Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Persiapan buka konter.


__ADS_3

Sampailah mereka yang tak lain adalah mama Lina dan om Faisal di rumah mereka.


Om Faisal turun dari mobil untuk membuka gerbang. Dan tak lama kemudian mbok Yem keluar dari arah dalam rumah.


“Gak papa mbok, saya aja,”


kata om Faisal.


Mama Lina memarkirkan mobilnya di dalam garasi.


Lisa pun keluar dari dalam, dan menyambut kepulangan mama dan papanya.


“Mama, bang Andre mana? Katanya tadi mau jemput abang,”


tanya Lisa.


“Abang belom boleh pulang Ica, nanti kalo udah sembuh kita jemput sama-sama ya,”


kata mama Lina.


“Lisa boleh ikut Ma?”


Tanya Lisa.


“Iya, boleh,”


jawab mama Lina dengan singkat.


Mama Lina terus menuntun Lisa ke dalam rumah. Sementara om Faisal membuntutinya dari belakang.


Mama Lina menghentikan langkahnya. Segera dia menoleh ke arah om Faisal dan berkata,


“Oh ya Pa, mama bentar lagi pergi lagi ya, mau buka konter nanti di Matahari atrium.”


“Emang gak bisa besok Ma?”


Tanya om Faisal.


“Enggak lah. Banyak banget yang harus di kerjain Pa. Ngangkutin barang dari gudang ke sana, belum lagi ngedisplay, belum lagi bikin laopran, yang lama itukan ngedisplay Pa, itu di kerjainnya nanti tengah malam,”


kata mama Lina.


“Apa harus tengah malam Ma?”


Tanya om Faisal.


“Itu sih urusan anak display, paling mama gak sampe tengah malam udah pulang,”


jelas mama Lina.


Kemudian mama Lina duduk di kursi kecil dan membuka sepatunya. Dia menggantinya dengan sendal tipis.


Om Faisal memperhatikan apa yang istrinya lakukan.


“Kok gak pake sepatu Ma? Kenapa pake sendal?”


Tanya om Faisal.


“Iya Pa, pake endal aja, biar gak cape. Eh Pa, beraniin diri dong, masukin tuh barang-barang papa Moll, atau depstore kek, biar berkembang Pa, jangan mainnya tanah abaaang terus,”


ejek mama Lina sambil tersenyum.


“He he he, Papa gak kuat ama marginnya, ketinggian. Kalo maksain, entar para karyawan Papa di sini makan apa? Bisnis sesuai kemampuan aja Ma, Papa gak mau terlalu ngoyo, ngeri juga,”


kata om Faisal.


“Semua juga kan udah di perhitungkan Pa, kalo kita gak nyoba, kita mana tau kualitas dagangan kita, dan kita harus pandai ngikutin selera pasar, jangan itu-ituuuu terus, monoton,”


kata mama Lina.


Mama Lina beranjak dari duduknya, dan masuk ke dalam kamar, hendak mengganti baju, Lisa pun mengikutinya.


“Aduh Lisa, sana dulu napa sih, mama mau ganti baju dulu,”


kata mama Lina pada Lisa.


Mama Lina segera menutup pintu. Karena tidak dapat menahan sedihnya, Lisa pun akhirnya menangis.


Melihat Lisa menangis, om Faisal tersenyum dan berkata pada Lisa,


“Ayo Lisa, sini ama papa, mama lagi ganti baju dulu.”


Setelah selesai mengganti baju, mama Lina keluar dari kamarnya.


Lisa memandangi mamanya yang sudah rapi dengan kostum yang berbeda.


“Mama mau ke mana lagi? Lisa ikut,”


rengek Lisa.


Mama Lina memandangi Lisa dengan tatapan iba.


Di belainya rambut panjang Lisa, kemudian mama Lina mencium pipi Lisa.


Lisa duduk di pangkuan mama Lina, kemudian mama Lina memeluknya.


“Ica sayang mama kan? Saat ini mama masih ada urusan kerja. Lisa sama kak Putri dulu ya. Kan ada papa, Lisa bisa main juga ama papa. Nanti kalo kerjaan mama udah selesai, kita bisa main lagi. Lagian, entar juga mama pulangnya enggak sampe tengah malam, beneran, mama janji,”


bujuk mama Lina.


“Trus kapan kita jalan-jalan?”

__ADS_1


Tanya Lisa.


“Nanti, nanti kita jalan-jalan kalo bang Andre udah sembuh, papa udah sehat dan segar, teruuus kak Putri uda selesai lesnya, teruuuus bang Diki, bang Ricky ama bang Rizky libur,,, kita jalan-jalan,”


kata mama Lina , yang berusaha menjanjikan Lisa.


“Bener ya Ma, Lisa saaayaanng mama,”


kata Lisa sambil memeluk mama Lina.


Setelah melihat keadaan Lisa dan merasa yakin, mama Lina berpamitan pada om Faisal.


“Pa, mama berangkat dulu ya, do’ain biar lancar usaha mama,”


kata mama Lina pada suaminya.


“Iya Ma, papa selalu do’ain agar mama baik-baik aja, lancar segala urusannya dan bisnis yang mama jalanin. Kan usaha Mama buat keluarga, papa selalu dukung Mama kok, selagi itu baik,”


ucap om Faisal.


Mama Lina pun berlalu meninggalkan om Faisal bersama Lisa.


Om Faisal mengajak Lisa untuk menonton TV.


“Ica, kita nonton TV dulu yuk, sambil nunggu mbom Yem nyiapin makan malam,”


ajak om Faisal pada Lisa.


Om Faisal pun berjalan menuju ruang tengah, sementara Lisa mengikuti dari belakang.


Mbok Yem sedang sibuk menyiapkan makan malam. Seperti biasa, mbok Yem membuat makanan kesukaan Lisa, yaitu ayam goreng.


Sambil menggoreng ayam, mbom Yem membersihkan meja makan. Mbok Yem melihat ke arah ruang tengah, di mana om Faisal dan Lisa sedang menikmati acara TV.


Mbok Yem mendekat dan bertanya pada om Faisal,


“Pak, non Putri belum pulang juga ya?”


“Belom mbok, kenapa emangnya?”


Om Faisal balik bertanya.


“Udah malem kokk non Putri belom pulang ya, biasanya sore dia pulang. Kan jadwal lesnya siang. Kalo jadwal lesnya sore, pulangnya malam,”


begitu mbok Yem menjelaskan.


Mbok Yem mengurus semua orang-orang yang tinggal di sana. Jadi apa pun kegiatannya, mbok Yem tahu, dan mbok Yem melayani apa yang mereka butuhkan.


“Emang kenapa Mbok nanyain kak Putri?”


Tanya Lisa.


Lisa pun kembali berkata,


Mendengar perkataan Lisa, mbok Yem dan om Faisal pun tertawa.


########


Mama Lina melajukan kendaraannya ke arah gudang miliknya.


Sesampainya di depan gudang, seorang penjaga membuka gerbang.


Mama Lina memasuki kendaraannya ke dalam pekarangan gudang.


Ada beberapa truk besar di sana. Sepertinya untuk mengangkut barang-barang yang akan di jual di mana mama Lina telah menceritakan pada suaminya.


Mama Lina keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam gudang.


Ya, mama Lina menamakan tempat itu adalah gudang.


Tapi jika di lihat dari tatanan ruang, tempat itu tidak layak dengan sebutan gudang.


Tatanan di setiap ruang sangat rapi. Terlalu naif jika tempat itu di sebut gudang.


Sengaja mama Lina menamakan tempat itu adalah gudang.


Agar segala bisnis mama Lina tidak terkena pajak negara. Sedangkan sebagian barang-barang yang akan di jual adalah barang siluman.


Mama Lina hanya membeli merk dari rekan bisnisnya.


Mama Lina memberanikan diri untuk terjun ke depstore, membuka usahanya di sana.


Saat mama Lina duduk termenung di ruang kerjanya, ada suara pintu di ketuk dari luar.


“Ya, masuk,”


sahut mama Lina.


Ternyata yang mengetuk pintu adalah Herman.


Herman pun masuk ke dalam ruang kerja mama Lina.


“Duduk Man,”


Perintah mama Lina, mempersilakan Herman untuk duduk.


“Ada apa? Jangan lapor pekerjaan kamu yaang belum selesai ya, saya gak suka dengernya,”


kata mama Lina.


“Ini soal pekerjaan Bu. Dari pihak depstore minta orang untuk jaga. Sedangkan kita kan gak punya SPG,”

__ADS_1


kata Herman.


“Lalu? Apa yang menurut kamu bisa kita kerjaan, kalo kita gak punya orang?”


Tanya mama Lina.


Sengaja mama Lina mempertanyakan hal itu, untuk menilai, bagaimana kinerja Herman mengenai pemasaran.


“Ehmm...,”


Herman menggaruk-garukkan kepala.


Setelah berpikir keras, Herman melanjutkan pembicaraannya.


Dari sana sih nawarin orang Bu, jadi barang kita namanya barang konsinyasi, pake orang mereka Bu. Kita gak perlu nyari orang lagi. Trus kalo jadi barang konsinyasi, ya kita serah terima langsung ke mereka. Dan jika ada kehilangan atau retur, kita berhubungan langsung ama mereka. Cuma....”


Pembicaraan Herman pun terputus. Kembali Herman menggaruk-garukkan kepalanya.


Mama Lina mengernyitkan dahinya karena melihat tingkah Herman.


Lalu mama Lina bertanya,


“Cuma apa? Cuma, cuma, ya cuma apa? Kalo ngomong tuh yang jelas, gimana sih kamu!”


“Anu Bu, katanya, barang putus sama barang konsinyasi itu beda Bu. Ehm, maksud saya, beda anunya Bu,”


kata Herman.


“Ya jelas beda, Herman! Barang putus ya putus, konsinyasi ya konsinyasi, jelas jelas beda. Kalo ngomong anu, anu, isi kepalamu itu apa sih? Gak jelas kamu Man,”


sahut mama Lina dengan marah.


“Iya, saya tau Bu, status nama barangnya beda, tapi anu nya juga beda Bu, itu loh, Bu, ehmm... Aduuuh, saya lupa Bu,”


kata Herman.


“Apalagi yang beda, Herman?!?!?!”


Tanya mama Lina dengan tegas.


Mama Lina pun kembali berkata,


“Lain kali, kalo berhadapan sama orang lain yang menyangkut bisnis saya, kalo kamu pelupa, jangan malu untuk mencatat. Catat apa aja yang perlu. Kan saya malu punya anak buah kaya gini,”


kata mama Lina.


“Maafkan saya Bu, saya bener-bener lupa, namanya apa,”


kata Herman.


Mama Lina langsung tersenyum. Dia sudah menduga akan seperti ini jika Semua pekerjaan ini Herman yang menangani.


Mama Lina bangkit dari tempat duduknya, dan berpindah duduk di atas meja.


“Buatkan saya kopi, sana. Mungkin setelah bikinin kopi buat saya, ingatanmu kembali,”


Perintah mama Lina, sambil menyembunyikan senyumnya.


Herman pun beranjak pergi, membuatkan kopi untuk majikannya.


Mama Lina masih duduk di atas meja. Di lihatnya Paijo sedang menyapu lantai dan membersihkan barang-barang dari debu.


Tidak lama kemudian, Herman kembali dengan membawa secangkir kopi.


Di letakkannya secangkir kopi itu di atas meja. Mama Lina pun menyambutnya dengan senang. Mama Lina merasakan hasil kopi buatan Herman jauh lebih enak dari pada buatan mbok Yem.


Mama Lina berpindah kembali duduk di kursi, setelah menyeruput kopi buatan Herman sambil membuka file.


“Udah kembali ingatanmu Man?”


Tanya mama Lina yang masih menahan senyum.


“Ehm, maaf Bu, saya masih lupa. Saya bener-bener enggak inget,”


kata Herman, sambil memainkan jari jemarinya.


“Maksud kamu, yang beda itu marginnya?”


Tanya mama Lina.


Herman pun terbelalak, dan langsung berkata,


“Nah, itu Bu maksud saya. Itunya lebih mahal katanya.”


“kalo ngomong yang jelas, Herman!”


Bentak mama Lina.


“I, iya Bu. Itu, maksudnya marginnya beda. Katanya lebih mahal,”


jelas Herman.


Mama Lina kembali menilai kinerja Herman,


“Lebih mahal mana? Putus atau konsinyasi?”


Herman pun menjawab dengan ragu,


“Ehm, apa ya Bu, aduh, kok saya bingung ya.”


“Lain kali, catat apa yang harus kamu tau, biar gak bingung, gak lupa. Jadi pas kamu ngasih laporan ke saya, jadi enak. Jangan malu nanya kalo gak tau, dan jangan males untuk nyatet. Ingat loh Man, posisi kamu sekarang untuk gantiin Hilal ya, jangan sampe kamu saya pecat kalo gak becus kerja,”

__ADS_1


kata mama Lina.


__ADS_2