Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Peringatan dari Iyan.


__ADS_3

Lega rasanya ketika keluarga Andre sudah pulang, dan meninggalkan rumah Rika. Itulah yang Rika rasakan, yaitu rasa lega.


Bagaimana tidak? Jarak antara dia dan mama Lina begitu dekat, seakan-akan kedekatan mereka terlihat intim, padahal.....


Rika menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Sahabatnya yaitu Erna menghampirinya dan berkata,


“Gimana perasaan lo saat ini Rik, apakah lo bahagia?”


Mendengar pertanyaan sahabatnya, Rika segera bangkit sambil membelalakkan matanya yang sipit.


Meledak lah amarahnya pada sahabatnya.


“Apa??? Lo nanya gue, apakah gue bahagia? Jangan pura-pura gak tau lo Er,”


Kata Rika dengan marah.


Rika pun berdiri, sambil bertelak pinggang sebelah, dan tangan yang sebelahnya menunjuk-nunjuk sahabatnya.


"Lo mau tau yang gue rasain saat ini Er???Atau lo nanya hanya untuk menguji kesabaran gue?”


Melihat Rika semakin marah, Erna pun mendekati Rika dan memeluknya.


“Maapin gue Rik, gue gak bermaksud bikin lo kesel,”


kata Erna.


Erna pun melepaskan pelukannya dari tubuh Rika. Dan Rika hanya terdiam.


“Denger ya Er, entar kita bicara, jangan sekarang, gak enak masih ada keluarga gue. Kalo keluarga gue udah pada pulang, nanti gue buka semuanya, dan lo buka juga apa yang lo ketahui tentang calon mertua gue,”


kata Rika.


Mendengar perkataan sahabatnya, Erna pun terbelalak.


“Maksud lo apa Rika? Gue gak ngerti sama omongan lo,”


kata Erna sambil mengernyitkan dahinya.


“Udah lah, entar aja, gue laper, yuk kita makan dulu,”


ajak Rika pada sahabatnya.


Mereka pun mengambil makanan dari atas meja.


Desi dan Nadin membereskan meja. Mereka mengangkat piring-piring kotor untuk di bersihkan di kamar mandi.


Rika dan Erna masih menikmati makanan yang ada.


Sedangkan Iyan duduk di teras, sambil menikmati kopi hitam dan menghisap rokoknya.


Beni dan Ando pun sama. Tapi bedanya, mereka duduk di lantai. Merek masih asyik menikmati kopi hitam dan rokok.


Tiba-tiba Nadin berteriak dari dalam rumah,


“Ndoooo! Ubinnya beresin cepetan. Gue udah ngantuk nih, mau pulang.”


Mendengar teriakan Nadin, Ando pun bergegas bangun dari duduknya, lalu berjalan mencari sapu ijuk.


Di ikuti Beni, dia pun bangkit dari duduknya. Dia segera mengambil sapu kecil khusus membersihkan karpet.


Setelah itu, Beni melipat semua karpet dan di simpan pada tempatnya.


Rika memperhatikan apa yang di kerjakan Beni. Sontak saja, Rika menunjuk satu karpet yang telah di tumpuk oleh Beni.


“Ben-Ben, tar dulu deh. Itu karpet siapa? Itu bukan punya gue. Lo pinjem punya siapa ini?”


Melihat yang katakan Rika, Nadin pun bicara,

__ADS_1


“Itu punya gue Ka. Tadi bang Iyan bilang karpetnya kurang. Ya udah, gue bawa aja yang punya gue. Gak apa-apa kok taro di sini dulu.”


Setelah merapikan rumah Rika, maka mereka pun pulang satu persatu.


Iyan, Beni, Ando, Nadin dan Desi, mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya Erna yang masih di sana.


Erna memutuskan menginap di rumah Rika, untuk menemaninya malam itu.


Ando bertanya,


“Kau tak pulang Er?”


“Enggak Ndo, gue mau nginep di sini. Kapan lagi bisa nginep nemenin nenek yang satu ini?”


kata Erna dengan tawa sambil menunjukkan jarinya ke arah Rika.


“Ya udah kalo gitu, gue pulang ya Rik, lo kan udah ada yang nemenin,”


ucap Ando pada Rika.


“Iya, Ndo. Malam ini gue di temenin ama Erna,”


kata Rika.


Rika pun kembali berkata,


“Makasih ya semua, udah bantuin buat acara gue.”


Rika menghampiri Iyan, dan memeluknya.


“Makasih ya bang Iyan, udah jadi wali Rika, he he he,”


kata Rika pada Iyan sambil memeluknya.


Iyan pun membalas pelukan adiknya, sambil membelai rambut panjang Rika.


“Dengerin nih buat semua, jangan kalian merasa happy atau bermimpi yang terlalu indah saat melangkah menuju ke arah perkawinan. Kalian harus mempersiapkan diri. Karena perkawinan itu awal dari satu masalah,”


kata Iyan.


Mereka mendengarkan apa yang Iyan ucapkan dengan penuh perhatian.


Kemudian Iyan kembali berkata,


“Pernikahan itu harus tau ilmunya. Kalian harus tau apa kewajiban masing-masing dalam rumah tangga. Perkawinan itu adalah ibadah yang paling panjang. Dan semua yang menyangkut di dalamnya adalah ujian dan titipan.”


Mendengar ucapan Iyan, Beni pun ikut bicara,


“Aaakh, kau Yan, macam lu baik-baik saja keluarga lu, ha ha ha.”


“Justru karna keluarga ku berantakan, ku kasih tau apa trik- trik rumah tangga yang sebenarnya. Jangan kaya rumah tangga ku yang sudah gagal, dan gak mampu mempertahankannya. Jangan kalian dahulu kan ego, apa lagi pake curhat segala ama orang tua. Saling jaga nama baik satu sama lain, bukan ke orang lain aja, terutama jaga nama baik pasangan terhadap orang tua kita,”


kata Iyan.


“”Berarti istri lo dulu curhat ama emaknya, sampe nyuruh ninggalin lo, gitu Yan?”


Tanya Beni sambil tertawa dengan nada bercanda.


“Udah lah, gak usah di omongin lagi. Trus kita pulangnya kapan, males gue denger ceramah yang bukan waktunya. Harusnya kau bicara tadi di depan keluarganya Andre, biar di dengar juga oleh Andre,”


kata Nadin.


Melihat keadaan yang semakin kacau, akhirnya Rika berkata sambil tertawa,


“Udah-udah bubar, kenapa jadi ribut mulut sih, bang Iyan ngomong tuh yang baik buat kita, ini malah jadi ribut. Udah bubar-bubar, gue da ngantuk. Pokoknya intinya gue bahagia malam ini. Dan makasih banyak buat kalian. Pokoknya lope-lope deh buat kalian.”


Akhirnya Rika mengajak Erna untuk masuk ke dalam rumah, dan memutuskan untuk menutup pintu rumahnya.

__ADS_1


“ Baaaaaay, da da semua,”


kata Rika sambil melambaikan tangannya.


Melihat kelakuan kakaknya, Desi pun ikut berkata sambil tertawa, serta jari telunjuknya mengarah pada Rika,


“Kebiasaan tuh nenek-nenek. Kita ini di buatnya abis manis sepah di buang. Awas aja besok nelpon Desi.”


Rika pun tersenyum. Kemudian menutup pintu rumahnya.


Rika mematikan lampu ruang depan. Sedang Erna berjalan masuk ke dalam kamar tidur, di ikuti oleh Rika.


Erna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rika, sedangkan Rika duduk di kursi kecil di depan meja rias.


Rika membersihkan wajahnya dari riasan. Dengan gerakan perlahan, tangan Rika mengusapnya. Karena banyak sekali jerawat yang tumbuh di wajahnya hingga terasa perih yang Rika rasakan.


Erna memandangi Rika dalam posisi memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Rika.


Erna melihat keadaan Rika yang sepertinya sudah tenang. Maka Erna membuka pembicaraan.


Erna : “Rik, ada yang mau gue omongin.”


Rika : “Ngomong aja, Er, ada apa?”


Erna : “Apa penilaian lo tentang calon mertua lo?”


Rika : “Ha ha ha, kenapa lo nanya itu Er, kan lo udah tau ceritanya. Dan gimana dia perlakuin gue di belakang Andre.”


Erna : “Oh ya, lo harus tau juga nih Rik, kalo dia itu salah satu orang yang milikin saham di club kita.”


“Iya, gue udah tau,”


jawab Rika dengan santai.


Erna : “Njiiiirrrr, lo tau dari mana? Lah gue aja yang lebih lama dari lo di club baru tau kemaren.”


Rika membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Erna. Sedangkan Erna mengganti posisinya dari berbaring miring menjadi duduk., sambil memeluk guling.


Rika : “Gue tau dari kak Vivi, itu tuh, senior gue. Dia sedikit cerita. Mangkanya si Vivi itu marah banget pas gue awalnya kenal ama Ricard. Sikap gue cuek. Dan gue mulai ngeraba nih, kayanya Ricard itu sengaja deketin gue.”


Erna pun terbelalak. Begitu terkejutnya mendengar keterangan Rika. Dan Erna pun mendekatkan posisi duduknya ke arah Rika.


“Lo tau gak sih Rik, saat gue nge service tamu VIP, yang mesen sih cowok. Tapi di antara mereka itu ya, ada wanita pake syal. Dan di antara cowok-cowok itu ada si Ricard. Trus gue buat penyajian menu di ruang meeting. Karna ada cemilan yang ketinggalan, akhirnya gue masuk lagi ke ruangan itu saat mereka udah mulai meeting. Lo tau gak, siapa wanita yang pake syal itu? YA ITU DIA EMAKNYA ANDRE!!!”


kata Erna dengan suara panik.


“Eh, biasa aja dong, kok lo yang nafsu gitu sih,”


kata Rika sambil tertawa.


Erna : “Gimana gak nafsu, lo yang udah tau gimana resikonya ngadepin ini samua, kenapa kon masih bertahan sih?”


Rika : “Gimana ya, mungkin gue terlalu bodoh ya buat bertahan. Tapi gue cinta ama Andre, Erna!!! Dari awal gue tuh udah berkorban untuk ini semua.”


Erna : “Sebenarnya, apa sih alasan emaknya gak setuju ama hubungan lo ini?”


Tiba-tiba Rika tertawa.


“Yeeee, mulai gila dia,”


kata Erna.


Rika : “Gimana gue gak gila, di mata nyonya besar itu, gue ini gak patut milikin anaknya. Gue terlalu jelek dan bau di mata dia, Erna. Apalagi keadaan gue yang begini, tinggal di rumah kontrakan. Gak ada yang bisa di banggain gue dan keluarga gue Erna.”


Mendadak tawa Rika menjadi tangis. Tangis Rika malam itu sungguh menyayat hati yang mendengar, terutama dengan Erna.


Erna pun bangkit dari duduknya. Segera dia memeluk sahabatnya, sampai Erna pun ikut menangis.

__ADS_1


__ADS_2