Iyan.


Di rumah, Iyan hanya seorang diri, karena Iyan telah di tinggalkan istrinya pergi ke rumah orang tuanya yang di sebabkan Iyan saat itu masih tak memiliki pekerjaan.


Sesampainya Desi di rumah Iyan, Desi menjelaskan semuanya apa yang sudah terjadi di hadapannya. Dan Desi menyampaikan pembicaraannya tadi dengan Andre pada Iyan.


Iyan pun mengangguk dan berkata,


“Ya udah, nanti bang Iyan tunggu telepon dari Andre.”


Selang beberapa waktu kemudian, Andre menghubungi Iyan melalui ponselnya.


Iyan pun menerima panggilan ponselnya yang berasal dari nomor Andre.


“Halo, assalamualaikum, ya Dre?”


Sapa Iyan melalui ponselnya.


Andre pun terkejut namanya di sapa, segera Andre membalas sapaan Iyan dengan gugup,


“Wa alaikumsalam bang Iyan, i... iya bang, i... ini Andre.”


“He he he, gak usah gugup Dre, gak apa-apa. Kalo kamu mau nemuin abang, boleh kok, abang bersedia,” kata Iyan pada Andre.


“Kapan bang Iyan ada waktu, Andre gak enak ngeganggu waktu abang,” jawab Andre.

__ADS_1


Hari ini abang libur kok, abang ada di rumah, kamu ke sini aja, gak apa-apa,” kata Iyan.


“Ya udah, nanti malam Andre k rumah bang Iyan, oh ya bang, maafin Andre ya.”


“Iya, abang maapin kok, tar malem bang Iyan tunggu ya.”


Saluran telepon pun terputus.


Mendengar percakapan Iyan dan Andre melalui ponsel, Desi pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


#########


Malam pun tiba, Andre segera berangkat menuju rumah Iyan, yang tak lain adalah kakak Rika.


Di sana Desi pun ikut menunggunya, karena Desi pun ingin mendengar penjelasan dari Andre apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga keluarga Andre tak kunjung datang malam itu.


Sesampainya Andre di rumah Iyan, Desi pun menyambutnya dan mempersilakan Andre untuk masuk. Di dalam sudah ada Iyan sedang menunggu.


“Duduk Dre,” kata Iyan pada Andre.


Dengan sikap yang canggung, Andre pun duduk. Sedangkan Desi duduk di lantai sambil menyimak.


Andre : “Bang, maapin Andre ya, maapin keluarga Andre, malam itu bukannya kami gak dateng, kami dateng bang, tapi sayang, dalam perjalanan menuju ke sini, kami di hadang oleh beberapa kendaraan bermotor.”


Desi : “Astaghfirulloh, ya Alloh, serem banget, trus apa yang terjadi, apa kau dan keluarga kau baik-baik aja?”


Andre : “Gak Desi, kami sekeluarga gak baik-baik, kami di hadang, semua bawaan kami mereka ambil, termasuk cincin lamaran buat Rika dan semua ponsel kami. Mangkanya aku gak bisa kasi kabar buat Rika. Dan papaku, maksudnya papa tiriku masuk rumah sakit, karna kena tikam mereka.”


Iyan merasa lemas tubuhnya mendengar penjelasan dari Andre.


Andre pun melanjutkan,


“Saat itu papa tiri ku berusaha melawan mereka, aku pun juga berusaha melawan. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan akhirnya papa kena tikam dari salah satu mereka. Karna keadaan papa yang udah kesakitan, akhirnya aku ambil alih kemudi, dan langsung meluncur ke rumah sakit. Karna itu bang, aku gak bisa nelpon Rika, dan salahnya aku, aku gak hafal nomer Rika, aku cuma ngesave aja di ponsel. “


Mendengar penjelasan dari Andre, Iyan dan Desi mengelus dada, mereka merasa sedih dan ikut prihatin dengan keadaan keluarga Andre.


Kemudian Andre melanjutkan kembali,


“Tapi walau semua barang di ambil, kami masih bersyukur, mobil kami gak ikut di ambil. Jadi aku bisa langsung bawa papa tiriku ke rumah sakit. Alhamdulillah papa langsung di tangani oleh para medis. Kami tak tidur malam itu bang, karna papa belum sadar. Mama sih udah nyuruh aku pulang, tapi aku gak mau bang, aku gak mau mama sendirian di sana, takut ada apa-apa. Pas jam 6 pagi, papa mulai siuman. Tapi papa belum ngenalin kami bang, mungkin karna lukanya yang masih terus ngeluarin darah.”


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Desi pun bangkit dari tempat duduknya dan segera membukakan pintu yang terketuk dari luar.


Ketika Desi membuka pintu, ternyata Beni dan Ando yang datang. Mereka pun masuk ke dalam rumah Iyan.


Betapa terkejutnya mereka melihat kehadiran Andre di rumah Iyan.


Tanpa bertanya dan tanpa berpikir panjang, emosi Beni kala itu memuncak.


Tiba-tiba Beni mengambil air minum yang ada di meja yang telah di sediakan Desi untuk Andre minum, Beni langsung menyiram air itu ke arah wajah Andre.


Ando pun siap memasang badan, siap menyerang Andre jika Andre bertindak.


Di perlakukan seperti itu, Andre pun tidak tinggal diam. Andre langsung beranjak berdiri, dengan niat menghalau jika Beni menyerangnya.


Melihat kejadian yang ada di depan matanya, Desi pun berteriak histeris.


“Astaghfirulloh, bang!” kata Desi.

__ADS_1


Iyan pun tidak tinggal diam, Iyan berusaha melerai pertikaian itu karena kesalahpahaman.


__ADS_2