Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Mama Lina marah besar.


__ADS_3

“Ndre, Putri mana?” tanya mama Lina dengan nada tinggi dan wajah marah.


“Ada di dalem,” jawab Andre, sambil menutup gerbang.


Setelah menutup gerbang Andre pun bertanya, “Mah, kok mama pulang, kenapa nggak nunggu Andre?”


“Diam kamu!” perintah mama Lina menggertak.


Andre pun terkejut. Langkahnya di hentikan ketika mendengar jawaban dari mamanya yang menggertak.


“Waduh, mama kenapa nih, aduh, tambah rumit nih kayanya,” gumamnya dalam hati.


Mama Lina masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa sambil berteriak memanggil Putri.


“Put! Putri, di mana kamu!” panggil mama Lina.


Bagusnya para karyawan om Faisal belum datang. Mungkin karena mereka tahu om Faisal sedang di rawat, maka mereka datang agak siangan.


Mama Lina langsung menggedor pintu kamar Putri. Ketika pintu di buka oleh mama Lina, Putri sedang bersembunyi di samping lemarinya, di sudut dinding.


“Sini kamu!” gertaknya sambil menjambak rambut Putri.


“Ampun ma, ampun, sakit ma,” teriak Putri.


Andre mencoba meleraikan, tetapi bukannya mereda malah mama Lina semakin marah.


“Ma, udah Ma, kasian Putri,” kata Andre, sambil menarik lengan mamanya.


“DIAM KAMU NDRE!!! KAMU NGGAK BERHAK MELARANG MAMA NGASIH HUKUMAN KE PUTRI, DIA UDAH MELEMPAR KOTORAN DI MUKA MAMA!!!”


Bentak mama Lina.


Di bentak seperti itu, Andre pun terdiam. Tapi hatinya sungguh tak tega melihat Putri di tarik rambutnya, di seret ke taman belakang.


Akhirnya mbok Yem meleraikan amukan mama Lina.


“Nyonya, istighfar Nyonya! Marah boleh, tapi jangan membabi buta seperti itu!”


Tegas mbok Yem.


Akhirnya mama Lina melepaskan tarikannya pada rambut Putri. Mama Lina pun terjatuh lemas di rumput halus, yang tumbuh di sekitar taman belakang.


Segera mama Lina mengucapkan istighfar berulang-ulang.


Mbok Yem mendekat dan ikut duduk di rerumputan. Lalu ia berkata,


“Nyonya, kalahkan emosimu dari egomu nyonya, jangan kau rusak keadaan yang sudah rusak.”


Mama Lina menangis, tangisannya seperti lolongan serigala yang sedang lapar.


Dia benar-benar tidak menyangka apa yang telah terjadi pada Putri.


Akhirnya mama Lina bangkit dan beranjak meninggalkan taman belakang menuju kamarnya.


Di dalam kamar dia menangis sejadi-jadinya, dan karena lelah akhirnya mama Lina tertidur.

__ADS_1


Pagi itu adalah pagi yang mencekam bagi keluarga Andre. Dan selalu saja mbok Yem yang bertindak untuk menjadi penengah.


Waktu telah menunjukkan pukul 8.00. Satu persatu karyawan om Faisal berdatangan untuk bekerja.


Untuk menutupi keadaan yang mencekam, akhirnya Andre memiliki ide, agar para karyawan om Faisal bekerja paruh waktu.


Andre tidak ingin omelan mamanya tersengar oleh orang luar.


“Mang Koko, kerjanya ampe jam 12 aja ya, biar mama bisa istirahat, kasian dia,”


Kata Andre.


“Baik Bang Andre, lagian saat ini nggak ada pengiriman barang kok, jadi kerjaan kita juga dikit,” sahut Koko.


Andre pun meninggalkan ruang samping, kemudian kembali lagi ke taman belakang untuk melihat keadaan Putri.


Andre melihat Putri yang sedang nangis sesegukan di samping pot kembang yang berada di taman belakang.


Andre menghampirinya dan berkata,


“Udah Put, jangan nangis terus, kan gue udah bilang, lo harus tanggung ngadepin amarah mama. Udah sana, tidur istirahat, pikirin tuh kesehatan dedenya.”


Sejenak Andre mengamati gerak gerik Putri, tapi Putri hanya menangis terus.


Andre pun akhirnya menarik tangan Putri untuk di giring ke dalam kamarnya.


Sambil menarik tangan Putri, Andre berkata, “Ayo ah, ke kamar lo.”


Akhirnya Putri menurut apa yang Andre perintahkan. Putri membuntutinya dari belakang tanpa melepaskan pegangan tangannya pada tangan Andre.


“Apa rencana lo selanjutnya? Bukan gitu Put, jangan sampe acara gue nanti jadi batal gara-gara ulah lo ini. Mokal banget gue ama keluarga Rika kalo batal, apa lagi yang lo lakuin ini aib, tambah mokal banget, mau di taro di mana muka gue!”


Sambil menangis Putri pun menjawab,


“Maapin gue Bang. Gue juga nggak tau harus gimana. Masa gue harus nikah sama Mas Irfan, dia udah punya istri Bang.”


Putri nangis sesegukan sambil mengusap air matanya yang jatuh di pipi gembulnya.


“WHAT!!! SI MONYET ITU UDAH PUNYA BINI!!! SIALAN!!!” kecam Andre, sambil memukul kepalan tangannya ke kasur.


“Lo juga sih, bego bin tolol, masa lo ke gaet ama cowok yang udah mulai tua, udah punya bini pula, wahhh lo buta kali Put,” maki Andre pelan.


“Kalo gue nikah ama dia, berarti gue bakal jadi bini ke dua dong Bang, ogah ah, gue nggak mau jadi yang ke dua!”


rengek Putri.


“Lah, resiko lo lah Put, kalo nggak mau, kenapa lo pacaran ama Dia! Malahan ampe bunting!!! Oh my God, nggak nyangka gue ama lo Put, bisa segitu beraninya,”


kata Andre penuh sesal.


Putri hanya terdiam mendengar ucapan Andre. Lalu tiba-tiba mbok Yem mengetuk pintu dan membukanya.


Putri dan Andre pun menoleh ke arah pintu. Lalu mbok Yem masuk, seraya berkata,


“Non, tadi mas Irfan nelpon, katanya dia mau datang. Lalu mbok tanya, mau apa? Kalo cuman mau nemuin non Putri aja, mending nggak usah. Trus katanya mas Irfan mau ketemu nyonya Non.”

__ADS_1


Putri dan Andre pun saling menatap. Lalu Putri bertanya,


“Aduh Bang, gimana nih, gue takut Bang!”


Tangan Putri terus mengguncang lengan Andre, seraya meminta perlindungan.


“Ya bagus dong, berarti dia mau tanggung jawab, dia mau nemuin mama,” kata Andre.


“Tapi gue takut Bang, gue takut mama bakal murka ketemu mas Irfan,” sahut Putri.


“Ya resiko lo berdua, gue cuman jadi penonton aja, lagian bakal ancur ancuran nih acara gus kayanya,” kata Andre.


“Ya enggak Den, acaramu kan di susun dengan rapi,” kata mbok Yem membela.


“Ha ha ha, kata siapa mbok? Kemaren aja Andre sempet nanya-nanya pas di rumah sakit, eh jawaban mama begitu, nggak enak banget di dengernya,”


Sahut Andre menerangkan.


“Lah, salahmu sendiri Ndo, bicara bukan pada tempatnya, situasi lagi nggak enak, kamu malah nanya-nanya yang lain, wajar lah nyonya marah,” kata mbok Yem.


Andre pun bertanya soal Irfan.


“Kapan dia mao datang mbok?”


“Katanya malem, habis maghrib Den,” jawab mbok Yem. “Ya udah, lo siap-siap Put, siapin mental lo, biar entar perutnlo nggak keram lagi,” kata Andre.


“Eh mbok mau liatin keadaan nyonya dulu ya, dia belum makan soalnya pas tadi pulang,” kata mbok Yem.


“Gimana mao makan mbok, pas tadi sampe dari rumah sakit kan langsung ngomel,” sahut Andre.


“Bang, kok mama tau ya? padahal kan kita belum ngomong ya,” tanya Putri.


“Nanti mbok Yem tanyain ke nyonya, dari mana dia tau keadaan kamu sekarang,” sahut mbok Yem menenangkan.


Mbok Yem keluar dari kamar Putri, lalu menuju kamar mama Lina. Mbok Yem mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.


Lalu mbok Yem mengetuk lagi sampai tiga kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.


Akhirnya mbok Yem membuka pintu kamar tanpa menunggu jawaban dari dalam, dan ternyata pintu kamar tidak terkunci, hingga mbok Yem dapat masuk ke dalam.


Ketika mbok Yem masuk ke dalam, mbok Yem melihat majikannya sedang tidur telungkup. Mbok Yem mendekatinya dan duduk di sampingnya.


Mbok Yem mulai membelai rambut majikannya layaknya seorang ibu pada anaknya.


“Nonya, makan dulu yuk, mbok sudah siapkan,” bisik mbok Yem.


Tapi mama Lina tidak menjawabnya. Ia hanya menangis terus.


“Kalo nyonya nggak makan, nanti sakit, nyonya harus kuat menghadapi ini semua, kasian anak-anak, nyonya,” kata mbok Yem, masih berbisik pelan.


Karena mama Lina tidak memberikan respon, akhirnya mbok Yem berdiri, dan beranjak keluar hendak mengambilkan sarapan.


Ketika mbok Yem hendak keluar dari kamar, mama Lina memanggil.


“Mbok, sini duduk!”

__ADS_1


__ADS_2