
Tanpa sepengetahuan Rika, Andre secara diam-diam sering pergi ke rumah mamanya. Di sana dia belajar bisnis bersama Dian, bahkan kadang Andre tidak mampir ke rumah mamanya dia langsung ke gudang.
Tapi bagaimanapun juga, Rika merasakan perbedaan sikap Andre.
Suatu hari Rika pulang dari kerja melihat rumahnya sangat berantakan sekali kemudian Rika bertanya,
“ Ya ampun Pah, kok rumah berantakan banget sih, tumben deh bekas Kanza mainan nggak diberesin.”
Andre hanya terdiam, kemudian Rika berkata, “ ih papa ditanya malah diem aja kenapa sih Pah Bapak kayaknya Kelihatan capek deh.”
“ Aku capek mah seharian jaga Khanza,” sahut Andre dengan nada emosi.
“ jaga Khansa? Bukannya Khansa sama Desi? Terus kamu ngapain aja di rumah seharian tanpa Khansa?”
Mendengar pertanyaan dari Rika yang bertubi-tubi, Andre pun meninggalkan Rika di ruang tamu, kemudian ia masuk ke dalam kamar untuk tidur.
“ Andre kenapa ya, kenapa sih sifatnya jadi kayak gini? Mungkin karena dia nggak kerja Jadi sifatnya berubah ya, bisa jadi,” gumamnya dalam hati.
Hari terus berganti. Dan satu bulan telah berlalu. Usia kandungan Rika pun bertambah. Dan sikap Andre pun bertambah menjadi-jadi.
Suatu pagi, ketika Rika baru saja pulang dari kerja, dia tidak mendapatkan Andre di rumah, yang ada hanya Desi dan Khansa.
“ Andre ke mana Des? Kenapa lo ada di sini?” tanya Rika, sambil membenahi mainan Kanza.
“ Semalam Andre ke rumah, dia minta tolong jagain Kansa, terus gue disuruh nginep di sini,” jawab Desi.
“ semalam? Jam berapa dia nemuin lo?”
Setelah merapikan mainan, Rika duduk sambil merentangkan kakinya.
“Sekitar jam 07.00 malam deh dia datang ke rumah sama Khansa, terus gue disuruh tidur di sini, dianya nggak ada,” sahut Desi.
Rika termenung sejenak pendengar penjelasan dari Desi.
Semenjak itu, Andre kadang tidak pulang. Semakin hari, sikap Andre menjadi jadi. Parahnya lagi, ketika Rika mencoba menghubungi lewat ponselnya, Andre menolak panggilan dari Rika. Dan ketika di ulang, ponsel Andre tidak aktif.
Kandungan Rika semakin hari bertambah besar. Karena kandungannya yang sudah membesar, akhirnya manager di klub memanggil Rika.
Dia menganjurkan Rika untuk mengundurkan diri dari klub.
“Maafkan saya Rika, peraturan klub melarang pada karyawan yang tengah hamil, apa lagi kehamilanmu sudah besar. Lagian, kasihan juga kan untuk perkembangan janinmu.”
Semenjak itu, Rika berhenti kerja. Dan tidak lama kemudian Rika melahirkan anak ke duanya.
“Aduh Des, perut gue sakit banget, tolong Des,” teriak Rika, sambil memegangi perutnya.
Desi tidak mendengarkan panggilan Rika, karena saat itu Desi sedang memandikan Kanza.
Setelah selesai memandikan, Kanza yang masih berbalut handuk, masuk ke kamar.
“Mama, mama, mama kenapa? Oncu, tolong mama Caca Oncu, kasian mama!”
__ADS_1
Teriak Kanza.
Sontak Desi bergegas masuk ke kamar. Desi melihat Rika terbaring di lantai. Bajunya basah karena air ketuban yang sudah pecah.
“Ya ampun Rika, kenapa bisa begini?” Desi pun panik. Dan segera menelpon saudaranya yang lain.
Akhirnya Beni dan Ando datang. Mereka membawa Rika ke sebuah klinik persalinan.
Beberapa saat kemudian, lahirnya seorang bayi perempuan yang mungil dan lucu. Berbeda dengan Kanza, anak kedua Rika berkulit putih.
Beni mengazankan dan mengkomatkan, Rika terharu melihatnya. Hati Rika senang telah di bantu oleh keluarganya.
Tapi di tengah kebahagiaannya, Tika merasa sedih lantaran Andre susah di hubungi.
“Bahagia banget kali ya kalo ada bang Andre juga, lagian susah banget sih di hubungin, tar kalo gak di kasitau malah salah. Mau di kasitau malah susah banget. Kerja sih kerja, tapi gak kaya gini juga kali. Enaknya mang gak kasitau apa kewajiban anaknya ke istri? Aneh!”
Gumam Desi dalam hati. Dia tidak berani mengungkapkan isi hatinya karena takut merusak kebahagiaan kakaknya.
Tiba-tiba ponsel Beni berbunyi.
“Halo, oh alhamdulillah, ya udah, suruh istirahat aja dulu.”
Sambungan telepon pun terputus.
Dengan keadaan yang masih lemas, Rika bertanya pada Beni,
“Siapa yang nelpon Ben?”
Tiba-tiba saja air mata Rika keluar begitu saja. Ada rasa hari di dalam hatinya. Tapi pikirannya menjadi rusak. Mana kala dia memikirkan untuk biaya persalinan.
Beni berpamitan pada Rika,
“Gue pulang dulu ya, biar Desi di sini aja. Nanti kalo ada apa-apa tolong kabarin gue.”
Rika mengangguk. Beni mencium kening Rika yang masih terkulai tak berdaya di atas tempat tidur. Sebelum beranjak keluar Beni berkata kembali pada Rika,
“Lo istirahat ya, lepas pikiran yang berat. Kasian anak lo, takut asinya dikit.”
Rika tersenyum dan mengangguk. “Makasih ya Ben, makasih ya semuanya udah bantu gue.”
“Ya elah, segitunya kau Rik, kaya di sinetron aja, ha ha ha,” sahut Desi.
Kanza pun ikut tertawa.
Benny pun pulang ke rumah di dalam perjalanannya ia melihat Andre menuju rumahnya.
Beni terus mengikuti Andre dari kejauhan ia memastikan Apakah Andre benar-benar pulang atau hanya berkunjung sementara.
Beni masuk ke dalam warung yang berada tepat di depan rumah Rika. Di sana iya memesan es jeruk sambil menikmati es jeruknya yang memperhatikan rumah Rika.
Dan terjadilah percakapan antara Beni dan pemilik warung itu. “ Bang mamanya Caca udah melahirkan?”
__ADS_1
Tanya pemilik warung.
“ Oh iya Adik saya sudah melahirkan bayinya perempuan.”
“ Oh Alhamdulillah deh. Oh ya itu suaminya juga baru pulang. Udah lama deh nggak kelihatan.”
“ Oh iya Bu nanti saya liatin, berarti dia udah pulang dari luar kota,” Kilah Beni.
“Saya pamit dulu Bu makasih ya,” kata Beni kembali, sambil membayar es jeruk yang barusan dia minum.
Beni berjalan dari warung menuju rumah Rika, ia mendapati Andre sedang menyapu lantai.
“ Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.”
“ Eh Lu udah balik Ndre, ke mana aja lo? bini lo ngelahirin lu nya nggak ada di rumah,”
Ucap Beni.
“ Iya Bang, aku udah jarang pulang. Sekarang aku lagi bantuin bisnisnya Mama. Lumayanlah buat makan sehari-hari,” sahut Andre.
“ lumayan banget kalau dikirimnya tiap hari, kalau jarang-jarang Ya sama aja Ndre,” singgung Beni.
Beni membenarkan duduknya di atas teras, lalu ia menyilangkan kakinya. Kemudian dia membakar rokoknya.
Untuk mengalihkan pembicaraan, Andre menawarkan Beni minuman.
“ Mau kopi Bang? Nanti Andre bikinin.”
“ Nggak, nggak usah. Barusan gue udah minum es jeruk di rumah sakit, lo liatin sana bini lo, Bawain apa yang kira-kira dia suka,” perintah Beni.
“ Iya Bang. Nanti Andre ke rumah sakit. tapi Andre mau ke rumah mamah dulu,” jawab Andre.
“ Lah gimana kau? Istrimu melahirkan kok malah balik ke rumah mamamu?”
Merasa terpojok, Andre pun menjawab pertanyaan Beni dengan nada tinggi,
“Di sana juga kan Andre kerja Bang. Andre juga kerja kan buat Rika dan anak-anak, Bukannya berleha-leha di rumah mama bang,” sahut Andre.
Sepertinya suasana sudah tidak kondusif. Beni mulai mengepalkan tangannya. Gerahamnya mulai beradu.
Saat itulah Iyan datang bersama Nyai dan papi.
Melihat kedatangan Iyan Nyai dan Papi Andre pun menyambutnya. Kemudian Nyai mengajak Andre untuk ke rumah sakit. Tetapi sayang Andre menolaknya. Andre menolaknya lantaran ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
“ Maaf Mi, Andre nggak bisa ke rumah sakit dulu, mungkin besok, tapi rumah udah Andre rapiin kok, kamar, lantai pakaian Rika, udah Andre rapiin,” sahut Andre.
Nyai pun tidak dapat memaksakan. Dia juga tidak mau terlalu ikut campur masalah rumah tangga anaknya.
Berbeda dengan Beni. Beni sangat emosi kalau Rika telah disakiti Andre dengan Andre tidak pulang-pulang Beni merasa Rika Tersakiti.
__ADS_1
Ternyata Iyan mengetahui apa yang beliau rasakan kemudian ia memegang bahu Beni dan berkata, “ Sabar bro, tahan emosi lu.”