
Terdengar suara keributan di rumah Rika dari rumah Dena. Dena mendengar seperti ada benturan ke tembok dan suara-suara bising lainnya.
Ternyata Andre yang telah di benturkan tubuhnya oleh Beni. Beni tak Terima saat Andre di tanya baik-baik oleh Iyan, dia malah menjawab dengan nada emosi.
“Aku gak di rumah kan kerja sama mama, bantuin mama, semua bisnis mama aku yang pegang sekarang, karena mama mau istirahat, kenapa kalian yang sewot sih!” bentak Andre.
Beni sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. Maka meluncurlah satu pukulan di wajah Andre, hingga memar di pipinya dan terjatuh di lantai.
Andre pun membalas dengan menendang kaki Beni. Sontak saja Beni dengan segala emosinya menginjak-injak tubuh Andre.
Iyan yang melihatnya segera menarik baju Beni agar Andre tidak celaka.
Naasnya saat Andre di injak-injak oleh Beni, saat itulah Rika sambil menggendong Annisa keluar dari kamar dan melihat kejadian itu.
Rika berteriak histeris. Tangisannya meraung-raung tak terkendali.
Dari dalam rumah, Dena dan Riko mendengar suara keributan, dan akhirnya keluar dari rumah.
“Yang, kenapa itu, ya Alloh Yang, kayanya ribut deh,” panik Dena.
Riko pun bergegas pergi ke rumah Rika yang berada tepat di sebelahnya.
Belum saja Riko mendekati pintu rumah Rika, Andre berhambur keluar karena tubuhnya terdorong dari dalam. Riko pun panik. Dia menahan tubuh Andre agar tidak terjatuh.
Lalu Andre bangkit dari pegangan tangan Riko. Bukan berterima kasih, malah tubuh Riko di dorong oleh Andre.
Riko langsung menghampiri Andre. Tetapi Andre malah menjauh.
Maksud Riko mendak menenangkan, tapi malah di tuduh ikut campur.
“Bang awas Bang, gak usah ikut campur urusan keluarga gue, awas lo ye bang,” maki Andre sambil menunjuk ke arah Riko.
Iyan dan Beni pun keluar rumah untuk melindungi Riko.
Andre yang sudah panik dan tidak dapat mengendalikan emosinya, berteriak-teriak di jalan,
“Sumpah! Gue enggak rela di pukuli kaya gini, di rumah gue sendiri! Anjing lo ya semua!”
Kanza dan Annisaa pun menangis sambil memanggil papanya. Begitu juga dengan Rika. Dia menangis sesenggukan melihat Andre di pukuli oleh Beni dan Iyan. Itulah sepengetahuan Rika.
Akhirnya Iyan mendekati Andre dan bicara baik-baik. Tapi Andre malah menjauh.
Akhirnya Iyan meminta bantuan pada Riko untuk mengajak Andre masuk dan bicara baik-baik.
“Babe, tolonglah suruh Andre masuk dulu, kalo kaya gini malu di liat orang,” kata Iyan pada Riko.
__ADS_1
“Ya udah, mending kalian masuk duluan aja, biar nanti saya yang bicara sama papanya Kanza,”
sahut Riko.
Iyan dan Benin pun masuk ke dalam. Hampir semua tetangga yang tinggal di dekat situ keluar semua menyaksikan keributan itu.
Karena Iyan dan Benin kembali masuk ke dalam, yang terlihat di jalanan hanya ada Andre dan Riko, ayah Sami.
Andre duduk di pos ronda, malam itu sepi di pos, biasanya axa saj orang yang stay di sana.
Riko berjalan menuju pos dan ikut duduk di sana di samping Andre. Terlihat nafas Andre yang tersengal-sengal, tangannya mengepal, keringat jagung bercucuran.
Riko ke warung membeli minum air mineral tepat di depan pos ronda itu. Lalu Riko memberikannya pada Andre.
Sambil menjulurkan tangannya ke arah Andre, Riko berkata,
“Nih minum dulu Papa Caca.”
Sambil mengeringkan keringatnya dengan kaos yang di kenakannya, Andre mengambil air mineral dari tangan Riko dan berkata,
“Makasih ya Be.” Dan Andre pun meminumnya.
Riko melihat keadaan Andre, sekiranya terlihat lebih tenang, ia akan mengajak Andre untuk masuk kembali.
“Pa Caca, masuk lagi aja yuk, kita selesaikan masalahnya,” ajak Andre.
“Masalah? Masalah apa Be? Saya gak ada masalah sama mereka. Kenapa saya pulang malah di keroyok? Itu rumah saya Babe, saya di pukulin dan di injak-injak di rumah saya sendiri, di depan anak dan istri saya! Saya gak Terima Be!”
“Ya mangkanya di beresin masalahnya. Biar gak berlarut-larut,” sahut Riko.
“Loh, kan tadi saya udah bilang, saya gak ada masalah sama mereka, tiba-tiba sikap mereka kaya gitu,” kilah Andre.
“Gak mungkin mereka bertindak tanpa alasan, kecuali orang gila,” kata Riko, sambil membakar rokoknya.
Riko pun menawarkan rokok pada Andre dan Andre menerimanya.
“Trus saya harus apa Be? Saya gak mau mati konyol di tangan mereka.”
“Ya temui mereka dengan berani. Coba liat anak-anak dan istri, apa kamu gak kasian ama mereka?”
.Andre terdiam mendengar ucapan Riko.
“Masalah gini Be, saya pulang tau tau mereka ngeroyok aku kayak maling, kayak Penjahat, itu rumah saya loh Be, saya gak Terima di perlakuan kayak maling, saya ampe di injak-injak sama bang Beni, salah saya apa sama mereka, tau tau kayak gitu! Jelas-jelas itu rumah saya Be, babe sendiri gimana kalo tiba-tiba aja pulang kerja trus masuk ke rumah langsung si keroyok ama keluarganya mami? Di situ Be sama gak Terima!!!”
Panjang lebar Andre bicara, Riko hanya menyimak. Riko menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Ya udah, sekarang kita masuk dulu, hadapi secara baik-baik, mau mereka apa?”
“Saya gak mau masuk Be, sebelum mereka pergi dari rumah saya,” jawab Andre kesal.
“Kalo sikap Papa Caca kayak gini, gak akan ada solusinya. Saya yakin gak mungkin mereka bertindak tanpa alasan,” sahut Riko.
“Gak! Saya gak mau Be!” bentak Andre.
“Ya udah, ayo saya temenin,” ajak Riko.
“Tar dulu Be, apa Babe bisa ngejamin keselamatan diri saya? Barusan saya hampir mati loh Be, di injak-injak bang Beni?” tanya Andre merasa ketakutan.
“Ya, saya yang jamin keselamatan Papa Caca, asal Papa Caca mau masuk dan selesaikan masalahnya,” jawab Riko.
“Trus nanti babe ke mana? Nunggu di mana?” Andre masih bertanya.
“Ya, saya ikut masuk,” jawab Riko.
Akhirnya Andre dan Riko meninggalkan pos ronda dan berjalan beriringan hendak masuk ke dalam rumah Rika.
Saat itu Rika dan anak-anaknya sementara di amankan masuk ke dalam kamar.
Di ruang depan semua sudah menunggu kedatangan Andre. Di situ Riko sebagai penengah.
Ada Iyan, Beni, Ando dan papi. Mereka tengah menunggu Andre masuk.
“Lama banget sih ngejinakin tuh anak,” kata Beni kesal.
“ Husss! Kamu Ben, jaga bicaramu! Awas nanti, kamu harus jaga sikap, malu sama tetangga sini, kamu liat gak tadi, semua orang keluar dari rumahnya, pada nyaksiin kelakuan kalian!” bentak papi.
“Iyan juga malu Pi, enggak enak sama si babe, jadi ikut turun tangan,” sahut Iyan.
“Ya baguslah dia mau bantu jadi penengah, kalo gak ada penengah bisa kejar-kejaran kalian tadi di jalanan!” kata papi.
Tidak lama kemudian Riko mengajak Andre masuk ke dalam. Riko memberi salam,
“Assalamu’alaikum.”
Mereka yang di dalam pun menjawab, “Wa alaikumsalam.”
.Riko menarik tangan Andre agar mau masuk. Dengan perasaan ragu, Andre pun masuk dan duduk mendekat pada Riko.
Mulailah Iyan melayangkan beberapa pertanyaan pada Andre. Karena Iyan mampu mengendalikan emosinya, berbeda dengan Beni.
Beni sambil mengepalkan tangannya, dan mengadu gigi gerahamnya menahan emosi di kala Andre menjawab semua pertanyaan dari Iyan.
__ADS_1
Beberapa kali Riko pun ikut meluruskan saat Andre menjawab pertanyaan Iyan dengan melenceng. Beberapa kali Andre menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan yang di layangkan Iyan.
Semua yang mendengarnya menjadi gerah. Tiba-tiba saja Beni berdiri.