
Siang itu cuaca sangat cerah dan keadaan jalan raya pun sangat padat merayap, hingga dinginnya AC mobil pun tidak terasa.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka, yang tidak lain adalah om Faisal, Andre dan Rika di kediaman Andre.
Om Faisal membunyikan klakson mobilnya.
Mbok Yem pun membukakan gerbang. Dan om Faisal segera melintasi mobilnya dengan perlahan.
Mbok Yem kembali menutup gerbang setelah om Faisal memasuki mobilnya ke dalam garasi.
Tapi di selah-selah itu, mbok Yem melihat Putri turun dari sebuah sepeda motor yang di kendarai oleh seorang laki-laki.
Tapi sayang, mbok Yem tidak dapat melihat wajahnya, karena laki-laki itu memakai helm dan wajahnya tertutupi oleh kaca helm.
Mbok Yem membuang muka, seolah-olah dia tidak melihat kehadiran Putri.
Melihat mbok Yem sedang menutup gerbang, Putri pun segera menyapanya, dengan mengagetkannya.
“DORRR!!! Halo mbok,”
Sapa Putri pada mbok Yem.
“Ya ampun non, bikin mbok kaget aja,”
Kata mbok Yem dengan berpura-pura.
Putri pun masuk ke dalam rumah. Ketika Putri memasuki rumahnya, dia melihat kehadiran Andre, yang sedang duduk di kursi panjang, ruang tamu.
Putri pun terkejut dan sangat bahagia melihat Andre, sang kakak sudah tiba di rumah.
Putri pun berlari, sambil berteriak memberi salam.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikumsalam,”
Jawab om Faisal, Andre dan Rika dengan serempak.
Putri pun melangkah mendekati Andre dan memeluknya.
“Yeyyy, bang Andre udah pulang,”
Kata Putri sambil memeluk Andre.
“Iiih Put, badan lo bau, bau asem,”
Kata Andre.
Rika pun tersenyum melihatnya, begitu pula om Faisal.
Putri melepaskan pelukannya, dan melangkah ke arah om Faisal.
Putri menyalaminya, begitu pula Putri mengalami Rika.
Putri pun duduk di antara mereka.
Rika memperhatikan Putri, dari rambut, serta pakaian yang dia kenakan.
Rika mengingat kembali saat menuju rumah sakit dengan apa yang dia lihat saat dia berada di dalam angkutan umum.
“Gak salah lagi, bener, yang tadi gue liat itu dia, si Putri, gue yakin, gue gak salah liat,”
Gumamnya dalam hati.
“Kamu ke mana sih Put, om kan nunggu kamu pulang, kamu malah gak pulang-pulang,”
Kata om Faisal dengan nada kecewa.
“Maap Om, tadi kan Putri udah bilang, Putri ada ujian, dan Putri gak tau selesainya jam berapa, besok juga masih ujian, malah dua-duanya ujian. Les juga salin juga, pusing tau Om,”
Kata Putri dengan nada merajuk.
“Kalo ujian, kok gue gak pernah liat lo belajar Put?”
Tanya Andre.
“Ya elah Bang, kalo ujian salon gue pake belajar, modalnye gede Bang, emang lo mau tuh nyariin orang yang mau gue guntingin rambutnya? Belom lagi harus bayar tuh orang, lo mau modalin?”
Sahut Putri.
__ADS_1
“Ya, begini lah nak Rika, kalo mereka ketemu, selalu aja berantem. Berentinya kalo mamanya udah pulang,”
Kata om Faisal.
“He he he, gak apa-apa Om, sama aja kok, Rika juga gitu kalo di rumah, suka berantem, tapi kalo gak ada ya pada kangen,”
Kata Rika pada om Faisal.
“Iya ya, kaya Tom and Jerry ya,”
Sahut Om Faisal.
Dan mereka pun tertawa bersama.
Tiba-tiba ponsel Putri berbunyi. Putri pun beranjak dari tempat duduknya.
Om Faisal memperhatikan gerak-gerik Putri.
“Bentar ya, Putri kd kamar dulu,”
Kata Putri.
Putri pun meninggalkan mereka, dan mereka pun kembali berbincang-bincang.
Sore pun kembali datang. Saatnya Rika pamit untuk pulang pada kekasihnya Andre dan papa tiri kekasihnya, om Faisal.
“Dre, aku pulang dulu ya, cape, mau istirahat,”
Kata Rika.
Rika pun kembali berkata,
“Om, Rika pamit dulu ya, mau istirahat.”
“Ih kamu, cepet banget sih nemenin akunya, aku kan masih kangen,”
Kata Andre berbisik.
“Apaan sih kamu, malu tau,”
Balas Rika berbisik pula.
“Makasih ya Rika, udah mau bantu Om jemput Andre. Biarin Dre, Rika pulang dulu, biar dia istirahat, jangan terlalu cape kamu ya Rik,”
Kata om Faisal.
Rika pun berdiri dan melangkah mendekati om Faisal. Rika menyalaminya.
Om Faisal pun ikut beranjak hendak mengantar Rika.
Tetapi mbok Yem lebih dulu datang, dan berkata,
“Ayo non Rika, mbok Yem anter,”
Kata mbok Yem.
Mereka pun berjalan beriringan ke arah gerbang.
Mbok Yem membukakan pintu gerbang untuk Rika, sambil berkata,
“Non, hati-hati ya di jalan, jaga diri baik-baik.”
Rika pun tersenyum mendengar ucapan mbok Yem. Rika menyalaminya, tetapi mbok Yem menolak.
“Kenapa mbok Yem? Kok nolak salam Rika?”
Tanya Rika merasa heran.
“Ndak Non, mdak apa-apa,”
Jawab mbok Yem.
Rika pun kembali mengalaminya dengan sedikit memaksa, dan mencium punggung tangan mbok Yem.
“Mbok, Rika di ajarin ama papi dan mami Rika untuk menghormati orang yang lebih tua, siapa pun dia. Nah mbok kan orang tua, mangkanya Rika saliman ama mbok Yem,”
Jelas Rika.
Mbok Yem pun tersenyum, lalu berkata,
__ADS_1
“Kamu anak baik ndok, semoga kamu bahagia kelak.”
Mendengar ucapan mbok Yem membuat Rika tersenyum.
Rika pun berpamitan, dan meninggalkan mbok Yem dan rumah Andre.
Mbok Yem menutup gerbang dan menguncinya.
Saat melangkah ke dalam rumah, mbok Yem terbayang kembali saat membelikan cincin pertunangan untuk Rika.
Hati mbok Yem pun merasa sedih, ketika mengingat peristiwa itu.
Mbok Yem pun kembali ke dalam rumah untuk meneruskan pekerjaannya di dapur.
Tidak lama kemudian anak-anak yang lain seperti Ricky Diki dan Rizky pulang dari sekolah.
Mbok Yem segera menyiapkan makan siang untuk mereka, sementara Lisa masih tertidur.
“Lisa mana Mbok?”
Tanya Andre.
“Tidur Bang Andre, tadi pulang sekolah ngantuk katanya, terus langsung ke kamar, dan tidur,”
Jawab mbok Yem.
Andre pun segera melangkah ke kamar mama Lina yang di tempati Lisa saat tidur.
Melihat adiknya yang tertidur pulas, Andre pun merebahkan tubuhnya di samping Lisa, dan tidak lama kemudian Andre pun ikut terlelap.
#######
Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Rika mengingat soal Putri yang siang tadi dilihatnya.
Rika tak habis pikir, apa iya Putri menjalin hubungan dengan pria dewasa, seperti yang dia lihat tadi?
Rika tidak habis pikir, karena usia Putri yang masih remaja, sedangkan pria yang bersamanya adalah pria dewasa, seperti layaknya seseorang yang sudah memiliki istri.
Di dalam angkatan umum, Rika melihat cincin yang melingkar di jatinya, sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, sampailah ia di depan jalan dekat rumahnya.
Rika pun menghentikan angkutan umum itu, lalu turun dari sana.
Tidak lupa ia membayar ongkosnya, kemudian melangkah menuju rumahnya.
Sebelum sampai di rumahnya, Rika teringat pada sahabatnya, yaitu Erna.
Rika pun hendak menghubunginya, ingin rasanya mengetahui keadaan sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah, Rika duduk di teras. Di ambilnya ponsel dan menghubungi Erna.
“Halo Er,”
Sapa Rika melalui ponselnya.
{....................... }
“Tapi lo baik-baik aja kan sekarang,”
{...................... }
“Ya udah deh, lo istirahat aja, gus juga nih mau istirahat, cape, abis jemput Andre tadi ama bokapnya.”
{.................. }
“Ya udah, cepet sehat ya, bye.”
Saluran telepon selular pun terputus. Dan Rika segera masuk ke dalam rumahnya.
Sebelum Rika masuk ke dalam, dia melihat ke arah luar melalui jendelanya, untuk memastikan bahwa di sekitar rumahnya aman.
Keadaan di luar di rasa aman, Rika pun menutup pintu rumahnya, dan menguncinya dari dalam.
Setelah mengunci pintu, Rika hendak membalikkan tubuhnya, untuk segera beristirahat.
Tapi tiba-tiba dia di kejutkan oleh seseorang.
Rika di sekap mulutnya oleh seseorang yang dia tidak sempat melihat wajahnya.
__ADS_1
Rika berusaha berteriak. Tapi sayang, suaranya tidak dapat terdengar, lantaran sekapan telapak tangan itu begitu kuat, hingga Rika merasa lemah dan pasrah.