Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Sikap yang tidak tegas.


__ADS_3

Hampir semua jawaban Andre membuat Beni geram. Karena jawaban Andre selalu berbelit-belit dan melenceng dari pertanyaan Iyan.


Hingga Riko pun merasa kewalahan menjaga agar kondisi tetap kondusif.


Andre tetap tidak mengakui bahwa dirinya telah menikah dengan Dian. Walau ada beberapa foto yang ditunjukkan Iyan pada Andre, tetapi Andre tetap tidak mengakuinya.


Karena jawaban Andre yang terlalu bertele-tele, akhirnya membuat Beni geram dan ia beranjak dari tempat duduknya.


Tiba-tiba saja satu pukulan melayang ke wajah Andre. Andre pun bangkit dan menangkis tangan Beni.


Iyan hendak meleraikan perkelahian mereka, tetapi Andre malah memukul wajah Iyan.


Melihat Iyan dipukul oleh Andre, Ando pun tidak tinggal diam, dia pun melayangkan pukulan pada wajah dan perut Andre.


Dan ketika Andre hendak membalas pukulan Ando, Riko pun bertindak, dia menarik Andre kuat-kuat keluar dari rumah itu.


Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, di aman orang-orang sudah tertidur.


Andre marah pada Riko dan berkata,


“Ah babe bohong, katanya saya di jamin di dalem, babe gak bisa di percaya.”


Riko hanya diam saja, dia memaklumi sikap Andre yang masih menuduhnya. “Semua orang sama aja, gak ada yang bisa ngertiin gimana posisi saya, babe sama aja dengan mereka, maunya menang sendiri!”


Riko kembali duduk di pos ronda, lalu menyalakan rokoknya. Andre terus mengoceh, dia menyalahkan sikap Riko yang terkesan tidak membelanya.


Terlihat jelas Andre berada di bawah tekanan, Riko dapat menangkap. Karena itu Riko tidak terpancing.


Karena lelah mengoceh, akhirnya Andre bertanya,


“Trus sekarang saya harus gimana Be?”


Sambil menghembuskan asap rokoknya, Riko menjawab,


“Kamu udah tau jawabannya.”


Riko memandang ke arah wajah Andre, lalu bertanya,


“Emang susah ya ngomong jujur? Udah begini masih aja mengelak. Apa sih yang kau tutupi? Kalo emang udah nikah, katakan. Bukti kuat masih aja mengelak, kaya bocah aja kamu! Apa kamu merasa pantas saya bela? Bego banget kalo saya bela kamu!”


Andre terdiam. Akhirnya Riko beranjak hendak meninggalkan pos ronda, tetapi Andre mencegahnya.


“Babe mao kemana?”


Dengan kesal Riko menjawab, “Mau balik, mau pacaran sama mami!”


Riko membanting puntung rokoknya dan melangkah meninggalkan Andre.


“Be, Babe, trus aku gimana?” teriak Andre.

__ADS_1


Riko semakin jauh dan menjawab dengan berteriak, “Terserah lo aja.”


Riko pun hendak pulang ke rumahnya. Dia melewati rumah Rika, dan di hadang oleh Iyan dan Beni.


“Maaf Be, Andrenya mana?” tanya Iyan.


“Tuh, masih duduk di pos. Mang dasar bocah, cape ngeladenin,” sahut Riko.


Riko berdiri mendekati Iyan dan berbisik,


“Keliatan papanya Caca tertekan, mungkin ada sesuatu di balik ini semua, mangkanya dia tetep gak mau ngaku.”


Iyan pun manggut-manggut. Se olah-olah ia mengerti apa maksud Riko.


Di dalam rumah Dena gelisah, karena khawatir akan suaminya. Keadaan Rika di rumahnya masih menangis, begitu juga dengan Kanza dan Annisa.


Terutama dengan Kanza, dia sangat histeris melihat keadaan Andre. Karena usia Kanza sudah 6 tahun, dia mengerti apa yang sedang terjadi.


Sambil menangis dia berkata, “Jangan jahatin papa Caca, papa Caca enggak salah.”


Rika pun demikian, dia masih membela Andre.


“Jelas-jelas dia salah malah gak ngaku juga. Kurang bukti apa? Lo juga jadi istri yang tegas napa! Kita di sini bela Lo, malah lo belain dia! Biar aja dia abis gue pukulin!” maki Beni.


“Ya gak boleh gitu juga Ben, kita gak boleh main hakim sendiri,” sahut Iyan.


“Iya, bener. Tapi kalo lo bisa jaga emosi, gak mungkin sampe kaya gini,” sahut Iyan.


Ando mempersilakan Riko masuk. “Masuk sini Beh, ngopi dulu biar rileks,” ajak Ando.


“Iya, makasih. Saya pulang dulu. Saya minta maap ya bang, bukan saya ngebela papa Caca, saya cuman meluruskan pertanyaan situ tadi, abis tuh papa Caca jawabnya melenceng terus, saya pulang dulu, kasian si mami pasti khawatir,” kata Riko.


“Makasih ya Babe, maafin ya kita semua udah bikin rusuh,” sahut Iyan.


Riko tersenyum dan meninggalkan rumah Rika.


Dena yang dari tadi bolak balik dan menjaga Sami dan Kiki agar tidak keluar rumah melihat Riko pulang hatinya terasa lega.


“Gimana Yang?” tanya Dena.


“Udah, udah selesai. Andrenya pergi,” jawab Riko.


Akhirnya untuk mengobati trauma, Anak-anak di ajak pergi ke Lampung untuk sementara. Nyai dan papi memboyong mereka dan Desi.


Dua hari kemudian Andre membuat janji dengan Rika. Mereka bertemu di suatu tempat. Awalnya Rika menolak, tetapi Andre memaksa untuk tetap bertemu.


Akhirnya Rika menyanggupinya dengan syarat bertemu di rumah. Dan akhirnya Andre pun menyetujui.


Setelah berada di rumah, Rika menanyakan status dirinya. Dia meminta agar Andre menceraikannya.

__ADS_1


Tapi Andre tidak mau menceraikannya dengan alasan dia tidak mau mempermainkan perkawinan.


“Kamu jahat Ndre, kamu udah nyakitin aku dan anak-anak. Apa yang kurang dari aku selama ini sampe kamu tega nyakitin aku? Asal kamu tau ya, kamu sama aja dengan mama kamu!”


Rika begitu murka, akhirnya tumpah juga kegalauan Rika selama ini. Rika menceritakan bahwa selama ini dia sangat tersiksa.


“Kenapa kamu baru sekarang cerita? Apa niat kamu bicara kaya gitu? Apa kamu ingin ngadu domba antara aku sama mama aku?” tanya Andre, karena dia sudah merasa terpojok.


“”Adu domba? Aku ngomong gini biar kamu tau kalau pengorbanan ku itu buat kita dari awal. Aku tetep mempertahankan dari awal udah nyesek, nih malah di bilang mau adu domba! Nih aku pulangin mas kawin dari kamu, mas kawin ini mama kamu kan yang beli? Diakan yang beli langsung, bukan kamu? Asal kamu tau ya, dia beli mas kawin itu cincin murah! Gak sesuai dengan yang kamu ucapkan saat ijab kobul!”


Andre meraih cincin itu. Dia mengamati cincin itu dengan lekat.


Andre murka. Wajahnya memerah. Dadanya terasa panas. “Kamu berusaha memfitnah mamaku ya? Tega kamu ya, Rika!” geram Andre.


Rika pun bertambah kecewa dengan sikap Andre.


“Aku beneran gak nyangka sama kamu, sikap kamu kok sekarang kaya gini! Kamu gak kaya yang aku kenal, atau jangan-nangan.... Emang sikap kamu sebenarnya kaya gini tapi aku gak tau!”


“Sikap apa? Kamu jangan mengalihkan, kamu niat ngadu domba malah aku yang di bilang aneh!” gerutu Andre.


Kepala Rika semakin penat, karena merasa pertemuan itu sia-sia. Rika menilai Andre sudah banyak berubah. Dia selalu menjawab dan bicara gak nyambung, Rika merasa di salahkan untuk menutupi kesalahannya sendiri.


“Udahlah Pa, sekarang mau kamu apa? Cepetan! Aku mau pergi, aku mau konci pintu rumah,” celoteh Rika.


“Loh, aku kan emang tinggal di sini, jadi kamu ngusir aku?!” kilah Andre.


“Ya ampun Ndreeeeee, dari tadi kita ngobrol tug gak nyambung! Uda ah, aku cape ngomong ama kamu gak akan kelar. Aku mau keluar, mau cari kerja! Aku dan anak anak butuh makan! Kamu pikir kamu tempat aku bergantung?! Liat aja nanti ke depannya!” teriak Rika.


Suara Rika terdengar oleh Dena.


“Ya ampun, ribut lagi, kok gue jadi ikutan pusing sih ama urusan mereka! Bikin gak nyaman aja!”


Celoteh Dena di rumahnya.


Dena membuka pintu, lalu mengambil sapu untuk menyapu teras depan.


Tetangga sebelah memanggilnya dengan berbisik,


“ Mami, mami, sini!”


Dena menoleh. Dena hanya mengangkat alisnya. Lalu tetangga sebelah berkata dengan suara berbisik,


“Tuh papanya Caca pulang, mereka dua duaan di dalem.”


“Trus???” tanya Dena dengan mengangkat alisnya sebelah kiri.


“Ih Mami, di ajak ngomong kok gitu,” gerutu tetangga sebelah.


“Bukan urusan saya Pak!” jawab Dena dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2